Kawanku berkeluh kesah, katanya di saat jaman 'krismon' seperti sekarang, gajinya terasa kurang selalu padahal sudah dinaikkan oleh perusahaannya dalam rangka penyesuaian kenaikan harga BBM. Dia bertanya: "Kenapa bisa demikian?"
Padahal harapannya dia bisa menabung walaupun hanya sedikit.
 
Pengalaman kawanku itu hampir serupa dengan apa yang aku alami sendiri, hanya saja aku mau mencari akar permasalahannya, dan mencoba mengatasinya.
 
Kehidupan di jagad sini, selalu ada parameter angka yang merupakan representasi kwalitas. Sejak dari sekolah dasar kita selalu di nilai dengan angka. Bekerja juga di nilai dengan angka, setiap akhir bulan kita juga diberi amplop yang berisi angka (baca:gaji).
 
Angka selalu melingkupi kehidupan kita. Jangan anda kira di angkasa itu kosong, kalau anda pernah mempelajari ilmu komputer, dalam komunikasi data selalu direpresentasikan dengan bilangan biner, angka nol dan angka satu. Artinya di angkasa itu bertebaran angka nol dan angka satu di mana-mana  hanya saja tidak terlihat, andaikan bisa terlihat barang kali kita menghirup udara yang dipenuhi angka nol dan angka satu.
 
Kembali lagi ke masalah kawanku itu, rasanya dalam menapak jalan kehidupan ini, dia terlalu lepas - bebas demi mencapai kepuasan jasmaniah. Lupa bahwa semestinya kepuasan itu dikurangi satu bagian menjadi "Puas Minus Satu". Kata puas tidak ada batasnya. Kepuasan apa bila dibiarkan lepas maka berlaku seperti hewan, (sebagai contoh) karena kebanyakan dari hewan apabila makan maka berlaku sekali makan dan kenyang, jarang dari mereka yang menyisihkan untuk keperluan keesokan hari. Pantas, ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Rosul, apabila makan selalu berhenti sebelum kenyang. Intinya, dalam rongga perut kita semestinya disisakan satu ruang kosong, agar ada oksigen di sana. Pembagian detail isi rongga perut kita yang baik  adalah  sepertiga air, sepertiga makanan, dan sepertiga udara.
 
Contoh diatas adalah contoh dalam dunia jasamaniah, dalam penerapan kehidupan pun sama, semestinya sebelum dikonsumsikan untuk kebutuhan jasmaniah kita secara totalitas, sebaiknya  sebagian dari rizki kita disisihkan untuk keperluan rohani (amal baik atau zakat), dan ada sebagian ditabung untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan atau bersifat mendadak (emergency).
 
Menabung atau memberikan sedekah adalah sesuatu yang harus dipaksa dalam kebiasan hidup kita, kemampuan jiwa kita memaksa untuk bersedekah menaikkan derajat kita. Bukankah tangan diatas akan lebih baik dibandingkan dengan posisi tangan dibawah?
 
Perbaikan diri atau "Improvement" diawali dari kata "I" yang artinya dimulai dari "saya".
 
Mudah-mudahan kawanku yang berkeluh kesah tadi, bisa membaca tulisanku ini, dan semoga dia bisa menabung agar kehidupannya tidak minus lagi, karena ada tabungan yang sudah dia sisihkan.Saya tidak bisa memaksakan dia, tapi dia bisa memaksakan dirinya. Hanya " bersedia"  atau "tidak bersedia", itu saja solusinya.
 
 
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke