---------- Forwarded Message ----------
Subject: [MI-googlegroups] Musibah Parameter Keimanan Date: Friday 21 July 2006 07:40 From: "agus rasidi" <[EMAIL PROTECTED]> To: "mencintai-islam" <[EMAIL PROTECTED]> Musibah Parameter Keimanan Oleh A. Nawawi Rambe Seorang sahabat, Sa'ad bin Abi Waqqash, mengajukan serangkaian pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW tentang tingkatan musibah atau bala yang dialami manusia. "Ya Rasulullah, siapa di antara manusia yang paling pedih balanya di dunia?" "Para Nabi," jawab Rasulullah. "Kemudian siapa lagi?" "Para Wali." "Kemudian siapa lagi?" "Orang yang mirip dengan itu." Orang yang mirip dengan para Nabi dan Wali, bisa saja ulama, atau pemimpin umat. Semakin tinggi keimanan dan tanggung jawab seseorang, semakin berat musibah atau ujian yang ditimpakan Allah kepadanya. Sejarah mencatat, Nabi Ayyub a.s., misalnya, mendapat cobaan berat berupa penyakit kulit. Sedemikian parahnya penyakit itu hingga berulat, sampai istrinya sendiri meninggalkannya karena jijik. Saat Nabi Ayyub akan berwudhu, ia tanggalkan ulat-ulat dari luka-luka di kulitnya dan usai berwudhu ia kembalikan ulat-ulat itu ke luka-luka tadi, seakan tak hendak menghentikan ulat-ulat itu menikmati luka-luka di tubuhnya. Bertahun ia hidup menderita, namun sedikit pun tak mengurangi keimanannya kepada Allah. Masih dalam catatan sejarah, ulama besar sekaliber Imam Syafi'i juga tak luput dari ujian Tuhan. Tiga tahun ia menderita penyakit ambeien yang parah, namun tak mengurangi aktivitasnya mengajar. Darah mengucur dari anusnya sehingga alat penadah harus ditaruh di bawah tempat duduknya saat ia mengajar. Mengapa Allah menimpakan bala atas nabi-Nya, atas ulama pewaris nabi-Nya, dan atas hamba-bambanya yang tak berdosa? Allah menjelaskan dalam firman-Nya, liyasma' tadharru'ahu - karena la ingin mendengar keluh kesah hamba-Nya itu. Dilihat dari sisi ini, mungkin cobaan atau musibah yang berulangkali menimpa bangsa kita adalah bentuk kerinduan Allah mendengar keluh kesah dan rintihan kita kepada-Nya. Selama ini mungkin kita terlalu banyak berkeluh kesah tentang keterpurukan bangsa kita, tentang kemiskinan, tentang penyakit yang silih berganti mewabah, tentang banjir bandang, tentang longsor, tentang kebobrokan mentalitas para pemimpin dan pejabat negara yang rakus dan doyan korupsi, dan tentang banyak musibah lain. Tapi kita mengalamatkan keluhan itu bahkan kutukan entah kepada siapa. Seringkali justru kepada pemerintah. Padahal pemerintah bukanlah segala-galanya. Mengapa kita tidak mengadukan semua keluh kesah itu kepada Allah? Bukankah Allah sebenarnya rindu akan rintihan hamba-hamba-Nya yang salih? Dalam sebuah hadis disebutkan, "Innallaha idza ahabba qauman ibtalahum - Sesungguhnya Allah kalau mencintai suatu kaum, diberi-Nya bala." Dengan demikian, Allah menurunkan bala bukan tanpa tujuan, terlebih lagi suatu bala jangan semata-mata dilihat sebagai ganjaran atas "dosa kolektif". Sebaiknya kita tidak buru-buru menuduh masyarakatyang ditimpa musibah telah banyak berdosa. Sebab, salah satu fungsi bala justru adalah tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Nabi SAW bersabda, "Ma min muslimin, 'ushiba bi mushibatin min adza, au maradhin hatia syaukatin tusyakkuhu ilia ka anna lahu bihi kaffarah - Tak seorang Muslim yang ditimpa musibah, baik berupa rasa susah, atau sakit bahkan sebuah dun menusuk kulitnya, kecuali hal itu menjadi kaffarah baginya." Datangnya bala, bagi yang selamat meski cukup menderita, insya Allah menutupi dosa-dosanya. Itulah yang disebut kaffarah. Kita memang tidak mengharapkan datangnya bala, tapi kalau ia datang juga hendaknya kita hadapi dengan sabar, takperlu risau, apalagi mengumbarsumpah serapah tak karuan. Menerima cobaan dengan penuh kesabaran adalah pangkal keberuntungan. "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah... niscaya kamu akan beruntung." (QS 3:211). Seorang yang masih selamat dari maut dalam suatu musibah, kendati :terluka dan mungkin cacat seumur hidup, : seyogianya bersyukur kepada Allah karena hal itu berarti kaffarah baginya. Cobaan selalu berkorelasi dengan keimanan, bahkan menjadi parameter keimanan. Seseorang belum dikatakan cukup beriman, sebelum keimanannya dites menurut kadar yang ditentukan Allah (QS 47:31). Semakin banyak bala yang sanggup diterima dengan kesabaran, semakin tinggi kualitasnya di hadapan Allah. Sebaliknya, cobaan yang diterima tanpa kesabaran selain merugikan diri sendiri, juga mengundang murka Allah. Firman Allah, "Man lam yashbir 'ala qadha-i wa lam yashbir 'ala bala-i falyakruz min tahtis sama-i fal yatlub rabban siwaya - Barangsiapa tidak sabar atas keputusan-Ku dan tidak sabar terhadap ba!a-Ku, silahkan keluar dari kolong langit-Ku dan carl Tuhan selain Aku." Bila mendengar ada bala menimpa sebagian masyarakat kita di tempat lain, seharusnya iman kita tergetar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, mendorong kita meningkatkan amal shaleh : mengirim doa, melaksanakan qunut nazilah, atau shalat gaib bagi mereka yang mati syahid, membentuk regu-regu relawan, dan yang tak kalah pentingnya : menyumbangkan sebagian harta kita untuk meringankan derita mereka yang selamat. www.amanah.or.id --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena Anda tergabung pada grup Grup Google "mencintai-islam" grup. Untuk mengirim pesan ke grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lainnya, lihat grup ini pada http://groups.google.com/group/mencintai-islam -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- ------------------------------------------------------- ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
