|
Wayang kulit:
Semar dan Chuang Tzu
Semar bertubuh tambun: melukiskan keluasan hatinya.
Ati segara, begitu kata orang Jawa: hati bagai samudera. Makin luas
hatinya berarti makin halus pula rasa-nya. Dalam literatur Jawa,
rasa adalah inti terdalam manusia, kebenaran tertinggi. Makin halus
rasanya, berarti makin dekat orang itu pada inti kebenaran, makin tinggi tingkat
spiritual-nya. Dan makin halus rasa seseorang, dia akan menjadi makin
momot, makin luas ruang hatinya, sehingga bagai samudera yang bisa
menampung ribuan sungai yang mengalir kepadanya tanpa menjadi penuh maupun
kotor.
Sebaliknya makin kasar rasa seseorang, makin rendah
tingkat spiritual-nya, makin kaku sikapnya, dan makin sulit menerima pandangan
yang berbeda, tidak bisa hidup tenteram dengan kelompok lain, mau menang
sendiri... dan ugal-ugalan. Lebih celaka lagi, dengan mengatas-namakan
agama dan Tuhan!
Lao Tse mengajarkan: bahwa orang yang benar-benar
bijak akan rendah hati dan tidak berdebat dengan siapapun. Semar adalah Dewa
tertinggi, tapi dia mengambil rupa sebagai seorang hamba, seorang abdi
yang dengan setia mengabdi pada para ksatria pilihan: Pandhawa Lima.
Semar tidak pernah menginginkan jabatan tinggi bagi dirinya sendiri.
Misinya murni: untuk menjaga harmoni semesta raya. Ia tak ubahnya seperti Chuang
Tzu yang menolak dijadikan perdana menteri dan berkata: kura-kura yang hidup
dalam lumpur jauh lebih baik daripada kura-kura yang diawetkan dengan air keras
dan tinggal di istana raja.
Salam,
***
__._,_.___
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
