CSFTS : Paijo Dan Usaha Berasnya
Namanya Paijo, letak rumahnya berbeda blok dan berbeda RT dengan rumahku,
tetapi masih satu RW. Setelah pensiun dini dari pekerjaannya di salah satu
hotel kelompok Intercontinental bertaraf internasional, maka Paijo mencoba
berwiraswasta, dalam angan Paijo berwiraswasta adalah dambaan insan
pemberani. Menurutnya wiraswasta itu berasal dari kata wira yang artinya
berani dan swasta yang bermakna usaha. Maka kalau kita gabung maknanya
berani berusaha sendiri. Suatu cita-cita yang mulia menurutku.
Pertama kali Paijo menggunakan uang pensiunnya adalah membuat usaha warung
mie ayam, letaknya di gerbang depan komplek perumahan kami. Lokasi
penjualannya menurutku strategis, di blok toko-toko di persimpangan jalan.
Dari pengamatanku pengunjungnya yang datang tidak begitu banyak, terkadang
ada satu-dua motor yang parkir dimuka warungnya. Hanya berselang satu
semester, aku lihat warungnya sudah siap disewakan ke calon pengusaha yang
lain, karena ada tulisan "Dikontrakkan Ruko" di rolling doornya. Paijo
rupanya gagal dalam berdagang mie ayam.
Sebagai insan pemberani, kegagalan Paijo yang pertama tidak dianggap
"gagal" tapi pelajaran, Paijo sudah siap dengan usaha yang kedua yaitu
berjualan kain batik asal kampung halamannya Yogyakarta di Ciputat, untuk
bisnis batiknya ini aku belum sempat mampir ke tokonya, sehingga tidak bisa
mengulasnya.
Dua tahun berlalu, kemarin, aku melihat di depan rumahnya ada satu truk
yang parkir di depan rumahnya bukannya mengirim kain batik tetapi
mengangkut isi rumahnya. Katanya Pak Paijo akan mudik ke Yogjakarta, kota
kelahirannya setelah rumahnya dijual, bisnis batiknya bangkrut. Paijo akan
tinggal di Yogyakarta. Menurut tetangga sebelah rumah, Paijo sekarang di
sana jualan beras. Syahdan menurut info terbaru, Paijo masih belum puas
dengan bisnisnya karena saingannya lebih agresif dalam memberikan
hadiah-hadiah kepada pelanggannya sehingga bisa dikatakan bisnisnya asal
jalan saja.
Lain lubuk lain ikannya, demikian juga dengan bisnis. Di kampung halamanku
di kaki Gunung Slamet ada seorang petani cabe, namanya Muheni. Muheni
bertani cabe sudah belasan tahun tapi tetap eksis, bahkan pada saat kemarau
kemarin mampu membeli kendaraan angkutannya. Tidak sering bisnisnya
berjalan mulus, karena banyak petani yang lain juga mengikuti jejaknya
bertani cabe. Tentu saja dengan banyaknya supply cabe maka stok di pasaran
menumpuk, dus harganya menjadi menurun drastis. Permainan bisnis adalah
seperti belajar naik sepeda, terkadang berjalan lurus terkadang terjatuh,
tetapi yang prinsip kesetimbangan harus selalu dijaga agar tetap
terkendali. Di musim kemarau saat susah air, biasanya para petani
saingannya berganti menanam yang lain, tetapi Muheni tetap bertanam cabe,
tak di duga kejadiaan ini hampir merata di seluruh pelosok Nusantara.
Petani cabe yang tetap setia pada bisnisnya menjadi sedikit, padahal
permintaan banyak, akhirnya petani cabe bisa menjualnya dengan harga yang
meningkat. Para ahli ekonomi menyebutnya ini hukum pasar. Muheni menganggap
bahwa ini adalah karunia Ilahi, karena dengan kesetiannya bertanam cabe
membuat dia mendapat untung besar sehingga dia bisa pergi haji dan membeli
kendaraan angkutan yang baru.
Terkadang untuk menyikapi rezeki yang datang dari Tuhan kita mesti setia
terhadap bisnis kita. Permainan kehidupan mensyariatkan seperti itu, ada
daya upaya, ada energi yang keluar, ada kesetiaan untuk merubah energi
menjadi rezeki, Tuhan memberikan perubahan hanya kepada umatnya yang mau
merobah nasibnya, karena itu adalah sunatullah, atau hukum alam.Tuhan
memberi rezeki kepada orang yang telah membuka pintu rezekinya.
Bersabarlah sedikit untuk bisa menuai padi, tugas anda hanya menanam,
memupuk, menyiangi, biarkan selebihnya Tuhan yang menyelesaikannya, merubah
satu biji menjadi seribu biji. Percayalah itulah rezeki yang kita nanti.
Semoga Paijo sabar dalam menjual berasnya... dan mampu menguak tabir dari
kegagalannya dan semoga betah tinggal di kota gudeg.
Salam,
Http ://ferrydjajaprana.multiply.com