|
Negeri Di Laut
wasugi "hehehe" entah apa yang mau dikatakan kakek tua
itu. umurnya yang hampir satu abad tergambar jelas dari raut muka dan keriput
kulitnya. tapi dia hanya terkekeh-kekeh ketawa. suaranya yang parau membuat aku
kurang paham apa yang dia katakan.
Memang, kakek itu sudah banyak makan garam negeri
ini, karena makanan tanpa garam `gk enak`. dia terlahir sebelum negara Samnu
ada. tapi, ekonominya tidak pernah berubah, meski sudah berkali-kali ganti raja.
Anaknya yang bungsu saja, meninggal karena busung lapar. Karena waktu mau dibawa
ke Rumah Dukun, dukunnya menolak untuk merawat. karena Kakek itu boro-boro ada
uang untuk bayar dukun, untuk membeli gaplek aja tidak mampu. "sekolah dukun kan
mahal, jadi kalau dah jadi dukun yaa harus dibayar mahal dong" kata
dukun.
Negara Samnu memang Negara yang kaya. Subur, makmur
gemah, ripah, repeh, rapih, bro di juru, bro dipanto, ngalayah di tengah imah.
tapi semua kekayaan itu sudah di ekspor ke negri Bruang. Kata kakek, "ssttt...
Negri Bruang itu Penjajah diam-diam".
Ahirnya di dalam negri, rakyat tidak bisa menikmati
kekayaanya sendiri, untuk makan sajah harus impor gaplek, padahal negara Samnu
kan negara agriculture, kok gaplek aja harus impor. kalau minta sedikit dari
gaplek itu dibilang "hati-hati gerakan sparatis".
menurut prakiraan orang bodoh, sekarang musim
tikus, makanya dimana digalakan penangkapan tikus, tidak sedikit tikus di
tangkap, tapi yaaa namanya tikus, beranaknya cepat. jadi cepat menyebar
kemana-mana. untuk menanggulangi tikus-tikus denger-denger seh, sekarang sudah
mulai digalakan untuk di budidayakan. jadi nanti, tikus bukan lagi hewan liar
yang menjijikan, tapi hewan yang dilindungi oleh negri dan agami, pasti lah..
haram untuk dimakan, apalagi mentah-mentah.
Kalau ketahuan makan, akan diponis hukuman yang
sama dengan tikus, kalau tikus mati keinjek, maka hukumannya `diinjak sampai
mati`. sangat adil sekali, karena memang negri ini sample negara demokrasi,
berbeda-beda tetapi satu jua. yaitu bersama-sama melindungi tikus.
dalam memutuskan hukumanya, tidak ada yang namanya
hakim, pengacara apalagi pengadilan , karena di Negri Samnu Haram untuk main
hakim "sendiri". makanya dalam memutuskan salah atau tidak itu harus
"rame-rame", secara bersama-sama. prosesnya tidak berbelit cukup diprotes,
diteror lantas dibakar.
Selamat datang di "negri di atas Laut", tempat
orang-orang suci, sedikit mensucikan, suci dalam pikiran perkataan dan
perbuatan. selamat datang ikan-ikan besar dan beruang. yang merasa ikan kecil,
cukuplah kalian di pantai sajah. eiiittt.. jangan lupa.. meski di pantai
"dilarang memakai celana pendek!!".
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** YAHOO! GROUPS LINKS
|
