Oda UU demikian teriak pelayan salah satu restoran yang popular di bilangan Jakarta Selatan kepada kawannya pelayan bagian minuman. Pertama aku berfikir bahwa dia sedang bercanda dengan kawannya, tetapi setelah aku berfikir lebih mendalam aku menjadi tersenyum dibuatnya, karena dia ternyata mengikuti orderku yang tertulis pada menu pesanan, order minuman segelas soda susu tapi nggak pakai es, ternyata pelayan yang melayaniku pandai bikin plesetan, karena kata oda uu yang dia teriakkan adalah abstraksi dari kata Soda Susu yang dihilangkan huruf Snya, jadi dala kaidah hukum matematik versi pelayan restoran adalah Oda UU + S = Soda Susu Pakai Es.
Diatas adalah salah satu contoh kehebatan manusia dalam berabstraksi. Nama Oda UU adalah menunjuk kepada nama minuman soda dicampur dengan susu. Dalam logika, nama adalah suatu ungkapan yang menunjukkan sebuah objek, dalam arti luas sebagai segala suatu yang dapat kita sebut dan bukan hanya sebagi suatu objek material. Semantika logis umumnya menggeluti apa yang disebut segitiga semantic yaitu nama, objek yang ditunjuk oleh nama (designatum) dan artinya nama. Jadi, walaupun si pelayan meneriakkan kata Oda UU dan yang dihidangkan adalah Soda Susu Tanpa Es, maka bagiku itu syah-syah saja, karena hakikatnya sama. Entah bagi anda?
-oOo-
Bercermin dari contoh di atas kata Oda UU adalah tidak sempurna, karena yang sempurna adalah kata soda susu tanpa es.
Kesempurnaan, bisa juga terjadi pada barang, tumbuhan dan hewan, tentunya setelah diadakan serangkaian ekperimen. Ambil contoh, soda susu bisa dianggap sempurna jika sudah dicoba dirasakan rasanya pas sesuai dengan kenikmatan standar, tanpa mencobanya tidak mungkin kita tahu bahwa soda susu itu telah sempurna.
Demikian juga dengan tumbuhan dan hewan dari spesies tertentu bisa di uji coba dan dikenali dengan mudah, caranya dengan membandingkan jenis spesies yang diuji tersebut dengan spesies pendahulunya, apabila berada dalam wilayah yang sesuai dengan persepsi kita maka masuk dalam kategori sempurna. Umpamanya saja, pohon apel, kesempurnaannya dinilai dari dari pohon tersebut memproduksi buah apel, apabila warna, rasa, aroma, dan ukuran apel tersebut sudah sesuai dengan standar maka apel itu bisa dikategorikan sempurna. Sementara pada hewan, ambil contoh lebah, kesempurnaan lebah dapat diukur ketika hewan tersebut hidup dalam pola tertentu yang teratur, dan mampu menghasilkan madu yang manis dan beraroma khas maka cukuplah dikategorikan bahwa lebah itu sempurna.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Menurut pandangan kesejatian materi (materialisme), hedonisme serta individualisme, kesempurnaan manusia terletak pada sejauh mana ia dapat menikmati kelezatan dan kesenangan material. Dan untuk dapat meraihnya, manusia perlu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aset dan sumber daya alam sehingga dapat diwujudkan kemakmuran dan kesenangan hidup manusia.
Menurut prinsip sosialisme, kesempurnaan manusia itu terwujud ketika sebuah masyarakat meraih dan mengeksplorasi asset dan sumber daya alam dengan mengupayakan kesejahteraan di semua lapisan social masyarakat yang bersangkutan.
Lalu bagaimana menurut spiritual? Kesempurnaan manusia itu terletak pada perkembangan spiritual dan maknawi yang didapat melalui perjuangan melawan kelezatan materi. Ternyata pendapat ini berbeda dengan dua pendapat yang mendahuluinya, malah berkesan kontradiktif.
Lalu bagaimana menyikapinya? Terjadinya perbedaan itu karena manusia selalu menggunakan persepsi inderawi yang ada pada manusia yang masih mempunyai kekurangan dan belum mempu menguak tendensi fitri dan instingtif dalam menyingkap dan mengenali beragam hakikat.
Menurut Avesina, Sesuatu yang bersebab, tidak dapat dikenali melainkan melalui sebab-sebabnya, demikian Ia menjelaskan tentang pemahaman yang sempurna atas maujud tertentu tidaklah akan berhasil tanpa mengenali kausa eksistensialnya.
Karena perjalanan untuk mengetahui sebab-sebab berujung pada Dzat Allah selaku Kuasa Prima, maka dapat disimpulkan bahwa perjalanan rasionalitas pada manusia berujung pada pengenalan kepada Allah. Dengan begitu, kesempurnaan manusia hakiki manusia itu adalah perjalanan ilmu yang dialami roh didalam diri sejatinya menuju Tuhannya sehingga mencapai wilayah yang dituju. Sehingga dirinya merasa keterikatan dan keterpautan itu sendiri. Fase itu berlanjut sehingga ia menjadi seorang hamba yang tulus, sementara untuk mencapainya hanya dengan ibadah atau penghambaan diri untuk mencari ridha Allah dan menjadikan ridha Allah sebagai ganti (kepuasan) dirinya.
Tetapi (dia memberikan semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhan-nya Yang Maha Tinggi(Q.S. Al Lail 20).
Sekarang tinggal pilih kesempurnaan apa yang anda harapkan, menjadi pohon yang sempurna, menjadi hewan yang sempurna atau menjadi manusia yang sempurna?
Kalau tadi aku sudah milih menu soda susu yang sempurna. : )
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com __._,_.___
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy | Philosophy of | Philosophy book |
| Citizens of humanity | Citizens of humanity jeans |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
