|
Intermezzo:
Kelembutan di Tengah Kekerasan
Saya sudah lama memperhatikan fenomena ini: di bagian belakang bak truk
atau bis, sering kita jumpai tulisan-tulisan yang sangat puitis yang
mencerminkan kelembutan, seperti: "SEBATAS TEMAN", "TANSAH TAK ELING ESEMMU",
"TAK ENTENI TEKAMU", "HIDUP DI ATAS RODA", "DOA IBU". Ada juga yang berbunyi:
"SEBATAS PANDANG DAN SAYANG", "IBUNE TINUK", "AYU ADHINE", "WANG SINAWANG",
"STEL KENDHO", dan masih banyak lagi. Ternyata mereka yang setiap hari
bergulat dengan kehidupan jalanan yang keras, menyimpan kerinduan yang mendalam
akan kelembutan.
Kehidupan jalanan memang kehidupan yang keras. Dalam bahasa Jawa
kata 'sopir' memiliki jarwa dhosok: yen ngaso mampir,
artinya: setiap kali istirahat, mereka akan mampir. Mampir di sini
memiliki konotasi yang negatif: bukan saja mampir di warung makan, tapi juga
bisa berarti 'mampir' ke wanita lain. Kehidupan jalanan juga identik dengan
hal-hal maksiat: seperti judi dan minuman keras. Tentu saya tidak bermaksud
mengatakan bahwa semua sopir dan kondektur adalah penjudi dan peminum! Sebab
mungkin ada juga sopir yang saleh. Tapi kebanyakan mereka akrab atau paling
tidak pernah bersentuhan dengan hal-hal seperti itu.
Tapi seperti yang diuraikan dalam filsafat Tao, segala sesuatu yang
berlawanan selalu berdampingan: ada siang, ada malam. Ada gelap, ada terang. Ada
panas, ada dingin. Ada kekerasan, ada kelembutan. Ketika seseorang berada pada
satu sifat secara ekstrim, sedemikian ekstrimnya, sampai dia mencapai titik
puncak, dia akan rindu untuk bergerak ke arah yang berlawanan. Ketika seseorang
berada dalam kehidupan jalanan yang keras, maka muncullah kerinduan yang
mendalam untuk kembali pada kelembutan.
Dalam tradisi Jawa dikisahkan, sebelum bertemu Sunan Bonang, Sunan Kalijaga
dulunya adalah seorang begal (perampok). Namun Sunan Bonang mampu melihat
kelembutan di balik hidupnya yang keras. Dia membantu anak muda
tersebut menemukan kelembutan di dalam dirinya. Dan akhirnya begal tersebut
menjadi seorang wali yang sangat dihormati di pulau Jawa. Kisah seperti itu
saya kira tidak berlebihan: saya pernah bertemu seorang kyai
di Boyolali yang dulunya adalah seorang 'preman'. Jenuh dengan kehidupan
jalanan yang tidak memberikan ketentraman, dia masuk pesantren. Oleh kyainya dia
dipertemukan dengan seorang wanita yang hafal Alquran yang kini
menjadi istrinya. Kini mereka berdua mengasuh sebuah pondok pesantren dengan
jumlah santri sekitar 40-an yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun
yatim piatu. Batu yang sekeras apapun akan dapat dibentuk oleh air yang
lembut.
Makin keras kehidupan yang dijalani seseorang, makin kuat ia merindukan
kelembutan. Saya sangat tersentuh ketika saya melihat di bagian belakang bak
truk yang kotor penuh debu terdapat lukisan tokoh kartun pujaan anak-anak:
Dora - The Explorer. Pernah juga saya melihat sebuah bak truk
yang dihiasi dengan lukisan seorang wanita berjilbab dengan wajah teduh dan
sorot mata yang lembut, bertuliskan: ISTRI IDAMAN. Ada juga yang lucu, sebuah
truk yang sering berlalu-lalang di kampung saya, bagian belakangnya digambari
wajah raksasa yang mengerikan dengan taring-taringnya yang menonjol keluar, di
samping wajah menyeramkan tersebut terdapat tulisan: AKU OLA OKOT (maksudnya:
aku ora nyokot, saya tidak menggigit), seolah hendak mengingatkan kita
betapa pun keras kehidupan yang mereka jalani, mereka pun memiliki
sisi-sisi yang "human" dan lembut.
Tapi yang satu ini benar-benar lucu dan mencerminkan kehidupan
jalanan: Di bagian belakang sebuah bak truk terdapat gambar seorang wanita seksi
tengah hamil, dengan tulisan di sebelahnya: GARA-GARA ULAH KONDEKTUR.
*** ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** YAHOO! GROUPS LINKS
|
