Coba saya pengen tahu apa nggacor sampean tentang tuhan/kebenaran sebagai yang ada lagi.
Republika Minggu, 26 Februari 2006 Sebuah Novel yang Mbabar Jati Tubuh Nuruddin Asyhadie Apakah mati itu? Bertumpu pada kata 'mati' dalam bahasa Jawa, yang selalu berupa kata kerja aktif, Damarjati Supadjar, filsuf dan penasehat spiritual Kraton Yogyakarta, menolak kematian sebagai kepasifan. Mati bukanlah persoalan lepasnya nyawa dari tubuh, melainkan terbebasnya manusia dari tabir keakuan dan kembali ke Aku yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Aku manusia adalah aku yang mengaku-aku, karena tidak ada aku selain Aku (Tuhan). La ilaha illallah. Aku manusia adalah struktur negatif dan Aku Tuhan adalah stuktur positif. Poin penting dari dekonstruksi Damarjati atas kematian adalah pemindahan kematian dari fakultas tubuh ke diri, sebagai turunan konsep emanasi yang dibangunnya. Bagaimanakah jika mati aktif itu dimainkan dalam wacana tubuh? Novel Tuan & Nona Kosong (2005) yang ditulis oleh Hudan Hidayat dan Mariana Amiruddin, menawarkan kemungkinan tersebut. Ditulis dalam ethos Cyrenaic (tubuh lebih utama dari jiwa), Tuan & Nona Kosong berkisah tentang dua tubuh berlainan jenis, Hudan dan Mariana (sebagai karakter-karakter novel), yang terinspirasi kisah perempuan kosong di dalam novel Ayah Hudan -- sebuah tubuh arkhaik yang tak mengenal kebudayaan apapun (pada kasus ini termasuk kebutuhan seksual) kecuali dorongan-dorongan biologisnya seperti makan dan minum -- melakukan pengosongan tubuh dari pikiran, persepsi, kenangan, nafsu, nilai, citraan, sehingga tubuh hanya menjadi tubuh, tubuh dalam 'realitas formil' (Descartes), dalam dirinya sendiri. Pengosongan tubuh Hudan dan Mariana pada titik tertentu, sebangun dengan mati aktif Damarjatian. Hudan dan Mariana juga memindahkan kematian dari tubuh ke diri. Hanya saja perpindahan itu menjadi lebih kompleks, ketika ia berangkat dari 'sadar tubuh' bukan 'sadar diri' seperti Damarjati. Pernyataan Mariana dalam prosesi pengosongan diri itu, bahwa ia telah menemukan dirinya, tidak bisa dipandang sebagai penemuan diri belaka, tetapi juga penemuan tubuhnya, sebab pada stasi ini tubuh dan diri adalah satu. Tubuh bukan hanya sekumpulan organ, tapi sekaligus cara dan wujud kehadiran, sebagaimana yang diserukan oleh Sartre dan Nietzsche. Hal inilah yang tidak tercerna oleh Damhuri Muhammad, sehingga dalam tulisannya, Kosmologi Kekosongan dalam Tuan & Nona Kosong (Republika, 20/11/05), ia merasa perlu mereduksi tubuh itu menjadi tubuh transedental, yang tak lain adalah representasi diri. Jika tidak, tarekat ini akan menjadi tarekat syirik, sebab dalam hemat Damhuri, Tuhan bertahta dalam diri, bukan tubuh. Damhuri telah melakukan kesalahan kategoris. Ia memaksakan kategori atau paradigma eksternal ke dalam Tuan & Nona Kosong. Merampok agenda novel ini, dan membelokan ke idealisme pribadinya: kekosongan sebagai keberadaan tak terbatas, tak terukur, yang berbeda dengan kehampaan. Mengikuti jejak Heidegger, Damhuri meletakan Yang Tiada dalam kepenuhan Yang Ada, dalam sebuah nostalgia Ada sebagai Kehadiran. Itu sebabnya, dengan mengikuti hukum geometri klasik, ia menuntut ketiadaan Hudan dan Mariana, karena yang ada hanya Tuhan. Lengkaplah sudah sesat pikir Damhuri. Wal awalu wal akhiru. Apakah keberadaan bisa menjadi tak terukur dan tak terbatas? Bukankah ada itu selalu berarti meruang dan mewaktu? Dapatkah eksistensi Tuhan dinyatakan dalam term-term Ada dan Kehadiran? Bukankah Tuhan selalu menyebutkan dirinya sebagai Yang Tidak Berbentuk Tidak Berupa, Yang Berarsyi di atas Air? Tidakkah membicarakan Tuhan dalam Ada sebagai Kehadiran merupakan bentuk antropomorfisme, pemberhalaan yang sesungguhnya? Berangkat dari Tuhan sebagai Yang Tiada, problem utama eksistensi Hudan dan Mariana, atau seluruh manusia, bukan diri/tubuh, melainkan imanensi mereka. Imanensilah yang menghancurkan keintiman manusia dengan Tuhan, menjadikan surga (kebersatuan dengan Tuhan) sebagai mimpi yang hilang. Adakah tubuh/diri lain di luar Tubuh/Diri-Nya? Pada tingkat kuantum seluruh kosmos seperti cahaya yang berkedip, keluar masuk, lahir dan mati, pada saat bersamaan. Di tingkat atomik, semua objek dinyatakan 99,9999% sebagai ruang hampa. Atom terdiri dari paket energi yang menyebar dan tidak solid sama sekali, tanpa berat atau ukuran, tak bisa dirasakan, dilihat, maupun disentuh. Pada maqam inilah, maka Tuan dan Nona Kosong bersyahadat, "Tubuhku adalah Tuhanku!" Melalui novel Ayah Hudan, tubuh Hudan dan Mariana menyeberang ke balik energi, ke rahim penciptaan, kedinamisan, dan kehidupan yang tak terbatas. Tak ada apa pun di sana, hampa. Seluruh properti menghilang, cahaya tak lagi bersinar, ruang tidak berjarak, waktu abadi, kata-kata pun kosong, gelap, dan dingin. Semuanya menjadi virtual. Hudan dan Mariana merefleksikan eksistensi mereka dalam virtualitas tersebut sebagai "manusia imaji(ner?) yang mengisi kekosongan, berenang dalam lautan ketiadaan." Hasilnya, novel Tuan & Nona Kosong tampak begitu kacau, seenak hati: paramasastra yang tak konsisten, paralisis-paralisis tak bermakna, argumen-argumen tak logis, kadang tautologis, dan berbenturan satu sama lain, motif-motif yang lemah, atau bahkan tak ada sama sekali, juga jargon-jargon yang kehilangan penghayatan, baik dalam tubuh Hudan maupun Mariana. Sebab akibat, unitas, di wilayah pra-kuantum, virtual, atau surga, memang tak lagi berlaku; khamar kehilangan daya mabuknya, orgasme tak berkadaluarsa. Para fisikawan menyebut situasi itu sebagai singularitas, Omni, dan para spiritualis Timur menamakannya That, atau It. Menghirup udara singularitas ini pula, orang musti memikirkan kembali pemetaan tubuh Hudan dan Mariana dalam oposisi 'tubuh subyektif' x 'tubuh obyektif' Afrizal Malna di pengantar novel. 'Tubuh subyektif' dimaknai sebagai tubuh yang bebas tumbuh bersama dengan pergulatan intelektual, moral, karakter, psikis sang diri. Sementara 'tubuh obyektif' adalah tubuh yang telah mengalami standarisasi sosial dan moral. Pembedaan ini dapat dirunut jejaknya pada dualisme tubuh sebagai 'diri' x 'masyarakat' yang dibangun oleh Mary Douglas dalam Natural Symbols (1970). Sayangnya Afrizal tak menyadari bahwa batas antara dua 'instansi' itu begitu kabur. Merujuk definisi yang diberikan, 'tubuh subyektif' tetap termodifikasi oleh kategori-kategori sosial tertentu, kebenaran tertentu, dan tak pernah menjadi sesuatu yang tertutup, yang mampu berswadaya, berswasembada, dan berswalayan. Ia tak lebih tak bukan hanya 'tubuh obyektif' lain, yang nilai-nilai atau standar- standarnya berbenturan dengan nilai-nilai atau standar- standar 'tubuh obyektif' yang tengah berkuasa. Pokok yang lebih krusial, pemetaan tersebut merupakan usaha teorisasi institusi-institusi tubuh dalam novel Tuan & Nona Kosong. Padahal, sebagaimana yang telah didiskusikan di muka, dalam That, It, atau Omni, segalanya hilang bentuk hilang rupa. Tinimbang persoalan bentuk, sistem, atau anatomi, problematika tubuh pre- kuantumik lebih merupakan persoalan gerak. Bagaimana tubuh-tubuh itu menginstitusikan dirinya? Bagaimana ia melesat ke atas ke bawah, ke depan ke belakang, berpindah-pindah dari satu kuadran ke kuadran lainnya? Dalam For a Sociology of the Body: An Analytical Review, Arthur W Frank membagi lintasan pergerakan tubuh dalam empat tipologi: tubuh yang terdisiplinkan, tubuh yang mendominasi, tubuh yang memantulkan, dan tubuh komunikatif (The Body: Social Process and Cultural Theory, 1991). Mengikuti tipologi itu, maka kita akan melihat tubuh Mariana dan Hudan adalah tubuh hedonis, tapi sekaligus tubuh asketis. Melakukan seks bebas tapi juga berjibaku menolak kamanungsan mereka. Menolak rejimasi Sartre atau Nietzsche, namun pasrah bongkotan pada ajaran yang terwedar dalam novel Ayah Hudan. Berbagi cerita namun sekaligus mengikuti cerita, menjadi tubuh yang diawasi dan mengawasi, membaca sekaligus menulis, tidak terbatas pada relasi Hudan dengan Mariana, atau sebaliknya, tetapi juga novel Ayah Hudan dengan Hudan dan Mariana, maupun Hudan atau Mariana dengan diri mereka masing-masing. Bukan persoalan lagi apakah dalam gerak itu, mereka akan menjadi matahari atau bumi, siang atau malam. Sebagai tubuh-tubuh yang tanggal-tunggal, tajrid-tafrid, mereka tak memiliki hasrat-hasrat teleologis dan atau logosentris, amoral (bukan immoral!), dan nihilistik. Dalam bahasa Rabi'ah, "Aku tidak takut pada neraka dan tak menginginkan surga." Di sinilah perbedaan antara mbabar jati diri dengan mbabar jati tubuh: bertepuk tanpa bertepuk. --- In [email protected], azhar kamal <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kebenaran adalah satu bukan dua apalagi tiga. Apakah anda akan mengatakan bahwa "ada" dan ketiadaan sama-sama ada? saya kira akal sehat kita akan mengatakan bahwa "ada" dan tiada suatu hal berlawanan. Sesuatu meniadakan yang lain. Jika "ada" itu ada maka sebalinya ketiadaan selamanya akan tiada. > Kebenaran merupakan ada itu sendiri. Sesuatu yang benar pasti ada jika tiada maka itu bukan kebenaran. Jika "ada" itu satu dan sesuatu yang lain diluar "ada" adalah ketiadaan. Maka kebenaran mutlak harus satu dan diluar kebenaran adalah ketiadaan. Sungguh malang jika kita adalah ada masuk ke dalam ketiadaan. > > Terima kasih > > > --------------------------------- > Apakah Anda Yahoo!? > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
