|
Assalamu 'alaikum Wr.Wb
Seandainya seseorang menyampaikan pendapatnya,
(dengan berbagai macam sebab dan motivatornya), maka kemudian timbullah
keinginan orang lain untuk menanggapinya.
Jenis tanggapannya ada 2 macam.
1. Ditanggapi dengan diam, tidak berkomentar maupun
tidak menanggai secara verbal dan non verbal,
2. Ditanggapi dengan menggunakan bahasa verbal dan
non verbal..
Kalau kita teliti, maka sebab-sebab keinginan untuk
menanggapi itu ada 3 macam:
1. Setuju atau sependapat dengan apa yang
disampaikan
2. Ketidak setujuan dengan apa yang
disampaikan
3. Bisa jadi tidak termasuk setuju ataupun tidak
setuju, melainkan diluar opsi itu
Sebab timbulnya setuju atau sependapat, adalah
disebabkan karena adanya KECOCOKAN dengan apa yang sudah dipahami, cocok dengan
logika pemikiran setelah dipertimbangkan dan mungkin sebab cocok dengan
perasaannya atau dugaannya dan mungkin juga kecocokan itu timbul karena
rasa senang dengan orang yang berpendapat.
Sebab jika rasa senang atau
cinta yang mendasari seseorang, maka sesuatu yang salahpun bisa jadi
benar menurut pandangan orang yang diselubungi rasa senang atau cinta
itu.
Ketidak setujuan biasanya timbul apabila TIDAK
ADANYA KECOCOKAN. Tidak cocok dengan pemahaman yang sudah dipelajari sebelumnya,
tidak cocok dengan logika dirinya, tidak cocok dengan perasaannya atau tidak
cocok dengan dugaannya dan juga bisa jadi ketidak cocokan itu disebabkan karena
timbulnya rasa-rasa di dalam hati seperti adanya rasa tidak suka, rasa benci,
rasa iri hati, rasa merasa benar sendiri, rasa tidak mau dirinya diposisikan
salah, dll.
Jika sebuah pendapat seseorang disampaikan, dan
ternyata berbeda dengan pendapat kita alias tidak cocok dengan apa yang sudah
kita pahami, maka secara normal seseorang itu akan bereaksi atau akan
menanggapi. Ada beberapa macam reaksi yang mungkin timbul pada diri seseorang
setelah mengetahui adanya pendapat yang tidak cocok dengan yang ada dalam
dirinya. :
1. Reaksi yang pertama adalah seseorang itu
menganggap wajar adanya sebuah perbedaan pendapat. Bisa jadi orang lain itu
memiliki pendapat yang berbeda dan itu mungkin benar menurut orang itu,
dan diri sendiri memang memiliki pendapat yang berbeda menganggap
bahwa pendapat yang sekarang kita pahami juga benar. Kemudian terjadi,
menghormati adanya perbedaan, menghargai adanya perbedaan, menghormati pendapat
orang lain, menghargai orang lain berpendapat, tidak memaksakan orang yang
berbeda itu untuk sepaham dengan kita dan sebaliknya.
2. Ada juga yang bereaksi mencoba memahami pendapat
yang berbeda itu, dipertimbangkan, dipikirkan, dicoba dipahami jalur logikanya,
dan pabila ternyata jalur logikanya benar, maka ia akan melanjutkan dengan
mengkomparkan, menguji pendapatnya sendiri dan dia akan mencoba menjawab,
Mengapa ada perbedaan dengan apa yang saya pahami? kalau memang pendapatnya
seseorang itu benar, tentulah ada kekurangan atau celah di dalam logika
pemahaman yang saya pegang.kalau memang pendapat yang saya pahami ini benar,
tentulah pendapat orang lain itu ada jalur pemahamannya yang kurang tepat.
Dimanakah letak ketidak tepatan pemahaman atau logika yang saya pegang ini?
dimanakah letak ketidaktepatan pemahaman orang lain itu?dipertimbangkan,
dipikirkan sampai diri menemukan titik temunya untuk kemudian bisa memastikan
apakah pendapatnya selama ini memang benar, ataukah ternyata pendapat orang lain
itulah yang benar.
Kadang tidak bisa hanya berpikir sesaat apa yang
disampaikan oleh orang lain, kadang dilihat dampak-dampaknya, kadang dilihat
sisi waktu keberadaannya, dll. Nah setelah berbagai aspek dipakai untuk menguji
pendapat orang lain tersebut, barulah diri berani menyimpulkan, apakah pendapat
orang lain itu memang masih dangkal, ataukah benar, ataukah salah, dan pendapat
diri ini memang benar, ataukah kurang, ataukah salah. Pengujian seperti ini yang
akan selalu meningkatkan keilmuan dan keyakinan kita. Dan kitapun menghindari
judgement atau vonis bagi orang lain, sebab kita memahami bahwa kemampuan akal
pikir dan kemampuan ruhani seseorang adalah berbeda-beda.
3.Reaksi yang lain adalah menganggap bahwa sebuah
pendapat yang berbeda adalah selalu berarti salah, hal ini disebabkan karena
seseorang itu menganggap bahwa apa yang dipahaminya adalah mutlak benar,
sehingga jika ada yang berbeda pendapat dengan dirinya, maka pastilah pendapat
itu salah. Tidak perlu lagi di uji, karena berangkatnya adalah dasar rasa, apa
yang sudah diyakini dan tidak dibuka lagi kemungkinan untuk menerima kebenaran
yang lebih tinggi lagi. Dan kemudian seringkali didorong dengan semangat untuk
menyampaikan kebenaran (kebenaran menurut dirinya sendiri) dia berkeinginan
untuk memberitahu kesalahan orang lain dimana dan letak kebenaran dirinya
dimana. (dikotomi, orang lain pastilah salah jika berbeda dengan dirinya, dan
otomotasi dirinyalah yang benar). Dan yang runyam ketika dua orang dengan
karakter seperti ini bertemu, saling merasa benar, saling ingin menyampaikan
kebenaran dirinya masing-masing, maka timbullah debat kusir, otot-ototan, debat
yang berkepanjangan yang tidak ada juntrungnya. Bahkan dalam sebagian kasus,
sampai terjadi adu fisik demi memperjuangkan kebenaran menurut versinya
masing-masing.
4. Ada yang bereaksi didorong oleh rasa tidak mau
disalahkan. Orang-orang seperti ini menganggap bahwa jika ada orang yang berbeda
pendapat dengan dirinya, apalagi jika berbeda pendapat itu secara langsung
melalui adu argumentasi, melalui debat, langsung disampaikan ke dirinya, maka
orang-orang seperti ini menganggap bahwa dirinya sudah DISERANG ! sehingga ia
perlu untuk membela diri, sebab itu menyangkut "HARGA DIRI" katanya. Ada sesuatu
yang direndahkan dalam dirinya melalui pendapat orang lain yang berbeda, yang
terasa adalah bahwa dirinya sedang diserang dalam istilah lain yang lebih jelas
bahwa ada dirinya sedang DISALAHKAN.
Perbedaan pendapat yang dia terima disikapi dengan
persepsi bahwa dirinya sedang di judgement, sedang divonis, sedang disalahkan,
apalagi jika sebuah aduargumentasi itu dilakukan di forum atau dimuka umum.Untuk
itu dirinya merasa perlu untuk membela diri, membela harga dirinya, melalui
MELAWAN pendapat yang berbeda tadi.
5. Ada reaksi yang ketika orang berbeda pendapat
dengan dirinya, dan dia merasa bahwa dirinya tidak mengetahui apa yang
dibicarakan oleh orang itu, maka yang penting dia melakukan tanggapan yang
berbeda, seringkali bukan argumentasinya yang dibantah, melainkan perorangannya
yang diserang. Ini lah yang kadang disebabkan karena di dalam hati timbul rasa
IRI HATI, HASAD, DENGKI.
Kadang bisa jadi ia sebenarnya paham bahwa
pendapatnya orang lain itu adalah benar, tetapi karena GENGSI yang ada di
dirinya, maka ia akan menanggapi dengan sinis, yang ada adalah bagaimana supaya
pendapat orang lain itu tidak ada yang percaya, bagaimana supaya orang banyak
menganggap bahwa penyampai pendapat itu adalah orang yang tak layak, yang bodoh,
yang jahat, yang jelek, dll, dan ini yang mendorong adalah rasa IRI HATI, HASAD,
DENGKI. Tidak ingin orang lain dianggap lebih pandai dari dirinya, tidak ingin
orang lain dianggap lebih mengetahui dari pada dirinya, tidak ingin orang lain
itu lebih diperhatikan daripada dirinya.
Yang ada adalah keinginan untuk merebut perhatian
khalayak, merebut pujian khalayak, merebut anggapan khalayak, bahwa dirinya lah
yang pandai, pinter, bahwa dirinyalah yang lebih menguasai dan lebih mengetahui,
dan dirinyalah yang lebih baik dari orang lain.
Dan kalau rasa ini sudah meningkat kepada BENCI,
maka tidak ada lagi kebaikan yang tampak di orang lain. Tidak ada lagi kebenaran
yang ada diorang lain. Apapun pendapat yang dikemukakan oleh orang lain
tersebut, DIPASTIKAN SALAH, disebabkan karena KEBENCIAN DIRINYA. Maka segala
macam kesempatan untuk menjatuhkan, untuk menjelekkan untuk menghancurkan dari
orang yang dibenci, tentulah akan dilakukan. Tidak peduli lagi dengan kata-kata
yang dipilihnya, keluarlah yang disebut dengan HINAAN, CACIAN, MAKIAN, HUJATAN,
dll.
Reaksi-reaksi jika berbeda pendapat seperti no 1
dan no 2, itulah reaksi-reaksi yang tidak ditunggangi HAWA NAFSU. Sedangkan
reaksi-reaksi no 3 sampai no 5 di atas, itulah yang sudah DITUNGGANGI
HAWA NAFSU.
Maka Perbedaan akan menjadi rohmat, akan menjadi
kekayaan intelektual dan mental yang luarbiasa jika adanya Perbedaan itu tidak
sampai ditanggapi / ditunggangi oleh HAWA NAFSU, dan PERBEDAAN itu akan menjadi
KONFLIK jika adanya perbedaan itu kemudian ditanggapi/ditunggangi oleh HAWA
NAFSU.
Akibatnya sungguh sangat fatal, Perselisihan,
pertentangan, perpecahan akan terjadi.
Putusnya tali persaudaraan, putusnya tali
kerukunan, putusnya tali kebersamaan akan terjadi.
Bahkan kadang terjadi sampai luka melukai sesama
manusia, hajar menghajar, pukul memukul dan sampai bunuh membunuhpun bisa
terjadi hanya disebabkan karena PERBEDAAN sudah ditunggangi oleh HAWA
NAFSU.
Bagaimanakah mengendalikan HAWA NAFSU kita? supaya
kita tidak ditunggangi oleh HAWA NAFSU kita? terutama di dalam mensikapi adanya
perbedaan?
salam persaudaraan
huttaqi ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
