Pagi-pagi buta masyarakat DIY, dikejutkan oleh gelegak bumi yang disusul dengan goncangan dan sesaat kemudian bumi pertiwi menangis menyaksikan peristiwa besar yang baru saja dialaminya tesebut. kepada mereka yang menjadi korban, semoga yang Maha Kuasa senantiasa menyelamatkan iman dan membahagiakannya.
benar adanya bahwa sebuah peristiwa tidak akan pernah datang dan menghampiri apapun tanpa ada sebab yang mendorong kelahirannya, manusia sering kali menempatkan dirinya dalam liberum episentrum sehingga fenomena apapun yang terjadi senantiasa di kaitkan pada nasib dan perjalanan dirinya, padahal alam semesta memiliki logika sendiri untuk melestarikan kelangsungannya, alam kemudian tampak seolah bengis jika meterial berat dan gonjangan yang terjadi sekonyong-konyong melukai kita. teologi baik dan burukpun kemudian terseret pada lingkup geosentris epistemik, artinya manusia dan keberadaannya kemudaian menjadi tolak ukur dan alat yang bisa secara sisitemik
melerai pemikiran diatas.
agaknya kita mesti kembali menegakkan pola berfikir yang berasaskan pada sebuah sistem yang lebih kukuh untuk membangan sebuah pandangan dunia yang fundamental.
sering kali manusia kembali diingatkan atas peristiwa dan fenomena alam, bukan saja sebagai bukti kekuasaan Tuhan, karena dalam damaipun Tuhan lebih menampakkan dirinya sebagai manifestasi yang luhur dan serasi, keteraturan alam adalah sebuah model dari pemahanan Tuhan yang demikian, sering manusia merasakan kehadiran dan adanyaTuahan diasaat alam sekitarnya sedang merandang dan marah, nah!! munculah diagframha tuhan yang bengis dan yang menghancurkan.
peringatan Tuahan ada dimana2 di seantero jangat raya, alam yang sedang tersenyum dan yang marah adalah refleksi akan Dirinya.
sayangnya manusia sering kali terlambat menyadari fungsinya sebagi genus sosial sehingga dikala bahaya dan petaka datang, bergegas untuk
menyadari dan mengerti akan sebuah ikatan tanpa batas akan dirinya,
sekali lagi alam ingin mengatakan bahwa persaudaraan dan jalinan persahabatan hendaknya jangan pernah datang terlambat. sehingga Tuhan tidak harus menghidupkan rasa hati manusia yang mulai beku dengan sesuatu yang paling di takutinya, ketika bumi kemudian bergoncang dan korban berjatuahan.!!!
kepada semua korban bencana alam semoga senantiasa dalam katabahan dan kesabaran.
ary054_bo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ary054_bo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MENGHIKMAHI BENCANA
Seperti hal lain yang ada di dunia ini, terhadap setiap peristiwa,
atau bahkan kejadian biasa saja, manusia bisa menghambil jarak
darinya, lalu memilih dan menentukan posisi sehingga dapat diambil
sikap terhadap hal2 yang diindra/dirasakan olehnya tadi. Itulah olah
kesadaran. Itulah yang dinamakan dengan penghayatan hidup dan
kehidupan. Dan sebagai manusia, baiklah kita menghikmahi setiap
kejadian yang ada di dalam kehidupan kita, tak peduli kita menentang
spiritual, getol, atau bahkan fanatik dan kecanduan terhadapnya. Ini
bukan soal ideologi. Ini soal merasakan dan memaknai kehidupan yang
sama, di lahan hidup yang sama. Alangkah indahnya bila tiap manusia
menyadari hal ini. Maka tak heran bila pada tingkat ekstrem, orang2
top yang telah ekstrem pula penghayatan dan pemahaman kehidupannya
akan serupa dan serempak menyatakan bahwa tak dibutuhkan lagi
institusionalisasi dan perangkat hukum serta ideologi yang mengatur
sebab instrumen2 tadi sudah inheren nyata melekat elementer pada diri
orang yang sadar diri. Term spritualismenya adalah orang yang telah
mendapat pencerahan, istilah lain telah menjadi buddha. Anehnya, tiap
agama (terutama agama besar- arus utama yang sudah sahih sehingga
kita tak perlu berpanjang bahal mengenai definisi agama) kompak
berbicara mengenai hal ini.
Kita dapat mengambil sikap positif atau negatif terhadap suatu
peristiwa. Masih dalam suasana kelabu pasca gempa jogja (lihat:
JOGET: JOGJA BERGETAR) yang penulis alami sendiri, kita dapat menjadi
lebih cerdas dengan adanya gempa, atau bisa pula -dengan kehendak
bebas yang dianugerahkan bagi kita- memusuhi gempa dan misuh2i Gusti
karena peristiwa yang rampat/generalisasi (dan kita bersetuju)
dikatakan sebagai tragedi pilu ini. Tapi, sememilukannya peristiwa
itu, saya memilih bertolak pada kubu yang memahami dan mengambil
peristiwa ini sebagai hikmah pelajaran. Apalagi, sebagai warga yang
selamat (Alhamdulillah), penulis merasa memiliki kewajiban moral
untuk menyebarluaskan pikiran positif yang menguatkan dan menyehatkan
bagi saudara2 yang lain yang tengah terluka, sedih, shock, trauma,
sakit hati famili dan relasinya meninggal atau luka berat. Maksudnya
sebagai imbangan sakit hati atau pikiran kalut (yang berarti produksi
energi negatif) yang sebenarnya juga tak kalah kelam dari efek
destruktif gempa kemaren itu. Selain santunan raga, ada baiknya diri
yang sakit diperlengkapi pemulihannya dengan santunan jiwa-rasa-
pikiran. Kedua bentuk ini sama2 menyehatkan, kok! Malah harus dijaga
keseimbangannya (mens sana et corpore sano).
Ajaib, gempa -bencana yang dikutuk itu- justru mendidik orang untuk
kembali menjalin (memperbaharui) relasi dengan orang lain! Ya, gempa
yang sama, mampu mendorong orang yang berbeda-beda untuk tergerak
menyumbangkan segala yang dia bisa dan punya (kemampuan medis, tenaga
fisik pencarian koprban, dana, makanan, obat2an, dll). Hanya lewat
beberapa jam setelah gempa (dan penulis sendiri baru menyadari bahwa
gempa yang terjadi efeknya begitu destruktif, victimous, yang terjadi
bukan karena besar gempanya tapi lebih karena kedangkalan
episentrumnya, dengan getaran mendatar, bukan berbentuk gelombang
naik turun), kegerakkan massal manusia terjadi. Gempa yang sama
memanikkan orang, gempa yang sama mengalutkan orang2 yang berbeda2,
gempa yang sama memperkorban orang2 yang berbeda. Tapi, karena gempa
yang sama pula, orang2 yang sama sekali berbeda latar belakangnya
juga tergerak untuk spontan mencari korban tertimbun, menghibur
korban, membuatkan posko2 informasi dan logistik. Gempa yang sama
mendorong orang2 yang berbeda untuk memborong makanan dan obat dari
toko2 dan apotek, bukan untuk dirinya sendri tapi untuk orang lain
yang sebelumnya tak mereka kenal, bahkan temukan sama sekali. Saya
menyaksikan sendiri bahwa gempa yang satu ini secara apik mendorong
orang2 pemilik warung yang untungnya tak seberapa, hingga ibu2 PKK,
ibu2 masjid dan gereja (juga kaum wanita kelenteng, saya kira)
memasakkan nasi bungkus sekadar pemenuhan logistik korban. Tak kenal
lelah mereka bersikeras bekerja menyumbangkan sesuatu. Musuh mereka
cuma satu: waktu, sebelum lebih banyak lagi korban yang menderita.
Dalam pemulihan pasca gempa,
mendadak orang menjadi lebih mudah aweh dedana, menjadi pemurah.
Bahkan nilai uang (term. yang disumbangkan) menjadi tak berarti sama
sekali (term. dibandingkan dengan nilai kepuasan yang mereka rasakan
ketika menyumbangkan uangnya). Ya, nilai materi menjadi tak
berbicara, tak berkutik dihadapkan pada semangat solidaritas
manusiawi. Aneh ya, gempa yangsatu, yang dialami bersama2, ya gempa
yang dikutuki dan dikesahi itu, justru mendidik, melatih, mendorong
manusia2 yang berbeda2 untuk menjadi relawan2 penolong orang2 lain
yang tak mereka kenal itu. Aneh ya, gempa yang dikutuki dan dikesahi
itulah pula yang membuat orang abai pada latar belakang mereka: asal
domisili, etnis, agama, ideologi politik, aliran agama, skolaritas,
status ekonomi, pekerjaan, usia (padahal, dalam keseharian, hal2 spt
itulah yang memisahkan, membedakan, dan menjarakkan manusia satu dg
lainnya). Gempa itu menyeruakkan dan melentingkan semangat dan
gerakan persatuan. Semuanya menjadi satu, lebur pada rasa kemanusiaan
yang satu. Heran ya, gempa jahanam yang tak manusiawi itu justru
membuat manusia kembali melongok ke hakikatnya yang menusiawi.
Padahal, di hari2 normal, manusia adalah serigala beringas, memangsa
saudara2nya sendiri.
Tapi, di masa kelabu ini, ternyata, ada pula yang (masih) lupa diri
dan menjadi lebih rendah dari serigala itu. Mereka menjarahi harta
korban yang tertinggal di puing2 bangunan. Entah karena mereka orang
luar yang terdesak oleh faktor ekonomi, ataupun bahkan karena mereka
sendiri adalah korban gempa dan terdesak kebutuhan logistik,
perbuatan seperti itu jelas tak patut dibenarkan. Sama sekali
rendahnya dengan korupsi pada dana bantuan yang harusnya diberikan
pada orang2 yang menderita menjadi korban langsung suatu bencana yang
luas, misalnya seperti kebusukan pengelolaan dana tsunami Aceh itu.
Sudah mengalami benacana yang sedemikian dahsyatnya (mungkin yang
terbesar di dunia sebab korbannya hingga ratusan ribu, jiwa maupun
raga), kok masih bisa2nya mengangkangi peringatan Tuhan lewat alam
itu!!!!!! Sudahlah, mereka yang bersipongah dan bersuka di atas
derita sesama akan menuai celaka lebih dahsyat, walau saya benci
mengatakan itu sbg suatu harapan, tapi saya meyakini matematika
kehidupan yg bekerja dg kalkulasi demikian. Maka itu, saya masih
heran dengan rasa kemanusiaan orang yang di tengah2 suasana massal
kelabu ini bisa dg enak2nya menimbun bahan pangan untuk dirinya
sendiri, atau enak2 tidur berkasur di kamar padahal di wilayah yang
sama terbaring pula org2 korban gempa dengan hanya alas kardus,
ditambah dengan luka2 yang payah pula! Masih ditambah hujan deras
yang sudah dua hari terakhir ini mengguyur di sore hingga malam. (Ada
seorang berida berusia 60 tahun, selamat dari gempa, namun meninggal
krn tak kuat menahan dingin di tenda ungsi. Bantuan selimut dan alas
tidurpun hingga kini masih minim dan belum merata). Sungguh
terasinglah orang seperti ini! Apakah kemanusiaan yang mereka miliki
tengah sakit dan kering sehingga tak terusik ikut tergerak dalam
kegerakan massal kemanusiaan? Nyata bahwa egoisme justru mereduksi
dan menafikkan, kalau tidak menghilangkan, kemanusiaan. Cita
individualis yang pada hakikatnya ingin menegakkan kemerdekaan dan
harga diri manusia, secara ironis, justru menghambat manusia
mengaktualisasikan pesona kemanusiawiannya yang lebih hakiki. Ia
terlalu sibuk dan terperangah dengan sukses dan prestasi diri (untuk
mencapai nilai tinggi di dunia dan, akibatnya, penghargaan diri), itu
baik. Tapi, bagaimana dengan wajah sosialnya, bagaimana dengan wajah
orang lain di luar dirinya? (Di Indonesia dirumuskan suatu watak
bahwa 'pemilikan pribadi diakui, tapi ia mengandung dimensi sosial
yang memberi kemanfaatan luas'). Ingat bahwa pagar tembok lebih
rentan daripada pagar sosial, yang dibangun dengan jalinan murni
persaudaraan dan persahabatan (jadi bukan interaksi berkelamin
transaksional- rasional)! Itulah watak anggun kemanusiawian. Itulah
kemanusiaan yang diharapkan tampil utuh dan memesona.
Kemanusiaan dan kemanusiawian manusia itu satu sejatinya. Tidak ada
kemanusiaan islami, agamawi, nasionalis, ilmiah, dll klaim yang
merupakan kulit identitas, yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan
itu. Sedangkan kebudayaan sendiri merupakan manifestasi kesadaran
manusia menghadapi alam lingkungannya demi kelangsungan kehidupannya.
Mereka mengembangkan peradaban demi mencapai kehidupan yang lebih
mudah dan baik untuk dijalani. Adapan karena lingkungan alam sendiri
bervariasi, maka dari dalam dirinya sendiri, kebudayaan telah membawa
pandangan dunia yang subyektif dan bervariasi pula.(Kesadaran yang
dikembangkan atas realitas kemajemukan ini dinamakan pluralisme).
Makin terasing suatu kaum masyarakat, makin ia menelurkan kebudayaan
yang eksotik (nyleneh). Sebaliknya, makin kosmopolit suatu
masyarakat, identitas menjadi tak tertahankan. Masyarakat menjadi
melampaui identitas (yg bg para pesimis dianggap sebagai "krisis
identitas", kalau menurut saya, itu adalah "post-identity society
transformation", itu malah sehat dan mendorong kemajuan). Identitas
merupakan ekspresi dan representasi mental suatu esensi diri yang
hendak diartikulasikan, ditunjukkan. Jadi, ia
merupakan 'akibat'/'dampak' dari usaha manusia untuk menyatakan
dirinya atas dunia, dan berusaha untuk menaklukkan/ mengalahkan
dunia. Sampai tahap ini, hal itu sehat2 dan wajar2 saja. Tapi, bila
kebablasan membela identitas tanpa mengetahui sejarahnya bagaimana
identitas dirinya itu bisa seperti itu, dengan kata lain menelusuri
hingga ke akar 'sebab' (secara sejarah), maka kemajuan (dengan modal
kepercayaan diri karena aset identitas tapi yang berdasarkan sejarah
tadi) yang hendak dicita2kan malah semu dan mustahil, atau paling
tidak amat sulit, dicapai. Identitas memang bisa menjadi piranti
pengcounter/pengimbang perubahan (baca lagi buku2 Alvin Toffler yang
memerikan dan menuturkan Perubahan dengan indah). Tapi ia hanya alat
pengimbang, bukan alat penggerak. Dan identitas yang fungsional,
kontekstual pada masa kini, justru adalah identitas yang bergerak,
yang tanggap perubahan, bukan identitas yang stagnan terpaku pada
primordialitas. Dan primordialitas justru memenjara manusia pada
hisab2 yang tak perlu, ia malah hanya memojokkan dan mengisolasi
manusia di sudut kehampaan, kesendirian dan
keterasingannya.Kemanusiaan dan kemanusiawian manusia adalah satu nan
sama. Rasa perih luka dan sedih hati adalah perasaan manusiawi yang
sama yang dirasakan oleh mereka yang Muslim, yang Kristen, yang PDIP,
yang PKB, yang FPI, yang Cina, yang Jawa, yang Batak. Tidak ada itu
sakit khas Jawa, atau sedih cara Islami. Tidak ada perih yang Cina,
yang berbeda dengan lukanya orang Ambon. Yang membedakannya adalah
tanggapan masing2 mereka (perasaan, dll) terhadap rangsangan2 itu.
Dan itu sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan seperti dijelaskan
tadi.
Jadi, kebudayaan yang memangku identitas tadi itu hanya kulit.
Perasaan yang sama sebagai manusia, itu dialamkan oleh kemanusiaan
yang sama nan satu. Maka itu, bila ada sesuatu yang mendorong
solidaritas kemanusiaan yang muncul, insting manusiwi kita cepat
menanggapi dan mengikatkan kita dalam persekutuan solidaritas tadi
karena adanya perasaan kesamaan, sesamar apapun itu dirasakan,
sebagai satu umat, umat manusia, yang berdiam di lahan yang sama,
bumi tercinta. (PS: Manusia mudah merasa terikat pada solidaritas
yang berlatar identitas dan kepentingan yang relatif sama dengan
dirinya. Misal, bila ada orang Arab disiksa, sesamanya orang Arab
akan lebih mudah dan cenderung membela dia drpd ras lain, atau bila
orang PKS disakiti, orang yang seseragam dg dialah yang lebih mudah
dan cepat mendekati dibanding dengan orang yang berseragam PBR,
misalnya. Tapi, adalah lebih luhur dan lebih mulia, juga lebih
manusiawi dan ilahi orang yang dapat bersolidaritas bukan karena
kesaman identitas, kebudayaan, atau kepentingan, tetyapi karena
menyadari bahwa mereka adalah anak2 dan saudara dari satu kemanusiaan
yang sama, hidup dari lahan bumi yang sama, dan sama2 bertunduk pada
Tuhan yang Satu, seberagam apapun Tuhan itu sebab yang membedakan,
sekali lagi, adalah tanggapan dan penerimaan manusia terhadap obyek
(seperti Tuhan, alam, dst) yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaannya
dan kepentingannya tadi). Makin tinggi kepekaan kemanusiawian itu,
makin sensitif rasa pula empatinya. Maksudnya, ia terluka, akupun
terluka, walau aku tidak mengenal identitas dia. Ego adalah bahan
bakar sifat individualis. Tapi bukan berarti ego harus kita hilangkan
sebab ia merupakan bagian utuh (paket) kodrat kita sebagai manusia.
Lagi, yang diperbaiki harusnya adalah cara tanggap, cara kelola, dan
sikap manusia terhadapnya. Sudah seharusnya energi dan persepsi ego
ini kita arahkan kepada hal2 yang lebih produktif dan bermanfaat ke
arah kemanusiaan. (Jadi ego tak selamanya berkonotasi buruk.
Lagipula, adalah lebih canggih mengubah yang buruk menjadi baik,
seperti mengubah sampah urban harian menjadi sumber energi dari zat
amonia yang dihasilkannya!). Ego yang berubah ini akan menjadi dapat
berkata: egonya terluka, demikian pula egoku. Ada suatu keterkaitan
dan keterikatan manusiawi di situ. Ada hubungan yang melampaui sifat2
insaniah, menuju taraf ilahiah. Ada kesadaran bahwa semuanya ada di
dalam Tuhan, aku berasal dari Tuhan, diapun juga, jadi apanya yang
berbeda? Tuhan pun memakai kacamata yang sama dalam memandang manusia
(pelajaran yang bagus dari ini dapat kita petik dari Injil Yesus).
Gempa ini dapat pula dipandang sebagai ujian. Tapi terdengar klise
ya? Maka perlu dijabarkan lebih lanjut agar menegas, pengertian
tentang ujian apa yang dimaksud. Sekali lagi ditegaskan bahwa penulis
begitu yakinnya bahwa gempa ini adalah ujian dari Tuhan melalui
instrumen fenomena alam, yang NB juga adalah ciptaanNya. Tuhan ingin
menguji keyakinan kita padaNya. Itu pandangan khas agamawan. Kalau
ingin menukik lebih dalam ke perspektif kemanusiaan, Tuhan ingin
menguji kita, apakah kita masih bisa menghargai diri kita sendiri,
jati diri kemanusiaan kita. Lantas setelah itu, apakah kita dapat
menghargai kemanusiaan orang lain. Bila tahap itu sukses terlewati,
maka Tuhan kembali bertanya, apakah kita sudah pula menghargai dan
menghayati alam, juga memaknainya secara benar dan terhormat? Bila
orang sudah sadar diri, dia akan menghargai dan menghormati dirinya
sendiri, orang lain, dan punya kesadaran pula akan Yang Gaib (yang
penulis percaya sbg Tuhan). Maka, peremehan manusia terhadap alam
sebenarnya juga menunjukkan keenceran kualitas kemanusiaannya.
Lagipula, alam dan manusia adalah ciptaan. Maka, dua2nya perlu
bermitra dan bekerjasama. Memang, manusia adalah makhluk ciptaan
termulia derajatnya. Tapi, karena yang ditampilkan dan ditekankan
adalah sisi "makhluk termulia" pula, selama ini manusiapun
merendahkan dan memperlakukan dengan tak senonoh alam (merusak
lingkungan). Dalam Genesis, istilahnya adalah "semangat penaklukkan"
(yang dibelokkan menjadi maksimisasi profit uang dan peluang dalam
semangat kapitalisme seperti dalam tesis etika protestan Max Weber).
Seharusnya, yang ditekankan adalah semangat kemitraannya, semangat
kerjasamanya. Baik itu manusia-alam, terlebih manusia-manusia. Jadi
semangatnya adalah paguyuban dan bukan patembayan (persaingan). Pun
alih2 memperkaya diri, manusia harus proaktif giat bekerja sama!
Sedangkan terlanjur jamak kita tahu bahwa semangat persaingan adalah
akibat isme dan perspektif individualisme (semuanya untuk aku dan
demi aku, biar saja orang lain tak selamat, itu karena kecerobohan
dan kebodohannya, juga kemalasannya, yang penting aku terlebih dulu
selamat), bukan? Kembali kita berada pada titik yang memkasa kita
melakukan koreksi budaya dan perspektif kesadaran. Bangsa yang
memiliki peradaban tinggi sudah tahu bagaimana lelah rasanya saling
bersaing dan menghancurkan diri, dan menggantinya dengan etos
kerjasama. Tak heran mereka mencapai puncak kejayaannya. Mereka2 itu
seperti Babilonia, Turki, Romawi, Mesir, bahkan Majapahit. Ya,
mereka2 itu telah punah, salah satunya dikarenakan semangat kerjasama
itu luntur. Kecurigaan antar sesama merebak, elan solidaritas tak
lagi militan, malah penghancuran diri serempak terjadi. Perebutan
kekuasaan silih berganti, perang saudara berlangsung, terkadang
karena hal2 yang remeh dan janggal. Tapi itulah yang mereka pilih dan
telah tercatat oleh sejarah. Tinggal kita manusia yang hidup di masa
kini bisa menghikmahinya atau tidak, bisa memetik pelajaran darinya
atau tak.
Demikian pula dengan bangsa2 yang tengah bergerak maju, seperti AS,
Eropa, Jepang, Korea, Cina, Singapura, bahkan Vietnam. Kita masih
berkesempatan untuk tepekur merenungkan kejatuhan,kejayaan,kemajuan,
kebangkitan, kemegahan, dan kebesaran bangsa2 tadi. Lewat sejarah,
kita diberikan pilihan, ingin menjadi jaya atau terpuruk. Ingin
tenggelam dalam kebodohan kemanusiawian atau menjadi jaya dan jawara
kemanusiawian. Bangsa yang besar bukan karena mereka terdiri dari
orang2 hebat. Ada saja di antara mereka yang cacat, sakit, jahat,
dst. Tapi bangsa yang sehat, maju dan jaya ialah karena mereka
terdiri dari orang2 yang teruji kesadaran kemanusiawiannya, dan
mereka mampu mendidik bangsa dan masyarakat mereka untuk terus
terjaga dalam melakukan hal serupa! Demikian mereka bergerak maju.
Lewat bencana alam ini, tidak hanya kesabaran dan ketabahan, tapi
juga kepekaan kemanusiawian kita diuji. Mampukah kita menghadapi dan
melewatinya dengan gemilang? Ataukah kita masih membutuhkan lebih
banyak gempa hanya untuk mempersatukan kemanusiaan dan kemanusiawian
kita? (Apakah memang harus ada gempa dulu untuk membuat kita lebih
ramah, lebih menyapa dan manusiawi kepada sesama?) Tuhan memberkati
kita sekalian! Tuhan menyertai kita sekalian!
xixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixixi
Eh, jadi, apakah kita harus mensyukuri gempa jogja itu, karena dengan
adanya gempa itu, justru terbukti dapat memaksa - menjadi dorongan
dan alasan kuat - kita untuk menunjukkan semangat kemanusiaan kita.
Bencana gempa menyediakan ajang peluang perlombaan dalam kebaikan dan
pembuktian diri untuk menang di dalamnya dengan sebanyak mungkin
menunjukkan kebaikan2 yang mungkin kita buat? Begitukah? Seharusnya
kita harus malu bila kita masih harus dihujani gempa atau bencana
lain terlebih dahulu untuk berbuat kebaikan dan membuktikan bahwa
diri kita masih manusia!
Kita selalu diingatkan karena kita adalah pelupa yang selalu melupa.
Anggaplah suatu kejadian tak menyenangkan, atau bahkan menyedihkan,
sebagai latihan olah hati, olah kepribadian, dan olah kesadaran.
Konon, dalam keprihatinan, kehalusan, kepekaan dan kelembutan rasa
kita meningkat.
"Sungguh aneh realitas dunia ini bila dinalar dengan akal otak kiri
semata (bahkan seluruh neuron dan nexus otakpun tak mampu memahami
alam sehingga alam kehidupan dinyatakan sebagai rahasia terbesar
kehidupan manusia, yang juga merupakan elemen dari kehidupan alam
tersebut). Ada orang sengsara yang kelaparan terasa makin lapar
lambung dan hatinya ketika melihat orang yang lebih beruntung
daripadanya makan. Yang satu makin kenyang, yang satu makin memendam
duka, jurang antara keduanya makin melebar dan berjarak. Tapi, akan
lebih sama2 kenyang lambung dan hatinya orang yang beruntung
(berkecukupan) yang memberi makan orang sengsara yang kelaparan.
Keduanya sama2 menikmati makanan. Orang sengsara tadi makan dengan
syukur sehingga mengenyangkan perut dan hatinya. Orang pemberi tadi
juga merasakan kenyang jiwanya karena ia memberi dengan hati, bukan
nilai materi. Dua orang yang sama berpotensi melakukan dua hal yang
amat berbeda."
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
