--- Begin Message ---
IMAGINING THE OTHER
Oleh:
Audifax
Peneliti dan Penulis buku Imagining Lara Croft (Jalasutra, 2006)
Alam adalah keseimbangan.
Seluruh dunia berpasangan.
Yin dan Yang.
Benar dan Salah, Laki-laki dan perempuan.
Kesenangan tak berguna tanpa rasa sakit.
Lara Croft
(The Craddle of Life, 2003)
Membaca rangkaian peristiwa yang sempat mengguncang bumi pertiwi, saya
menemukan pola menarik yang melalui esei ini ingin saya diskusikan lebih jauh
dengan siapa saja yang berminat. Pola yang saya maksudkan adalah hadirnya
peristiwa yang seakan-akan berpasangan secara biner, yang saya rasa terlalu
kebetulan untuk dikatakan kebetulan. Inilah peristiwa yang saya maksud:
Peristiwa
Oposisi Biner
1.
Ketika perhatian orang tertuju pada berbagai prediksi dan kegiatan seputar
bahaya meletusnya gunung Merapi, bencana justru datang dari Laut Selatan
Utara - Selatan
Gunung - Laut
2.
Hampir bersamaan dengan heboh poligami Aa Gym, terungkap pula
perselingkuhan Yahya Zaini. Dua peristiwa ini memiliki kesamaan esensi pada
bagaimana laki-laki ingin memiliki perempuan lebih dari satu.
Sembunyi-sembunyi Terang-terangan
Tidak resmi - Resmi
3.
Hampir bersamaan dengan kecelakaan Senopati Nusantara juga terjadi musibah
pada Adam Air. Keduanya sama-sama menghilangkan sejumlah ratusan penumpang.
Kapal Laut Pesawat
Laut - Udara
Nah, sekarang saya akan menjelaskan kenapa minggu lalu memposting esei
tentang Fiksi dan Realita dan berusaha memancing diskusi melalui esei itu
(Terima Kasih buat rekan-rekan yang tanggap dan bersedia memaparkan
pandangannya]. Saya memang ingin membuat semacam pemanasan untuk masuk lebih
jauh mengenai diskusi bagaimana membaca dalam oposisi biner. Dan menariknya,
entah kebetulan atau tidak, Mang Iyus di milis Psikologi Transformatif juga
memposting tentang berpikir biner dalam bahasanya sendiri, yang kemudian
ditanggapi oleh Nurudin Asyhadie. Pada awal 2007 ini, setelah merenungkan
peristiwa-peristiwa yang saya paparkan dalam tabel di atas, saya merasa ingin
mengajak siapapun juga yang bersedia untuk belajar membaca melampaui oposisi
biner.
Bagaimana kita belajar membaca melampaui oposisi biner barangkali juga yang
ingin disampaikan oleh Yang-Lain melalui sejumlah peristiwa yang sepertinya
terlalu kebetulan untuk dikatakan kebetulan. Membaca dalam paradigma
oposisi-biner adalah model pembacaan yang disadari atau tidak, diajarkan pada
kita sejak kita mengenal bahasa, dan pembacaan ini membuat kita kerap hanya
berpikir linier dan parsial serta tak bisa melihat Yang-Lain yang melampaui
bahasa.
Membaca dalam aturan bahasa tak bisa lepas dari oposisi biner karena seperti
pernah kita pelajari di pelajaran bahasa, bahwa sebagian besar kata memiliki
lawan kata. Antara sebuah kata dengan lawan katanya, satu sama lain saling
meniadakan alias tidak mungkin sekaligus keduanya. Contoh: Luar lawan katanya
Dalam, Benar lawan katanya Salah dan seterusnya. Sesuatu yang ada di
Luar tak bisa sekaligus berada di Dalam, Sesuatu yang melingkungi tak bisa
sekaligus dilingkungi, sesuatu yang Benar tak bisa sekaligus Salah.
Karena kita berpikir dan mengungkapkan pikiran juga dalam bahasa, maka cara
berpikir kitapun terjebak dalam bahasa. Tetapi, kearifan-kearifan kuno
sebenarnya pernah mengajarkan pada kita untuk membaca melampaui bahasa yang
bersifat oposisi biner. Saya sudah mencontohkan satu dalam pembahasan mengenai
Fiksi dan Realita yaitu contoh cerita Kupu-kupu dari Chuang Chou. Kita bisa
melihat contoh lain dalam misalnya: Yin Yang, Manunggaling Kawulo Gusti, dan
masih banyak lagi.
Dalam linguistik, pembacaan dalam bahasa yang sifatnya oposisi biner ini
pernah dikonsepkan dengan brilian oleh pemikir-pemikir strukturalis seperti
Ferdinand de Saussure dan Claude Lévi-Strauss. Tetapi, para pemikir
strukturalis menghadapi kesulitan besar ketika berhadapan dengan afirmasi
Friedrich Nietzche tentang drama tragedi dunia yang membawa manusia pada
nihilisme. Pada titik inilah muncul embrio pemikiran Post-Strukturalis atau
pembacaan dengan melampaui struktur. Struktur memang diafirmasi ada tetapi
pembacaan atas struktur itu harus melampaui struktur itu sendiri jika tak ingin
terjebak dalam nihilisme.
Pembacaan Post-struktralis bukan berfokus pada makna yang bersifat final atau
keterjebakan pada mana yang lebih baik. Tidak ada baik-buruk, laki-perempuan,
atas-bawah, dan sejenisnya. Pembacaan Post-Strukturalis hanya hadir untuk
merayakan kedatangan Yang-Lain yang memberi manusia kemungkinan pada hidup
yang dirasanya telah menghimpit dan menenggelamkan dalam nestapa, kekejian,
banalitas dan segala kefanaan. Kenungkinan adalah sesuatu yang membuat hidup
ini indah, bukan kepastian. Kemungkinan-lah yang memberi peluang bagi
harapan dan dalam harapanlah manusia masih memiliki alasan untuk melihat hidup
ini indah dan menjalaninya.
Dalam wacana feminisme, pembacaan post-strukturalis inilah yang memunculkan
posfeminisme, aliran dalam feminisme yang disebut-sebut sebagai feminisme tanpa
membicarakan perempuan. Kenapa? Karena perempuan adalah sebuah pembacaan yang
juga mengimplikasikan struktur oposisi biner, karena ketika kita bicara
perempuan maka selalu mengimplikasikan ada oposisinya, yaitu laki-laki.
Posfeminisme berfokus pada singularitas, karena dalam singularitas itulah
terdapat tanggung jawab dan keunikan masing-masing nama dalam hidup ini. Ketika
struktur oposisi biner bisa didekonstruksi oleh pembacaan Post-Strukturalis
maka kultur pemikiran yang dipengaruhi oposisi biner, seperti dikotomi
patriarki-matriarki, maskulin-feminin, laki-perempuan juga bisa dilampaui. Dan
oleh karenanya persoalan marjinalisasi perempuan juga terlampaui karena yang
ada tinggal singularitas, nama demi nama.
Ada sejumlah temuan menarik berkaitan dengan bagaimana melakukan pembacaan
Post-Struktralis yang ada dalam penelitian yang saya lakukan terhadap tokoh
Lara Croft. Dalam penelitian yang diterbitkan Jalasutra (Imagining Lara
Croft, Jalasutra, 2006) itu saya mencoba melakukan pembacaan dengan melampaui
struktur, termasuk dengan menghadirkan pemikiran sejumlah pemikir Posfeminis
dan Post-Strukturalis. Sekilas, sosok Lady Lara Croft menghadirkan dua fenomena
biner yang mirip dengan peristiwa-peristiwa yang mengguncang Indonesia seperti
saya hadirkan dalam tabel di awal esei ini. Di satu sisi tak bisa dipungkiri
bahwa Lara Croft adalah objek seksual bagi banyak laki-laki; tetapi di sisi
lain sosok Lara Croft yang: secara fisik fit dan mampu menjalankan tugas-tugas
yang membutuhkan kemampuan atletis, kuat, intelek, pemberani, bersikap bahwa
tidak ada hal yang non-sense dan melakukan pekerjaan yang memang perlu
dilakukan, skillfull, deteminatif dan impresif; semuanya itu adalah
gambaran sosok perempuan yang diidealkan kaum feminis.
Nona Croft ini jelas berbeda dengan bidadari Charlie yang menerima perintah
dari laki-laki atau Barb Wire yang begitu maskulin. Lara menyelesaikan dan
mengatasi rintangan dengan puncak kemampuan yang sama baiknya dengan laki-laki
tetapi masih dalam cara seorang perempuan. Ketika membaca Lara Croft hanya
terjebak pada sesuatu yang menjadi objek seksual laki-laki atau sisi sosok
perempuan ideal bagi para feminis, maka kitapun akan terjebak dalam hal-hal
seperti: amarah, nafsu, kekecewaan, kebencian, iri hati dan sebagainya. Tetapi
dengan membaca melampaui struktur oposisi biner anda akan menemukan terdapat
begitu banyak temuan menarik, menarik karena ternyata pembacaan atas Lara Croft
pasti akan menyampaikan pesan singular pada masing-masing nama demi nama dari
anda.
Hal yang sama ingin saya katakan pada siapa saja yang mau belajar untuk
membaca melampaui struktur oposisi biner pada peristiwa-peristiwa yang terjadi
di Indonesia. Melampaui oposisi biner bukan saja masalah Gunung Laut,
Udara-Laut, Resmi-Tidak Resmi dan sejenisnya seperti dalam tabel di atas,
tetapi lebih penting lagi melampaui Benar-Salah, Suci-Dosa, Baik-Jahat dan
sejenisnya. Ketika anda mampu membaca melampaui struktur oposisi biner, maka
anda akan menemukan pesan-pesan yang hanya khusus ditujukan pada anda dari
setiap peristiwa yang menampak di hadapan anda. Pesan-pesan indah yang
melampaui bahasa karena pesan itu datang dari Yang-Lain yang tak
terbahasakan.
Ada pendapat Yang-Lain?
© Audifax 15 Januari 2007
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual
menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan
disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini.
Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi
transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan
mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah
terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium
Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul
Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam
milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof
Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia Lia Ramananda, Himawijaya, Rudi
Murtomo, Felix
Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX
Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal,
Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf
Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis Kartika.
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
--- End Message ---