Mas Agus,
  Maka pernah ada ungkapan "barangsiapa hendak menjadi yang terbesar, hendaklah 
ia menjadi pelayan bagi sesamanya", atau "sahabat sejati adalah yang rela 
memberikan nyawanya bagi saudaranya". Jelas ini berbalik dg nalar umum bahwa 
kesempurnaan atau hal2 yg dianggap dan dilabeli sukses adalah sebuah kepenuhan, 
padahal sejatinya yg sempurna adalah yag kosong, dalam bahasa Mas Agus, atau 
dalam istilah Yunani "kenosis", yang sempurna mengosongkan diri juga, untuk 
apa? Ya kira2 untuk mengajak berpartisipasi, dg memberi teladan. Tapi kadang2 
yang sempurna, yang mengosongkan diri lantas diejek, dilecehkan, dan diragukan, 
karena tak dilabeli lencana kemegahan dan kemahakuasaan. Nah, sekarang ini 
menurut Mas Agus bagaimana kira2, semangkin lama semangkin diimani bahwa yang 
sempurna adalah yang penuh, dan meski luber, tidak pernah sedikit pun ada 
niatan dibagikan? Adakah "pembalikan" atau arah ke kehancuran total norma dan 
moralitas lama kita? Lalu kita yg sadar ini, jgn2 adalah
 segelintir manusia2 aneh yg akan segera menjadi artefak yang dipajang di 
museum peradaban manusia?
   
  salam,
   
   
  Pras

agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kesempurnaan

Kesempurnaan adalah kekosongan. Diisi menjadi kosong, dikurangi juga 
kosong. Tiada kecemasan, tiada keraguan. Tiada ketakutan, tiada impian. 
Kekosongan dalam perbuatan menjadi ikhlas.

Keikhlasan sudah tiada lagi kata yang diminta, yang ada penyerahan diri 
terhadap apa yang diberikan kehidupan pada dirinya. Sebab yang 
diberikan itulah yang diterima, apa yang diterima itulah yang diberikan.

Wassalam,
agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com




         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke