---------- Forwarded Message ----------
Subject:SIAPAKAH YANG DISEBUT AHLUL BAIT ? Date: Wednesday 19 July 2006 06:32 From: Syamsuddin Al-Jawi Sammy <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Siapakah yang disebut Ahlul Bait Sementara dalam pengertian khusus Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Nabi Muhammad SAW yang dalam hadits disebutkan haram menerima shodaqoh seperti keluarga Sayyidina Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husayn) dan keturunan mereka. Juga keluarga Abbas bin Abdul Mutholib dan keluarga Jafar serta keluarga Aqil yang sama dengan Sayyidina Ali juga merupakan putra-putra Abu Thalib. Pengertian khusus ini dianut oleh sebagian kaum Suni dan sebagian kaum Sufi. Sementara kaum Syiah lebih megkhususkan lagi ahlul-bait untuk hanya mencakup Sayyidina Ali dan istrinya Fatimah putri Nabi SAW beserta putra-putra mereka Sayyidina Hasan, Sayyidina Husayn (4 orang ini bersama Nabi SAW juga disebut Ahlul Kisa atau yang berada dalam satu selimut) dan keturunan mereka. Adanya hadits tsaqalain (2 pusaka) yang sama-sama shahih baik dari jalur Suni dan Syiah nampaknya memperkuat suatu makna dari pengertian khusus tanpa harus meniadakan pengertian umum. Jalan tengah ini banyak dianut oleh Ulama-ulama besar kaum Suni dan kaum Sufi di kemudian hari. Pengertian khusus menjadi tanpa arti, tentu, kalau tidak bisa dinukil makna tersirat dari kata-kata Nabi SAW bahwa telah ditinggalkan 2 perkara yang sangat berharga (Tsaqalayn) yang bila Umat Islam berpegang maka tidak akan tersesat selamanya yaitu Kitabullah dan itrah beliau (ahlul-bait). Mereka (Kitabullah dan Ahlul-Bait) tidak akan pernah berpisah hingga bertemu Beliau di Telaga Al-Kautsar. Kalau kita perhatikan bahwa Ahlul Bait adalah manusia sedangkan Kitabullah (Quran) adalah petunjuk maka dapat dimaknai bahwa Nur dari Al-Quran telah berada didalam dada kaum ahlul-bait sehingga mereka harus menjadi rujukan dalam mempelajari dan mengamalkan al-Quran. Hal ini sangat sejalan dengan prestasi Sayyidina Ali bin Abi Tholib sebagai ahli Ilmu dan Hikmah juga Abdullah ibnu Abbas (juga ahlul bait sesuai hadits Tsaqalayn diatas) yang merupakan Ahli Tafsir terbesar dizamannya. Makna khusus ini yang diambil kaum Suni dan Sufi dalam menyikapi hadits Tsaqalain, sementara kaum Syiah lebih jauh mengkhususkan juga ke-khalifah-an bagi ahlul-bait dengan tambhan hadits riwayat ghadir-kum yang sebagian isinya masih dipersoalkan kaum Suni. Sudah barang tentu bagi siapa yang ber-ilmu Quran dan mengamalkan dengan baik, akan terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk diambil sebagai pemimpin bila juga tentunya menguasai masalah administrative. Jadi kepemimpinan dunia bukanlah masalah born-right atau pre-determined gift. Hal ini sangat membedakan terutama antara Syiah terhadap kaum Sufi yang banyak ulamanya adalah juga keturunan ahlul-bait. Dalam masalah kekhalifahan kaum Sufi sepakat dengan kaum Suni, tetapi kaum Sufi mempunyai pendalaman ilmu ruhani, kecintaan mendalam yang dibuktikan dengan adanya jalur-jalur silsilah tarekat yang sebagian besarnya sampai kepada Sayyidina Ali baik melalui Sayyidina Hasan maupun Sayyidina Husayn. Sedangkan antara Syiah dengan Suni yang tidak condong kepada Tasawuf segala sesuatunya tampak menjadi bertolak-belakang. Yang sangat unik, dimasa sekarang kaum Suni yang sangat condong kepada Salafi (anti-tasawuf) pun mempercayai hadits Imam Mahdi akan muncul dari keturunan Ahlul Bait. Bedanya bila Syiah mempercayai dari keturunan Sayyidina Husayn yang lenyap belasan abad lalu dan akan muncul nanti, kaum Suni yang Salafi mempercayai hadits Imam Mahdi akan berasal dari keturunan Sayyidina Hasan, dengan nama Muhammad dan ayahnya Abdullah, lahir dan muncul pada saat mendekati akhir zaman yaitu saat Armageddon (Perang Dunia III). [sunting] Perkembangan Ahlul Bait Berkembangnya Ahlul Bait walaupun sepanjang sejarah Bani Umayyah dan Bani Abbas mengalami penindasan luar biasa, adalah berkah dari doa Nabi Muhammad SAW kepada mempelai pengantin Fatimah putrid beliau dan Sayyidina Ali di dalam pernikahan yang sangat sederhana. Nabi SAW berdoa,Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik Setelah mengalami titik noda paling kelam dalam sejarah Bani Umayyah, dimana cucu kesayangan Nabi, Sayyidina Husayn bersama keluarga dibantai secara kejam, pemerintahan berikutnya dari Bani Abbas yang sebetulnya masih kerabat (sesuai hadits tsaqalayn diatas) tampaknya juga tak mau kalah dengan membantai keturunan Nabi SAW yang saat itu sudah berkembang banyak baik melalui jalur Ali Zaynal Abidin satu satunya putra Sayyidina Husayn yang selamat dari pebantaian di Karbala, juga melalui jalur putra-putra Sayyidina Hasan. Tetapi manusia boleh berencana, Allah yang menentukan. Dengan bergugurannya keturunan Nabi SAW di ujung pedang Bani Umayyah dan Bani Abbas, anehnya justru semakin banyak keturunan beliau berkembang. Sejarah membuktikan dari keturunan Sayyidina Hasan banyak yang selamat dengan melarikan diri ke arah Barat hingga mencapai Maroko yang hingga sekarang keluarga Raja Maroko mengklaim keturunan dari Sayyidina Hasan melalui cucu beliau Idris bin Abdullah, karena itu keluarga mereka dinamakan dinasti Idrissiyyah. Belum lagi Ulama-ulama besar seperti Syekh Abu Hasan Syadzili Maroko (Pendiri Tarekat Syadziliyah) yang nasabnya sampai kepada Sayyidina Hasan melalui cucunya Isa bin Muhammad. Mesir dan Iraq adalah negeri yang Ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husayn. Syekh Abdul Qadir Jailani seorang Ulama yang dianggap sebagai Sufi terbesar dengan julukan Mawar kota Baghdad adalah keturunan Sayyidina Hasan melalui cucu beliau Abdullah bin Hasan II. Parsi hingga kearah timur seperti India sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia) didominasi para Ulama dari keturunan Sayyidina Husayn. Bedanya, Ulama Ahlul Bait di tanah Parsi banyak dari keturunan Imam Musa Al Kazim bin Imam Jafar Shadiq seperti Ayatullah Khumayni karena itu beliau juga bergelar Al-Musawi karena keturunan Imam Musa Al Kazim, sedangkan negeri Hadramawt (Yaman), Gujarat dan Malabar (India) hingga Indonesia Ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Imam Ali Uraidhi bin Imam Jafar Shadiq terutama melalui jalur Syekh Muhammad Shahib Mirbath dan Imam Muhammad Faqih Muqaddam Ulama dan Sufi terbesar Hadramawt di zamannya (abad 12-13M). Madzhab yang dianut para Ulama keturunan Sayyidina Husayn pun terbagi 2 (di Parsi menganut Syiah sedangkan Hadramawt, India hingga Indonesia menganut Suni dengan condong kepada Tasawuf), berbeda dengan para Ulama keturunan Sayyidina Hasan dari Mesir hingga Maroko yang hampir semuanya adalah kaum Suni yang condong kepada Tasawuf. Keberadaan keturunan Nabi SAW melalui Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husayn walau dihantam berbagai badai politik yang amat dahsyat menjadi bukti kebenaran hadits beliau tentang TSAQALAYN, tinggal sekarang bagaimana kita memahaminya dan mengamalkan tanpa harus ada pemaksaan pendapat dari pihak yang saling berbeda satu sama lain. Yang paling menarik saat ini adalah kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi bukan hanya menjadi keyakinan Ahlul Bait dari kaum Suni yang Sufi dan Syiah, bahkan kaum Suni yang Salafi yang dimasa lalu cukup alergi dengan keutamaan Ahlul Bait sekarang ikut mempercayai Imam Mahdi akan muncul dari Ahlul Bait tepatnya keturunan Fatimah putri Nabi SAW. Tetapi siapa tepatnya yang akan menjadi Imam Mahdi, ke 3 kelompok ini (Syiah, Suni yang Sufi dan Suni yang Salafi) masih berbeda pendapat hingga sekarang dan hanya waktu yang tampaknya mampu menjawab. Dan kita semua sama-sama menanti. --------------------------------- Groups are talking. Were listening. Check out the handy changes to Yahoo! Groups. ------------------------------------------------------- ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
Siapakah yang disebut Ahlul Bait
Sementara dalam pengertian khusus Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Nabi Muhammad SAW yang dalam hadits disebutkan haram menerima shodaqoh seperti keluarga Sayyidina Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husayn) dan keturunan mereka. Juga keluarga Abbas bin Abdul Mutholib dan keluarga Jafar
serta keluarga Aqil yang sama dengan Sayyidina Ali juga merupakan putra-putra Abu Thalib. Pengertian khusus ini dianut oleh sebagian kaum Suni dan sebagian kaum Sufi.
Sementara kaum Syiah lebih megkhususkan lagi ahlul-bait untuk hanya mencakup Sayyidina Ali dan istrinya Fatimah putri Nabi SAW beserta putra-putra mereka Sayyidina Hasan, Sayyidina Husayn (4 orang ini bersama Nabi SAW juga disebut Ahlul Kisa atau yang berada dalam satu selimut) dan keturunan mereka.
Adanya hadits tsaqalain (2 pusaka) yang sama-sama shahih baik dari jalur Suni dan Syiah nampaknya memperkuat suatu makna dari pengertian khusus tanpa harus meniadakan pengertian umum. Jalan tengah ini banyak dianut oleh Ulama-ulama besar kaum Suni dan kaum Sufi di kemudian hari.
Pengertian khusus menjadi tanpa arti, tentu, kalau tidak bisa dinukil makna tersirat dari kata-kata Nabi SAW bahwa telah
ditinggalkan 2 perkara yang sangat berharga (Tsaqalayn) yang bila Umat Islam berpegang maka tidak akan tersesat selamanya yaitu Kitabullah dan itrah beliau (ahlul-bait). Mereka (Kitabullah dan Ahlul-Bait) tidak akan pernah berpisah hingga bertemu Beliau di Telaga Al-Kautsar.
Kalau kita perhatikan bahwa Ahlul Bait adalah manusia sedangkan Kitabullah (Quran) adalah petunjuk maka dapat dimaknai bahwa Nur dari Al-Quran telah berada didalam dada kaum ahlul-bait sehingga mereka harus menjadi rujukan dalam mempelajari dan mengamalkan al-Quran.
Hal ini sangat sejalan dengan prestasi Sayyidina Ali bin Abi Tholib sebagai ahli Ilmu dan Hikmah juga Abdullah ibnu Abbas (juga ahlul bait sesuai hadits Tsaqalayn diatas) yang merupakan Ahli Tafsir terbesar dizamannya.
Makna khusus ini yang diambil kaum Suni dan Sufi dalam menyikapi hadits Tsaqalain, sementara kaum Syiah lebih jauh mengkhususkan juga ke-khalifah-an bagi ahlul-bait dengan tambhan hadits riwayat ghadir-kum yang sebagian isinya masih dipersoalkan kaum Suni.
Sudah barang tentu bagi siapa yang ber-ilmu Quran dan mengamalkan dengan baik, akan terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk diambil sebagai pemimpin bila juga tentunya menguasai masalah administrative.
Jadi kepemimpinan dunia bukanlah masalah born-right atau pre-determined
gift. Hal ini sangat membedakan terutama antara Syiah terhadap kaum Sufi yang banyak ulamanya adalah juga keturunan ahlul-bait. Dalam masalah kekhalifahan kaum Sufi sepakat dengan kaum Suni, tetapi kaum Sufi mempunyai pendalaman ilmu ruhani, kecintaan mendalam yang dibuktikan dengan adanya jalur-jalur silsilah tarekat yang sebagian besarnya sampai kepada Sayyidina Ali baik melalui Sayyidina Hasan maupun Sayyidina Husayn.
Sedangkan antara Syiah dengan Suni yang tidak condong kepada Tasawuf segala sesuatunya tampak menjadi bertolak-belakang.
Yang sangat unik, dimasa sekarang kaum Suni yang sangat condong kepada Salafi (anti-tasawuf) pun mempercayai hadits Imam Mahdi akan muncul dari keturunan Ahlul Bait. Bedanya bila Syiah mempercayai dari keturunan Sayyidina Husayn yang lenyap belasan abad lalu dan akan muncul nanti, kaum Suni yang Salafi mempercayai hadits Imam Mahdi akan berasal dari keturunan Sayyidina Hasan, dengan nama Muhammad dan ayahnya
Abdullah, lahir dan muncul pada saat mendekati akhir zaman yaitu saat Armageddon (Perang Dunia III).
[sunting]
Perkembangan Ahlul Bait
Berkembangnya Ahlul Bait walaupun sepanjang sejarah Bani Umayyah dan Bani Abbas mengalami penindasan luar biasa, adalah berkah dari doa Nabi Muhammad SAW kepada mempelai pengantin Fatimah putrid beliau dan Sayyidina Ali di dalam pernikahan yang sangat sederhana.
Nabi SAW berdoa,Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik
Setelah mengalami titik noda paling kelam dalam sejarah Bani Umayyah, dimana cucu kesayangan Nabi, Sayyidina Husayn bersama keluarga dibantai secara kejam, pemerintahan berikutnya dari Bani Abbas yang sebetulnya masih kerabat (sesuai hadits tsaqalayn diatas) tampaknya juga tak mau kalah dengan membantai keturunan Nabi SAW yang saat itu sudah berkembang banyak baik melalui jalur Ali Zaynal Abidin satu satunya putra Sayyidina Husayn yang selamat dari pebantaian di Karbala, juga melalui jalur putra-putra Sayyidina Hasan.
Tetapi manusia boleh berencana, Allah yang menentukan. Dengan bergugurannya keturunan Nabi SAW di ujung pedang Bani Umayyah dan Bani Abbas, anehnya justru semakin banyak keturunan beliau berkembang. Sejarah membuktikan dari keturunan Sayyidina Hasan banyak yang selamat dengan melarikan diri ke arah Barat hingga mencapai Maroko yang hingga sekarang keluarga Raja Maroko mengklaim keturunan dari Sayyidina Hasan melalui cucu beliau Idris bin Abdullah, karena itu keluarga mereka dinamakan dinasti Idrissiyyah.
Belum lagi Ulama-ulama besar seperti Syekh Abu Hasan Syadzili Maroko (Pendiri Tarekat Syadziliyah) yang nasabnya sampai kepada Sayyidina Hasan melalui cucunya Isa bin Muhammad.
Mesir dan Iraq adalah negeri yang Ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husayn. Syekh Abdul Qadir Jailani seorang Ulama yang dianggap sebagai Sufi terbesar dengan julukan Mawar kota Baghdad adalah keturunan Sayyidina Hasan melalui
cucu beliau Abdullah bin Hasan II.
Parsi hingga kearah timur seperti India sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia) didominasi para Ulama dari keturunan Sayyidina Husayn. Bedanya, Ulama Ahlul Bait di tanah Parsi banyak dari keturunan Imam Musa Al Kazim bin Imam Jafar Shadiq seperti Ayatullah Khumayni karena itu beliau juga bergelar Al-Musawi karena keturunan Imam Musa Al Kazim, sedangkan negeri
Hadramawt (Yaman), Gujarat dan Malabar (India) hingga Indonesia Ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Imam Ali Uraidhi bin Imam Jafar Shadiq terutama melalui jalur Syekh Muhammad Shahib Mirbath dan Imam Muhammad Faqih Muqaddam Ulama dan Sufi terbesar Hadramawt di zamannya (abad 12-13M).
Madzhab yang
dianut para Ulama keturunan Sayyidina Husayn pun terbagi 2 (di Parsi menganut Syiah sedangkan Hadramawt, India hingga Indonesia menganut Suni dengan condong kepada Tasawuf), berbeda dengan para Ulama keturunan Sayyidina Hasan dari Mesir hingga Maroko yang hampir semuanya adalah kaum Suni yang condong kepada Tasawuf.
Keberadaan keturunan Nabi SAW melalui Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husayn walau dihantam berbagai badai politik yang amat dahsyat menjadi bukti kebenaran hadits beliau tentang TSAQALAYN, tinggal sekarang bagaimana kita memahaminya dan mengamalkan tanpa harus ada pemaksaan pendapat dari pihak yang saling berbeda
satu sama lain.
Yang paling menarik saat ini adalah kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi bukan hanya menjadi keyakinan Ahlul Bait dari kaum Suni yang Sufi dan Syiah, bahkan kaum Suni yang Salafi yang dimasa lalu cukup alergi dengan keutamaan Ahlul Bait sekarang ikut mempercayai Imam Mahdi akan muncul dari Ahlul Bait tepatnya keturunan Fatimah putri Nabi SAW.
Tetapi siapa tepatnya yang akan menjadi Imam Mahdi, ke 3 kelompok ini (Syiah, Suni yang Sufi dan Suni yang Salafi) masih berbeda pendapat hingga sekarang dan hanya waktu yang tampaknya mampu menjawab. Dan kita semua sama-sama menanti.
Groups are talking. Were listening. Check out the handy changes to Yahoo! Groups.
