Malam sudah larut tapi Suwardi belum bisa tidur. Suwardi duduk di kursi tamu, ditatapnya anak kecil yang baru terlelap di balai-balai depan rumahnya. Banyak fikiran berkecamuk dikepalanya, anaknya sudah merengek minta dibelikan sepatu sementara hutangnya kian menumpuk. Maklum dalam kehidupannya membutuhkan modal kekuatan tubuh dan kucuran keringat. Sebagai tukang gamping sakit adalah suatu hal yang menakutkan, karena apabila dia sampai jatuh sakit maka efeknya banyak sekali, terutama akan tersendatnya kebutuhan akan sembako keluarganya. Hal itu sudah dia rasakan seminggu lalu, ketika dia harus beristirahat di rumah selama tiga hari. Gurat-gurat kulit dikeningnya menandakan umurnya sudah senja, tetapi Suwardi tidak pernah protes kepada Sang Pencipta, dia sudah bersyukur atas kehidupannya yang sederhana. Bagi dia hidup itu seperti numpang minum saja.
Tidak perlu membaca buku ataupun koran, apalagi internet yang menceritakan berita hari ini yang terjadi di dunia, tidak perlu adanya evaluasi kerja yang telah dia lakukan selama delapan jam yang telah dilaluinya. Baginya hidup adalah bekerja, pagi hari seusai merokok dan menghabiskan segelas kopi dilanjutkan bekerja, hanya dengan membawa kapak, pengki, cangkul serta rokok lintingan cukup membuat dia semangat untuk menundukkan hari itu. Ibaratnya seperti burung kenari, seusai bernyanyi mengabarkan mentari akan segera meluncur, kemudian terbang mencari rizki dan pulang setelah matahari akan tenggelam, apapun hasilnya.
Setelah energinya terkuras, dan kelopak mata atas maunya mengatup, akhirnya Suwardi tertidur pulas. Dirinya tersentak kaget, setelah terdengar teriakan tetangga karena ada gempa bumi yang melanda desanya. Kampungnya berada di Kabupaten Cilacap yang tidak jauh dari Pangandaran. Terdengar ada gemuruh suara bebatuan jatuh dari bukit kapur di seberang rumahnya, yang membuatnya tersentak dan segera membangunkan anak serta istrinya untuk segera menyelamatkan diri. Setelah yakin tidak terjadi sesuatu yang berarti pada rumahnya, dirinya bersama kawan sekampung melihat bongkahan-bongkahan kapur yang terjatuh dari bukit kapur. Gempa bumi yang disusul gempa kecil, mampu meretakkan bukit kapur. Dipandangnya bukit kapur yang telah menghidupi dirinya bersama keluarga dan warga sekampung. Walaupun hatinya dirundung kegalauan akan musibah gempa, tetapi dihadapannya telah terhidang rizki dari Tuhan yang sudah siap untuk diangkut, kehidupannya dimudahkan oleh Dzat Sang Pencipta yang maha pengasih.
Mahluk hidup di dunia ini bertebaran tempatnya, ada yang dipantai ada juga yang di gunung. Demikianlah alam seperti juga manusia, memiliki karakteristik sendiri. Masing-masing unik. Demikian juga kehidupan di persada nusantara, masing-masing daerah memiliki ciri sendiri, dengan sifat-sifat labil yang meliputinya, sepantasnya kita yang hidup diatasnya selalu waspada dan selalu ingat kepada Sang Pencipta. Hukum kekekalan energi berlaku di alam, tenaga yang begitu besar mampu menggiring ombak dengan kekuatan luar biasa, meluluh lantakkan sisi pantai, sementara di bukit kapur nun jauh di sana berguguran, bagi penambang kapur guguran bongkahan kapur adalah berkah atau rezeki yang terhidangkan tanpa perlu menambangnya.
Betapa bahagianya hati Suwardi ketika mendapati bongkahan-bongkahan kapur yang tinggal memungut itu. Tak terasa dirinya bersyukur karena selamat dari bahaya gempa bumi sekaligus menerima rezeki yang tak terduga.
Keesokan paginya setelah matahari terbit Suwardi mendengar kabar kalau di pantai Pangandaran telah terjadi tsunami yang merengut ratusan nyawa.
Suwardi bingung, kenapa Tuhan memberikan rezeki buatnya tetapi memberikan bencana kepada warga Pangandaran?
-o0o-
Demikianlah kebijaksanaan Tuhan adalah Tuhan memberi rahmat. Jadi yang perlu kita urai adalah hikmah yang diberikan. Kemahabijaksanaan Tuhan, bahwa alam ini diciptakan agar sisi kebaikannya lebih dominan dibandingkan sisi keburukannya, alam diciptakan dengan masing-masing tempat memiliki ciri khas, ciri tersebut menyifati alam, tidak bisa dipisah-pisahkan. Fenomena alam ini dibuat untuk memudahkan kita berfikir, proses mahluk yang mati itu akan dimanfaatkan oleh yang lainnya. Sehingga ada siklus mahluk hidup.
Apa akibat dari musibah-musibah itu? Mari kita kupas satu per satu, diantaranya akan ada pembangunan rumah-rumah yang telah berubah menjadi puing-puing, akan ada pergantian pekerja didalam perusahaan yang ditinggalkan oleh karyawan sebelumnya, dokter-dokter bisa bekerja, bertambah ilmuwan yang memikirkan masalah rahasia ilmu Allah SWT, dan masih banyak lagi lainnya. Bencana-bencana yang terjadi pada manusia, merupakan berkah bagi manusia yang lainnya, dengan syarat manusia lain itu tidak malas, di sisi lain juga terkuak rahasia ayat-ayatNya, bahwa bencana-bencana itu untuk menguji keterikatan manusia, untuk menguji kesabaran mengalami musibah seperti itu, bagi yang selamat dari musibah mereka juga dapat tugas, berbagi rasa dengan sesama yang selamat, pengungsi-pengungsi masih memerlukan uluran tanganmu, ada yang menjenguk orang yang sakit, ada yang membantu sesama, pekerjaan-pekerjaan sosial semacam itu akan menciptakan kenaikan derajat manusia yang beramal baik.
Bagi yang memahami masalah cinta kasih sesama manusia, disini kehidupan cinta kasih dibuka. Bukankah pengejawantahan rasa cinta adalah menanggung orang lain, disini ada pengorbanan bagi yang mencintai terhadap yang dicintai, pengorbanan ini bukti ungkapan rasa cinta itu?
Bagi yang merasa cinta terhadap tuhannya, saat ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan cintanya secara makrifat, kalau kita arif tentu akan tahu bahwa bukti rasa cinta itu harus ada pengorbanan, dan pengorbanannya adalah bencana. Melalui perantaraannya kita akan tahu bagaimana proses terciptanya dunia ini dan proses akan berakhirnya dunia, mari kita renungkan kehidupan kita yang singkat ini.
Setiap mahluk hidup pasti akan mengalami kematian, kalau telah datang ajal maka tak bisa lagi ditunda, jalan menuju kematian memang banyak, bencana alam adalah salah satu diantaranya.
Suwardi, tukang gamping mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan gamping untuk dijual, sebagian rezekinya disisihkan untuk korban bencana di Pangandaran dan Cilacap.
Cinta kasih sesama telah berputar di Cilacap dan Pangandaran.
Suwardi yang sekarang aku kenal masih sama dengan Suwardi yang dulu, bedanya sekarang tidak ada hutang, bisa beli sepatu anak sekolah. Suwardi tidak mau credit card takut terlibat hutang katanya. Hidup lebih nyaman tanpa hutang walaupun pas-pasan karena yang terpenting kita selalu bersyukur kehadiratNya, yang menghadirkan kita hidup di alam semesta ini.
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com __._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy | Philosophy of | Philosophy book |
| Citizens of humanity | Citizens of humanity jeans |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
