ha..ha..ha, terima kasih bung dipa
Sunan menyuruh santrinya untuk memanggil "Jenar": "nuwun sewu Syeikh, ditimbali 
kale Sunan" (permisi Syeikh/ Jenar, dipanggil Sunan), jawab Jenar, "Jenar ora 
ono, ngomongo, sing ono gusti Allah" (Jenar nggak ada, yang ada Allah), jawab 
si santri, "Inggih, Gusti Pengeran ditimbali Sunan" (iyah, kalo begitu, Allah 
dipanggil sama sunan).
tentu saya prihatin dengan adanya segala bentuk ke-Jabr-an yang kuno itu, 
tetapi saya juga memahami adanya bayang-bayang untuk mengetahui ilmu itu, walau 
tak lebih dari secuil dari beribu cuil ilmu Tuhan. Dan memanglah eksistensi 
sekaligus esensi "takdir", ha..ha..ha.., jelas tergambar dalam nalar (yang juga 
nisbi).
Salut untuk Ubermas, terima kasih bagi para Mu'tazili, Neo-Mu'tazili, dan juga 
salam kepada Plato alaihissalam dan Aristoteles alaihissalam, yang telah 
menyesatkan Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd radiallahu anhuma ke jalan yang benar, 
semoga Allah meridloi. 
Benarlah takdir masih terlacak dalam fikiran kita, tetapi juga suatu kepastian, 
tetaplah disebabkan karena proses kita sendiri (meski juga nantinya nisbi), dan 
bukanlah hal itu suatu miracle system, tetapi itulah sunnatullah, betul kita 
harus tetap berusaha, "mengakali Tuhan", dalam kehidupan ini.
thaks 


----- Pesan Asli ----
Dari: galing dipa <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 13 Juni, 2007 10:45:58
Topik: Fwd: [filsafat] masih tentang takdir

takdir merupakan sebuah keputusan & ketetapan... .kematian, merupakan salah 
satu cerminan dari keberadaan takdir, kita tidak akan mampu merauf definisi 
takdir dalam sebuah kalimat yg lengkap.....
ketetapan manusia dan binatang tentu akan berbeda, itu merupakan ketetapan, 
fungsi binatang dan fungsi manusia sudah tersusun rapih dalam hukum alam yg 
ketat...berikut pun pengalaman dan ketetapan atas hasil dari pengalaman, 
sebagai contoh apakah plato sejak kecil pernah berniat untuk menjadi seorang 
filsuf, atau musa yang menolak untuk membebaskan bangsa yahudi (baca; erich 
fromm; manusia menjadi tuhan) dan kini dijadikan seorang Nabi. disitulah kita 
bisa melihat takdir muncul dan menetapkan manusia, tentu cukup beralasan jika 
perputaran planet merupakan sebuah takdir dari sifat planet, pula sebuah 
ketetapan bahwasanya manusia memiliki akal dan berperilaku begini adanya....

bukan untuk menghentikan diskusi atau menjadikan manusia untuk takut bergerak 
karena hasilnya tetap telah diputuskan, seperti yang nietzche pernah ungkapan 
dengan Ubermens-nya bahwasannya manusia memang harus fighting untuk terus 
memperbaiki diri, bukan untuk menjadi, melainkan keinginan untuk menjadi..maka 
ini sebuah proses meski tak tau hasilnya apa, disitulah kebebasanya mencipta 
menjadi sebuah keinginan, sekali lagi bukan untuk menjadi manusia takut dan 
tidak melakukan tindakkan apapun, 
benar apa yang dinyatakan oleh non sisca bahwasannya takdir sulit untuk di 
obyektifkan, melainkan lebih bersifat subyektif, sebab kesulitannya cakupan 
takdiri yang manusia sulit untuk menentukan faktor a, b maupun c dr sebuah 
takdir....mungkin bisa digambarkan namun tidak dapat menjelaskan nomena dari 
takdir (kecenderungan filsafat mati dalam konteks ini)..mungkin banyak metode 
untuk menjelaskan tp  tidak mungkin bisa untuk digeneralisir dan dijadikan 
sesuatu yg  determinan.. .
thank... 

atma chryshna <chryshna2006@ yahoo.co. id> wrote:
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
From: atma chryshna <chryshna2006@ yahoo.co. id>
Date: Tue, 12 Jun 2007 21:01:14 +0700 (ICT)
Subject: [filsafat] masih tentang takdir


wah, tertarik juga melanjutkan diskusi dengan bung "dipa"
 
1) tentang konsep takdir, saya masih belum paham. 
penjelasan dari kenyataan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat dielakkan oleh 
manusia, yang absolut, apakah itu yang disebut takdir ? berarti takdir itu 
sesuatu yang determinis, niscaya, menentukan bagaimana manusia itu ?
tentang kematian sebagai sesuatu yang menghantui manusia dan darinya manusia 
tidak dapat mengelak, saya setuju, tetapi menamainya sebagai takdir ? nanti 
dulu. persoalannya adalah apakah takdir yang belum saya pahami itu kemudian 
dapat divariankan menjadi sesuatu yang menggerakkan kita seperti wayang dan 
menentukan menjadi apa manusia, menentukan siapa jodohnya,  berapa anaknya dll? 
apakah yang disebut takdir itu seketat itu menempel pada manusia ? atau ?
2) oleh karena itu, bila bung "dipa" menempatkan kebebasan dalam kehendak dan 
menempatkan takdir sebagai sesuatu yang tak bisa dielakkan, empiris ada, saya 
tetap belum memahami sebagai sesuatu dengan wilayah yang berbeda. dua hal itu ( 
kebebasan dan takdir ) masih dapat dilihat dalam wilayah yang sama karena 
pemahaman saya tentang takdir itu bukan hanya berarti kematian, tetapi dalam 
pemahaman sehari-hari orang yang mengatakan suatu pengalaman sebagai takdirnya. 
contohnya : ketika seorang akan kecelakaan dan kakinya patah, maka dianggap itu 
takdirnya. lalu ketika seorang bekerja sebagai guru, maka dilihat itu 
takdirnya, dll. bagi saya takdir itu dipakai untuk memaknai sesuatu.
jadi takdir itu memang ada dalam pengalaman tetapi lebilh banyak digunakan 
karena kepercayaan ( belief) bahwa takdir itu ada.....dan seringkali digunakan 
untuk menghentikan diskusi, ...so, ketakutan yang disampaikan non sisca( mbak 
atau mas) bahwa manusia bisa jadi akan terkungkung oleh kepercayaan takdir 
memang beralasan... ..
 
 
mohon tanggapan... ...


Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!




Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games. 





        
                
________________________________________________________ 
Sekarang dengan penyimpanan 1GB 
http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke