ada perspektif yang menarik dikalangan kaum sufi tentang keberadaan yang rada2 mirip dengan panteistik, yakni wahdah al wujud yang dipopulerkan ibn arabi, paradigma eksistensi ini tampaknya terus berkembang seiring zaman di kalangan teolog islam, tengoklah diantaranya ibn sina, suhrawardi, sadr al muta'alihin, dimana kontra illuminasi dan paripatetis menyemarakkan dunia pemikiran islam hingga saat ini. hal ini mungkin setidaknya bisa memberikan pencerahan filosofis yang tak lepas dari dimensi teologis.
salam.
kibroto <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> Filsafat merupakan ilmu yang mempelajar hakikat kebenaran. Tapi
kita
harus menggarisbawahi apa itu kebenaran. Secara filsafat kebenaran
merupakan kesesuaian antara realitas dan makna. Yang nantinya akan
berujung kepada ada. Jika realitas dan makna itu ada maka hal itu
benar adanya. contoh: monas ada di Jakarta. secara realitas dan makna
yang ditangkap benar adanya karena terjadi kesesuaian antara realitas
dan makna yang ditangkap oleh akal.
Maka sudah barang tentu jika kita berbicara tentang kebenaran maka
kita harus mempelajari hakikiat ada atau wujud. Baik secara makna,
wujud, maupun derajat wujud, dan banyak lagi.
# Dan Morpheus bilang : If real is what you can feel, smell, taste
and see, then 'real' is simply electrical signals interpreted by
your brain
Real ndak lain adalah ledakan2 neuron yang ditafsirken oleh otak.
Yang ndak realpun, fantasi misalnya, juga berupa lendakan2 neuron.
Ndak ada bedanya dengan yang real. Maka ada deinisi lain
Real adalah bukan fantasi, bukan kayalan, bukan fatamorgana, bukan
asumsi, bukan teori, bukan praduga, pukan presuposisi, bukan
perkiraan, bukan nujuman, bukan ramalan, bukan harapan, bukan
impian, bukan hipotesa, bukan aksioma, bukan postulat, bukan
pengandaian, bukan `menurut saya', bukan ini bukan itu bukan inu.
Definisi in jelas lebih baik daripada sebatas `yang bisa diobservasi
indera' sebab definisi ini meliputi realitas yang bisa diobservasi
pikiran dan emosi. Sialnya, apa yang diobservasi pikiran & emosi
juga harus melalui sensor indra. Kedua, yang fantasi, yang kayalan,
yang fatamorgana, dst, ... pada akirnya, ... juga berupa ledakan2
neuron.
Sedemikian rupa sehingga yang namanya real = ndak real = ledakan
neuron yang ditafsirken oleh otak. Maka apa yang real/bukan sangat
tergantung dari mekanisme penafsiran otak. Menjadi semangkin rumit
ketika timbul pertanyaan apakah `aku' bisa (1) secara aktip memilih
penafsiran otak ataukah `aku' (2) adalah sesuatu yang pasif yang
hanya bisa menerima apa yang diputusken mekanisme otak.
Jika mendefinisken real saja kita sudah kelimpungan begini, pegimané
mau mencari kebenaran yang katanya `kesesuaian antara realitas dan
makna'.
----------------------------- gieh01.blog.com ---------------------------------------------
-- menggapai cahaya ----------------------------------------------------------------------
-- menggapai cahaya ----------------------------------------------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! __._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
