|
Essay:
Rama Bargawa dan Bencana
Spiritual
Essay ini didedikasikan untuk mBah Dul di
Yogyakarta yang terkena musibah gempa bumi.
Setiap kali terjadi bencana alam: entah itu gempa
bumi atau tsunami, banjir bandang atau gunung meletus, media-media seperti
televisi dan surat kabar akan ramai membicarakannya, tapi ketika terjadi bencana
spiritual: hancurnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan, tidak pernah terdengar
orang ramai membicarakannya.
Lakon wayang kulit Rama Bargawa adalah salah satu
lakon yang paling berkesan di benak saya: saya menonton pagelaran lakon ini
sudah sekitar 10 tahun yang lalu, dan dalangnya adalah Ki Purba Asmara yang
sangat menguasai seni filsafat dan sastra dalam wayang kulit. Alkisah, kerajaan di mana Rama Bargawa bekerja sebagai penegak
hukum mengalami krisis moral: sang raja asyik bertapa di gunung dan
gua-gua untuk mencari 'ilmu', sementara sang permaisuri karena kesepian
mencari kepuasan dari prajurit-prajurit kerajaan yang perkasa. Maka lengkaplah
sudah kerusakan kerajaan tersebut: ekonomi dan politik tidak tertata, sementara
sang permaisuri hanyalah seorang tukang selingkuh. Ironisnya: sang raja dan
permaisuri dalam kerajaan tersebut adalah ayah dan ibu kandung Rama Bargawa
sendiri.
Rama Bargawa sebagai seorang pembela kebenaran
tentu merasa sangat terpukul menyaksikan kondisi di sekitarnya: lebih
celaka lagi sang raja, yaitu ayah kandungnya, memintanya untuk menghukum mati
ibunya sendiri sebagai hukuman atas pelangaran moral yang beliau lakukan:
yaitu berselingkuh. Rama Bargawa menghadapi dilema moral yang sangat berat: di
satu sisi, sebagai hakim di negeri tersebut dia harus menghukum siapapun yang
bersalah: dalam hal ini dia harus menghukum mati ibu kandungnya sendiri, sesuai
titah sang raja, tapi sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tua dia
merasa wajib menyelamatkan nyawa ibunya apapun yang terjadi: mikul dhuwur
mendhem jero, begitu pepatah orang Jawa.
Maka Rama Bargawa pun membawa ibunya masuk ke
dalam hutan, dengan maksud untuk menyembunyikannya, agar dia selamat dari
hukuman mati dari sang raja. Puncak kekalutan yang dialami Rama Bargawa
adalah: ketika akhirnya ibu kandungnya tersebut bunuh diri karena tak kuat
menanggung malu.
Seperti seekor harimau gila Rama Bargawa
pun akhirnya masuk ke dalam kota kerajaan dan membantai semua prajurit yang
ia temui di sana: ia sudah kehilangan kepercayaan akan sistem dan nilai-nilai:
kerajaan yang ia bela mati-matian dan ia agung-agungkan selama
ini ternyata tak lebih dari sekedar sarang penyamun dan kemunafikan... maka
ia pun bermaksud menghancurkannya. Setiap prajurit, penjaga gerbang, perwira
atau siapa saja yang ia temui... ia bunuh tanpa ampun! Kerajaan tersebut pun
bersimbah darah. Ulahnya tersebut tentu membuat kahyangan geger,
sehingga para dewa mengutus seksi humas-nya, yaitu Bathara Naradha, untuk
memberikan petunjuk dan pencerahan bagi Rama Bargawa. Beginilah nasehat Bathara
Naradha: Rama Bargawa harus bertapa di dalam hutan sampai lahirnya seorang Ratu
Adil, semacam mesias dalam budaya Jawa, yaitu Rama Wijaya yang kelak akan
mengalahkan Rahwana, sang Raja Alengka (dalam lakon Rama-Shinta).
Dari lakon tersebut nampak bahwa: bencana spiritual
tidak kalah dahsyat dengan bencana yang terjadi di alam fisik: seperti bencana
alam. Orang mungkin tidak mengalami bencana alam, tapi mungkin tinggal di dalam
sebuah negeri, atau wilayah, atau di dalam lingkungan keluarga
yang mengalami 'bencana spiritual'. Dalam menghadapi bencana semacam
itu: Hyang Pukulun Bathara Naradha meminta Rama Bargawa untuk masuk ke
dalam hutan: dan menjernihkan hati dan pikirannya, sampai ia bertemu dengan sang
Ratu Adil untuk menyelamatkan hidupnya... Dan akhir ceritanya kita tahu: Rama
Bargawa akan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Sang Raja Agung: Prabu Rama
Wijaya, Sang Mesias dalam budaya Jawa... maka ia pun diangkat sebagai
seorang dewa yang sangat terhormat di kahyangan dengan gelar: Prabu Rama
Parasu.
Salam,
Yohanes Sutopo
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
