----------  Forwarded Message  ----------

Subject: [MI-googlegroups] Sejarah Thariqat Naqsabandiyah-Qadiriyah di 
Indonesia
Date: Friday 07 July 2006 14:48
From: "Arland" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>, <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>

Sejarah Thariqat Naqsabandiyah-Qadiriyah di Indonesia

Dua pengikut aliran sufi terbesar di dunia, yaitu Thariqat Qadiriyyah dan
 Naqshabandiyyah, kedua-duanya terdapat di Indonesia. Tidak diketahui secara
 pasti bagaimana paham Qadiriyyah datang ke Indonesia. Tetapi Naguib al-Attas
 memberitahukan bahwa penyair Hamzah Fansuri (Sumatera Utara) adalah pengikut
 Thariqat Qadiriyyah.

Telah diketahui, bahwa rujukan pengikut Qadiriyyah adalah Syaikh Abd al-Qâdir
 al-Jaylânî, sebagaimana ditemukan dalam puisi Fansuri, yang berdomisili di
 Aceh pada pertengahan abad 16. Sebagai tambahan, bahwa dalam prosa Fansuri
 tertulis Syaikh Sufi terkenal seperti Abû Yazid al-Bustamî, Junayd
 al-Baghdâdi, Manshûr al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Jami, Attar, dan
 beberapa syaikh lainnya.

Diungkapkan bahwa orang pertama yang memperkenalkan Qadiriyyah adalah Syikh
 Yusuf Makassar (1626-1699). Guru Qadiriyyahnya, Muhammad Jailani ibn Hasan
 ibn Muhammad al-Hamid, seorang imigran dari Gujarat bersama pamannya Nur
 al-Dîn al-Raniri. Di Yaman, Syaikh Yusuf belajar ajaran Naqshabandiyyah dari
 Syaikh terkenal dari Arab, Muhammad Abd al-Baqi. Sufi lainnya dari Aceh, Abd
 al-Rauf al-Sinkili, yang belajar di Madinah pada pertengahan abad 17 di
 bawah bimbingan Syaikh Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Qurani, dimana
 mereka merupakan Guru Paham Qadariyyah.

Lombard menginformasikan kepada kita, bahwa asal muasal Thariqat
 Naqsabandiyyah di Indonesia, ditunjukkan dengan pernyataan L.W.C van den
 Berg, bahwa ketika dia datang aktivitas Thariqat Naqsabandiyyah telah ada di
 Aceh dan Bogor, dimana dia menyaksikan dzikir Naqsabandiyyah sebagai
 aktivitas utama. Kemudian dia menggambarkan kedatangan Thariqat
 Naqsabandiyyah di wilayah Medan, tepatnya di Langkat.

Penulis berikutnya menggambarkan bahwa Syaikh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi
 al-Naqshabandi memperkenalkan Naqsabandiyyah ke Riau. Setelah menghabiskan
 waktu selama 2 tahun di Malaysia dalam rangka berdagang, beliau pergi ke
 Makkah dan belajar di bawah bimbingan Syaik Sulaiman al-Zuhdi. Pada tahun
 1845, beliau mendapatkan sertifikat dan kembali ke Riau kemudian mendirikan
 perkampungan Thariqat Naqsabandiyyah dengan nama Bab al-Salâm . Pada abad
 ke-19, Thariqat Naqshabandiyyah mempunyai cabang di Makkah, dimana menurut
 Trimingham, salah satu Syaikh Naqshabandiyyah dari Minangkabau (Sumatera
 Barat) juga aktif pada tahun 1845. Dari Makkah, Thariqat Naqshabandiyyah
 tersebar luas ke berbagai negara termasuk ke Indonesia, melalui jamaah haji
 setiap tahun. Kedua Thariqat tersebut muncul pada abad ke-7 dan 8 Hijriyyah
 (abad ke-12/13 Masehi).

Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam
 kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam
 membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan karena Syaikh Ahmad Khatib
 Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut
 kedua Thariqat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda
 dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan
 setelah kemerdekaan.

Survey tentang sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai
 hubungan yang erat dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini
 merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena
 alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini
 menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia. Selanjutnya, Syaikh
 Sambas tidak mengajarkan kedua Thariqat ini secara terpisah, tetapi dalam
 satu kemasan (penggabungan kedua Thariqat).

Sejarah Singkat Syaikh Sambas

Syaikh Khatib Sambas dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat. Beliau
 memutuskan untuk pergi menetap di Makkah pada permulaan abad ke-19, sampai
 beliau wafat pada tahun 1875. Diantara guru beliau adalah Syaikh Daud ibn
 Abdullah al-Fatani, seorang syekh terkenal yang berdomisili di Makkah,
 Syaikh Muhammad Arshad al-Banjari, dan Syekh Abd al-Samad al-Palimbani.
 Menurut Naquib al-Attas, Khatib Sambas adalah Syaikh Qadiriyyah dan
 Naqshabandiyyah. Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu
 guru dari Syaikh Nawawi al-Bantani, yang mahir dalam berbagai disiplin ilmu
 Islam.

Zamakhsari Dhafir menyatakan bahwa peranan penting Syaikh Sambas adalah
 melahirkan syaikh-syaikh Jawa ternama dan menyebarkan ajaran Islam di
 Indonesia dan Malaysia pada pertengahan abad ke-19.

Kunci kesuksesan Syaikh Sambas ini adalah bahwa beliau bekerja sebagai fath
 al-Arifin, dengan mempraktekkan ajaran sufi di Malaysia yaitu dengan bay'a,
 zikir, muraqabah, silsilah, yang dikemas dalam Thariqat Qadiriyyah wa
 Naqshabandiyyah.

Gambaran Disiplin Ilmu Syaikh Sambas

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syaikh Sambas melalui
 ajaran-ajarannya setelah beliau kembali dari Makkah. Dikatakan bahwa Syaikh
 Sambas merupakan Ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan
 ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, diantaranya Syaikh Abd
 al-Karim Banten. Abd al-Karim terkenal sebagai Sulthan al-Syaikh, beliau
 menentang keras imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan kemudian
 meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syaikh Sambas.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, mereka menyatakan bahwa
 sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut Sufi. Hal
 terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syaikh Sambas adalah sebagai
 seorang Ulama, dimana tuduhan penulis Eopa tersebut tidak tepat ditujukan
 kepada beliau. Syaikh Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja
 sama dengan syaikh-syaikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti
 Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad dari
 Madura, dimana mereka berdua pernah menetap di Makkah.

Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah menarik perhatian sebagian masyarakat
 muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan pada
 akhir abad ke-19 Thariqat ini menjadi sangat terkenal. Thariqat Qadiriyyah
 wa Naqshabandiyyah tersebar luas melalui Malaysia, Singapura, Thailand, dan
 Brunei Darussalaam.

Periode Setelah Syaikh Sambas

Pada tahun 1970, ada 4 tempat penting sebagai pusat Thariqat Qadiriyyah wa
 Naqshabandiyyah di pulau Jawa yaitu: Rejoso (Jombang) di bawah bimbingan
 Syaikh Romli Tamim, Mranggen (Semarang) di bawah bimbingan Syaikh Muslih,
 Suryalaya (Tasikmalaya) di bawah bimbingan Syaikh Ahmad Sahih al-Wafa Tajul
 Arifin (Mbah Anom), dan Pagentongan (Bogor) di bawah bimbingan Syaikh Thohir
 Falak. Rejoso mewakili garis aliran Ahmad Hasbullah, Suryalaya mewakili
 garis aliran Syaikh Tolhah dan yang lainnya mewakili garis aliran Syaikh Abd
 al-Karim Banten dan penggantinya.

Pada prakteknya, ajaran Thariqat disampaikan melalui ceramah umum di masjid
 atau majelis ta'lim di rumah salah satu anggota Thariqat. Sehingga tidak
 mengagetkan jika selama masa ceramah umum, tidak ada materi yang terekam
 dengan cermat. Bagaimanapun juga, di bawah bimbingan Mbah Anom, mempunyai
 kontribusi yang besar, dimana ajaran thariqat dibukukan dalam sebuah kitab
 berjudul Miftah ash-Shudur. Tujuan dari kitab ini adalah untuk mengajarkan
 teori dan praktek Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah sebagai usaha
 mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Hasil usahanya
 yang lain terkemas dalam kitab Uqud al-Juman, al-Akhlaq al-Karimah, dan buku
 Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan
 Kenakalan Remaja.

Peranan Thariqat dalam Reformasi Sosial

Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil telah menjelaskan bahwa setelah terorisme,
 permasalahan terbesar umat manusia kedua adalah penyalahgunaan narkotika
 oleh generasi muda (The Muslim Magezine, Spring 1999). Permasalahan sosial
 ini bukan hanya dialami oleh bangsa Barat, tetapi juga menimpa kalangan
 generasi muda seluruh dunia. Walaupun jumlah korban narkoba di negara-negara
 Asia tidak sebesar di Barat, tetapi permasalahan ini menarik perhatian yang
 sangat serius bagi Mbah Anom untuk mendirikan Pondok Inabah, pusat
 rehabilitasi korban narkoba dengan dzikir sebagai obatnya.

Metodologi Mbah Anom didasarkan pada hasil pengalaman spiritual beliau
 sebagai seorang sufi dan kepercayaannya bahwa dzikrullah mengandung
 pencahayaan/penerangan, karakter khusus dan rahasia yang dapat mengobati
 muslim yang mempercayainya. Hal ini didasarkan pada firman Allah: "Ingatlah
 pada-Ku, maka Aku akan mengingatmu". Jasa dan keuntungan dari dzikir di
 Pondok Pesantren Suryalaya dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat yang
 telah pergi berobat ke sana.

Penelitian terhadap metodologi Mbah Anom pernah dilakukan oleh Dr. Emo
 Kastomo pada tahun 1989. Dia melakukan evaluasi secara random terhadap 5.929
 orang pasien di 10 Pondok Inabah. Dan hasilnya, 5.426 orang sembuh, 212
 orang dalam proses menuju sembuh, dan 7 orang pasien meninggal dunia.

Keikutsertaan Thariqat dalam Politik

Ada tiga keikutsertaan pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah dalam
 usaha mancapai Indonesia merdeka, yaitu:

Pertama, keikutsertaan para syaikh dan haji di Banten pada revolusi Juli
 1888. Dilaporkan bahwa Syaikh Abd al-Karim Banten tidak tertarik dengan
 akivitas politik, namun penggantinya Haji Marzuki lebih berpikiran reformis
 dan sangat anti Belanda. Walaupun Thariqat tidak memimpin dalam revolusi,
 tetapi Belanda khawatir dengan pengaruhnya, dan sebagian besar diantara
 mereka meyakini bahwa secara umum pengikut sufi khususnya Thariqat
 Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan organisasi yang mempunyai tujuan
 untuk mengalahkan kekuatan kolonial.

Kedua, perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat
 Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah Syaikh Guru Bangkol. Belanda mempertimbangkan
 bahwa Thariqat merupakan faktor terpenting timbulnya
 pemberontakan-pemberontakan. Walaupun penasehat Pemerintah Belanda Snouck
 Hurgrounje memberikan masukan bahwa terlalu berlebihan untuk menilai
 Thariqat sebagai usaha politik untuk melawan Belanda, pendapatnya tersebut
 tidak dindahkan sampai muncul Syarikat Islam, sebuah organisasi politik yang
 berdiri pada tahun 1911.

Ketiga, sekarang di Jawa ada tiga cabang terbesar Thariqat Qadiriyyah wa
 Naqshabandiyyah yaitu Rejoso, Mranggen, dan Suryalaya, masing-masing
 memberikan dukungan terhadap partai-partai politik, dimana beberapa diantara
 mereka terlibat aktif dalam partai politik.

Gambaran Thariqat di Indonesia Sekarang

Pada tahun 1957, Jam'iyyah Ahl Thariqah Mu'tabarah didirikan oleh Nahdlatul
 Ulama, yang pada saat itu juga berbentuk partai. Tujuannya adalah untuk
 menyatukan semua kekuatan Thariqat dan memelihara silsilah yang dimulai dari
 Nabi Muhammad Saw. Jam'iyyah ini memelihara dan mengajarkan ajaran tasawuf
 dari 45 kekuatan Thariqat yang pernah ada pada tahun 1975. Syaikh Mustain
 Romly dari Rejoso diangkat sebagai pimpinan Jam'iyyah ini. Pada tahun 1979,
 ketika Syaikh Mustain Romli merubah afiliasi politiknya dari Partai
 Persatuan Pembangunan ke Golkar, para Ulama mendirikan Jam'iyyah Ahl
 al-Thariqah al-Nahdliyyah.

Pimpinan Jam'iyyah ini adalah Syaikh Haji DR. Idham Kholid, dimana pada saat
 itu pernah menyambut kedatangan Syaikh Muhammad Hisham Kabbani dari
 Naqsabandi Amerika Serikat pada bulan Desember 1977. Syaikh Hisham Kabbani
 juga datang kemabali ke Indonesia ke acara the International Conference of
 Islamic Scholars (ICIS) yang diselenggarkan oleh Nahdlatul Ulama Februari
 2004.

=======
by arland
from Pesantrenonline


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena Anda tergabung pada grup Grup Google
 "mencintai-islam" grup. Untuk mengirim pesan ke grup ini, kirim email ke
 [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
 [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lainnya, lihat
 grup ini pada http://groups.google.com/group/mencintai-islam
 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

-------------------------------------------------------




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
Sejarah Thariqat Naqsabandiyah-Qadiriyah di Indonesia
 
Dua pengikut aliran sufi terbesar di dunia, yaitu Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah, kedua-duanya terdapat di Indonesia. Tidak diketahui secara pasti bagaimana paham Qadiriyyah datang ke Indonesia. Tetapi Naguib al-Attas memberitahukan bahwa penyair Hamzah Fansuri (Sumatera Utara) adalah pengikut Thariqat Qadiriyyah.

Telah diketahui, bahwa rujukan pengikut Qadiriyyah adalah Syaikh Abd al-Qâdir al-Jaylânî, sebagaimana ditemukan dalam puisi Fansuri, yang berdomisili di Aceh pada pertengahan abad 16. Sebagai tambahan, bahwa dalam prosa Fansuri tertulis Syaikh Sufi terkenal seperti Abû Yazid al-Bustamî, Junayd al-Baghdâdi, Manshûr al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Jami, Attar, dan beberapa syaikh lainnya.

Diungkapkan bahwa orang pertama yang memperkenalkan Qadiriyyah adalah Syikh Yusuf Makassar (1626-1699). Guru Qadiriyyahnya, Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad al-Hamid, seorang imigran dari Gujarat bersama pamannya Nur al-Dîn al-Raniri. Di Yaman, Syaikh Yusuf belajar ajaran Naqshabandiyyah dari Syaikh terkenal dari Arab, Muhammad Abd al-Baqi. Sufi lainnya dari Aceh, Abd al-Rauf al-Sinkili, yang belajar di Madinah pada pertengahan abad 17 di bawah bimbingan Syaikh Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Qurani, dimana mereka merupakan Guru Paham Qadariyyah.

Lombard menginformasikan kepada kita, bahwa asal muasal Thariqat Naqsabandiyyah di Indonesia, ditunjukkan dengan pernyataan L.W.C van den Berg, bahwa ketika dia datang aktivitas Thariqat Naqsabandiyyah telah ada di Aceh dan Bogor, dimana dia menyaksikan dzikir Naqsabandiyyah sebagai aktivitas utama. Kemudian dia menggambarkan kedatangan Thariqat Naqsabandiyyah di wilayah Medan, tepatnya di Langkat.

Penulis berikutnya menggambarkan bahwa Syaikh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqshabandi memperkenalkan Naqsabandiyyah ke Riau. Setelah menghabiskan waktu selama 2 tahun di Malaysia dalam rangka berdagang, beliau pergi ke Makkah dan belajar di bawah bimbingan Syaik Sulaiman al-Zuhdi. Pada tahun 1845, beliau mendapatkan sertifikat dan kembali ke Riau kemudian mendirikan perkampungan Thariqat Naqsabandiyyah dengan nama Bab al-Salâm . Pada abad ke-19, Thariqat Naqshabandiyyah mempunyai cabang di Makkah, dimana menurut Trimingham, salah satu Syaikh Naqshabandiyyah dari Minangkabau (Sumatera Barat) juga aktif pada tahun 1845. Dari Makkah, Thariqat Naqshabandiyyah tersebar luas ke berbagai negara termasuk ke Indonesia, melalui jamaah haji setiap tahun. Kedua Thariqat tersebut muncul pada abad ke-7 dan 8 Hijriyyah (abad ke-12/13 Masehi).

Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut kedua Thariqat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Survey tentang sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia. Selanjutnya, Syaikh Sambas tidak mengajarkan kedua Thariqat ini secara terpisah, tetapi dalam satu kemasan (penggabungan kedua Thariqat).

Sejarah Singkat Syaikh Sambas

Syaikh Khatib Sambas dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat. Beliau memutuskan untuk pergi menetap di Makkah pada permulaan abad ke-19, sampai beliau wafat pada tahun 1875. Diantara guru beliau adalah Syaikh Daud ibn Abdullah al-Fatani, seorang syekh terkenal yang berdomisili di Makkah, Syaikh Muhammad Arshad al-Banjari, dan Syekh Abd al-Samad al-Palimbani. Menurut Naquib al-Attas, Khatib Sambas adalah Syaikh Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah. Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu guru dari Syaikh Nawawi al-Bantani, yang mahir dalam berbagai disiplin ilmu Islam.

Zamakhsari Dhafir menyatakan bahwa peranan penting Syaikh Sambas adalah melahirkan syaikh-syaikh Jawa ternama dan menyebarkan ajaran Islam di Indonesia dan Malaysia pada pertengahan abad ke-19.

Kunci kesuksesan Syaikh Sambas ini adalah bahwa beliau bekerja sebagai fath al-Arifin, dengan mempraktekkan ajaran sufi di Malaysia yaitu dengan bay'a, zikir, muraqabah, silsilah, yang dikemas dalam Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah.

Gambaran Disiplin Ilmu Syaikh Sambas

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syaikh Sambas melalui ajaran-ajarannya setelah beliau kembali dari Makkah. Dikatakan bahwa Syaikh Sambas merupakan Ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, diantaranya Syaikh Abd al-Karim Banten. Abd al-Karim terkenal sebagai Sulthan al-Syaikh, beliau menentang keras imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syaikh Sambas.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut Sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syaikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama, dimana tuduhan penulis Eopa tersebut tidak tepat ditujukan kepada beliau. Syaikh Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan syaikh-syaikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad dari Madura, dimana mereka berdua pernah menetap di Makkah.

Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan pada akhir abad ke-19 Thariqat ini menjadi sangat terkenal. Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah tersebar luas melalui Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalaam.

Periode Setelah Syaikh Sambas

Pada tahun 1970, ada 4 tempat penting sebagai pusat Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di pulau Jawa yaitu: Rejoso (Jombang) di bawah bimbingan Syaikh Romli Tamim, Mranggen (Semarang) di bawah bimbingan Syaikh Muslih, Suryalaya (Tasikmalaya) di bawah bimbingan Syaikh Ahmad Sahih al-Wafa Tajul Arifin (Mbah Anom), dan Pagentongan (Bogor) di bawah bimbingan Syaikh Thohir Falak. Rejoso mewakili garis aliran Ahmad Hasbullah, Suryalaya mewakili garis aliran Syaikh Tolhah dan yang lainnya mewakili garis aliran Syaikh Abd al-Karim Banten dan penggantinya.

Pada prakteknya, ajaran Thariqat disampaikan melalui ceramah umum di masjid atau majelis ta'lim di rumah salah satu anggota Thariqat. Sehingga tidak mengagetkan jika selama masa ceramah umum, tidak ada materi yang terekam dengan cermat. Bagaimanapun juga, di bawah bimbingan Mbah Anom, mempunyai kontribusi yang besar, dimana ajaran thariqat dibukukan dalam sebuah kitab berjudul Miftah ash-Shudur. Tujuan dari kitab ini adalah untuk mengajarkan teori dan praktek Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah sebagai usaha mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Hasil usahanya yang lain terkemas dalam kitab Uqud al-Juman, al-Akhlaq al-Karimah, dan buku Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja.

Peranan Thariqat dalam Reformasi Sosial

Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil telah menjelaskan bahwa setelah terorisme, permasalahan terbesar umat manusia kedua adalah penyalahgunaan narkotika oleh generasi muda (The Muslim Magezine, Spring 1999). Permasalahan sosial ini bukan hanya dialami oleh bangsa Barat, tetapi juga menimpa kalangan generasi muda seluruh dunia. Walaupun jumlah korban narkoba di negara-negara Asia tidak sebesar di Barat, tetapi permasalahan ini menarik perhatian yang sangat serius bagi Mbah Anom untuk mendirikan Pondok Inabah, pusat rehabilitasi korban narkoba dengan dzikir sebagai obatnya.

Metodologi Mbah Anom didasarkan pada hasil pengalaman spiritual beliau sebagai seorang sufi dan kepercayaannya bahwa dzikrullah mengandung pencahayaan/penerangan, karakter khusus dan rahasia yang dapat mengobati muslim yang mempercayainya. Hal ini didasarkan pada firman Allah: "Ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingatmu". Jasa dan keuntungan dari dzikir di Pondok Pesantren Suryalaya dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat yang telah pergi berobat ke sana.

Penelitian terhadap metodologi Mbah Anom pernah dilakukan oleh Dr. Emo Kastomo pada tahun 1989. Dia melakukan evaluasi secara random terhadap 5.929 orang pasien di 10 Pondok Inabah. Dan hasilnya, 5.426 orang sembuh, 212 orang dalam proses menuju sembuh, dan 7 orang pasien meninggal dunia.

Keikutsertaan Thariqat dalam Politik

Ada tiga keikutsertaan pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah dalam usaha mancapai Indonesia merdeka, yaitu:

Pertama, keikutsertaan para syaikh dan haji di Banten pada revolusi Juli 1888. Dilaporkan bahwa Syaikh Abd al-Karim Banten tidak tertarik dengan akivitas politik, namun penggantinya Haji Marzuki lebih berpikiran reformis dan sangat anti Belanda. Walaupun Thariqat tidak memimpin dalam revolusi, tetapi Belanda khawatir dengan pengaruhnya, dan sebagian besar diantara mereka meyakini bahwa secara umum pengikut sufi khususnya Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan organisasi yang mempunyai tujuan untuk mengalahkan kekuatan kolonial.

Kedua, perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah Syaikh Guru Bangkol. Belanda mempertimbangkan bahwa Thariqat merupakan faktor terpenting timbulnya pemberontakan-pemberontakan. Walaupun penasehat Pemerintah Belanda Snouck Hurgrounje memberikan masukan bahwa terlalu berlebihan untuk menilai Thariqat sebagai usaha politik untuk melawan Belanda, pendapatnya tersebut tidak dindahkan sampai muncul Syarikat Islam, sebuah organisasi politik yang berdiri pada tahun 1911.

Ketiga, sekarang di Jawa ada tiga cabang terbesar Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yaitu Rejoso, Mranggen, dan Suryalaya, masing-masing memberikan dukungan terhadap partai-partai politik, dimana beberapa diantara mereka terlibat aktif dalam partai politik.

Gambaran Thariqat di Indonesia Sekarang

Pada tahun 1957, Jam'iyyah Ahl Thariqah Mu'tabarah didirikan oleh Nahdlatul Ulama, yang pada saat itu juga berbentuk partai. Tujuannya adalah untuk menyatukan semua kekuatan Thariqat dan memelihara silsilah yang dimulai dari Nabi Muhammad Saw. Jam'iyyah ini memelihara dan mengajarkan ajaran tasawuf dari 45 kekuatan Thariqat yang pernah ada pada tahun 1975. Syaikh Mustain Romly dari Rejoso diangkat sebagai pimpinan Jam'iyyah ini. Pada tahun 1979, ketika Syaikh Mustain Romli merubah afiliasi politiknya dari Partai Persatuan Pembangunan ke Golkar, para Ulama mendirikan Jam'iyyah Ahl al-Thariqah al-Nahdliyyah.

Pimpinan Jam'iyyah ini adalah Syaikh Haji DR. Idham Kholid, dimana pada saat itu pernah menyambut kedatangan Syaikh Muhammad Hisham Kabbani dari Naqsabandi Amerika Serikat pada bulan Desember 1977. Syaikh Hisham Kabbani juga datang kemabali ke Indonesia ke acara the International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang diselenggarkan oleh Nahdlatul Ulama Februari 2004.
 
=======
by arland
from Pesantrenonline

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena Anda tergabung pada grup Grup Google "mencintai-islam" grup.
 Untuk mengirim pesan ke grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lainnya, lihat grup ini pada http://groups.google.com/group/mencintai-islam
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke