Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___
--- Begin Message ---

 
KITA HANYALAH KISAH
 
OLEH:
AUDIFAX
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
 
 
 
“kami ini sudah tajam diasah, menjadi dingin dan keras karena dipaksa untuk mengaui bahwa tak ada satu halpun di sini yang bisa dianggap sebagai ilahi. Pun jika memakai kriteria manusia, kemasukakalan, dengan belas kasih atau keadilan sekalipun: kami tahu, dunia di mana kita hidup ini tidak-ilahi, imoral, ‘tidak-manusiawi’. Kita telah terlalu lama menafsir dunia ini secara salah dan dengan kebohongan. Dunia ini ditafsir seturut sebuah kebutuhan. Karena manusia adalah binatang yang memuja! Meskipun begitu, di situ dia juga tidak percaya begitu saja karena sebenarnya dunia ini tidak seberharga sebagaimana yang dipercayai sebelumnya. Itulah kurang lebih apa yang paling pasti dari ujung akhir kecurigaan kita. Seberapa banyak kecurigaan, sebanyak itu pula filsafat.
 
Friedrich Nietzche
[Guy Science]
 
 
Hidup adalah Kisah. Masing-masing dari Kita, adalah sebuah goresan Kisah di dunia. Kisah dalam sebuah realitas yang sejatinya kaotik. Tak ada kepastian, satu-satunya kepastian adalah ketakpastian itu sendiri. Situasi ini, bisa jadi membuat banyak orang menjadi tidak nyaman. Mereka yang tidak nyaman, lalu mencoba menempatkan ‘stabilizer-stabilizer’ dalam hidup mereka, agar seolah Kisah hidupnya berjalan linier. Setelah lulus SD, masuk SMP, setelah lulus SMP masuk SMA, setelah lulus SMA kuliah atau kerja. Setelah Kerja, ya nikah. Setelah nikah ya punya anak. Hidup seakan linier.
 
Tak cukup sampai di situ, ada lagi bentuk linierisasi. Misalnya: Di awal SMP dites IQ dan diberikan prediksi-prediksi, di awal SMA juga dites IQ, ketika kerja juga dites IQ. Untung untuk nikah belum diberlakukan juga untuk tes IQ, eiit tapi tunggu dulu. Memang untuk nikah syaratnya bukan tes IQ, tapi seiman. Wis pokoke kalau seiman, rumah tangga pasti Sakinah, harmonis (dan berbagai sebutan lain). Orang juga melakukan ritualisasi agar segalanya bisa diprediksi, Kita lihat contoh berikut:
dear : mba' nina
 ass.wr.wb
Mba' nin, saya lagi sedih nih! tahu ngga' mba', saya tidak diterima masuk S2 ubaya! Rasanya benar2 nggak percaya, saya seperti orang yang paling bodoh di dunia. Saya benar2 bingung dan saya benar2 nggak bisa menginformasikan tragedi ini kepada orang2, termasuk ke-2 orangtua saya.
Kenapa semua ini terjadi sama saya, mba'?! Tahun ini saya merasa Allah sedang mencoba saya. Padahal sholat saya tidak pernah putus, saya juga selalu mengaji. Tetapi kenapa?! Dari 43 orang calon mahasiswa yang mendaftar, hanya 33 orang yang diterima, dan 2 diantaranya adalah mahasiswa Untag...(dibusek)[i]
 
Ada sebuah liniearitas ala penelitian-penelitian kuantitatif, X mempengaruhi Y. Jika sholat tidak pernah putus dan selalu mengaji, maka semestinya hidupnya linier-linier saja, artinya dalam kasus ini, mendaftar sekolah ya pasti diterima.
 
Jika Kita simak kembali nukilan dari Guy Science-nya Nietzche yang menjadi pembuka esei ini, maka penyakit utama manusia adalah kebutuhannya untuk memuja. Dunia akhirnya ditafsirkan manusia sesuai kebutuhannya, diberi bentuk manusiawi sesuai ideal-kemanusiaannya sendiri. Manusia mengidealkan dunia dengan realitas sesuai kebutuhannya akan pujaan. Dengan idealisasi itu, manusia melupakan wajah non-manusiawi, non-ilahi dari realitas. Di situlah manusia mengamputasi dunia, manusia tidak mau menerima dunia apa adanya[ii].
 
Seperti juga terungkap dari ungkapan seorang psikolog yang menggunakan nama samaran Ganggang Merah mengenai psikotes yang umurnya sudah lebih dari 20 tahun (ini terhitung sejak diadaptasi ke Indonesia lho, bukan sejak diciptakan pertama kali di Barat sono), sebagai berikut:
 
Betul! Dunia sudah berubah sejak 20 tahun yang lalu. Sejak tes itu ditemukan, Maradona sudah terkena kasus narkoba, anak emas Brazil sekarang bernama Messi, Paus asal Polandia sudah mangkat dan digantikan oleh Paus asal Jerman. Betul! Sudah banyak informasi baru yang muncul.
Tapi ...... dalam kurun 20 tahun ini Brazilia masih di Brazil, Buenos Aires masih di Argentina, Vatikan masih menjadi pusat agama Katholik di jantung kota Roma.
Dengan demikian, apakah itu mengubah validitas tes psikologi? Saya rasa tidak[iii].
 
 
Lewat sains, agama, ideologi, ataupun filsafat; manusia menjalankan pemujaan yang dibutuhkannya. Dunia lalu ditafsirkan sebagai entah Ilahi entah manusiawi. Padahal realitas pada dirinya sendiri tak begitu, melainkan campur aduk segalanya. Realitas adalah sesuatu yang abyssal. Ketidakberanian menghadapi yang senyatanya—yang adalah juga ketakutan menyadari dirinya sendiri dan ketakpastian—membuat manusia lari pada pemujaan. Dalam Yang-Ideal, dalam tokoh pujaan, dalam ilusi-ilusinya, manusia-pemuja menemukan obat bagi dirinya yang sakit[iv].
 
Kebutuhan untuk memuja inilah yang membuat manusia “menciptakan” dunia sebagai a, b, atau c. Tafsiran seperti itu tidak pernah mengatakan tentang dunia pada dirinya sendiri, melainkan hanya mengatakan tentang siapakah orang yang memberi tafsir seperti itu. Dan kebutuhan untuk memuja itu selain berbahaya karena mengamputasi dunia, juga berbahaya karena manusia adalah sekaligus binatang-pencuriga. Selain butuh memuja, manusia juga siap mencurigai pujaannya sendiri.
 
Resiko sebuah pemujaan bahwa ia akan berujung pada sebaliknya: kekecewaan. Manakala pujaan yang ia ciptakan tidak sesuai dengan kebutuhannya untuk memuja, ia menjadi kecewa. Valuasi (pemberian nilai) yang berlebihan kepada dunia memiliki resiko besar berakhir dengan de-valuasi besar-besaran. Manusia yang meletakkan harapannya terlalu besar kepada dunia memiliki resiko kekecewaan terhadap dunia—yang sebenarnya adalah kekecewaan pada dirinya sendiri—dan akhirnya mendevaluasi segalanya.
 
Kita bisa melihat kontekstualisasinya pada Kisah berikut:
 
Di Bui ketemu Sahabat
Tepatnya pada awal th 1989, pada saat tsb saya sedang lunch di Hilton Hotel Jkt dengan seorang pejabat tinggi. Baru saja saya makan satu sendok makan, tiba-tiba datang polisi dengan pakaian preman yang menunjukkan surat perintah untuk menangkap saya. Saya di tangkap dengan tuduhan, karena memiliki KTP Aspal. Dan saya memang bersalah, karena sebagai warna negara Jerman, saya tidak berhak lagi untuk memiliki dan menggunakan KTP Indonesia.Saya dimasukan ke dalam satu sel tahanan, dimana disitu telah ada seorang penghuni lainnya ialah si Otong (bukan nama sebenarnya), ia di tangkap karena ketangkap basah pada saat mencuri "sendal jepit" di mesjid.
 
Apakah anda bisa membayangkan bagaimana perasaan saya pada saat tsb. Baru saja beberapa bulan yang lampau saya di nobatkan sebagai "Raja Komputer" bahkan beberapa menit sebelumnya saya sedang makan bersama dengan seorang Dirjen, tetapi dalam jangka waktu seketika saja semuanya telah berbalik 180 derajat.
 
Tadi di Hilton sekarang di bui, tadi bersama dengan Dirjen sekarang dengan maling sendal jepit. Apakah ini bukannya hal yang sangat menyedihkan?
 
Mungkin, inilah yang dibilang ironi kehidupan.
 
Perut saya masih lapar, karena seharian belum makan, beruntung beberapa menit kemudian kami diberi makan, tetapi setelah dibagi makanan tsb., nafsu makan bahkan rasa lapar saya hilang seketika itu juga. Kenapa demikian?
 
Yang disebut piring, kenyataannya sudah tidak berbentuk piring lagi, karena piring makan tsb terbuat dari kaleng, selain kotor juga sudah karatan. Nasi yang diberikan selain sudah bau, warnanya juga kehijau-hijauan seperti penuh lendir.
 
Nasi tsb di campur dengan semacam sop sayuran yang bau dan yang lebih mirip dengan air got. Entah airnya yang sudah busuk entah sayurannya.
 
Saya tidak tahan melihat dan mencium bau makanan tsb sehingga tanpa bisa ditahan lagi saya muntah. Jangankan untuk manusia untuk anjing sekalipun rasanya saya tidak rela untuk memberikan makanan tsb., tetapi setelah puasa sehari, akhirnya karena lapar dengan terpaksa, saya bisa juga makan makanan tsb.
 
Pada saat makan siang tadi Hilton di layani, sekarang di bui di bentak! Di Hilton makanannya berlimpah ruah, sekarang hanya terdiri dari nasi & sayuran yang sudah busuk dan bau[v].
 
Atau Kisah berikut ini:
 
Jumat, 04 Agt 2006,
Perjalanan Kak Kresno, dari Tokoh Anak hingga Tersandung Perkara Kriminal
 
Si Bungsu Sulit Makan sejak sang Ayah Ditahan
Tidak ada yang meragukan ketokohan Kresno Mulyadi alias Kak Kresno di dunia pendidikan anak tanah air. Hal itu dirintis sejak dirinya masih mahasiswa. Sayangnya, nama besar kembaran Kak Seto itu tercoreng ketika dia diduga terlibat penipuan, sehingga dijebloskan ke tahanan.
 
HAFID-ANGGIT, Surabaya
 
KAMIS (27/7) malam, Yeti Subowo kaget ketika menerima kabar singkat lewat HP-nya. Isi pesan elektronik itu menyebutkan bahwa Kak Kresno ditangkap dan ditahan polisi.
 
Awalnya, dia tak begitu saja memercayai isi short message service (SMS) yang dikirimkan Sarah Zulfi Prihantini (Kak Fifi), istri Kak Kresno, tersebut. Dia langsung menelepon ke nomor si pengirim pesan. "Ternyata benar. Kak Kresno memang ditahan," ujar Yeti.
 
Kabar tersebut langsung membuat tubuh wanita yang akrab disapa Kak Yeti itu lemas. Maklum, sudah 28 tahun dia setia berbagi suka dan duka dengan Kak Kresno. Selama bertahun-tahun itu, Kak Yeti dan Kak Kresno mengasuh acara anak di TVRI.
 
Kak Yeti masih belum bisa percaya bahwa teman seperjuangannya tersebut terlibat problem yang sangat pelik. Apalagi, menyangkut kasus kriminal. "Selama ini, dia tidak pernah mempunyai masalah. Mengapa kok dia sampai dituduh menggelapkan mobil. Saya jadi heran," ungkap Yeti.
 
Kak Kresno ditahan di Polsekta Tambaksari, Surabaya, sejak 27 Juli lalu setelah dilaporkan oleh salah seorang yang tiga mobilnya digelapkan[vi].
 
Hanya karena Kisah yang dikatakan oleh Pihak Lain pada seseorang sebagai ‘Inilah Kisahmu!’ maka hidup seseorang bisa berbalik. Dan itu bisa terjadi pada siapa saja, karena bahkan Tuhanpun menyerahkan tanggung jawab Kisah ini pada manusia.
 
Maka sebenarnya tak ada kepastian dalam hidup ini. Masing-masing manusia sebenarnya berkisah dan mengisah dalam suatu situasi kehidupan yang kaotik. Manusia tak lebih daripada Kisah, ia adalah narasi-narasi kecil dalam keunikannya masing-masing. Maka sungguh sayang jika manusia tak bisa berkisah, tertutup oleh narasi-narasi besar yang disodorkan agama, sains dan berbagai institusi sosial dalam kultur. Sungguh sayang, jika manusia tak tahu lagi harus berkata apa ketika ada pihak (entah agama, entah psikolog, entah sains, entah iklan, entah partai, entah negara, entah dekan psikologi, entah manajer SDM) yang mengatakan padanya: “Inilah harusnya Kisahmu!”.
 
Ada perenungan lebih jauh dari esei ini?
 
 
 
© Audifax – 7 Agustus 2006
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas, Creative Circle, BeCeKa, Mediacare, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
 
 
 
 
 
 


CATATAN-CATATAN:
 
[i] Posting pada tanggal 28 Jun 2005 pukul  19:19:59; online documents: http://groups.yahoo.com/group/alumni_psiubaya/message/612
[ii] Setyo Wibowo; [2004]; Gaya Filsafat Nietzche; Yogyakarta: Galangpress; hal. 326
[iii] http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/9063
[iv] Ibid
[v] http://www.mangucup.org/modules.php?op=modload&name=biography&file=biography4
[vi] http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/9094


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.


--- End Message ---

Kirim email ke