Note: forwarded message attached.
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--- Begin Message ---

Note: forwarded message attached.
 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.
--- Begin Message ---
forward dari milis tetangga. Penulisnya tak diketahui,  isinya menyiratkan 
kemarahan laten seorang lelaki...
   
  tabik,
  ochan
  http://halamanrawa. blogspot. com
   
  ==========
   
  SURAT UNTUK AA GYM

Aa Gym, saya tak kaget ketika mendengar gosip anda kawin lagi. Saya 
kecut ketika anda mengakuinya. Saya muak mendengar alasan anda bahwa 
perkawinan kedua itu untuk menghindari zina. Daripada teman tapi mesum, katamu. 
Astaga. Sudah sebegitu mesumkah anda jika berteman dengan perempuan?

Beristri lebih dari satu tentu tidak dilarang, seperti kau sebut-sebut 
kepada banyak wartawan. Agama Islam membolehkan dengan syarat yang 
ketat. Anda tentu merasa bisa memenuhi syarat itu sehingga memutuskan 
berpoligami, tiga bulan lalu. Tapi guru-guru ngaji saya di dusun, yang 
tentu tak sepopuler anda, menceritakan bukan dengan alasan takut zina 
Rasulullah menikahi perempuan lebih dari dua. Rasulullah menikahi 
perempuan yang suaminya gugur di medan perang dalam menyebarkan ajaran Islam. 
Ia hidup di zaman perang yang mengancam nyawa dan keselamatan. Lagipula dia 
berpoligami setelah Siti Khadijah, istri pertamanya, meninggal. Yang saya tahu, 
begitulah alasan Nabi memperistri banyak perempuan. Anda hidup di Indonesia 
yang mulai damai. Bahkan anda hidup di Bandung , sebuah kota yang menjadi 
tujuan wisata akhir pekan.

Yang jadi soal adalah bukan dilarang atau tidaknya poligami oleh ajaran 
agama. Tindakan anda legal di mata hukum apapun. Tapi tidak di mata 
"hukum" sosial. Anda seorang ustad yang tiap hari berkotbah tentang 
nilai-nilai moral di televisi, di masjid, menulis di koran, radio, 
bahkan lewat telepon seluler. Anda merangsek begitu jauh ke dalam hidup 
setiap orang. Banyak orang, dengan begitu, menjadikan anda sebagai 
panutan. Inilah soalnya. Anda mungkin cuma manusia biasa yang bisa 
salah. Tentu saja. Anda bukan nabi. Tapi perbuatan anda itu sudah 
dipikirkan benar bahkan sejak lima tahun lalu. Anda tentu sadar 
sepenuhnya melakukan poligami. Ada banyak orang, memang, yang juga tak puas 
dengan satu istri. Tapi mereka tak saya kenal. Mereka tak berkotbah tentang 
nilai-nilai luhur dan amal soleh.

Dulu, saya pernah juga ikut latah menjadi pelanggan SMS tausyiahmu. Lima kali 
dalam sehari saya membaca omong kosong tentang kebajikan, sampai saya 
menghentikannya ketika profil anda dimuat berseri-seri di media massa . Saya 
berhenti setelah membaca laporan wartawan /Time/ yang menyebut anda Holyman, 
orang suci, yang berpose dengan motor gede dan gantole. Ganteng benar anda 
dengan semua kemewahan itu. Nabi Muhammad, orang yang paling anda kagumi dan 
kisah bajiknya sering kaukutip dalam ceramahmu, hanya punya sandal dari jerami 
yang ia jahit sendiri jika sobek.

Anda tak salah menikmati semua kerja dengan kekayaan itu. Tapi menjadi 
tak relevan ketika dipamer-pamerkan untuk semua orang. Bukankah 
memamerkan itu satu perbuatan kecil dari riya? Maka saya berhenti 
berlangganan tausyiahmu. Saya merasa tak ada gunanya membaca pesan moral dari 
orang yang suka berpamer-pamer harta. Sesekali saya masih ikut menonton 
kotbahmu di televisi, bersama anak dan istri saya--ketika tak punya pilihan 
acara televisi saat libur--seraya berdoa semoga orang lain mengikuti apa yang 
kau anjurkan. Di televisi, anda berpose mesra dengan istri pertama. Saya kian 
muak dengan sandiwara itu.

Istri anda mungkin sudah bisa ikhlas setelah mendengar semua argumen 
anda dengan tameng semua ayat dan hadits juga janji sorga. Tapi, 
bagaimana perasaan orang lain yang menjadi korban poligami ayah dan 
suami mereka? Inikah hikmah yang ingin kaudapat? Anda harusnya tahu, 
dengan pro-kontra yang beredar di jamaahmu yang sedih dan kecewa di 
Bandung itu saja, hikmah itu sudah pupus. Anda ingin belajar adil dan 
ikhlas dengan poligami. Tak adakah cara lain belajar tentang dua hal itu 
dan menunjukkannya kepada orang lain? Anda ingin mengubah pandangan orang yang 
tak setuju. Tak bolehkah orang tak setuju? Poligami adalah pilihan, bukan 
tuntunan.

Keputusan anda berpoligami itu, Aa Gym, makin menyempurnakan runtuhnya 
kepercayaan saya kepada semua pengkotbah agama. Saya kian tak percaya apa yang 
diomongkan para pengkotbah yang merampas hak saya menikmati tontonan bagus di 
televisi. Menjadi ulama itu sulit, tapi kenapa begitu mudah orang berkotbah 
hanya dengan mengutip satu dua ayat plus lawakan yang sering terasa garing, 
lalu menjadi kaya dengan itu. Saya lebih senang menonton pertunjukan Oprah 
Winfrey, atau Extravaganza, atau Srimulat. Mereka tak berusaha memberi pesan 
muluk, tapi saya terhibur.

Kita sudah jenuh dengan retorika. Anda tampil menambahnya, seolah-olah memberi 
resep dalam hidup sehari-hari yang sumpek. Saya terkesima, mula-mula. Kotbahmu 
mengena. Anda, sepertinya, tak mencari kekayaan bermodal pengetahuan ayat dan 
hadist. Anda sudah kaya sebelum jadi ustad, meskipun saya tak tahu berapa 
rupiah anda dibayar satu kali tampil di mimbar.

Anda benar, tak mudah memang menjalankan 3M yang sering anda 
ulang-ulang: mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai 
sekarang juga. Saya pernah mencoba dan tak bisa. Kini anda sendiri gagal 
menjalankannya. Anda tak bisa memulai dari diri sendiri karena anda 
sendiri tak menganjurkan orang lain berpoligami. Anda juga lupa bahwa 
kesenangan duniawi kerap mengerangkeng akal sehat dan menyilapkan 
ingatan terhadap zaman hidup susah, ketika nasib ada di bawah, seperti 
katamu.

Aa Gym, seperti katamu lagi, memang gampang merumuskan sebuah kebajikan 
tapi berat menjalankannya. Anda bukti paling sempurna untuk itu. Anda 
sering menganjurkan agar jangan menyakiti orang lain, jika tak ingin 
disakiti orang lain. Ketika anda meminta izin menikah lagi, istri anda 
terguncang dan meriang. Anak-anak marah dan kecewa. Perempuan mana sih 
yang mau cinta suaminya terbagi-bagi? Tindakan anda makin mengukuhkan 
kesimpulan para pengkritik Nabi Muhammad yang dituding menyebarkan 
ajaran tak memberi tempat pada perasaan perempuan. Tindakan anda itu 
mengguncang saya sebagai ayah dan suami. Saya khawatir anak saya 
mencerna salah tindakan anda itu.

O, ya, saya juga dipanggil Aa di rumah. Dua adik saya memanggil begitu, 
istri saya mengikuti. Ketenaran anda ikut mempopulerkan panggilan khas 
di keluarga-keluarga orang Sunda. Saya malu menyandang panggilan itu kini.

Saya doakan semoga berat badan anda pulih dan tak berjerawat lagi.


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke