MENGHIKMAHI  BENCANA

Seperti hal lain yang ada di dunia ini, terhadap setiap peristiwa, 
atau bahkan kejadian biasa saja, manusia bisa menghambil jarak 
darinya, lalu memilih dan menentukan posisi sehingga dapat diambil 
sikap terhadap hal2 yang diindra/dirasakan olehnya tadi. Itulah olah 
kesadaran. Itulah yang dinamakan dengan penghayatan hidup dan 
kehidupan. Dan sebagai manusia, baiklah kita menghikmahi setiap 
kejadian yang ada di dalam kehidupan kita, tak peduli kita menentang 
spiritual, getol, atau bahkan fanatik dan kecanduan terhadapnya. Ini 
bukan soal ideologi. Ini soal merasakan dan memaknai kehidupan yang 
sama, di lahan hidup yang sama. Alangkah indahnya bila tiap manusia 
menyadari hal ini. Maka tak heran bila pada tingkat ekstrem, orang2 
top yang telah ekstrem pula penghayatan dan pemahaman kehidupannya 
akan serupa dan serempak  menyatakan bahwa tak dibutuhkan lagi 
institusionalisasi dan perangkat hukum serta ideologi yang mengatur 
sebab instrumen2 tadi sudah inheren nyata melekat elementer pada diri 
orang yang sadar diri. Term spritualismenya adalah orang yang telah 
mendapat pencerahan, istilah lain telah menjadi buddha. Anehnya, tiap 
agama (terutama agama besar- arus utama yang sudah sahih sehingga 
kita tak perlu berpanjang bahal mengenai definisi agama) kompak 
berbicara mengenai hal ini.

Kita dapat mengambil sikap positif atau negatif terhadap suatu 
peristiwa. Masih dalam suasana kelabu pasca gempa jogja (lihat: 
JOGET: JOGJA BERGETAR) yang penulis alami sendiri, kita dapat menjadi 
lebih cerdas dengan adanya gempa, atau bisa pula -dengan kehendak 
bebas yang dianugerahkan bagi kita- memusuhi gempa dan misuh2i Gusti 
karena peristiwa yang rampat/generalisasi (dan kita bersetuju) 
dikatakan  sebagai tragedi pilu ini. Tapi, sememilukannya peristiwa 
itu, saya memilih bertolak pada kubu yang memahami dan mengambil 
peristiwa ini sebagai hikmah pelajaran. Apalagi, sebagai warga yang 
selamat (Alhamdulillah), penulis merasa memiliki kewajiban moral 
untuk menyebarluaskan pikiran positif yang menguatkan dan menyehatkan 
bagi saudara2 yang lain yang tengah terluka, sedih, shock, trauma, 
sakit hati famili dan relasinya meninggal atau luka berat. Maksudnya 
sebagai imbangan sakit hati atau pikiran kalut (yang berarti produksi 
energi negatif) yang sebenarnya juga tak kalah kelam dari efek 
destruktif gempa kemaren itu. Selain santunan raga, ada baiknya diri 
yang sakit diperlengkapi pemulihannya dengan santunan jiwa-rasa-
pikiran. Kedua bentuk ini sama2 menyehatkan, kok! Malah harus dijaga 
keseimbangannya (mens sana et corpore sano).

Ajaib, gempa -bencana yang dikutuk itu- justru mendidik orang untuk 
kembali menjalin (memperbaharui) relasi dengan orang lain! Ya, gempa 
yang sama, mampu mendorong orang yang berbeda-beda untuk tergerak 
menyumbangkan segala yang dia bisa dan punya (kemampuan medis, tenaga 
fisik pencarian koprban, dana, makanan, obat2an, dll). Hanya lewat 
beberapa jam setelah gempa (dan penulis sendiri baru menyadari bahwa 
gempa yang terjadi efeknya begitu destruktif, victimous, yang terjadi 
bukan karena besar gempanya tapi lebih karena kedangkalan 
episentrumnya, dengan getaran mendatar, bukan berbentuk gelombang 
naik turun), kegerakkan massal manusia terjadi. Gempa yang sama 
memanikkan orang, gempa yang sama mengalutkan orang2 yang berbeda2, 
gempa yang sama memperkorban orang2 yang berbeda. Tapi, karena gempa 
yang sama pula, orang2 yang sama sekali berbeda latar belakangnya 
juga tergerak untuk spontan mencari korban tertimbun, menghibur 
korban, membuatkan posko2 informasi dan logistik. Gempa yang sama 
mendorong orang2 yang berbeda untuk memborong makanan dan obat dari 
toko2 dan apotek, bukan untuk dirinya sendri tapi untuk orang lain 
yang sebelumnya tak mereka kenal, bahkan temukan sama sekali. Saya 
menyaksikan sendiri bahwa gempa yang satu ini secara apik mendorong 
orang2 pemilik warung yang untungnya tak seberapa, hingga ibu2 PKK, 
ibu2 masjid dan gereja (juga kaum wanita kelenteng, saya kira) 
memasakkan nasi bungkus sekadar pemenuhan logistik korban. Tak kenal 
lelah mereka bersikeras bekerja menyumbangkan sesuatu. Musuh mereka 
cuma satu: waktu, sebelum lebih banyak lagi korban yang menderita. 
Dalam pemulihan pasca gempa,
mendadak orang menjadi lebih mudah aweh dedana, menjadi pemurah. 
Bahkan nilai uang (term. yang disumbangkan)  menjadi tak berarti sama 
sekali (term. dibandingkan dengan nilai kepuasan yang mereka rasakan 
ketika menyumbangkan uangnya). Ya, nilai materi menjadi tak 
berbicara, tak berkutik dihadapkan pada semangat solidaritas 
manusiawi. Aneh ya, gempa yangsatu, yang dialami bersama2, ya gempa 
yang dikutuki dan dikesahi itu, justru mendidik, melatih, mendorong 
manusia2 yang berbeda2 untuk menjadi relawan2 penolong orang2 lain 
yang tak mereka kenal itu. Aneh ya, gempa yang dikutuki dan dikesahi 
itulah pula yang membuat orang abai pada latar belakang mereka: asal 
domisili, etnis, agama, ideologi politik, aliran agama, skolaritas, 
status ekonomi, pekerjaan, usia (padahal, dalam keseharian, hal2 spt 
itulah yang memisahkan, membedakan, dan menjarakkan manusia satu dg 
lainnya). Gempa itu menyeruakkan dan melentingkan semangat dan 
gerakan persatuan. Semuanya menjadi satu, lebur pada rasa kemanusiaan 
yang satu. Heran ya, gempa jahanam yang tak manusiawi itu justru 
membuat manusia kembali melongok ke hakikatnya yang menusiawi. 
Padahal, di hari2 normal, manusia adalah serigala beringas, memangsa 
saudara2nya sendiri. 

Tapi, di masa kelabu ini, ternyata, ada pula yang (masih) lupa diri 
dan menjadi lebih rendah dari serigala itu. Mereka menjarahi harta 
korban yang tertinggal di puing2 bangunan. Entah karena mereka orang 
luar yang terdesak oleh faktor ekonomi, ataupun bahkan karena mereka 
sendiri adalah korban gempa dan terdesak kebutuhan logistik, 
perbuatan seperti itu jelas tak patut dibenarkan. Sama sekali 
rendahnya dengan korupsi pada dana bantuan yang harusnya diberikan 
pada orang2 yang menderita menjadi korban langsung suatu bencana yang 
luas, misalnya seperti kebusukan pengelolaan dana tsunami Aceh itu. 
Sudah mengalami benacana yang sedemikian dahsyatnya (mungkin yang 
terbesar di dunia sebab korbannya hingga ratusan ribu, jiwa maupun 
raga), kok masih bisa2nya mengangkangi peringatan Tuhan lewat alam 
itu!!!!!! Sudahlah, mereka yang bersipongah dan bersuka di atas 
derita sesama akan menuai celaka lebih dahsyat, walau saya benci 
mengatakan itu sbg suatu harapan, tapi saya meyakini matematika 
kehidupan yg bekerja dg kalkulasi demikian. Maka itu, saya masih 
heran dengan rasa kemanusiaan orang yang di tengah2 suasana massal 
kelabu ini bisa dg enak2nya menimbun bahan pangan untuk dirinya 
sendiri, atau enak2 tidur berkasur di kamar padahal di wilayah yang 
sama terbaring pula org2 korban gempa dengan hanya alas kardus, 
ditambah dengan luka2 yang payah pula! Masih ditambah hujan deras 
yang sudah dua hari terakhir ini mengguyur di sore hingga malam. (Ada 
seorang berida berusia 60 tahun, selamat dari gempa, namun meninggal 
krn tak kuat menahan dingin di tenda ungsi. Bantuan selimut dan alas 
tidurpun hingga kini masih minim dan belum merata). Sungguh 
terasinglah orang seperti ini! Apakah kemanusiaan yang mereka miliki 
tengah sakit dan kering sehingga tak terusik ikut tergerak dalam 
kegerakan massal kemanusiaan? Nyata bahwa egoisme justru mereduksi 
dan menafikkan, kalau tidak menghilangkan, kemanusiaan. Cita 
individualis yang pada hakikatnya ingin menegakkan kemerdekaan dan 
harga diri manusia, secara ironis, justru menghambat manusia 
mengaktualisasikan pesona kemanusiawiannya yang lebih hakiki. Ia 
terlalu sibuk dan terperangah dengan sukses dan prestasi diri (untuk 
mencapai nilai tinggi di dunia dan, akibatnya, penghargaan diri), itu 
baik. Tapi, bagaimana dengan wajah sosialnya, bagaimana dengan wajah 
orang lain di luar dirinya? (Di Indonesia dirumuskan suatu watak 
bahwa 'pemilikan pribadi diakui, tapi ia mengandung dimensi sosial 
yang memberi kemanfaatan luas'). Ingat bahwa pagar tembok lebih 
rentan daripada pagar sosial, yang dibangun dengan jalinan murni 
persaudaraan dan persahabatan (jadi bukan interaksi berkelamin 
transaksional- rasional)! Itulah watak anggun kemanusiawian. Itulah 
kemanusiaan yang diharapkan tampil utuh dan memesona.

Kemanusiaan dan kemanusiawian manusia itu satu sejatinya. Tidak ada 
kemanusiaan islami, agamawi, nasionalis, ilmiah, dll klaim yang 
merupakan kulit identitas, yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan 
itu. Sedangkan kebudayaan sendiri merupakan manifestasi kesadaran 
manusia menghadapi alam lingkungannya demi kelangsungan kehidupannya. 
Mereka mengembangkan peradaban demi mencapai kehidupan yang lebih 
mudah dan baik untuk dijalani. Adapan karena lingkungan alam sendiri 
bervariasi, maka dari dalam dirinya sendiri, kebudayaan telah membawa 
pandangan dunia yang subyektif dan bervariasi pula.(Kesadaran yang 
dikembangkan atas realitas kemajemukan ini dinamakan pluralisme). 
Makin terasing suatu kaum masyarakat, makin ia menelurkan kebudayaan 
yang eksotik (nyleneh). Sebaliknya, makin kosmopolit suatu 
masyarakat, identitas menjadi tak tertahankan. Masyarakat menjadi 
melampaui identitas (yg bg para pesimis dianggap sebagai "krisis 
identitas", kalau menurut saya, itu adalah "post-identity society 
transformation", itu malah sehat dan mendorong kemajuan). Identitas 
merupakan ekspresi dan representasi mental suatu esensi diri yang 
hendak diartikulasikan, ditunjukkan. Jadi, ia 
merupakan 'akibat'/'dampak' dari usaha manusia untuk menyatakan 
dirinya atas dunia, dan berusaha untuk menaklukkan/ mengalahkan 
dunia. Sampai tahap ini, hal itu sehat2 dan wajar2 saja. Tapi, bila 
kebablasan membela identitas tanpa mengetahui sejarahnya bagaimana 
identitas dirinya itu bisa seperti itu, dengan kata lain menelusuri 
hingga ke akar 'sebab' (secara sejarah), maka kemajuan (dengan modal 
kepercayaan diri karena aset identitas tapi yang berdasarkan sejarah 
tadi) yang hendak dicita2kan malah semu dan mustahil, atau paling 
tidak amat sulit, dicapai. Identitas memang bisa menjadi piranti 
pengcounter/pengimbang perubahan (baca lagi buku2 Alvin Toffler yang 
memerikan dan menuturkan Perubahan dengan indah). Tapi ia hanya alat 
pengimbang, bukan alat penggerak. Dan identitas yang fungsional, 
kontekstual pada masa kini, justru adalah identitas yang bergerak, 
yang tanggap perubahan, bukan identitas yang stagnan terpaku pada 
primordialitas. Dan primordialitas justru memenjara manusia pada 
hisab2 yang tak perlu, ia malah hanya memojokkan dan mengisolasi 
manusia di sudut kehampaan, kesendirian dan 
keterasingannya.Kemanusiaan dan kemanusiawian manusia adalah satu nan 
sama. Rasa perih luka dan sedih hati adalah perasaan manusiawi yang 
sama yang dirasakan oleh mereka yang Muslim, yang Kristen, yang PDIP, 
yang PKB, yang FPI, yang Cina, yang Jawa, yang Batak. Tidak ada itu 
sakit khas Jawa, atau sedih cara Islami. Tidak ada perih yang Cina, 
yang berbeda dengan lukanya orang Ambon. Yang membedakannya adalah 
tanggapan masing2 mereka (perasaan, dll) terhadap rangsangan2 itu. 
Dan itu sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan seperti dijelaskan 
tadi.

Jadi, kebudayaan yang memangku identitas tadi itu hanya kulit. 
Perasaan yang sama sebagai manusia, itu dialamkan oleh kemanusiaan 
yang sama nan satu. Maka itu, bila ada sesuatu yang mendorong 
solidaritas kemanusiaan yang muncul, insting manusiwi kita cepat 
menanggapi dan mengikatkan kita dalam persekutuan solidaritas tadi 
karena adanya perasaan kesamaan, sesamar apapun itu dirasakan, 
sebagai satu umat, umat manusia, yang berdiam di lahan yang sama, 
bumi tercinta. (PS: Manusia mudah merasa terikat pada solidaritas 
yang berlatar identitas dan kepentingan yang relatif sama dengan 
dirinya. Misal, bila ada orang Arab disiksa, sesamanya orang Arab 
akan lebih mudah dan cenderung membela dia drpd ras lain, atau bila 
orang PKS disakiti, orang yang seseragam dg dialah yang lebih mudah 
dan cepat mendekati dibanding dengan orang yang berseragam PBR, 
misalnya. Tapi, adalah lebih luhur dan lebih mulia, juga lebih 
manusiawi dan ilahi orang yang dapat bersolidaritas bukan karena 
kesaman identitas, kebudayaan, atau kepentingan, tetyapi karena 
menyadari bahwa mereka adalah anak2 dan saudara dari satu kemanusiaan 
yang sama, hidup dari lahan bumi yang sama, dan sama2 bertunduk pada 
Tuhan yang Satu, seberagam apapun Tuhan itu sebab yang membedakan, 
sekali lagi, adalah tanggapan dan penerimaan manusia terhadap obyek 
(seperti Tuhan, alam, dst) yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaannya 
dan kepentingannya tadi). Makin tinggi kepekaan kemanusiawian itu, 
makin sensitif rasa pula empatinya. Maksudnya, ia terluka, akupun 
terluka, walau aku tidak mengenal identitas dia. Ego adalah bahan 
bakar sifat individualis. Tapi bukan berarti ego harus kita hilangkan 
sebab ia merupakan bagian utuh (paket) kodrat kita sebagai manusia. 
Lagi, yang diperbaiki harusnya adalah cara tanggap, cara kelola, dan 
sikap manusia terhadapnya. Sudah seharusnya energi dan persepsi ego 
ini kita arahkan kepada hal2 yang lebih produktif dan bermanfaat ke 
arah kemanusiaan. (Jadi ego tak selamanya berkonotasi buruk. 
Lagipula, adalah lebih canggih mengubah yang buruk menjadi baik, 
seperti mengubah sampah urban harian menjadi sumber energi dari zat 
amonia yang dihasilkannya!). Ego yang berubah ini akan menjadi dapat 
berkata: egonya terluka, demikian pula egoku. Ada suatu keterkaitan 
dan keterikatan manusiawi di situ. Ada hubungan yang melampaui sifat2 
insaniah, menuju taraf ilahiah. Ada kesadaran bahwa semuanya ada di 
dalam Tuhan, aku berasal dari Tuhan, diapun juga, jadi apanya yang 
berbeda? Tuhan pun memakai kacamata yang sama dalam memandang manusia 
(pelajaran yang bagus dari ini dapat kita petik dari Injil Yesus).

Gempa ini dapat pula dipandang sebagai ujian. Tapi terdengar klise 
ya? Maka perlu dijabarkan lebih lanjut agar menegas, pengertian 
tentang ujian apa yang dimaksud. Sekali lagi ditegaskan bahwa penulis 
begitu yakinnya bahwa gempa ini adalah ujian dari Tuhan melalui 
instrumen fenomena alam, yang NB juga adalah ciptaanNya. Tuhan ingin 
menguji keyakinan kita padaNya. Itu pandangan khas agamawan. Kalau 
ingin menukik lebih dalam ke perspektif kemanusiaan, Tuhan ingin 
menguji kita, apakah kita masih bisa menghargai diri kita sendiri, 
jati diri kemanusiaan kita. Lantas setelah itu, apakah kita dapat 
menghargai kemanusiaan orang lain. Bila tahap itu sukses terlewati, 
maka Tuhan kembali bertanya, apakah kita sudah pula menghargai dan 
menghayati alam, juga memaknainya secara benar dan terhormat? Bila 
orang sudah sadar diri, dia akan menghargai dan menghormati dirinya 
sendiri, orang lain, dan punya kesadaran pula akan Yang Gaib (yang 
penulis percaya sbg Tuhan). Maka, peremehan manusia terhadap alam 
sebenarnya juga menunjukkan keenceran kualitas kemanusiaannya. 
Lagipula, alam dan manusia adalah ciptaan. Maka, dua2nya perlu 
bermitra dan bekerjasama. Memang, manusia adalah makhluk ciptaan 
termulia derajatnya. Tapi, karena yang ditampilkan dan ditekankan 
adalah sisi "makhluk termulia" pula, selama ini manusiapun 
merendahkan dan memperlakukan dengan tak senonoh alam (merusak 
lingkungan). Dalam Genesis, istilahnya adalah "semangat penaklukkan" 
(yang dibelokkan menjadi maksimisasi profit uang dan peluang dalam 
semangat kapitalisme seperti dalam tesis etika protestan Max Weber). 
Seharusnya, yang ditekankan adalah semangat kemitraannya, semangat 
kerjasamanya. Baik itu manusia-alam, terlebih manusia-manusia. Jadi 
semangatnya adalah paguyuban dan bukan patembayan (persaingan). Pun 
alih2 memperkaya diri, manusia harus proaktif giat bekerja sama! 
Sedangkan terlanjur jamak kita tahu bahwa semangat persaingan adalah 
akibat isme dan perspektif individualisme (semuanya untuk aku dan 
demi aku, biar saja orang lain tak selamat, itu karena kecerobohan 
dan kebodohannya, juga kemalasannya, yang penting aku terlebih dulu 
selamat), bukan? Kembali kita berada pada titik yang memkasa kita 
melakukan koreksi budaya dan perspektif kesadaran. Bangsa yang 
memiliki peradaban tinggi sudah tahu bagaimana lelah rasanya saling 
bersaing dan menghancurkan diri, dan menggantinya dengan etos 
kerjasama. Tak heran mereka mencapai puncak kejayaannya. Mereka2 itu 
seperti Babilonia, Turki, Romawi, Mesir, bahkan Majapahit. Ya, 
mereka2 itu telah punah, salah satunya dikarenakan semangat kerjasama 
itu luntur. Kecurigaan antar sesama merebak, elan solidaritas tak 
lagi militan, malah penghancuran diri serempak terjadi. Perebutan 
kekuasaan silih berganti, perang saudara berlangsung, terkadang 
karena hal2 yang remeh dan janggal. Tapi itulah yang mereka pilih dan 
telah tercatat oleh sejarah. Tinggal kita manusia yang hidup di masa 
kini bisa menghikmahinya atau tidak, bisa memetik pelajaran darinya 
atau tak.
Demikian pula dengan bangsa2 yang tengah bergerak maju, seperti AS, 
Eropa, Jepang, Korea, Cina, Singapura, bahkan Vietnam. Kita masih 
berkesempatan untuk tepekur merenungkan kejatuhan,kejayaan,kemajuan, 
kebangkitan, kemegahan, dan kebesaran bangsa2 tadi. Lewat sejarah, 
kita diberikan pilihan, ingin menjadi jaya atau terpuruk. Ingin 
tenggelam dalam kebodohan kemanusiawian atau menjadi jaya dan jawara 
kemanusiawian. Bangsa yang besar bukan karena mereka terdiri dari 
orang2 hebat. Ada saja di antara mereka yang cacat, sakit, jahat, 
dst. Tapi bangsa yang sehat, maju dan jaya ialah karena mereka 
terdiri dari orang2 yang teruji kesadaran kemanusiawiannya, dan 
mereka mampu mendidik bangsa dan masyarakat mereka untuk terus 
terjaga dalam melakukan hal serupa! Demikian mereka bergerak maju.

Lewat bencana alam ini, tidak hanya kesabaran dan ketabahan, tapi 
juga kepekaan kemanusiawian kita diuji. Mampukah kita menghadapi dan 
melewatinya dengan gemilang? Ataukah kita masih membutuhkan lebih 
banyak gempa hanya untuk mempersatukan kemanusiaan dan kemanusiawian 
kita? (Apakah memang harus ada gempa dulu untuk membuat kita lebih 
ramah, lebih menyapa dan manusiawi kepada sesama?) Tuhan memberkati 
kita sekalian! Tuhan menyertai kita sekalian!

xixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixi


Eh, jadi, apakah kita harus mensyukuri gempa jogja itu, karena dengan 
adanya gempa itu, justru terbukti dapat memaksa - menjadi dorongan 
dan alasan kuat - kita untuk menunjukkan semangat kemanusiaan kita. 
Bencana gempa menyediakan ajang peluang perlombaan dalam kebaikan dan 
pembuktian diri untuk menang di dalamnya dengan sebanyak mungkin 
menunjukkan kebaikan2 yang mungkin kita buat? Begitukah? Seharusnya 
kita harus malu bila kita masih harus dihujani gempa atau bencana 
lain terlebih dahulu untuk berbuat kebaikan dan membuktikan bahwa 
diri kita masih manusia!

Kita selalu diingatkan karena kita adalah pelupa yang selalu melupa.
Anggaplah suatu kejadian tak menyenangkan, atau bahkan menyedihkan, 
sebagai latihan olah hati, olah kepribadian, dan olah kesadaran. 
Konon, dalam keprihatinan, kehalusan, kepekaan dan kelembutan rasa 
kita meningkat.

"Sungguh aneh realitas dunia ini bila dinalar dengan akal otak kiri 
semata (bahkan seluruh neuron dan nexus otakpun tak mampu memahami 
alam sehingga alam kehidupan dinyatakan sebagai rahasia terbesar 
kehidupan manusia, yang juga merupakan elemen dari kehidupan alam 
tersebut). Ada orang sengsara yang kelaparan terasa makin lapar 
lambung dan hatinya ketika melihat orang yang lebih beruntung 
daripadanya makan. Yang satu makin kenyang, yang satu makin memendam 
duka, jurang antara keduanya makin melebar dan berjarak. Tapi, akan 
lebih sama2 kenyang lambung dan hatinya orang yang beruntung 
(berkecukupan) yang memberi makan orang sengsara yang kelaparan. 
Keduanya sama2 menikmati makanan. Orang sengsara tadi makan dengan 
syukur sehingga mengenyangkan perut dan hatinya. Orang pemberi tadi 
juga merasakan kenyang jiwanya karena ia memberi dengan hati, bukan 
nilai materi. Dua orang yang sama berpotensi melakukan dua hal yang 
amat berbeda."









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke