Saya benar-benar heran dengan anda sdr. Aryadi. Apakah anda benar- benar menuruti ayat-ayat seperti ini? Ayat-ayat seperti ini adalah ayat yang menimbulkan perpecahan dan potensi konflik di dalam hati anda juga para penganutnya. Tidak ada wisdom yang bisa saya lihat dalam ayat-ayat ini selain perpecahan HATI manusia hanya karena perbedaan kepercayaan. Apakah anda tega TIDAK MENDOAKAN ibu anda semisal ibu anda berubah kepercayaannya? Jika anda tega, berarti cinta anda ke ibu anda adalah bersyarat. Juga sebaliknya apabila ada seorang ibu yang tega tidak mendoakan anaknya hanya karena menuruti ayat seperti ini, apakah artinya cinta ibu itu bersyarat pula? Ayat inipun menceritakan larangan mendoakan TELAH melukai hati nabi Muhammad yang anda junjung tinggi itu. Nabi anda saja terluka, apalagi seorang ibu nantinya kalau kemungkinan terjadi hal ini? Dimana cinta sesungguhnya? Sungguh, Allah yang menurunkan ayat ini cintanya benar-benar bersyarat. Aku tidak bakal dicintai Allah anda apapun perbuatan baik yang telah aku lakukan, karena doaku tak akan didengar, doa orang lain untukku pun tidak diterima oleh Allah anda. Ibuku jauh lebih baik daripada Allah anda yang telah tertutup pengampunannya melalui turunnya ayat ini.
Salam, Adhi Purwono. --- In [email protected], Aryadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > TOPIK: Larangan Mendoakan orang Musyrik > http://groups.google.co.id/group/myquran/browse_thread/thread/ 6251c3dcddc213b8 > ====================================================================== ======== > > == 1 dari 3 == > Tanggal: Sel 25 Jul 2006 16:58 > Dari: kartika dewi > > > > "Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan > ampunan (kepada Allah), bagi orang-orang yang musyrik, walaupun orang-orang > musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya > orang musyrik itu, adalah isi neraka jahanam." > (QS Al Bara'ah (9) : 113) > > > Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu Thalib hampir menghembuskan > nafasnya yang terakhir datanglah Rasulullah SAW kepadanya dan didapatinya Abu > Jahl bin Abdullah bin Abi Umayyah berada di sisinya. Bersabda Nabi SAW, > "Wahai pamanku! Ucapkanlah 'LA ILAHA ILLALLAH'" > > Berkata Abu Jahl bin Abdullah, "Hai Abu Thalib, apakah engkau benci kepada > agama Abdul Muthalib?". Kedua orang itu tidak henti-hentinya membujuk Abu > Thalib sehingga kalimat yang terakhir yang diucapkan sesuai dengan agama > Abdul Mutthalib. Bersabda Nabi Muhammad SAW "Aku akan memintakan ampun untuk > pamanda selagi aku tidak dilarang berbuat demikian". Maka turunlah ayat > diatas (QS 9: 113) sebagai larangan untuk memintakan ampun bagi kaum > musyrikin. Ayat lain yang diturunkan berkenaan dengan usaha Nabi untuk > mengislamkan Abu Thalib ialah (QS 28: 56) yang menegaskan Nabi tidak dapat > memberikan petunjuk kepada yang ia sayangi selagi tidak diberi petunjuk oleh > Allah. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim dari Sa'id bin AlMusayyab yang > bersumber dari Bapaknya. Menurut dhahirnya ayat ini diturunkan di Mekkah) > > Dalam Riwayat lain dikemukakan bahwa Ali Bin Abi Thalib mendengar seorang > laki-laki sedang memintakan ampun kepada Allah bagi kedua ibu- bapaknya yang > musyrik. Ali bertanya kepadanya: "Apakah engkau memintakan ampun bagi kedua > orang tuamu yang musyrik?" Ia pun menjawab: "Ibrahim telah memintakan ampun > bagi bapaknya yang musyrik". Hal ini disampaikan oleh Ali kepada Rasulullah > SAW. Maka turunlah ayat diatas (QS 9:113) yang melarang kaum mukminin > memintakan ampun bagi kaum musyrik. > (Diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan al Hakim yang bersumber dari Ali bin Abi > Thalib, hadits ini hasan menurut at Tirmidzi) > > Dalam suatu riwayat juga dikemukakan bahwa pada suatu hari Rasulullah pernah > pergi ke kuburan dan duduk di sisi sebuah kubur, serta berdo'a di sana lama > sekali kemudian menangis. dan Ibnu Mas'ud pun jadi menangis, karena > tangisannya itu. Rasulullah bersabda: "Kuburan yang aku duduki sisinya itu > adalah kuburan ibuku, dan aku minta izin kepada Tuhanku untuk mendo'akannya > namun Allah tidak memberi izin kepadaku". Permohonan Rasulullah itu dijawab > dengan turunnya ayat diatas (QS 9: 113) yang melarang kaum mukminin > memintakan ampun bagi kaum musyrikin. (Diriwayatkan al Hakim dan al Baihaqi > di dalam kitab ad Dalail dan lain-lainnya yang bersumber dari Ibnu Mas'ud) > > Beberapa riwayat diatas menggambarkan sebab-sebab turunnya Surat Al Bara'ah > (9) ayat 113 yang pada intinya berisikan larangan dari Allah bagi kaum mukmin > yang akan memintakan ampun bagi kaum musyrikin. Semoga bermanfaat. > > (Sumber: Asbabun Nuzul, KH Qamaruddin Shaleh dkk, CV Diponegoro, Bandung) > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
