Berita semalam mbah Maridjan pergi ke posko 2, dekat puncak Merapi, kepergiannya tanpa diketahui orang2 disekitarnya, apa dia menyelinap?  Tak ada kabar kegiatan apa di sana.., apakah kirim sesaji, atau bermunajad untuk keselamatan kita..? Wallahu A'lam..


Salam,
Dj

At 08:08 AM 5/16/06, you wrote:
Semalam Mbah Marijan sakit. Tubuh rentanya terlihat sangat letih, gemetar ia menahan dinginnya udara malam. Namun bukan cuaca yang tak menentu di Dusun Kinahrejo yang membuat juru kunci Merapi itu jatuh sakit, karena sedahsyat apa pun cuaca yang terus berubah menjelang meletusnya Merapi sudah puluhan tahun dirasakannya. "Mbah sakit karena terlalu lelah," ujar salah seorang anaknya.

Ya, betapa melelahkannya menjadi Mbah Marijan. Tugas yang diembannya sebagai juru kunci Merapi membuatnya harus meladeni semua tamu, termasuk wartawan yang datang terus menerus dan kadang tak kenal waktu. Orang seusianya, seharusnya lebih banyak beristirahat, namun semenjak Merapi dinyatakan `waspada` hingga meningkat menjadi `Awas` pada Sabtu (13/5), lelaki tua ini nyaris tak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.

Sabtu malam (13/5) Mbah Marijan sakit lantaran menerima sekian banyak wartawan dan tamu yang datang ke rumahnya. Ia teramat sederhana dan ramah, sehingga tak satu pun tamu tak diladeninya. Kalau pun ada yang diminta menunggu, itu lantaran para tamu datang pada saat waktu sholat. Hingga larut malam, para tamu dengan berbagai kepentingan silih berganti bertandang ke rumahnya. Dari para kuli tinta, pemerintah setempat, LSM, hingga para wisatawan yang penasaran ingin kenal lebih dekat sosok kuncen Merapi itu.

Nampaknya Mbah Marijan sudah terdzalimi. Ia jatuh sakit lantaran sibuk melayani tamu sehingga hanya sempat satu kali untuk makan. Tak banyak asupan makanan, sementara energinya teramat banyak keluar. Mbah Marijan pun merinding, mengeluh tubuhnya tak sehat. Dokter pun dipanggil untuk memeriksa kondisinya. Tim ACT dan Lazis UII yang membawa dokter tersebut ke rumahnya sempat berpikir, kondisi sakit Mbah Marijan ini bisa menjadi `skenario` untuk membawa Mbah Marijan turun gunung. "Kondisinya sudah membaik, tak perlu dibawa ke bawah," ujar dokter yang memeriksa. Skenario pun dibatalkan, tak manusiawi memaksakan kehendak dengan memenggal keyakinan seseorang.

Secara fisik Mbah Marijan memang sudah membaik. Tapi ada yang belum terehabilitasi di diri lelaki tua yang sangat religius itu. Adalah pemberitaan berbagai media tentang sosok juru kunci Merapi ini. Hampir semua stasiun televisi dan media cetak tak henti memberitakan sosok Mbah Marijan sebagai tokoh klenik, memiliki ilmu sakti, tak bedanya dengan dukun dan paranormal, dan embel-embel mistik lainnya. Tentang keteguhannya tak ingin turun pun dijadikan sasaran berita hangat para kuli tinta. Yang diberitakan bukan sisi manusiawinya, bukan pula tentang keteguhannya memegang amanah dari Sri Sultan HB ke-IX untuk menjaga Merapi sebaik-baiknya. Berita tentang dirinya, seringkali bernada minor.

Tayangan demi tayangan tentang Mbah Marijan yang negatif di berbagai media, memicu ‘wisatawan’ untuk berkunjung ke rumah kuncen Merapi itu. Setiap hari rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan ‘orang-orang mau tahu’ dan dengan polosnya bertanya, “Mbah sebenarnya Merapi kapan akan meletus?” sebuah pertanyaan dari orang-orang yang mengaku berpendidikan. Berbekal pendekatannya kepada Sang Penguasa langit dan bumi, lelaki bertubuh pendek yang lucu itu pun berucap, “jangan tanya saya, tanyakan kepada Allah. Dia yang mengatur semua, Gusti Allah yang punya kehendak”.

Kasihan sekali Mbah Marijan. Lelaki renta berusia 80an itu kerap dikenal sebagai orang sakti yang selalu berhubungan dengan para penguasa Gunung Merapi sehingga dianggap tahu kapan waktunya Merapi meletus. Keteguhannya untuk tidak mau turun gunung seringkali ditulis sebagai salah satu bentuk kesaktiannya, dan parahnya tak jarang dia dituduh mempengaruhi warga sekitar lereng Merapi untuk tak mengungsi. “Warga kalau mau ngungsi ya ngungsi saja, saya tak pernah melarangnya,” aku Mbah Marijan.

Sesungguhnya, ia lelaki shalih yang terus menerus mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Datanglah kepadanya, dan lihat langsung sosok sebenarnya. Jangan pernah percaya berita yang menggambarkan profilnya yang aneh dan jauh dari kesan agamis. Sungguh, kami memang baru mengenalnya. Tapi yang kami dapatkan tentang Mbah Marijan hanya satu hal; ia lelaki shalih yang teramat sederhana.

Seorang teman pun mendapat nasihat darinya, “Kamu itu harus sering melihat ke bawah, jangan ke atas. LIhat nih Mbah, hidupnya seperti ini. Kasih tahu teman-teman yang hidupnya berlebih, contoh Mbah yang sederhana ini,” sambil memperlihatkan gajinya dari Keraton yang cuma Rp. 5.800,-

Doa kami pun terpanjat, semoga Merapi tak membuatnya semakin terdzalimi. Ia memang sakit lantaran terlalu lelah. Tetapi sebenarnya ia lebih sakit dengan pemberitaan tentang dirinya yang tak benar. (Bayu Gawtama Eramuslim)


verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Fenomidjan Mbah Maridjan
 
Fenomena sosok Mbah Maridjan ini unik sekali, padahal hujan abu sudah menerpa rumahnya di kaki Gunung Merapi tapi dia tidak mau meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi. Tak kurang Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Hamengku Buwono X sebagai kepala pemerintahan menghimbau untuk segera meninggalkan kampungnya, tapi tak dihiraukannya, demikian juga himbauan Gus Dur mantan Presiden RI, pun tak diindahkannya, Mbah Maridjan Kekeuh dengan pandangannya, bahwa dia telah berjanji kepada raja Yogyakarta, mendiang Hamengku Buwono IX pada saat masih hidup untuk menjaga gunung Merapi.
 
Tentang Mbah Maridjan, menurut Sultan, juga tidak ada alasan bagi Mbah Maridjan untuk tidak turun. "Batas toleransinya sudah selesai. Kalau kemarin mbah Maridjan belum mau turun, sekarang harus turun karena dia berada di zona paling berbahaya."
 
Menurutku hanya ada satu cara mbah Maridjan bersedia turun gunung, yaitu apabila beliau telah menerima wangsit atau wisik dari Hamengku Buwono IX, untuk turun gunung, atau bisa juga Mbah Maridjan Kekeuh dengan pendapatnya terkubur bersama lahar dan lava panas yang mulai bergolak dan membanjiri dusun Dukun – Merapi?
 
Bagaimana menyikapi "fenomidjan" – Mbah Maridjan?
 
            -o0o-
 
Ada satu kisah, waktu itu Ali Bin Abi Thalib r.a. akan pergi berperang, tetapi dalam suatu perjalanan bertemu dengan salah seorang sahabat yang menyatakan bahwa di tempat yang dituju sedang terjadi wabah penyakit, kemudian Ali Bin Abi Thalib segera bermusyawarah dengan para sahabat, akhirnya disepakati bahwa sebaiknya pulang kembali, walaupun ada sebagian yang berharap tetap dilanjutkan. Ketika dalam perjalanan pulang, kembali bertemu dengan seseorang yang bertanya kenapa mesti kembali, Ali menjawab bahwa beliau, lari dari qadar Allah menuju Qadar Allah.
Artinya lari dari takdir menuju takdir yang lain.
 
Seperti kebanyakan orang Jawa, Mbah Maridjan yakin bahwa hidup dan matinya dia, tergantung kepada Dzat Yang Maha Kuasa, faham yang dianut adalah faham deterministik atau fatalisme, sebagian bilang ini faham jabariyah, yang menyatakan bahwa semua sudah ada yang Ngatur, jadi kematian diapun sudah diatur oleh Dzat yang Maha Berkehendak. Keyakinan Mbah Maridjan semakin kokoh, karena janjinya pada Sultan Hamengku Buwono IX untuk menjaga gunung Merapi, gunung merapi sedang dirundung lara, sedang terbatuk-batuk, jenis batuknya batuk berdahak, tentu Mbah Maridjan tak tega meninggalkannya. Gunung Merapi adalah mahluk Tuhan jua, sepantasnya untuk kita perhatikan dan kita bantu untuk mengobatinya. Gunung Merapi adalah mahluk Tuhan yang bergerak secara statis, walupun dia bergerak tapi panca indera kita tidak dapat menangkapnya, sementara Mbah Maridjan adalah Mahluk Tuhan yang bergerak dinamis, bisa duduk, berjalan maupun berlari, itu yang membedakan Gunung Merapi dan Mbah Maridjan. Masih ada keyakinan tentang menyikapi masalah takdir ini, yaitu faham free-will (qadariyah) yang menyatakan bahwa manusia bebas menentukan nasib dirinya, demikian juga Mbah Maridjan bebas menentukan dirinya, apakah mau tetap berleha-leha di kampungnya, bercengkerama dengan sahabat sejatinya Gunung Merapi atau mau turun Gunung, berlari pada waktunya. Terakhir, bisa jadi Mbah Maridjan menganut faham keadilan Tuhan, yakni Mbah Maridjan menganggap bahwa walaupun dia turun gunung, kalau sudah saatnya Dipanggil kenapa harus ditolak? Bisa juga sebaliknya, walaupun Mbah Maridjan tinggal di kepundan Gunung Merapi, kalau memang belum suratan takdirnya untuk dipanggil tentu dia akan tetap selamat.
 
Bagaimana tentang menguak takdir, bisa diklick http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/94
 
Selanjutnya, aku masih termangu-mangu menyaksikan Mbah Maridjan yang masih kekeuh sumleukeuh dengan pendiriannya, dapatkah anda membantu kebingunganku dengan fenomena ini? Jawaban yang benar adalah tentunya dari Mbah Maridjan sendiri!
 
Hanya ada satu harapan dan doaku untuk Mbah Mardijan, "Semoga Mbah Maridjan tetap selamat dan dalam lindunganNya, Amin..."
 
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS





******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke