MENGHIKMAHI BENCANA Seperti hal lain yang ada di dunia ini, terhadap setiap peristiwa, atau bahkan kejadian biasa saja, manusia bisa menghambil jarak darinya, lalu memilih dan menentukan posisi sehingga dapat diambil sikap terhadap hal2 yang diindra/dirasakan olehnya tadi. Itulah olah kesadaran. Itulah yang dinamakan dengan penghayatan hidup dan kehidupan. Dan sebagai manusia, baiklah kita menghikmahi setiap kejadian yang ada di dalam kehidupan kita, tak peduli kita menentang spiritual, getol, atau bahkan fanatik dan kecanduan terhadapnya. Ini bukan soal ideologi. Ini soal merasakan dan memaknai kehidupan yang sama, di lahan hidup yang sama. Alangkah indahnya bila tiap manusia menyadari hal ini. Maka tak heran bila pada tingkat ekstrem, orang2 top yang telah ekstrem pula penghayatan dan pemahaman kehidupannya akan serupa dan serempak menyatakan bahwa tak dibutuhkan lagi institusionalisasi dan perangkat hukum serta ideologi yang mengatur sebab instrumen2 tadi sudah inheren nyata melekat elementer pada diri orang yang sadar diri. Term spritualismenya adalah orang yang telah mendapat pencerahan, istilah lain telah menjadi buddha. Anehnya, tiap agama (terutama agama besar- arus utama yang sudah sahih sehingga kita tak perlu berpanjang bahal mengenai definisi agama) kompak berbicara mengenai hal ini.
Kita dapat mengambil sikap positif atau negatif terhadap suatu peristiwa. Masih dalam suasana kelabu pasca gempa jogja (lihat: JOGET: JOGJA BERGETAR) yang penulis alami sendiri, kita dapat menjadi lebih cerdas dengan adanya gempa, atau bisa pula -dengan kehendak bebas yang dianugerahkan bagi kita- memusuhi gempa dan misuh2i Gusti karena peristiwa yang rampat/generalisasi (dan kita bersetuju) dikatakan sebagai tragedi pilu ini. Tapi, sememilukannya peristiwa itu, saya memilih bertolak pada kubu yang memahami dan mengambil peristiwa ini sebagai hikmah pelajaran. Apalagi, sebagai warga yang selamat (Alhamdulillah), penulis merasa memiliki kewajiban moral untuk menyebarluaskan pikiran positif yang menguatkan dan menyehatkan bagi saudara2 yang lain yang tengah terluka, sedih, shock, trauma, sakit hati famili dan relasinya meninggal atau luka berat. Maksudnya sebagai imbangan sakit hati atau pikiran kalut (yang berarti produksi energi negatif) yang sebenarnya juga tak kalah kelam dari efek destruktif gempa kemaren itu. Selain santunan raga, ada baiknya diri yang sakit diperlengkapi pemulihannya dengan santunan jiwa-rasa- pikiran. Kedua bentuk ini sama2 menyehatkan, kok! Malah harus dijaga keseimbangannya (mens sana et corpore sano). Ajaib, gempa -bencana yang dikutuk itu- justru mendidik orang untuk kembali menjalin (memperbaharui) relasi dengan orang lain! Ya, gempa yang sama, mampu mendorong orang yang berbeda-beda untuk tergerak menyumbangkan segala yang dia bisa dan punya (kemampuan medis, tenaga fisik pencarian koprban, dana, makanan, obat2an, dll). Hanya lewat beberapa jam setelah gempa (dan penulis sendiri baru menyadari bahwa gempa yang terjadi efeknya begitu destruktif, victimous, yang terjadi bukan karena besar gempanya tapi lebih karena kedangkalan episentrumnya, dengan getaran mendatar, bukan berbentuk gelombang naik turun), kegerakkan massal manusia terjadi. Gempa yang sama memanikkan orang, gempa yang sama mengalutkan orang2 yang berbeda2, gempa yang sama memperkorban orang2 yang berbeda. Tapi, karena gempa yang sama pula, orang2 yang sama sekali berbeda latar belakangnya juga tergerak untuk spontan mencari korban tertimbun, menghibur korban, membuatkan posko2 informasi dan logistik. Gempa yang sama mendorong orang2 yang berbeda untuk memborong makanan dan obat dari toko2 dan apotek, bukan untuk dirinya sendri tapi untuk orang lain yang sebelumnya tak mereka kenal, bahkan temukan sama sekali. Saya menyaksikan sendiri bahwa gempa yang satu ini secara apik mendorong orang2 pemilik warung yang untungnya tak seberapa, hingga ibu2 PKK, ibu2 masjid dan gereja (juga kaum wanita kelenteng, saya kira) memasakkan nasi bungkus sekadar pemenuhan logistik korban. Tak kenal lelah mereka bersikeras bekerja menyumbangkan sesuatu. Musuh mereka cuma satu: waktu, sebelum lebih banyak lagi korban yang menderita. Dalam pemulihan pasca gempa, mendadak orang menjadi lebih mudah aweh dedana, menjadi pemurah. Bahkan nilai uang (term. yang disumbangkan) menjadi tak berarti sama sekali (term. dibandingkan dengan nilai kepuasan yang mereka rasakan ketika menyumbangkan uangnya). Ya, nilai materi menjadi tak berbicara, tak berkutik dihadapkan pada semangat solidaritas manusiawi. Aneh ya, gempa yangsatu, yang dialami bersama2, ya gempa yang dikutuki dan dikesahi itu, justru mendidik, melatih, mendorong manusia2 yang berbeda2 untuk menjadi relawan2 penolong orang2 lain yang tak mereka kenal itu. Aneh ya, gempa yang dikutuki dan dikesahi itulah pula yang membuat orang abai pada latar belakang mereka: asal domisili, etnis, agama, ideologi politik, aliran agama, skolaritas, status ekonomi, pekerjaan, usia (padahal, dalam keseharian, hal2 spt itulah yang memisahkan, membedakan, dan menjarakkan manusia satu dg lainnya). Gempa itu menyeruakkan dan melentingkan semangat dan gerakan persatuan. Semuanya menjadi satu, lebur pada rasa kemanusiaan yang satu. Heran ya, gempa jahanam yang tak manusiawi itu justru membuat manusia kembali melongok ke hakikatnya yang menusiawi. Padahal, di hari2 normal, manusia adalah serigala beringas, memangsa saudara2nya sendiri. Tapi, di masa kelabu ini, ternyata, ada pula yang (masih) lupa diri dan menjadi lebih rendah dari serigala itu. Mereka menjarahi harta korban yang tertinggal di puing2 bangunan. Entah karena mereka orang luar yang terdesak oleh faktor ekonomi, ataupun bahkan karena mereka sendiri adalah korban gempa dan terdesak kebutuhan logistik, perbuatan seperti itu jelas tak patut dibenarkan. Sama sekali rendahnya dengan korupsi pada dana bantuan yang harusnya diberikan pada orang2 yang menderita menjadi korban langsung suatu bencana yang luas, misalnya seperti kebusukan pengelolaan dana tsunami Aceh itu. Sudah mengalami benacana yang sedemikian dahsyatnya (mungkin yang terbesar di dunia sebab korbannya hingga ratusan ribu, jiwa maupun raga), kok masih bisa2nya mengangkangi peringatan Tuhan lewat alam itu!!!!!! Sudahlah, mereka yang bersipongah dan bersuka di atas derita sesama akan menuai celaka lebih dahsyat, walau saya benci mengatakan itu sbg suatu harapan, tapi saya meyakini matematika kehidupan yg bekerja dg kalkulasi demikian. Maka itu, saya masih heran dengan rasa kemanusiaan orang yang di tengah2 suasana massal kelabu ini bisa dg enak2nya menimbun bahan pangan untuk dirinya sendiri, atau enak2 tidur berkasur di kamar padahal di wilayah yang sama terbaring pula org2 korban gempa dengan hanya alas kardus, ditambah dengan luka2 yang payah pula! Masih ditambah hujan deras yang sudah dua hari terakhir ini mengguyur di sore hingga malam. (Ada seorang berida berusia 60 tahun, selamat dari gempa, namun meninggal krn tak kuat menahan dingin di tenda ungsi. Bantuan selimut dan alas tidurpun hingga kini masih minim dan belum merata). Sungguh terasinglah orang seperti ini! Apakah kemanusiaan yang mereka miliki tengah sakit dan kering sehingga tak terusik ikut tergerak dalam kegerakan massal kemanusiaan? Nyata bahwa egoisme justru mereduksi dan menafikkan, kalau tidak menghilangkan, kemanusiaan. Cita individualis yang pada hakikatnya ingin menegakkan kemerdekaan dan harga diri manusia, secara ironis, justru menghambat manusia mengaktualisasikan pesona kemanusiawiannya yang lebih hakiki. Ia terlalu sibuk dan terperangah dengan sukses dan prestasi diri (untuk mencapai nilai tinggi di dunia dan, akibatnya, penghargaan diri), itu baik. Tapi, bagaimana dengan wajah sosialnya, bagaimana dengan wajah orang lain di luar dirinya? (Di Indonesia dirumuskan suatu watak bahwa 'pemilikan pribadi diakui, tapi ia mengandung dimensi sosial yang memberi kemanfaatan luas'). Ingat bahwa pagar tembok lebih rentan daripada pagar sosial, yang dibangun dengan jalinan murni persaudaraan dan persahabatan (jadi bukan interaksi berkelamin transaksional- rasional)! Itulah watak anggun kemanusiawian. Itulah kemanusiaan yang diharapkan tampil utuh dan memesona. Kemanusiaan dan kemanusiawian manusia itu satu sejatinya. Tidak ada kemanusiaan islami, agamawi, nasionalis, ilmiah, dll klaim yang merupakan kulit identitas, yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan itu. Sedangkan kebudayaan sendiri merupakan manifestasi kesadaran manusia menghadapi alam lingkungannya demi kelangsungan kehidupannya. Mereka mengembangkan peradaban demi mencapai kehidupan yang lebih mudah dan baik untuk dijalani. Adapan karena lingkungan alam sendiri bervariasi, maka dari dalam dirinya sendiri, kebudayaan telah membawa pandangan dunia yang subyektif dan bervariasi pula.(Kesadaran yang dikembangkan atas realitas kemajemukan ini dinamakan pluralisme). Makin terasing suatu kaum masyarakat, makin ia menelurkan kebudayaan yang eksotik (nyleneh). Sebaliknya, makin kosmopolit suatu masyarakat, identitas menjadi tak tertahankan. Masyarakat menjadi melampaui identitas (yg bg para pesimis dianggap sebagai "krisis identitas", kalau menurut saya, itu adalah "post-identity society transformation", itu malah sehat dan mendorong kemajuan). Identitas merupakan ekspresi dan representasi mental suatu esensi diri yang hendak diartikulasikan, ditunjukkan. Jadi, ia merupakan 'akibat'/'dampak' dari usaha manusia untuk menyatakan dirinya atas dunia, dan berusaha untuk menaklukkan/ mengalahkan dunia. Sampai tahap ini, hal itu sehat2 dan wajar2 saja. Tapi, bila kebablasan membela identitas tanpa mengetahui sejarahnya bagaimana identitas dirinya itu bisa seperti itu, dengan kata lain menelusuri hingga ke akar 'sebab' (secara sejarah), maka kemajuan (dengan modal kepercayaan diri karena aset identitas tapi yang berdasarkan sejarah tadi) yang hendak dicita2kan malah semu dan mustahil, atau paling tidak amat sulit, dicapai. Identitas memang bisa menjadi piranti pengcounter/pengimbang perubahan (baca lagi buku2 Alvin Toffler yang memerikan dan menuturkan Perubahan dengan indah). Tapi ia hanya alat pengimbang, bukan alat penggerak. Dan identitas yang fungsional, kontekstual pada masa kini, justru adalah identitas yang bergerak, yang tanggap perubahan, bukan identitas yang stagnan terpaku pada primordialitas. Dan primordialitas justru memenjara manusia pada hisab2 yang tak perlu, ia malah hanya memojokkan dan mengisolasi manusia di sudut kehampaan, kesendirian dan keterasingannya.Kemanusiaan dan kemanusiawian manusia adalah satu nan sama. Rasa perih luka dan sedih hati adalah perasaan manusiawi yang sama yang dirasakan oleh mereka yang Muslim, yang Kristen, yang PDIP, yang PKB, yang FPI, yang Cina, yang Jawa, yang Batak. Tidak ada itu sakit khas Jawa, atau sedih cara Islami. Tidak ada perih yang Cina, yang berbeda dengan lukanya orang Ambon. Yang membedakannya adalah tanggapan masing2 mereka (perasaan, dll) terhadap rangsangan2 itu. Dan itu sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan seperti dijelaskan tadi. Jadi, kebudayaan yang memangku identitas tadi itu hanya kulit. Perasaan yang sama sebagai manusia, itu dialamkan oleh kemanusiaan yang sama nan satu. Maka itu, bila ada sesuatu yang mendorong solidaritas kemanusiaan yang muncul, insting manusiwi kita cepat menanggapi dan mengikatkan kita dalam persekutuan solidaritas tadi karena adanya perasaan kesamaan, sesamar apapun itu dirasakan, sebagai satu umat, umat manusia, yang berdiam di lahan yang sama, bumi tercinta. (PS: Manusia mudah merasa terikat pada solidaritas yang berlatar identitas dan kepentingan yang relatif sama dengan dirinya. Misal, bila ada orang Arab disiksa, sesamanya orang Arab akan lebih mudah dan cenderung membela dia drpd ras lain, atau bila orang PKS disakiti, orang yang seseragam dg dialah yang lebih mudah dan cepat mendekati dibanding dengan orang yang berseragam PBR, misalnya. Tapi, adalah lebih luhur dan lebih mulia, juga lebih manusiawi dan ilahi orang yang dapat bersolidaritas bukan karena kesaman identitas, kebudayaan, atau kepentingan, tetyapi karena menyadari bahwa mereka adalah anak2 dan saudara dari satu kemanusiaan yang sama, hidup dari lahan bumi yang sama, dan sama2 bertunduk pada Tuhan yang Satu, seberagam apapun Tuhan itu sebab yang membedakan, sekali lagi, adalah tanggapan dan penerimaan manusia terhadap obyek (seperti Tuhan, alam, dst) yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaannya dan kepentingannya tadi). Makin tinggi kepekaan kemanusiawian itu, makin sensitif rasa pula empatinya. Maksudnya, ia terluka, akupun terluka, walau aku tidak mengenal identitas dia. Ego adalah bahan bakar sifat individualis. Tapi bukan berarti ego harus kita hilangkan sebab ia merupakan bagian utuh (paket) kodrat kita sebagai manusia. Lagi, yang diperbaiki harusnya adalah cara tanggap, cara kelola, dan sikap manusia terhadapnya. Sudah seharusnya energi dan persepsi ego ini kita arahkan kepada hal2 yang lebih produktif dan bermanfaat ke arah kemanusiaan. (Jadi ego tak selamanya berkonotasi buruk. Lagipula, adalah lebih canggih mengubah yang buruk menjadi baik, seperti mengubah sampah urban harian menjadi sumber energi dari zat amonia yang dihasilkannya!). Ego yang berubah ini akan menjadi dapat berkata: egonya terluka, demikian pula egoku. Ada suatu keterkaitan dan keterikatan manusiawi di situ. Ada hubungan yang melampaui sifat2 insaniah, menuju taraf ilahiah. Ada kesadaran bahwa semuanya ada di dalam Tuhan, aku berasal dari Tuhan, diapun juga, jadi apanya yang berbeda? Tuhan pun memakai kacamata yang sama dalam memandang manusia (pelajaran yang bagus dari ini dapat kita petik dari Injil Yesus). Gempa ini dapat pula dipandang sebagai ujian. Tapi terdengar klise ya? Maka perlu dijabarkan lebih lanjut agar menegas, pengertian tentang ujian apa yang dimaksud. Sekali lagi ditegaskan bahwa penulis begitu yakinnya bahwa gempa ini adalah ujian dari Tuhan melalui instrumen fenomena alam, yang NB juga adalah ciptaanNya. Tuhan ingin menguji keyakinan kita padaNya. Itu pandangan khas agamawan. Kalau ingin menukik lebih dalam ke perspektif kemanusiaan, Tuhan ingin menguji kita, apakah kita masih bisa menghargai diri kita sendiri, jati diri kemanusiaan kita. Lantas setelah itu, apakah kita dapat menghargai kemanusiaan orang lain. Bila tahap itu sukses terlewati, maka Tuhan kembali bertanya, apakah kita sudah pula menghargai dan menghayati alam, juga memaknainya secara benar dan terhormat? Bila orang sudah sadar diri, dia akan menghargai dan menghormati dirinya sendiri, orang lain, dan punya kesadaran pula akan Yang Gaib (yang penulis percaya sbg Tuhan). Maka, peremehan manusia terhadap alam sebenarnya juga menunjukkan keenceran kualitas kemanusiaannya. Lagipula, alam dan manusia adalah ciptaan. Maka, dua2nya perlu bermitra dan bekerjasama. Memang, manusia adalah makhluk ciptaan termulia derajatnya. Tapi, karena yang ditampilkan dan ditekankan adalah sisi "makhluk termulia" pula, selama ini manusiapun merendahkan dan memperlakukan dengan tak senonoh alam (merusak lingkungan). Dalam Genesis, istilahnya adalah "semangat penaklukkan" (yang dibelokkan menjadi maksimisasi profit uang dan peluang dalam semangat kapitalisme seperti dalam tesis etika protestan Max Weber). Seharusnya, yang ditekankan adalah semangat kemitraannya, semangat kerjasamanya. Baik itu manusia-alam, terlebih manusia-manusia. Jadi semangatnya adalah paguyuban dan bukan patembayan (persaingan). Pun alih2 memperkaya diri, manusia harus proaktif giat bekerja sama! Sedangkan terlanjur jamak kita tahu bahwa semangat persaingan adalah akibat isme dan perspektif individualisme (semuanya untuk aku dan demi aku, biar saja orang lain tak selamat, itu karena kecerobohan dan kebodohannya, juga kemalasannya, yang penting aku terlebih dulu selamat), bukan? Kembali kita berada pada titik yang memkasa kita melakukan koreksi budaya dan perspektif kesadaran. Bangsa yang memiliki peradaban tinggi sudah tahu bagaimana lelah rasanya saling bersaing dan menghancurkan diri, dan menggantinya dengan etos kerjasama. Tak heran mereka mencapai puncak kejayaannya. Mereka2 itu seperti Babilonia, Turki, Romawi, Mesir, bahkan Majapahit. Ya, mereka2 itu telah punah, salah satunya dikarenakan semangat kerjasama itu luntur. Kecurigaan antar sesama merebak, elan solidaritas tak lagi militan, malah penghancuran diri serempak terjadi. Perebutan kekuasaan silih berganti, perang saudara berlangsung, terkadang karena hal2 yang remeh dan janggal. Tapi itulah yang mereka pilih dan telah tercatat oleh sejarah. Tinggal kita manusia yang hidup di masa kini bisa menghikmahinya atau tidak, bisa memetik pelajaran darinya atau tak. Demikian pula dengan bangsa2 yang tengah bergerak maju, seperti AS, Eropa, Jepang, Korea, Cina, Singapura, bahkan Vietnam. Kita masih berkesempatan untuk tepekur merenungkan kejatuhan,kejayaan,kemajuan, kebangkitan, kemegahan, dan kebesaran bangsa2 tadi. Lewat sejarah, kita diberikan pilihan, ingin menjadi jaya atau terpuruk. Ingin tenggelam dalam kebodohan kemanusiawian atau menjadi jaya dan jawara kemanusiawian. Bangsa yang besar bukan karena mereka terdiri dari orang2 hebat. Ada saja di antara mereka yang cacat, sakit, jahat, dst. Tapi bangsa yang sehat, maju dan jaya ialah karena mereka terdiri dari orang2 yang teruji kesadaran kemanusiawiannya, dan mereka mampu mendidik bangsa dan masyarakat mereka untuk terus terjaga dalam melakukan hal serupa! Demikian mereka bergerak maju. Lewat bencana alam ini, tidak hanya kesabaran dan ketabahan, tapi juga kepekaan kemanusiawian kita diuji. Mampukah kita menghadapi dan melewatinya dengan gemilang? Ataukah kita masih membutuhkan lebih banyak gempa hanya untuk mempersatukan kemanusiaan dan kemanusiawian kita? (Apakah memang harus ada gempa dulu untuk membuat kita lebih ramah, lebih menyapa dan manusiawi kepada sesama?) Tuhan memberkati kita sekalian! Tuhan menyertai kita sekalian! xixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixi Eh, jadi, apakah kita harus mensyukuri gempa jogja itu, karena dengan adanya gempa itu, justru terbukti dapat memaksa - menjadi dorongan dan alasan kuat - kita untuk menunjukkan semangat kemanusiaan kita. Bencana gempa menyediakan ajang peluang perlombaan dalam kebaikan dan pembuktian diri untuk menang di dalamnya dengan sebanyak mungkin menunjukkan kebaikan2 yang mungkin kita buat? Begitukah? Seharusnya kita harus malu bila kita masih harus dihujani gempa atau bencana lain terlebih dahulu untuk berbuat kebaikan dan membuktikan bahwa diri kita masih manusia! Kita selalu diingatkan karena kita adalah pelupa yang selalu melupa. Anggaplah suatu kejadian tak menyenangkan, atau bahkan menyedihkan, sebagai latihan olah hati, olah kepribadian, dan olah kesadaran. Konon, dalam keprihatinan, kehalusan, kepekaan dan kelembutan rasa kita meningkat. "Sungguh aneh realitas dunia ini bila dinalar dengan akal otak kiri semata (bahkan seluruh neuron dan nexus otakpun tak mampu memahami alam sehingga alam kehidupan dinyatakan sebagai rahasia terbesar kehidupan manusia, yang juga merupakan elemen dari kehidupan alam tersebut). Ada orang sengsara yang kelaparan terasa makin lapar lambung dan hatinya ketika melihat orang yang lebih beruntung daripadanya makan. Yang satu makin kenyang, yang satu makin memendam duka, jurang antara keduanya makin melebar dan berjarak. Tapi, akan lebih sama2 kenyang lambung dan hatinya orang yang beruntung (berkecukupan) yang memberi makan orang sengsara yang kelaparan. Keduanya sama2 menikmati makanan. Orang sengsara tadi makan dengan syukur sehingga mengenyangkan perut dan hatinya. Orang pemberi tadi juga merasakan kenyang jiwanya karena ia memberi dengan hati, bukan nilai materi. Dua orang yang sama berpotensi melakukan dua hal yang amat berbeda." ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/pyIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
