--V for Vendetta--
Suara Hati Rakyat Bernama "V"




Pada suatu malam London terguncang, menara Old Bailey meledak. Orang 
yang meledakkan gedung tersebut mengaku bernama V kepada seorang 
wanita yang ditolongnya dari perlakuan aparat yang semena- mena. 
Kita bisa menyebut suasana kota itu sebagai masa kegelapan dari 
kesewenang- wenangan penguasa. Evey ,wanita yang ditolong V baru 
saja meninggalkan rumah untuk menjenguk pamannya yang sedang sakit. 
Namun, tiga orang petugas keamanan yang menyamar tersebut sama 
sekali tidak mentolerir karena ia melanggar jam malam. Mereka bahkan 
hendak berbuat lebih jauh diluar kewajaran kalau bukan karena 
pertolongan seorang pria bertopeng Guy Fawkes.  Pria misterius itu 
sungguh kuat perkasa, muncul entah dari mana 3 polisi intel 
dibunuhnya dalam sekejap. Dari pertemuan itu V kemudian mengajak 
Evey untuk menyaksikan perayaan hari 5 November dengan meledakkan 
gedung Old Bailey.

Gedung Old Bailey dibangun pada tahun 1902 -1907 sebagai gedung  
pengadilan tinggi negara dinamakan `Old Bailey" karena nama jalan 
tempat ia berdiri. Diatas gedung tersebut terdapat patung dewi 
keadilan yang ditangannya memegang pedang dan timbangan. Namun 
patung tersebut tidak memakai penutup mata. Menara Old Bailey 
sendiri sudah mengalami beberapa restorasi akibat peperangan. 
Sebelum gedung Old Bailey berdiri, lokasi itu digunakan sebagai 
penjara bernama Newgate prison. Dari tahun 1783 hingga 1868 hukuman 
mati terpidana dieksekusi didepan penjara itu. 

V meledakkan gedung tersebut karena ia merasa dewi keadilan tidak 
pernah ada disana. Keberadaan patung dewi keadilan disana adalah 
dewi atau simbol yang palsu. Ia merasa keadilan tidak pernah datang 
kepadanya . Ketika penguasa diktator memerintah negara ini, keadilan 
terasa sejalan dengan kepentingan penguasa. Film ini memberikan 
pesan negara ini tidak membutuhkan lagi simbol keadilan tatkala 
esensinya sudah tidak ada lagi disana. Dan tindakan penghancurannya 
adalah suara hati nurani yang jujur. 

Kontan saja, pemerintah Inggris langsung mencap V sebagai teroris. 
Peristiwa Old Bailey membuat pemerintah memperketat pengamanan. 
Namun sekali lagi penguasa kecolongan, tindakan V berikutnya adalah 
membajak stasiun televisi dan memaksa untuk menyiarkan pesannya 
dengan ancaman bom. Stasiun televisi BTN  yang biasa dipakai untuk 
propaganda pemerintah    ini terhenyak karena begitu baru menyiarkan 
kebohongan tentang "teroris", V sudah ada disana. 

"...Sekalipun pemukul dipakai sebagai pengganti percakapan, kata-
kata akan mempertahankan kekuatannya. Kata- kata memberi arti dan 
barang siapa yang mendengarkan, ucapkan kebenaran. Dan kebenarannya 
adalah,  ada sesuatu yang salah dengan negeri ini bukan ? Kekejaman 
dan ketidakadilan, ketidak-toleransian dan penindasan dan dulu 
kalian mempunyai kebebasan menyatakan keberatan, berpikir dan 
berbicara saat diperlukan sekarang terkena sensor dan pengawasan 
memaksamu tunduk dan menuntut penyerahan total....Ada banyak cara 
untuk merusak pemikiran kalian dan merampok perasaan kalian yang 
wajar. Rasa takut kalianlah yang merusak pikiran kalian...."

"....Semalam kuakhiri keheningan itu. Tadi malam kuhancurkan Old 
Bailey untuk mengingatkan negeri ini apa yang telah terlupakan. 
Lebih dari 400 tahun yang lalu seorang pria ingin mengingatkan kita 
tanggal 5 November selamanya dalam kenangan kita. Harapannya 
mengingatkan dunia bahwa kejujuran, keadilan dan kebebasan adalah 
lebih dari sekedar kata- kata, mereka adalah perspektif....Apabila 
kalian melihat apa yang kulihat, merasa seperti apa yang kurasakan 
dan mencari seperti apa yang kucari. Maka kuminta kalian berdiri 
didepan gedung parlemen setahun dari sekarang dan bersama- sama kita 
berikan mereka 5 November yang takkan pernah terlupakan."

Tokoh V yang selalu mengenakan topeng Guy Fawkes di film ini adalah 
fiktif. Tetapi mengambil latar belakang sejarah yang pernah terjadi 
sekitar  400 tahun yang lalu di Inggris. Dalam sebuah plot, Guy 
Fawkes adalah seorang martir yang mencoba meledakkan gedung parlemen 
Inggris saat malam pembukaan parlemen, 5 November 1605. Dengan 
usahanya itu, ia berusaha membunuh raja James I dan anggota parlemen 
yang hadir disana. Namun usahanya gagal, Guy Fawkes kemudian 
ditangkap, disiksa sebelum akhirnya digantung. Percobaan pembunuhan 
itu masih diperingati hingga kini dengan sebutan "bonfire night", 
menjadi hari libur nasional dengan kembang api dan seremonial 
membakar patung Guy Fawkes. 

Raja James I merancang acara seremonial tersebut untuk mengingatkan 
rakyat usaha pembunuhan tersebut sebagai pengkhianatan terhadap 
negara. Dan mencap Guy Fawkes sebagai "teroris" ( sesuai dengan 
terminologi sekarang ). Namun dibalik itu,  Guy Fawkes dan 12 orang 
konspirator lain adalah pejuang toleransi beragama. Sebelum James I 
naik tahta, Ratu Elizabeth I yang memerintah Inggris membuat undang- 
undang menekan praktik agama Katolik. Raja James I berjanji akan 
menerapkan toleransi beragama terhadap penganut Katolik. Tetapi 
janji itu tidak pernah ditepati, raja James I malah membuat lebih 
banyak undang- undang yang menekan penganut agama Katolik. Hanya 
karena James I  menganut kristen Protestan, orang Katolik harus 
melakukan ibadah secara diam- diam. Orang Katolik juga harus 
membayar denda, jika tidak menghadiri ibadah gereja Protestan. 
Kecewa karena kebohongan raja tersebut para konspirator termasuk Guy 
Fawkes memutuskan untuk meledakkan gedung parlemen.

Guy Fawkes sebelumnya adalah komandan tentara Spanyol di th 1596. Ia 
menjadi terkenal di pasukannya karena track recordnya yang bagus 
selama di ketentaraan. Beberapa kesaksian sejarah menggambarkan 
sifat Fawkes sebagai orang yang tabah, teladan dan penganut Katolik 
yang shaleh. 

Setelah mengeluarkan pernyataannya untuk meledakkan gedung parlemen 
( gedung DPR ) polisi pun berdatangan ingin menangkap V. Disinilah 
peran Evey membalas budi, ia yang kebetulan karyawan stasiun tv itu 
menyemprotkan gas air mata kepada seorang  petugas yang menodongkan 
pistol pada V. Berkatnya V berhasil lolos, tapi Evey terkena pukulan 
petugas itu dalam perkelahian dan jatuh pingsan. Perkenalan V dan 
Evey berlanjut setelah V membawa Evey ketempat persembunyiannya. 
Dari sanalah  karakter V sebenarnya digambarkan. Ternyata ia adalah 
seorang pria yang lembut, berjiwa seni tinggi, cerdas dan 
ksatria. "Teroris" ini memiliki hasrat yang besar terhadap sastra 
dan bercita rasa seni tinggi terutama seni klasik. Penggambarannya 
lebih pantas sebagai seorang  bangsawan terpelajar daripada seorang 
teroris. 

Namun dibalik  topeng dan sifat ramahnya, V menyimpan luka teramat 
dalam dan dendam terhadap orang- orang yang pernah menyiksanya. V 
kemudian mendatangi Lewis  Prothero, Prothero adalah produser dan 
pembawa acara "Voice of London" stasiun TV BTN. Tapi dibalik itu, 
Prothero adalah agen propaganda pemerintah. Prothero juga memiliki 
sejarah gelap dibelakang layar karirnya dibidang 
televisi, `komandan' Prothero adalah mantan kepala sipir penjara 
Larkhill. Penjara Larkhill di film ini bukanlah penjara biasa, 
tahanan dipenjara ini ditangkap tanpa pengadilan dan digunakan 
sebagai kelinci percobaan senjata biologis. Kesalahan para terpidana 
adalah karena menentang pemerintah, mereka adalah para demonstran, 
aktivis, atau orang- orang yang menyatakan keberatan terhadap 
penguasa. Pemerintah Inggris di film ini juga tidak mentolerir 
perbedaan ; kaum homoseksual dan lesbian juga dinyatakan bersalah 
dan masuk penjara ini. Di kamp. Larkhill kengeriannya tak 
terbayangkan, ratusan nyawa tahanan dikorbankan seperti kambing 
disembelih untuk percobaan. Terungkap kemudian bahwa V pernah 
menjadi tahanan Larkhill.

Setelah Prothero sasaran berikutnya adalah mantan pendeta penjara 
Larkhill, pastur Liliman. Profilnya mirip seperti Prothero, dibalik 
kesederhanaan dan ketaatannya pada agama pastur Liliman adalah agen 
pemerintah yang ditugaskan mengawasi kelancaran eksperimen Larkhill 
dengan gaji  200 ribu Pound per bulan ( setara tiga miliar enam 
ratus juta rupiah ). Pastur Liliman juga memiliki kelainan seksual 
paedophilia, namun jabatannya sebagai pastur membuatnya menutup 
rapat- rapat kesukaannya menyewa pelacur remaja. Bagi V, tidak ada 
keadilan dimuka bumi ini yang dapat menghukum Prothero dan Liliman. 
Mereka lolos begitu saja dari kejahatan mereka dan hidup kaya raya 
setelahnya. 

Dalam usahanya membunuh pastur Liliman, Evey bersedia membantu V 
dengan menyamar sebagai gadis yang akan `bermain teater' didepan 
Liliman. Tetapi  sebenarnya itu adalah tipuan belaka Evey untuk 
menyelamatkan Liliman dan menjauhkan diri dari V. Karena Evey merasa 
rencana V yang akan membunuh seorang pendeta adalah suatu  
kesalahan. Evey sama sekali tidak punya prasangka buruk terhadap 
Liliman, sebelum pastur itu mencoba memperkosanya. Tadinya ia 
menyangka, undangan Liliman  disana hanya untuk menari dan bermain 
teater didepan Liliman. Barulah Evey sadar ada sesuatu yang `salah' 
dengan pendeta ini. Ditengah pergumulan Liliman dengan Evey, pintu 
kamar terdobrak dan muncullah V. Saat V membunuh Liliman, Evey kabur 
menjauhkan diri dari V. 

Sementara Evey menghilang, V tetap melanjutkan sasaran ketiganya, 
Dr. Diana Stanton. Diana Stanton adalah salah satu ilmuwan di 
Larkhill yang menjalankan eksperimen tahanan. Setelah penjara 
Larkhill meledak karena suatu kecelakaan, Diana hidup dalam 
ketakutan dan rasa bersalah hingga mengganti namanya menjadi Delia 
Surridge. Delia kini hidup dengan tenang bekerja sebagai koroner 
kepolisian, hingga V datang membunuhnya. Dari lokasi pembunuhan itu 
Inspektur Eric Finch, kepala Inspektur polisi yang sedang bertugas 
memburu V menemukan sebuah buku merah berisikan catatan jurnal Delia 
selama bekerja di Larkhill. Isi buku yang mencengangkan inspektur 
Finch tersebut mengungkapkan keterlibatan pemerintah dalam pembuatan 
senjata virus. Pemerintah juga bertanggung jawab terhadap kematian 
100,000 warga negaranya di peristiwa  "St. Mary" dan "Three Waters".

Setelah pembunuhan pastur Liliman, Evey melarikan diri dan menumpang 
tinggal ke rumah temannya Gordon Dietrich, salah seorang produser di 
stasiun TV BTN. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Acara 
TV Gordon yang sengaja meledek Kanselir Agung Adam Suttler ( 
pemimpin tertinggi negara saat itu, setara dengan perdana menteri ), 
membuatnya ditangkap atas dakwaan subversif. Evey juga mencoba 
melarikan diri namun ia tertangkap. Gordon  kemudian menjalani 
interogasi, sebelumnya ia hendak dibebaskan namun akhirnya ia tetap 
dieksekusi hanya karena ia menyimpan sebuah salinan Al Quran. 

Adegan berikutnya adalah interogasi petugas penjara terhadap Evey. 
Selama berhari- hari Evey menjalani penyiksaan fisik dan psikis. Ia 
dikurung didalam ruangan gelap, makanan yang sangat minim dan 
ancaman hukuman mati kecuali ia memberitahu dimana V berada. Saat 
akan dijatuhi hukuman mati  barulah Evey sadar bahwa selama ini ia 
bukan berada didalam tahanan, melainkan ruang simulasi penjara yang 
dibuat V untuk mengujinya. Kenyataannya,  Evey sebenarnya bukan 
ditangkap oleh polisi melainkan disergap oleh V sendiri. Sampai saat-
 saat terakhirnya Evey tetap mempertahankan keyakinannya untuk tidak 
memberitahu lokasi V walau tahu kematian akibatnya. Saat itulah 
interogatornya ( yaitu V sendiri dengan penyamaran ) 
mengatakan "berarti kau sudah bebas !"

Sementara tanggal 5 November semakin dekat, pemerintah semakin 
kencang melakukan propaganda dan penangkapan bagi siapapun yang 
mencurigakan. Film ini sekilas memberikan ilustrasi teknik 
propaganda "selling fear". Dimana pemerintah menebarkan isu yang 
bisa menakutkan rakyatnya sendiri. Isu tersebut dapat berupa wabah 
penyakit seperti flu burung, HIV, Ebola, Anthrax, dll. Dapat berupa 
isu prediksi adanya serangan teroris dan gangguan keamanan dari 
dalam maupun luar negeri. "Fear" ( rasa takut ) itu sendiri akan 
meningkatkan perasaan kebutuhan rakyat terhadap pemerintah, karena 
merasa pemerintahlah institusi yang dapat menyelesaikan masalah- 
masalah tersebut. Teori ini berdasarkan analogi, bahwa orang yang 
sedang keadaan panik/ takut lebih mudah untuk diperintah atau 
dikendalikan dibanding orang yang sedang percaya diri. 

Isu perang dan terorisme adalah isu yang biasa dilemparkan seorang 
pimpinan diktator atau otoriter. Isu mengenai perang atau keberadaan 
musuh negara yang menyita  perhatian seluruh bangsa merasa perlu 
dilemparkan saat pimpinan diktator tidak mempunyai program yang 
jelas untuk membangun suatu bangsa. Diktator itu berkuasa tapi tidak 
memiliki visi kedepan yang jelas untuk mengembangkan negara 
tersebut. Untuk menutupi kekurangannya itu seluruh unsur pertahanan 
negara dikerahkan untuk mencari seorang "teroris". Atau bila tidak 
ada "teroris" maka sang diktator akan menyatakan perang terhadap 
negara lain yang difitnahnya memiliki senjata nuklir atau kimia atau 
apapun. Hasilnya, tidak ada yang bisa mengkritik kepemimpinannya 
atau evaluasi mendalam tentang bagaimana ia benar- benar membangun 
bangsa, karena toh negara dalam keadaan perang. Media yang 
seharusnya menjadi pengawas pemerintah dan memonitor kebijakan 
pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat harus merubah haluan 
informasinya menjadi liputan perang.  

Nyawa pimpinan diktator itu adalah tujuan akhir V. V akhirnya 
berkomplot dengan Creedy, disini berperan sebagai menteri pertahanan 
Adam Suttler untuk mengkhianati dan menyerahkan Adam Suttler. 
Sebagai gantinya V berjanji akan menyerahkan dirinya kepada Creedy.  
V juga memberi pertimbangan kepada Creedy, bahwa kegagalannya 
menangkap dirinya akan membuat Creedy-lah yang dipersalahkan dan 
dijadikan kambing hitam pada akhirnya --mengingat karakter Adam 
Suttler, itulah yang akan dilakukannya. 

Akhir dari kisah ini cukup dramatis sekaligus mengharukan. Creedy 
akhirnya benar- benar membunuh Adam Suttler didepan V. Situasi 
berbalik menjadi pertarungan antara V dengan  Creedy. Namun V tidak 
juga rubuh walau diterjang puluhan peluru dari anak buah Creedy. 
Saat baru hendak mengisi peluru kembali, V sudah menghabisi mereka 
semua. 

Pada malam  5 November itu, seluruh warga London memenuhi seruan V 
untuk menyaksikan gedung parlemen ( gedung DPR ) diledakkan. Tentara 
dengan persenjataan lengkap sekalipun tidak mampu menahan laju 
rakyat yang bergerak ke gedung parlemen. Sedianya mereka menembak 
puluhan ribu orang  bisa terbunuh. Oleh karena itu, tentara menjadi 
ragu dan tidak berdaya sama sekali menahan keinginan rakyat. 

Tokoh-tokoh didalam film ini memang fiktif, tetapi perlambangannya 
benar- benar ada di dunia nyata sekitar kita. Tokoh Adam Suttler, 
penguasa yang mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun bahkan 
cara keji sekalipun. Prothero, produser dan pengusaha kaya yang 
ternyata memperoleh kekayaannya dengan memimpin pelaksanaan 
eksperimen senjata biologis. Pendeta Liliman, yang dibalik 
ketaatannya beragama ternyata berjiwa kotor menjual ayat- ayat 
agama. Diana Stanton, ilmuwan yang tampak seperti wanita biasa ini, 
ternyata  tega melakukan eksperimen virus kepada manusia hidup.Tokoh-
 tokoh ini terasa ada disekitar kita, tatkala kita menemukan pejabat 
negara yang korup, anggota DPR yang melakukan perbuatan tidak 
terhormat, pemuka agama yang menjual agama dan penguasa atau 
politisi yang berusaha mempertahankan keberadaannya dengan cara keji 
sekalipun. 




Rezanades Muhammad,
Penulis




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke