Note: forwarded message attached.
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
--- Begin Message ---
TRUE COLORS OLEH:AUDIFAXPeneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku Mite Harry Potter(2005, Jalasutra) You with the sad eyesDon't be discouragedOh I realizeIt's hard to take courageIn a world full of peopleYou can lose sight of it allAnd the darkness inside youCan make you feel so small But I see your true colorsShining throughI see your true colorsAnd that's why I love youSo don't be afraid to let them showYour true colorsTrue colors are beautiful,Like a rainbow True ColorsCindy Lauper Pada beberapa esei terakhir, Saya kerap menyoroti masalah penerimaan manusia terhadap ketakpastian dan kemajemukan dalam kehidupan. Dalam amatan saya yang terbatas, hal itu menyumbang bagi banyak persoalan yang terjadi di bangsa ini. Pengeboman, fatwa-fatwa, pertikaian antar agama, pertengkaran di milis dan banyak hal lagi. Saya pernah juga mengatakan bahwa ilmu yang mengklaim understanding human being yaitu psikologi, juga ikut menyumbang membiasakan orang tak bisa menerima kemajemukan. Mulai dari Psikotes hingga upaya-upaya konyol mendefinisikan klien dalam berbagai definisi dari buku atau PPDGJ dan menganggap bahwa semua penjelasan yang terdapat didapat memberi kepastian akan kehidupan macam apa yang dimiliki klien serta jenis orang macam apa dia. Intinya. Mereka yang tak bisa menerima kemajemukan, cenderung melihat kehidupan sebagai linier sebab-akibat dan ada logos-logos yang tak bisa digugat di ujung-ujungnya. sana Sebenarnya, cara berpikir seperti ini sudah ada sejak jaman Yunani kuno, di mana manusia memang terbiasakan untuk berpikir secara linier dengan menempatkan logos di ujung-ujung pemikiran. Logos itu berfungsi sebagai causa prima yang sifatnya absolut, tak tergugat. Kita mengenal itu dalam term-term seperti: Akal Budi, Hati Nurani, Iman, Atom, Monad dan banyak lagi. Seringkali juga Tuhan ditempatkan di ujung. Dalam banyak hal, situasi ini justru membuat manusia lepas dari tanggungjawabnya. Banyak hal ditimpakan pada Tuhan. Sehingga muncullah slogan populer: Manusia berusaha Tuhan menentukan. sana Dalam pemikiran logosentris semacam ini, Tuhan pun menjadi banal, ketika namanya disebut di mana-mana dalam banalitas kehidupan manusia. Ia bisa menjadi landasan fatwa, menjadi landasan untuk memprotes keikutsertaan seorang perempuan ke ajang Miss Universe, berjualan nubuat, atau bahkan membunuh satu sama lain. Mungkin bisa Kita cermati sejenak bagaimana Manusia berusaha Tuhan menentukan dalam ungkapan pelaku Pengeboman Bali II: Setelah itu, muncul seorang pria berkaos hitam dan bercelana jin mengucapkan terima kasih kepada ibunya. Ia juga mengatakan, Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati. Kemudian muncul seorang pria mengenakan jaket hitam. Sambil duduk, dia menyampaikan sudah berada di surga saat rekaman ini diputar. Pesan ini disampaikan untuk saudara dan istrinya. Lelaki itu juga mengatakan, jangan pernah berpikir bahwa yang terbunuh di jalan Allah bakal mati, tapi hidup kembali. Pria muda itu juga menyampaikan pandangannya. "Dalam Alquran dan hadis disebutkan bahwa roh seseorang syahid itu berada di dalam perut burung hijau yang terbang ke jannah (surga)," ucap lelaki tersebut[i]. Dengan logika seperti ini, manusianya tidak salah. Wong Tuhan menentukan kok. Artinya, dipercaya bahwa Aku adalah yang terpilih untuk melakukan pengeboman. Berarti kira-kira argumennya begini: Lha aku dipilih Tuhan kok..bukan aku sendiri yang menentukan. Cara berpikir seperti ini adalah cara berpikir berbasis logos. Sebuah implikasi dari Cogito Ergo Sum-nya Descartes. Ego Cogito yang diletakkan sebagai fakultas tertinggi, sehingga membuat manusia tak bisa menyelami the Others, Yang-Lain, Orang lain [Liyan]. Inilah momen di mana orang tak bisa melihat Liyan dalam warna mereka yang sebenarnya [meminjam lagu yang sempat dinyanyikan Cindy Lauper dan belakangan dinyanyikan juga oleh Phil Collins: True Colors] Dalam What is Philosophy, Gilles Deleuze dan Felix Guattari mengatakan bahwa Liyan yang muncul di hadapan Aku, sebenarnya bukan sebagai subjek maupun objek, melainkan sesuatu yang sangat berbeda: sebuah dunia-mungkin [possible world]; sebuah kemungkinan dunia yang [bisa jadi] menakutkan. Kenapa menakutkan? Karena Dunia-mungkin ini tidaklah nyata, atau belum nyata, namun demikian ia eksis: ia merupakan sesuatu yang terekspresikan, yang hanya ada dalam ekspresinya sendiriwajah, atau yang sepadan dengan wajah. Ia ada untuk sebuah awal, Liyan tersebut adalah eksistensi dunia mungkin ini. dan dunia-mungkin ini, juga mempunyai realita khusus pada dirinya sendiri sebagai yang-mungkin [yang tak terjangkau pemahaman Aku][ii]. Ketika Liyan dalam dunia-mungkin yang memiliki realita [hanya sebagai] yang-mungkin ini berbicara padaku: Saya ketakutan, atau Saya mencintaimu bahkan terlepas dari jujur tidaknya kata-kata itu, ia sudah cukup untuk hadir sebagai sebuah realitas sebagai sesuatu-yang-mungkin bagiku. Ini karena Liyan memang tak akan pernah menjadi sesuatu-yang- pasti, ia selalu sesuatu-yang- mungkin. Di sinilah sebenarnya kunci dari bagaimana Aku [I] berhadapan dengan Liyan [Others]. Ini karena tak pernah ada Ego Cogito Cartesian yang jernih, yang bisa menjelaskan keseluruhan Liyan. Jika anda adalah seorang yang lahir sebagai etnis Jawa, maka etnis Cina, etnis Madura, etnis Sunda adalah dunia-mungkin, begitu pula sebaliknya. Dunia-mungkin ini, biasanya memeroleh realitasnya ketika dinarasikan dalam medan kisah tertentu, baik berasal dari pengalaman, stereoriping ataupun stigmatisasi, yang seringkali tak disadari bahwa itu sangat berbeda dari situasi di mana memang anda eksis sebagai etnis Cina, Madura, Jawa, Sunda itu sendiri. Pada titik ini, yang terjadi adalah Aku [I] menjadikan Liyan [Others] dan mencoba mengisi distansi atau jeda antara I dan Others dengan determinasi yang merengkuh Others ke dalam I. Pada saat merengkuh Liyan untuk menjadikannya kompatibel dengan pemahaman Aku, saat itulah timbul kecemasan karena Liyan menjadi benda asing dalam tubuh-ku. Dan, seperti layaknya mekanisme biologis tubuh yang menolak benda asing, seeprti itupulalah mekanisme psikis I menempatkan Liyan sebagai ancaman bagi keberadaan-Ku. Inilah akar dari bentuk represi[f] terhadap sesuatu yang tak inkompatibel atau yang tak bisa disepadankan oleh kesadaran Ego yang terperangkap dalam ingatan Kisah Masa Lalu. Pada situasi ini, Ego yang dalam pemikiran Freud bekerja berdasar prinsip realitas, menemui kegagalan membuat kanal yang bisa menjinakkan keberbedaan Liyan, sehingga ia melakukan suatu mekanisme pertahanan diri. Represi yang banyak dicontohkan Freud pada neurosis-neurosis personal ini, juga terjadi dalam sistem sosial. Represi dalam psikoanalisa Freud bukanlah melupakan atau mengekslusi sesuatu. Ia juga tak menolak atau melenyapkan kekuatan eksternal di luar dirinya. Ia hanya menginternalisasi gambaran yang telah dibentuk oleh kepercayaan berlebihan akan kemampuan diri untuk menjelaskan dunia eksternal. Karena tertanam dalam kesadaran, pengaruh represi tak terasa secara langsung tapi lambat laun ia menekan dengan kekuatan yang pelan tapi pasti, dan menciptakan ilusi-ilusi akan kebenaran. Mungkin Kita bisa menyimak kasus menarik berikut: Kesertaan Puteri Indonesia 2005 Nadine Chandrawinata dalam ajang Miss Universe 2006, yang sedang dilangsungkan di Los Angeles (California, AS), mendapat reaksi keras dari Front pembela Islam FPI. Organisasi tersebut melaporkan Nadine ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Jumat ini (21/7). Nadine tidak sendiri. Artika Sari Dewi, Puteri Indonesia 2005, yang ikut Miss Universe tahun lalu; Mooryati Soedibyo selaku pendiri Yayasan Puteri Indonesia (YPI); Wardiman Djojonegoro sebagai Ketua YPI; Kusumadewi, wakil dari YPI yang mengantar keberangkatan Nadine ke Miss Universe 2006; dan Mega Angkasa, Humas YPI, ikut dilaporkan oleh FPI......Supriyanti juga mengomentari ihwal Nadine dikirim sebagai wakil Indonesia. "Kami tidak merasa terwakili," ujarnya. Ujarnya lagi, kesertaan Nadine di Miss Universe 2006 melanggar norma agama, mengingat mayoritas warga Indonesia muslim[iii]. Tentu Bisa juga dipertanyakan balik bukan? Apakah Supriyanti dkk juga mewakili perempuan Indonesia? Bila dijawab Ya, maka perempuan Indonesia yang mana? Pertanyaan lebih jauh: Sebenarnya adakah citra tunggal tentang perempuan Indonesia, ketika Kita melihat begitu majemuknya peempuan Indonesia dari segi etnis, agama, kultur dsb? Tetapi, Ilusi-ilusi akan kebenaran akhir (misalnya: Kebenaran akhir citra perempuan Indonesia) inilah yang membuat manusia berusaha merengkuh Liyan dalam sebuah Konsep [kebenaran-akhir] Diri, yang kemudian ketika ia menyadari bahwa Liyan tak bisa direngkuh, ia merubah Liyan sebagai suatu ancaman. Kita bisa menggambarkan ini dalam mekanisme proyeksi Freudian sebagai tahapan yang dimulai dari pernyataan: Aku menginginkanmu, lalu ketika disadari bahwa Liyan tak mungkin disamakan dengan dirinya, dimilikinya, maka pernyataan itu berubah menjadi Kau tak menginginkanku , dengan pengandaian bahwa yang tak menginginkan berarti menempatkan diri dalam titik berlawanan dari kontinum biner maka pernyataan itupun berubah lagi menjadi Kau adalah lawanku, dan laiknya pihak yang menjadi lawan, maka bukan kesalahan jika Aku kemudian juga menyatakan: Aku melawanmu. Emmanuel Levinas, filsuf Perancis, adalah seseorang yang pernah menawarkan pemikiran untuk menggeser dari metafisika yang mengedepankan logos menuju metafisika yang mengedepankan loxos, dari sejarah yang terpusat pada ego ke sejarah yang mengawali lahirnya the Others atau Yang-Lain. Inilah titik menyatunya keterpisahan antara ontologi dan epistemologi dalam filsafat. Tak ada lagi perbedaan ontologi dan epistemologi, karena apa yang ontologis sekaligus epistemologis, begitu pula sebaliknya. Manusia memang terbiasa mengembangkan ego, sehingga banyak tertanam pemikiran bahwa manusia tak bisa hidup tanpa ego. Sejak Rene Descartes, memaklumatkan cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), pada saat itulah berawal perkembangan pemikiran Barat--yang kemudian memengaruhi dunia-- yang cenderung membangun suatu keseluruhan dengan menjadikan ego sebagai pusatnya. Ego cogito Descartes menunjukkan bagaimana AKU didaulat menjadi pusat bagi realitas ontologis. Ego mendapat prioritas utama yang mutlak tak tergugat. Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa aktivitas manusia untuk mengembangkan egologi sebagai totalisasi. Ketika manusia mengedepankan ego, maka ia sebenarnya tengah melakukan totalisasi, apapun yang dihadapannya akan di-utuh-kan dalam sebuah konsep yang telah ada di pikiran AKU, sehingga apapun itu masuk dalam pemahaman dari sudut pandang aku. Totalitas semacam inilah yang kemudian bisa kita saksikan pada bagaimana Mujahidin mensomasi Bali misalnya, pada kasus itu Bali dengan segala keunikannya yang membedakan dengan kaum Mujahidin direduksi dalam penilaian yang ada pada diri kaum Mujahidin. Begitu pula dengan kasus terorisme yang demi mati syahid [yang belum jelas syahid atau tidak] mereka dengan enak bisa mengorbankan orang lain. Atau mereka yang mempersoalkan mengenai citra perempuanIndonesia dalam kasus pengiriman perempuanke ajang Miss Universe. Tak hanya dalam kasus besar, tapi dalam kasus-kasus yang lebih keseharianpun terjadi, manusia dengan mudah mengkonstruksi orang lain berdasarkan pemahamannya dan menentukan baik buruknya orang itu. Indonesia Dalam pemikiran Levinas, totalitas itu didobrak oleh yang tak berhingga (lInfini). Dengan istilah ini, Levinas memaksudkan sebuah realitas yang tak dapat direduksi ke dalam diri AKU (sebagai ego) dan pengetahuan AKU. Yang-Tak-Berhingga adalah Orang-Lain, Liyan, the Others, YANG-LAIN daripada AKU, Yang Beda dari AKU dan Yang bukan AKU. Semua totalitas yang AKU bangun, seketika runtuh ketika AKU berjumpa dengan Orang-Lain. Inilah yang dimaksud dengan eksterioritas, yakni bahwa ada YANG-BEDA di luar AKU, yang bukan bagian dari interioritas diri AKU. YANG-TAK-BERHINGGA mengajak AKU keluar dari DIRI-AKU dan menyapanya[iv]. Dengan demikian, mungkin sebagai penutup esei ini, Kita bisa menyimak dan merenungkan potongan lanjutan dari lirik lagu True Colors ini: Show me a smile then,Don't be unhappy, can't rememberWhen I last saw you laughingIf this world makes you crazyAnd you've taken all you can bearYou call me upBecause you know I'll be there And I'll see your true colorsShining throughI see your true colorsAnd that's why I love youSo don't be afraid to let them showYour true colorsTrue colors are beautiful,Like a rainbow © Audifax 14 Agustus 2006 NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas,, BeCeKa, Mediacare, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo. Creative Circle com/group/ )psikologi_ transformatif
[ii] Gilles Deleuze dan Felix Guattari; (2004); What is Philosophy; Jalasutra: Yogyakarta; hal. 65[iii] http://www.kompas.com/ver1/ Hiburan/0607/ 21/184457. htm [iv] Muhammad Al-Fayyadl; (2005); Derrida;Yogyakarta : LKIS hal;. 146-147
Get your email and more, right on the new Yahoo.com
--- End Message ---
