Note: forwarded message attached.
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ---
PSIKOLOG ANAK DAN PERLINDUNGAN ANAKOLEH:AUDIFAXPeneliti dan Penulis buku Mite Harry Potter(2005, Jalasutra)Teman-teman mungkin sempat memerhatikan berita mengenai Rafly-Tamara akhir-akhir ini (Juni 2006). Terlepas dari siapa Rafly atau Tamara, atau ada apa sebenarnya diantara mereka, tapi ada satu sisi yang menarik perhatian saya di sini, yaitu hadirnya Seto Mulyadi, seorang yang dikenal sebagai psikolog anak(mungkin malah banyak yang mempakarkannya), yang mewakili Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Seingat saya, Seto Mulyadi ini sudah menjadi psikolog anak sejak saya sendiri masih anak-anak, lebih dari 25 tahun lalu.Apa yang menarik? Yang menarik adalah ketika seorang psikolog anak senior, mewakili sebuah lembaga Perlindungan Anak tapi justru melibatkan diri dalam suatu peristiwa yang saya ragu kalau beliau ini benar-benar membela anak (dalam kasus Tamara-Rafly ini, yaitu Rasya). Kenapa? Karena jelas data yang dijadikan acuan adalah bukan data dari si anak, tapi asumsi-asumsi berdasar laporan, dalam hal ini Rafly.Mari sekarang kita coba lihat dari sisi anak. Rekan-rekan di milis Psikologi Transformatif dan beberapa milis lain, kan sudah sering membaca mengenai Logika Empati yang secara rutin diposting Vincent (Vincent sendiri saya harap juga berpendapat ya, karena selain ia yang lagi getol dengan logika empati, konon dia ingin juga jadi psikolog anak). Saya tidak melihat si anak terlindungi, terutama secara psikis. Justru si anak, Rasya, selain sudah mengalami sebuah peristiwa berat yang membawa kekecewaan (Semua anak yang orangtuanya bercerai akan mengalami ini, ga ada teorinya, cukup empati saja), kini dia harus menghadapi situasi psikologis lain, yang meliputi: tuntutan yang bisa berkonsekuensi membawa ibunya masuk penjara. Jika anda adalah seorang anak, bagaimana perasaan anda jika banyak orang mengetahui ibu anda adalah narapidana? Are you proud, or what? Bagaimana kira-kira perkembangan anda jika berada di posisi Rasya, bocah kecil itu? Saya bukan pakar psikologi anak, tapi dari peristiwa-peristiwa itu, ada sebuah rentetetan peristiwa traumatis yang tak akan hilang sepanjang hidup Rasya. (Tidak usah berbelit dengan teori juga, bukan hal yang bisa dilupakan, jika di usia anak anda mengalami peristiwa seperti dialami Rasya). Jadi, terlepas dari segala perdebatan kebenaran hal yang sudah pasti ada adalah trauma pada si anak itu sendiri akibat segala kegenitan membela anak ini.Saya tidak tertarik dengan gosip-gosip selebriti, maupun segala pernak-pernik di dalamnya seperti perceraian, dsb. Tapi, di sini, saya sebagai orang yang juga sempat belajar psikologi, mencoba mempertanyakan peran sosok Seto Mulyadi di sini. Mungkin ini bisa jadi pembelajaran buat saya dan siapapun yang kebetulan baca tulisan ini (berikut tanggapannya jika ada yang menanggapi), mengingat kesenioran Seto Mulyadi di bidang psikologi anak, mungkin ada dalil psikologi yang canggih, atau teori terbaru, termutakhir atau apalah, mengenai perkembangan anak dalam situasi seperti Rasya, yang jelas tak dikuasai saya yang bukan pakar psikologi anak. Jadi, saya pengen belajar. Siapa saja, mungkin yang punya alamat e-mail Seto Mulyadi, mungkin bisa minta tolong diforward juga tulisan sederhana saya ini.Saya juga minta tanggapan teman-teman dan mengundang siapapun juga untuk mendiskusikan fenomena ini di milis Psikologi Transformatif. Kalau kebetulan Kak Seto juga berminat ikutan diskusi di milis Psikologi Transformatif, mungkin kita bisa belajar bersama juga dengan beliau. Mungkin, ada suatu Jurus Psikologi Perkembangan Anak yang canggih di sini (misalnya dengan memenjarakan ibunya), yang bisa menjelaskan bagaimana mekanisme perlindungan psikologis terhadap anak yang tengah berada dalam peristiwa seperti Rasya.Atau, mungkin justru kita tak perlu banyak teori melainkan cukup mencoba berempati untuk melihat dari sisi Rasya? Pertanyaan lain lagi yang mengganggu saya: dari semua pernyataan yang selalu diembeli demi Rasya, pernahkah Rasya-nya sendiri ditanya maunya apa? Benarkah yang diembeli demi Rasya itu memang yang diingini Rasya? Terutama pernahkah psikolog anak dan pelindung anak ini juga bertanya dan mencari data dari si anak itu sendiri?Ah, tak tahulah. Saya sepertinya memang terlalu naif untuk urusan psikologi, ilmu yang katanya understanding human being itu. Bagaimana peran seorang psikolog pada fenomena humanitas seperti Rafly-Tamara dan Rasya anak mereka? Mungkin ada yang mau menanggapi? Atau ada yang mau memberi penjelasan pada saya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan saya tersebut?© Audifax 22 Juni 2006NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca, apreciativecommunity, Forum Pembaca Kompas dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low PC-to-Phone call rates.
Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta.
--- End Message ---
