Seorang lelaki distasiun kereta, oleh lalu pharmanegara

Lelaki itu berdesak-desakan diantara calon penumpang lainnya. Semua 
seperti hendak menaiki kereta yang entah datang jam berapa, hari apa, 
tanggal berapa, tiket kumalnya tidak menyatakan apa pun jua, 
keberangkatan kemana, tidak ada jurusan, tidak ada waktu, atau jenis 
kereta, Cuma sebuah potongan kartun warna hijau muda yang belum 
bermakna. Halaman, beranda dan emper- emper stasiun berjubel dengan 
manusia, juga dipojok-pojok samping toilet yang berbau pesing. 
Perempuan yang bersingkap keindahan dibawah jenjang lehernya, anak-
anak yang menangis berteriak – teriak kegerahan, bayi-bayi 
berkeringat minta netek pada ibunya, pabrik susu yang nampak tidak 
dianggap sebagai pelanggaran undang –undang APP karena itu justru 
menunjukkan kasihsayang seorang bunda yang tulus dan bening. Seonggok 
tubuh tua yang duduk memeluk lutut berunduk tak berdaya, gadis yang 
lumer bedaknya, gincunya sudah kikis digerus tegukan air mineral. 
Tiang tiang kusam yang membisu, yang tak mampu menyampaikan apa-apa, 
walau telah menjadi saksi atas keberlangsungan stasiun itu dari zaman 
belanda. Tak ada yang saling peduli, wajah – wajah sayu, tubuh 
lunglai, muka layu,  bahkan untuk bertegur sapa sekalipun. Kata-kata 
tercekat ditenggorokan, pokok bahasan juga kering. Semua gosip, 
fitnah, ghibah di infotainment  diberbagai layar televisi sudah habis 
dihambur – hambur tanpa harga. Fitnah, ghibah dosa besar difatwakan 
ulama mejadi haram menontonnya, tapi orang – orang asyik aja 
mengobrolkannya. sampai – sampai seorang perempuan muda hendak 
bertengkar dengan seoarang ibu kawan sebelahnya, hanya karena beda 
pendapat bahwa artis idolanya jadi bercerai dengan suaminya atau 
tidak. Mereka obrolkan tentang hak – hak perempuan yang semakin 
menguat, atau tentang lelaki yang sudah bisa dikawini atau dicerai 
semau perempuan. "Ini hak tubuh", kata perempuan itu. "setiap 
pemiliknya berhak untuk membingkisnya untuk siapa saja yang ia mau", 
tandas perempuan yang rambutnya dicat kemerah-merahan. Orang 
menyebutnya dengan bucheri, mirip merek sepatu, sebagai sindiran pada 
orang yang latah berambut warna pirang persis londo. bule ngecat 
sendiri. Mungkin inilah resiko kenikmatan dijajah oleh negeri eropa, 
seakan –akan semua yang berbau eropa dan atau amerika menjadi 
kebanggaan, trend, perhatian penuh pujian. Kepada bangsa eropa 
amerika lah, semua nilai ditumpukkan. Hidung mancung lebih cakep dari 
pesek seperti kebanyakan turunan astronesia, atau bangir yang menjadi 
impian raja- raja tanah jawa. Kulit putih adalah warna dambaan, kulit 
hitam sedikit dihormati dengan embel 
katakata `tapi', `meskipun', `walaupun begitu' dan lain sebagainya, 
biar hitam tapi.., meskipu hitam dia.. , walaupun begitu dia... Kulit 
sawo matang seperti kebanyakan  kulit kita adalah kulit yang tidak 
elok, anggapan kulit kuning tidak seindah dulu, walau hampir semua 
putri – putri raja digambarkan berkulit kuning langsat. Kulit putih 
menjadi harapan semua kita, seolah – olah berkulit putih adalah 
cantik, jelita, dan menjadi dambaan semua wanita. Pabrik – pabrik 
berlomba – lomba membuat bedak pemutih, sabun pemutih, cream pemutih, 
pelindung kulit, bedah plastik dlsb. Iklan –iklan ditelevisi 
menggambarkan kulit putih sebagai kecantikan bagai dewi – dewi 
surgawi atau bidadari yang dari langit. Produk – produk impor dari 
luarnegeri berhamburan di mall yang megah it. Semakin mahal harga 
semakin baik mutunya. Barang tidak lagi dilihat dari kemanfaatannya, 
tapi lebih pada bangun imaginya di televisi, poster, baliho, giant 
banner yang konon bayar pajak mahal itu. Maka lihatlah, wanita yang 
menarik adalah yang berkulit putih, berhidung mancung, bermuka oval, 
dan berambut pirang. Kita adalah bagian dari wargadunia yang selalu 
mengagungkan kakak tertua, suku bangsa arya atau eropa lainnya 
sebagai sulung dari peradaban. Didukung oleh penguasaan mereka pada 
senjata, modal, polilitik dan akhirnya juga peradaban. Ukuran nilai 
baik – buruk tidak lagi mengacu pada agama dan ayat- ayat Tuhan, tapi 
lebih tergantung pada produk yang dipakai oleh bintang film 
terkenal "inilah makna kemerdekaan. Setiap perempuan berhak merasakan 
keindahan citarasa sesuai dengan hasratnya", katanya menyerocos. " 
oh, tidak bisa begitu", kata ibu sebelahnya, kita sebagai bangsa 
indonesia yang punya tatakrama, sopan santun dan nilai – nilai luhur, 
wanita indonesia tidak bisa begitu". Sanggahnya."wanita itu haruslah 
menjadi pedamping setia bagi suaminya, kemuliaan perempuan ada pada 
ridho suaminya", tandasnya pula.Mungkin wanita ini punya dasar agama. 
Dari kutipan kata-katanya nampak sepeti pernah nyantri dipondok 
pesantren salafiyah, atau paling tidak ikut pengajian didesanya. "oh 
anda sudah kolot sekali, ibu", sanggah perempuan itu. "sekarang sudah 
zaman supermodern, zaman canggih, zaman global, perempuan harus 
menempatkan dirinya sesuai dengan harkat yang sudah diatur oleh 
deklarasi Hak Azasi Manusia, paham!", "ya, tapi kita harus 
memperhatikan leluhur kita bu", katanya mengeras." Ah,ibu ini benar- 
benar udik!". Beberapa detik berikutnya, mereka terdiam, seraya 
mencemburutkan muka, sinis terasa, seolah pendapat masing – masing 
saling berlawanan, bertentangan, dan untuk itu tidak ada gunanya lagi 
menyapa, bahkan untuk saling menatap wajah. Suasana menjadi kering 
kerontang, tapi untuk berpindah tempat stasium itu sudah sangat 
padat, bergeser pantatpun teringsut- ingsut. Dipojok lannya beberapa 
orang telah selesai berdebat tentang nasib negara yang tidak kunjung 
sejahtera, ada yang menyalahkan konsep negara, ada yang menyalahkan 
pemerintah yang sedang berkuasa, ada juga yang juga menyalahkan 
birokrasi, korupsi, dan seorang lagi menyalahkan masalah peradaban 
yang saat ini menggejala. Yang menyalahkan konsep negara bilang bahwa 
negara ini miskin karena kita salah mengambil konsep ideologi ekonomi 
yang juntrung kepada kapitalisme, sebuah ideologi yang menekankan 
pada kekuatan modal sebagai arusutama kehidupan dan pasarbebas 
sebagai anak kandungnya. Seolah – olah bahwa negara ini harus 
dibangun dengan duit. Tanpa duit tidak ada lagi kehidupan, semua akan 
mati. Duit nyaris didewa-dewakan sebagai penyelamat dan pelindung 
seluruh sisi kemasyarakatan. " inilah masalahnya", kata anak muda 
itu, " kita menganut sebuah ideologi yang tidak maching dengan bangsa 
ini", "kita memang malas merumuskan ideologi bangsa, begitu ada 
konsep bagus dari para pendiri bangsa, eh, kita malah buang di tong 
sampah". Bangsa ini nyaris tanpa sejarah, tanpa pembelajaran, tanpa 
pencatatan, tanpa pemaknaan. Disudut lain, negara ini begitu tega 
pada warganya, terkadang terkesan begitu kejam. Rakyat digusur- gusur 
dari lahan usahanya, diusir usir dari lapaknya padahal sudah bayar 
pada pihak kelurahan, tramtib kadang terlalu menyakitkan hati. Tanah 
rakyat diambil tanpa gantirugi hanya untuk membangun bandara atau 
sarana bagi pengusaha –pengusaha besar atau kaum perlente yang 
berdasi dialam tropis dan sesekali meludah kalo kita bertemu 
dengannya. Sawah –sawah terpaksa diurug untuk membuat perumahan bagi 
para priyayi yang sering sombong dihadapan orang-orang miskin." 
Sial!, pada siapa sich sebenarnya pembangunan ini berpihak!" Dengan 
ideologi yang cendrung kapitalistik, imperialistik dan neoliberal.  
Para pejabat kita, jika disimak dari pidatonya dimedia massa, ia 
tetap berideologi pancasila, tapi pada prakteknya tetap mengutamakan 
kapital sebagai hal yang paling perkasa." Busyet dech', kita ini 
benar – benar ditipu oleh para tokoh bangsa ini. Yang selalu 
mengajarkan kesederhanaan ternyata menghambur-hamburkan duit negara. 
Dana seremoni dibuat gede – gede, sedangkan anggaran untuk 
pemberdayaan petani, pedagang kecil, bantuan mesin untuk nelayan 
dibuat icrit – icrit. Irit banget, seakan – akan uang itu punya 
mbahnya saja.Mereka berlagak seolah – olah ber-ideologi pancasila, 
eh , nyatanya mirip mirip kapitalis, gimana nich!". Globalisasi 
sedang membuka pintu lebar –lebar agar para kapitalis bisa jualan apa 
saja, dimana saja, dan dengan cara apa aja, melindas pedagang eceran –
eceran kita. Menyisihkan hasil pertanian kita yang cuma dianggap 
sebagai produk klas tiga, Apel, pir, durian, sayur-sayuran impor 
adalah number one, nomer satu; paling baik, paling higeinis, harga 
bersaing dan stock terjaga.  Kita juga dijajakan untuk membeli ikan 
yang dicuri dari lautan kita, dikemas dengan merk asing. "asem!" 
Mereka hanya menguntungkan diri mereka dengan pencitraan yang 
melecehkan bangsa. Celakanya, kita dengan bangga hati nongkrong di 
mall dan supermarket, membanggakan produk mereka. Ngeceng dengan 
utangan, gaji sebulan yang bisa habis Cuma dalam tempo 2 jam 
saja. "Cuih, Gak sudi aku!", Kapitalisme juga menjadi mencoleng 
hatinurani kita, dia menjadi penunggang gelap ketulusan kita dalam 
asmara Cinta yang tulus dan murni, berkah dari Yang Maha Kuasa, telah 
dinodai dengan keharusan membeli produk tertentu yang belum tentu 
dibutuhkan. Membuai dengan produk – produk yang menterlenakan dari 
kesadaran kebutuhan kontekstual bangsa ini. Lagu- lagu cinta, bukan 
hanya membuat kita lebih memahami keindahannya, tapi mengharuskan 
kita mengikuti cara berperasaan mereka; sentimentil, cengeng, gampang 
patah hati. Hidup tiada makna tanpa asmara, `'hampa terasa diriku 
tanpa dirimu' . Padahal bangsa ini punya tata cara  ekpresi asmara 
yang beretika tinggi. Santun dan penuh makna.  Yang lebih nyebelin, 
kalo kita cari kerja dinegeri orang, kita dianggap sebagai TKI, kalo 
yang perempuan di sebut TKW, dianggap budak belian, dan bahkan 
posisinya lebih menyedihkan dari manusia pada umumnya. Giliran mereka 
yang numpang kerja di indonesia, mereka disebut ekspatriat, menjadi 
warga kelas utama dinegeri ini. Perusahaan – perusahaan besar dari 
negeri asing yang hendak mencengkram rakyat dan menguras sumberdaya 
alam dianggap sebagai seorang hero dan patriot sejati. Mereka diberi 
gelar investor yang dibangga-banggakan oleh semua pihak, disambut 
kepala dinas, bupati, walikota, gubernur bahkan menteri. Bagaimana 
mungkin para penguras sumberdaya alam kita, yang merusak lingkungan 
dielu – elu bak pahlawan. Padahal mereka  membayar murah buruh – 
buruh dari bangsa indonesia seraya membayar mahal pekerja dari 
berwarna kulit asing, padahal pekerjaan dan tugasnya sama. " Gila 
ga!".  Inilah akibat ideologi kapitalisme dalam pembenaran 
globalisasi. Diiming – iming oleh kata – kata itu, kita dijadikan 
buruh dinegeri sendiri. Bupati,walikota, gubernur yang kita pilih 
dengan gigih dan berdarah – darah akhirnya harus takluk dibawah duli 
bahwa negeri ini butuh investor! Mereka yang waktu kampanye teriak – 
teriak hendak mengayomi kita, ternyata telah terjerumus kedalam mesin 
kepentingan bangsa lain. Tiada lagi swadesi, bertopang kemampuan kita 
sendiri. Swasembada, menyediakan kebutuhan oleh dan untuk bangsa kita 
sendiri. Swakarya, berkarya oleh dan untuk diri bangsa kita sendiri, 
Swadaya, mengutamakan kemampuan diri kita sendiri. Swadesi, 
swasembada, swakarya, swadaya, sudah tidak dipakai lagi oleh bangsa 
yang tercerabut hanya sebuah kata pemusnah: Globalisasi! Seorang lagi 
yang nampak sebagai manusia sekolahan, entah dosen, entah mahasiswa 
perguruan tinggi, dengan wajah bersih berkacamata minus mungkin orang 
ini adalah kaum terpelajar. " Bangsa ini rusak karena korupsi",. 
celetuknya, dengan berusaha untuk meyakinkan. " korupsi telah 
merajalela dimana – mana, bukan hanya diproyek – proyek tetapi sudah 
mengakar pada seluruh urat nadi pemerintahan kita", lanjutnya. Coba 
bayangkan, korupsi sekarang menyelimuti seluruh aparatur bangsa kita, 
bahkan kantor pemerintah yang menjaga moral pun sekarang sudah 
dipenuhi oleh para korupstor. Bagaimana negara ini tidak hancur kalo 
korupsi  menjalar dimana-mana; diperadilan kita, di pemerintah 
tingkat pusat hingga desa – desa. Bagaimana kita bisa menjadi peserta 
globalisasi kalo bangsa ini digerogoti oleh korupsi, kolusi dan 
nepotisme, dan hanya kita disibukan untuk membasminya. Sementara 
orang sudah berlari kencang menata infrastuktur, melestarikan 
sumbedaya alam dan lingkungannya, serta meningkatkan kualitas 
sumberdaya manusianya , kita masih saja sibuk dengan pemantauan 
korupsi. Alih alih komite –komite anti korupsi, salah salahbisa 
terjerumus juga menjadi pemeras. Biro demostransi bayaran,yang 
menyediakan demo paket hemat, 20 orang 1 spanduk, paket biasa, 50 
orang 3 spanduk, paket istimewa, 150 orang 5 spanduk bonus ikat 
kepala (?) Korupsi terbukti tidak hanya telah merugikan bangsa ini, 
tapi merepotkan kita, menghabiskan energi. Jadilah kita bangsa yang 
lebih sibuk untuk hal-hal seperti itu. Bangkrut kita ! Melihat peta 
korupsi saat ini, ada kekhawatiran yang sangat dalam untuk 
menyongsong era globalisasi. Kita gak siap sama sekali! Jangan – 
jangan justru kita dirugikan, hanya dijadikan pasar tempat berjualan. 
Karena korupsi, kita tidak pernah sanggup bersaing dengan bangsa 
lain. Daya kompetisi dan komparasi kita minus! Padahal akar korupsi 
ya itu tadi, karena kita terlalu memberikan kehormatan yang 
berlebihan kepada orang – orang.yang punya duit dan harta yang 
banyak. Seakan – akan kemuliaan itu lahir karena orang punya mobil 
bagus, pakaian mahal, punya rumah besar dan lain sebagainya. Ada yang 
tersesat dari alamat kemuliaan yang selama ini kita banggakan, 
seakan – akan orang kaya lebih terhormat dari kaum lainnya, Orang 
yang hidup bermewah-mewahan disanjung – sanjung ketimbang hidup yang 
sederhana dan bersahaja. Ketika menjadi orang kaya dan bermewah – 
mewahan itu dianggap sebagai lambang keberhasilan dan kemuliaan, 
jadinya, mau tak mau orang berlomba – lomba pingin kayaraya dan 
bermewah-mewahan. Kalo kita kaya, maka tetangga- tetangga dan kolega 
akan siap selalu tersenyum, ramah, dan penuh keakraban. Siapa yang 
ndak pingin kaya, hayo! Namun karena tidak semua dapat mencapainya 
dengan cara halal, tidak juga semua bisa mendapatkannnya karena 
pembagian warisan, banyak orang memaksakan diri. Yang sebiasanya 
cukup maem dirumah, akan terasa lebih gaya kalo direstoran, paling 
kurang di fastfood-lah, pakaian harus bermerek luarnegeri.  
Sebenarnya apa yang tengah terjadi, korupsi terjadi dimana-mana. "ini 
benar – benar kecelakaan besar", tandasnya "Ya Benar!",kata seorang 
yang berpenampilan esentrik, mungkin seniman, mungkin juga tidak. 
Tapi kalo dilihat dari kumalnya, rambutnya yang jarang disisir, 
anggap saja seniman, walo kita tak pernah tahu karyanya dimana.  "ini 
memang masalah peradaban bangsa!", katanya meyakinkan, kita tidak 
pernah punya kebijakan khusus tentang politik kebudayaan dan strategi 
peradaban nasional. Karakter bangsa ini telah gagal dirumuskan. Nilai 
kegotongroyongan sudah punah, sikap saling tolong menolong sudah 
terkikis. Sekarang masanya sudah nafsi – nafsi, SDM alias selamatkan 
diri masing –masing. Mana ada lagi nilai-nilai pancasila dalam 
kehidupan keseharian kita. Kita tidak punya lagi orang yang mau jadi 
contoh dari sikap pancasila sejati. Tidak ada lagi tauladan!, 
tandasnya. Televisi, radio, koran, majalah cuma dipenuhi 
omongkosong."saya khawatir kita kelak kehilangan jatidir bangsa. Kita 
tak lagi menemukan keindahan sikap orang indonesia murni, kecuali 
dipedesaan yang tak tersentuh teknologi apapun. Negeri ini bisa bisa 
musnah karena tidak punya lagi peradaban, atau dimusnahkan oleh 
globalisasi". Katanya penuh semangat. " Negeri ini dipenui dengan 
anak – anak muda yang pemalas, tidak disiplin, kebarat-baratan" 
katanya dengan penuh sesal. " saya khawatir generasi muda kita ogah 
belajar,  jijik pada pengetahuan, benci pada kesenian dan gak doyan 
sastra", sungutnya. Sementara matahari sudah semakin meninggi, 
sengatannya mengigit pori-pori kulit legam lelaki itu, suasana 
stasiun sudah menyanyat, airliur sudah mengering, mereka yang 
menunggu dari subuh sampai saat ini belum diberangkatkan juga.  "Qua-
Qua", " koran – koran, " " rokok-rokok", " sayang anak – sayang 
anak", teriak para dagang air mineral, rokok, dan koran, mainan anak -
 anak bolak – balik, tapi sudah tidak ada lagi yang bergairah untuk 
membelinya. Semua energi habis untuk menyulam harapan yang tak 
tergapai. Inikah potret sebuah bangsa yang terus menanti. The waiting 
nation.  Tiba- tiba saja, seperti halilintar yang menyambar, pihak 
kepala stasiun ngomong di corong stasiun, semua terhenyak, semua 
masygul, semua lemas tak berdaya, "kami atas nama pihak perusahaan, 
mohon maaf, kereta tidak bisa diberangkatkan karena kesalahan teknis 
yang belum pernah kami ketahui sebelumnya". Ada kecelakaan disebuah 
kota kecil, komite kecelakaan belum datang, mayat mayat orang miskin 
bergeletakan tanpa perhatian, kereta lain masih didok stasiun – 
stasium besar, kita tidak bisa bergerak kemana pun juga, tidak kemasa 
depan, tidak pula kedesa – desa. Semua bubar sambil terdiam, 
menyisakan dendam kesumat dari topik yang dibahas berbusa –busa. 
lelaki itu termangu sendirian, distasiun yang berdebu, sampah yang 
berserakan, sampah peradaban, sampah dari kesiapan untuk menghadapi 
pertarungan antar negara, sementara ditelevisi terdengar kita masih 
berkelahi antar kampung, sampai mati pula.. Telah lahir patriot baru 
yang telah membunuh saudaranya sendiri! "Qua- qua, mizon – mizon" 
sayup suara, bersama senja, tenggelam..

<salemba, 29 november 2006>




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke