|
PEMAHAMAN FILOSOFI
KEAGAMAAN Logika Akal dan Logika
Spiritual LATAR
BELAKANG Filosofi adalah ilmu yang
menjadi penuntun untuk pelaksanaan atas pemahaman yang menjadi keyakinan tiap2
individu maupun kelompok, sehingga dalam realitanya semua budaya maupun aturan
akan secara sadar maupun tidak, tetap berpedoman pada filosofi yang dianut tiap2
manusia. Sehingga optimalisasi atas karya yang akan dihasilkan akan mengarah
sesuai dengan definisi atas filosofi yang menjadi acuan dan kerangka dalam benak
seseorang/ kelompok secara subjective. Walaupun pada kenyataan akan dinamis,
mengalami perubahan sesuai dengan budaya maupun perkembangan sosiologi
setempat. Definisi selalu
menyandarkan pada hal yang dirasa oleh mereka yang kompeten dalam bidangnya
masing-masing yang disesuaikan oleh kondisi dan terkadang emosional (kepentingan
secara subjective). Sehingga dalam pemahamannya selalu mengalami kejanggalan dan
akan terus berkembang seiring dengan perubahan secara global, dinamis sesuai
dengan pergeseran nilai2 sesuai kemajuan zaman. Keterbatasan akal sangatlah
mejadi penentu atas definisi yang diciptakan dalam menginterpretasikan filosofi,
karenanya tidaklah mengeherankan bila filsuf selalu beda pendapat dan cenderung
dipaksakan atas pemahaman dalam mengartikan filosofi itu sendiri, yang
disebabkan keterbatasan2 akal dalam mengartikan dan menuangkan dalam kata. Belum
lagi dalam bahasa kerap menjadi penghambat sendiri dalam mengartikan definisi
dalam lintas bahasa. Dalam kaidah secara agama,
filosofi cenderung dekat dengan akar budaya dimana (tempat) agama tersebut
menjadi besar maupun tempat dilahirkan. Kecendrungan penguasa pada saat proses
terjadinya agamapun kerap sangat berpengaruh besar atas atas kaidah maupun norma
yang selanjutnya menjadi ketetapan. Sakralisasi akan semakin terjadi bila
pemahaman atas agama sudah mulai tidak singkron dari filosofi agama itu
sendiri. Penyimpangan2 yg terjadi
sebagai akibat intervensi penguasa sesuai dengan kepentingan politik maupun
kebenaran menurut sudut pandang para pemikirnya, sebagai akibat perkembangan
yang terjadi diwaktu belakangan hari setelah kelahiran agama akan menjadi hal
biasa disebabkan semakin pluralisasi dalam masyarakat yang terbagi dalam banyak
kepentingan. Dalam banyak kitab suci
agama yang ada dengan mayoritas pengikutnya didunia, banyak terjadi pemahaman yang berbeda-beda dari
tiap2 generasi, yang menelorkan pemahaman dan aliran yang cenderung berkelompok
dan merasa paling benar, sehingga adanya satu kata penengah yang kita sering
dengar dan cenderung hal yang maksimal yang dapat diperbuat, yaitu perbedaan
itu indah. Padahal kebenaran sejati
tidak akan bisa dicapai baik dalam hal logika maupun dalam perjalanan keimanan
seseorang. Yang ada hanyalah kebenaran nisbi yang mungkin akan mengalami
perubahan dalam masa mendatang, atau lebih tepatnya hasil konsensus yang
diperoleh sebagian besar masyarakat, karena sifat manusia yang dalam banyak
pemahaman merasa dirinya adalah yang paling (banyak mengandung)
benar. Penyimpangan yang
berlarut-larut akan terus terjadi dikarenakan kedangkalan dalam konsep berfikir,
serta melupakan filosofi dari agama yg dianutnya itu sendiri. Hal ini potensial
dan telah terbukti mengakibatkan banyaknya perselisihan. Mengatasnamakan Tuhan
menjadi hal yg biasa untuk mencapai tujuan baik secara sadar maupun tidak,
walaupun manusia diberikan akal untuk berfikir, tetapi peran nafsu yang menjadi
dasar, dimana akal memfasilitasi dari nafsu itu untuk mencapai tujuan yg
diinginkan. Bahkan tidak disatu kitab suci pun membolehkan nafsu utnuk berperan
dalam pengambilan keputusan, tetapi nyatanya hampir semua keputusan musyawarah
secara agama banyak melibatkan nafsu. Keterlibatan nafsu dalam
diri manusia membuktikan bahwa akal bukanlah satunya2nya fasilitas dalam
memahami dan mencapai tujuan hidup didunia. Akal lebih sekedar alat yg
digunakan dalam pencapaian tujuan tiap-tiap manusia. Banyak teori-teori
dikemukakan mengenai Ketuhanan, dengan dasar akal sebagai barometer. Sangatlah
berlebihan dan merupakan pembodohan atas pemahaman ketuhanan secara filosofis
bila hal terbut terjadi, sayangnya hal itu yang sekarang terjadi dan merupakan
maksimal yang dapat dihadirkan, karena keterbatasan dalam banyak dimensi yang
mampu diraih seseorang. Bagaimana mungkin dapat
memahami sesuatu yang hukum dan ketentuannya berbeda. Hal ini dapat diibaratkan
manusia yang mencoba mempelajari laut sementara mereka hidup dalam daratan. Ilmu
yang mereka peroleh sangat sedikit dan tidak akan pernah selesai karena
banyaknya keterbatasan semisal tehnologi, dana, volume dan pengetahuan semisal
kandungan laut itu sendiri maupun hal lainnya, serta keterbatasan usia manusia
yang melakukan riset tersebut. Kalaupun terjadi kesimpulan
maupun pendefinisian, pemahamannya akan sangat terbatas pada mereka yang
mengkhususkan diri dalam bidang tersebut. Akal menjadi alat/
fasilitas dalam memhami ketuhanan ditahap awal, dimana dalam tahapan berikutnya
akan menjadi pembatas. Kemajuan tehnologi yang
digaungkan oleh kaum logis (mereka yang menomorsatukan logika diatas segalanya)
diikuti oleh percepatan pemahaman atas spiritual, dimana pada kenyataannya
terjadi shortcut dalam pencapaian derajat seseorang dalam konteks
terpilih. KONSEP LOGIKA AKAL &
SPIRITUAL Spiritualist yang
terberkati mereka yang mempunyai kemampuan lintas agama, dimana mereka berfikir
tanpa dibatasi oleh dimensi maupun ketentuan yang terbatas, melainkan sejalan
dengan hakiki kitab suci yang dapat ditemukan dalam filosofi
keagamaan. Pemahaman agama tanpa
berfikir jauh, akan mudah berubah dalam perjalanannya ataupun akan berakhir
dalam fanatisme berlebihan yang sudah pasti keluar dari filosofi agama itu
sendiri. Contoh yang nyata, para pelaku teroris yang mengatasnamakan agama-agama
banyak kita temukan. DIFERENSIASI Tuhan memberikan
legitimasinya kepada siapa saja yang dikehendakiNya tanpa melihat dari asal-usul
dan ketetapan itu hanya berlaku antara individu dengan Dia, sang legitimator
sesuai dengan tugas yang diemban dimana dalam perjalanan sang individu juga
mengalami godaan yang kapasitasnya berbeda sebagai akibat pengetahuan yang
mereka miliki melebihi dari awam. Mereka yang mempunyai
kemampuan menganalisa dan memperoleh pemahaman dalam mengartikan filosofi dalam
agama serta ketentuan / aplikasi dunia secara detil, pada masyarakat akan
dikategorikan sebagai spiritualist sesuai dengan gelar yang diberikan tiap2
agama. Hanya saja, kerap terjadi pengetahuan yang dimiliki secara eksis belum
mencukupi sehingga tidak dapat menjembatani secara mendekati kebenaran
mengenai siapa Tuhan sang Penguasa atas penguasa. Sebaliknya, kaum atheis
tidak akan mampu mencapai serta mempercayai konsep ketuhanan, karena mereka
tidak pernah memelihara tanaman yang tumbuh dalam hidup mereka yang dibutuhkan
sebagai sarana mutlak yang harus dimiliki praktisi dalam perjalanan ke Tuhan.
Belum lagi mengenai legitimasi terpilih yang merupakan prerogatif Tuhan, berupa
pembukaan atas hati untuk berjalan dalam garis hati. Secara anatomi tubuhpun
terdapat perbedaan antara duniawi dan spiritual, dimana untuk duniawi merupakan
akal sebagai sarana, sementara spiritual menggunakan sarana hati, sebelum
akhirnya diolah pula oleh akal setelah terintervensi. Sehingga dalam realitanya
terdapat sedikit dari mereka yng memiliki kemampuan memproses akal dan hati
dalam menyerap ilmu hakikat ketuhanan. Mereka orang yang terpilih dengan tugas
masing2 dan diantara mereka suatu saat akan saling mengenal dalam keilmuanNya,
walaupun dalam agama dan keyakinan yang berbeda. HAKIKAT
DASAR Dogma dalam masyarakat yang
sangat tidak mendasar, erat kaitannya dengan cerita turun temurun yang dipercaya
sebagian orang sebagai sesuatu yang nyata, ditambah lagi pengkultusan individu
sebagai seseorang dengan memiliki kemampuan tidak umum, menimbulkan
penambahan-penambahan yang semakin menjauhkan dari esensi agama dalam misinya.
Kerap kali dalam perdebatan terjadi adu argumentasi berdasarkan emosional dan
pemahaman yang sempit atas agama, sehingga agama tersebut menjadi rancu dalam
hubungannya dengan pengetahuan. Kondisi tersebut dialami
oleh semua agama dalam perjalanannya, hanya saja ada yang tetap bisa bertahan
dengan kembali ke aturan dasar (Kitab Suci), ada yang mengalami revisi, maupun
pergeseran dalam aplikasinya. Immanuel Kant dengan teori
Pnoumena (realitas jasmani) dan Noumena (realitas rohani, dengan kategori
talenta), cukup mendekati terhadap realitas atas 2 sisi kehidupan yang berbeda
tersebut. Hanya saja Kant sebagai pengamat, bukan pelaku yang memiliki Noumena
cukup untuk menjembatani 2 hal yang berbeda tersebut. Bagaiman mungkin pencapaian
kesimpulan spiritual dengan hukum dan standart sendiri, dapat dinilai oleh
logika yang memiliki hukum dan standart berbeda !? Hal ini muncul sebagai reaksi
kedangkalan logika manusia dalam pemahaman berhenti dalam satu titik dan mencari
celah-celah yang meraba dan tidak jelas, sementara akhirnya kemampuan
menganalisa telah jauh melenceng dari realita spiritual. Akal sebagai organ untuk
hukum realitas duniawi, dimana dalam perumusan penggolongan terhadap sesuatu
yang nyata dan dapat diterima masyarakat secara mayoritas. Hal ini dikategorikan
sebagai logika akal, dengan perangkat bantunya berupa panca
indra. Hati sebagai organ untuk
hukum spiritual, dengan standard yang berbeda dalam kerjanya dan cenderung
subyektif. Pada tahapan tertentu, bagi mereka yang mampu mengendalikan ego,
secara otomatis akan memiliki sensor penghubung dengan logika akal, sehingga
pengalaman supranatural dapat dijelaskan secara logika (untuk dirinya sebeluh
dishare dengan orang lain). Hanya saja kemampuan tersebut agak jarang dimiliki
manusia karena keterbatasan dalam banyak hal. Contoh perbedaan mendasar
atas 2 logika tersebut dapat dilihan pada seseorang yang dalam hidupnya miskin
harta, maka dalam konsep keadilan Tuhan akan ada
pemikiran:
Sigmun Freud (1856-1939)
yang menyimpulkan bahwa agama adalah satu respon manusia terhadap ketidak
berdayaan mereka untuk mengontrol dunia, merupakan kesimpulan yang mengandung
kebenaran (sebagian besar manusia melakukan hal ini). Hanya saja tolok ukur dari
sudut pandang logika akal, padahal wilayah ini menjadi bagian dari logika
spiritual. AKHIR Pembahasan diatas cukup
menjelaskan secara signifikan mengenai pertemuan 2 hal yang memiliki warna
berbeda, tetapi dalam keragaman tersebut ada benang merah yang menterjemahkan
atas 2 bahasa yang berbeda tersebut. Hanya saja selalu ego manusia selalu
menjadi penghalang atas realitas logika akal dan logika spiritual, walaupun
tidak secara mutlak, karena prerogative yang dimiliki Tuhan atas hambanya
merupakan kemutlakan yang tak terbantahkan dalam dalam semua hal.
-isf- ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
