Pak Parman tiap harinya, berkeliling ke pelosok Ibukota, jadwalnya padat dari pagi hingga sore hari. Aku sering menemuinya pada saat berangkat kerja ketika dia menunggu kendaraan umum yang mau mengangkut dirinya dan rombongannya di bawah jembatan layang, di halte Jembatan Kebon Nanas.
Hari ini hari minggu, aku masih santai sambil membaca koran minggu, tiba-tiba saja terdengar gaduh di luar sana, sayup-sayup bunyi genderang bertalu-talu, dan sorai bocah-bocah kecil. Segera kurapihkan koran, dan kudatangi sumber suara di depan rumah Pak Lily tetanggaku.
Kulihat Ibu Lily sedang menanggap topeng monyet, untuk anaknya yang masih bocah. Ku rasakan mereka menikmati tontonan yang disajikan. Banyak peragaan lucu yang diperagakan oleh monyet yang diberi nama "Sarimin", diantaranya adalah Sarimin naik kuda yang disajikan bersama anjing kampung bernama Browny, Sarimin pergi ke pasar, Sarimin sembahyang, Sarimin naik sepeda (mau melihat foto Sarimin Naik Sepeda klick : http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/90 ) dan banyak gaya yang lainnya.
Ternyata Sarimin pandai bergaya, ketika Pak Parman mengucapkan kata Sarimin Mau di foto, Sarimin mendatangiku dengan sepeda-sepedaan sambil bergaya.
Acara topeng monyet berlangsung tidak lama, seperti pengamen pada umumnya kemudian diakhiri dengan asisten Pak Parman yang berjalan mendekati kepada para penonton untuk menyumbang ala kadarnya.
Setelah mengucapkan terima kasih Pak Parman bersama rombongannya berjalan kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengais rejeki, dan mengisi hari-harinya untuk melanjutkan kehidupan.
-o0o-
Aku tertarik dengan Si Browney, anjing Jawa berwarna coklat, dan Sarimin, monyet kecil yang pintar meniru-niru perilaku manusia. Di dalam dunia sufistik, keberadaan anjing dan monyet adalah perlambang sifat kita.
Anjing yang selalu menjulurkan lidah adalah perwujudan Nafs Ammarah yang secara naluriah adalah menyembah sang pencipta. Di dalam kehidupan ini, anjing senang menggongnggong, menggigit, dan mencakar untuk menunjukkan citra dirinya. Secara naluriah ia mengajak kepada perbuatan jahat, walaupun gonggongan dan lenguhannya terdengar jinak, terkadang dia menggigit orang lain, bahkan ada juga yang menggigit tuannya. Ia sangat bangga dengan nama besar dan identitas diri, Ia melakukan sesuatu karena ingin dipuji dan ada pamrih, dia ingin selalu merasakan kenikmatan badani dan rohani. Pernah kita mendengar riwayat bahwa rumah yang ada anjingnya, malaikat rohmah tidak mau datang, analogi ini menggambarkan bahwa jiwa yang suram sulit menerima cahaya Ilahi.
Sementara, monyet adalah perwujudan dari nafs Almulhalmah, kesadaran jiwanya sudah mampu membedakan antara nuansa kebenaran dan kebatilan. Ia mampu menangkap sarana yang bisa mengantar keselamatan dan kebahagiaan. Ia mampu membedakan ilham kefasikan dan ilham ketakwaan yang masuk dalam hatinya, akan tetapi seringkali ia kurang waspada terseret ke lingkaran ilham kefasikan. Jiwa ini di dalam melakukan perjalanan rohani berada dibawah pengawasan Tuhan.
Itu diantara beberapa permisalan, yang dilakukan oleh beberapa orang Sufi yang aku kumpulkan, yang intinya adalah untuk memberikan pencerahan kepada hati kita ini.
Demikian cerita tentang topeng monyet, yang menarik perhatianku.
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
