|
Intermezzo:
Harmoni dan
Keselamatan
Dhandhanggula:
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luput ing lelara
Luputing bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Mungguh penggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan wani marak ing mami
Tujuh guna pan sirna
Kidung adalah manifestasi dari harmoni. Bagi orang
Jawa harmoni adalah penjaga keselamatan: ana kidung rumeksa ing wengi...
terdapat sebuah kidung (harmoni semesta raya) yang menjaga kehidupan. Inti
budaya Jawa adalah harmoni. Di dalam harmoni-lah ditemukan keselamatan. Jika
harmoni ini terganggu, akan timbul bencana atau sengkala.
Semua ritual dalam tradisi Jawa didasarkan pada
prinsip ini: untuk menjaga atau memulihkan harmoni. Misalnya: slametan,
atau kenduri. Dengan kenduri orang sekampung berkumpul dan berbagi makanan dari
ambeng yang sama: sehingga hubungan baik antar sesama dipulihkan dan
harmoni kembali ditegakkan. Ketika ada seorang yang sakit misalnya, bagi mereka
yang masih menjalankan tradisi ini, akan mengadakan slametan, dengan
dipulihkannya hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, diharapkan si
sakit dapat sembuh kembali.
Ilmu kedokteran modern pun meyakini bahwa hubungan
(relationship) yang sehat dan hormonis dengan orang-orang di
sekitar kita sangat besar dampaknya pada kesehatan kita. Orang-orang yang
hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya tidak harmonis, selalu diwarnai
percekcokan dan perang urat-saraf akan rentan dengan penyakit stres dan serangan
jantung. Orang Jawa telah menyadari hal ini jauh hari sebelumnya, dengan
ritual kenduri mereka mengharapkan pemulihan hubungan yang harmonis dan sehat
dengan para tetangga.
Orang Jawa bukan saja meyakini adanya alam yang
kelihatan tapi juga alam yang tidak kelihatan, yang tidak kasat mata. Dan
hubungan yang harmoni dengan alam yang tidak kasat mata itupun harus dijaga:
maka diberikanlah sesaji di tempat-tempat keramat. Mereka tidak bermaksud
menyembah roh-roh gaib itu tapi sekedar menjaga harmoni dengan
mereka.
Demikian juga harmoni dengan alam: dengan sawah
ladang, pepohonan, hewan-hewan piaraan. Pada keluarga-keluarga tertentu yang
masih sangat kuat tradisi Jawanya, mereka akan mengadakan slametan bukan saja
dalam setiap momen kehidupan seperti kelahiran, sunatan, mantenan, atau kematian
tapi juga dalam momen-momen yang penting dalam hubungan manusia dengan alam:
seperti saat panen, atau ketika sapi mereka beranak... setiap momen adalah
anugerah dan layak disyukuri.
Salam,
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
