ketikan anda: Ibnu Sina tuanku berceritera, bukankah Iblis tidak mau bersujud kepada Adam karena dia begitu mencintai Tuhannya, yah...ia jauh lebih mencintai Tuhannya dari pada menduakan-Nya. Ketikan saya: Beda kali antara menduakan karena cinta dengan kesombongan...... Iblis tak mau bersujud (sujudnya bukan beribadat seperti Iblis pada Tuhan tetapi lebih pada menghormati), yaaa iblis tak mau sujud karena kesombongannya.......
salam, helmi matari suryanegara ----- Original Message ---- From: Muhammad Friss <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, June 20, 2007 1:18:19 PM Subject: Hal: [filsafat] SEANDAINYA SAJA DENGAN CINTA semua atas nama cinta "sandainya saja" dengan cinta, apakah ia berguna? ataukah Tuhan memberkahinya? tetaplah aku bersuka cita dengan cinta. Ibnu Sina tuanku berceritera, bukankah Iblis tidak mau bersujud kepada Adam karena dia begitu mencintai Tuhannya, yah...ia jauh lebih mencintai Tuhannya dari pada menduakan-Nya. Demikianlah aku melihat semuanya dengan cinta, Salman Rusdie memuja Muhammadnya dengan cinta, ia begitu tulus ingin membebaskan hegemoni para ulama dengan otoritas tafsirnya, ia begitu tulus memberi pengertian keindahan peradaban dunia dari pada sekedar tradisi timur. Begitu pula denga Khomeni, dengan cinta atas apa yang ia percaya dengan keimanannya dan kekuasaannya, ia rela membuat luka dengan cinta, menggantung, memancung dan mencabut setiap jiwa bagai Izroil buta dengan ketulusan cinta pada Tuhannya. Aku juga ingat bagaimana, orang-orang Ali dengan Cinta kepada Agamanya kemudian memancung Utsman, pamanku. Mu'awiyah dengan cintanya kepada Rasul bersama Aisyah juga ikhlas memerangi Ali, kemudian ia wafat dengan cinta dibantai dengan cinta atas Agamanya juga oleh Khawarij saudaraku. Bush bersama-sama Osama bin Laden dengan riangnya rela mengacaukan dunia. Itukah cinta? marilah kita semua dengan tanpa manipulasi cinta, tetapi dengan cinta yang sebenarnya, membina keindahan cinta, dunia dengan cinta, impian dengan cinta, dan kepastian yang nyata dengan cinta. ----- Pesan Asli ---- Dari: non_sisca <[EMAIL PROTECTED] co.in> Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com Terkirim: Rabu, 20 Juni, 2007 2:22:59 Topik: [filsafat] SEANDAINYA SAJA Yang menjadi masalah dengan kata "seandainya saja", adalah kata tersebut tidak akan mengubah apapun juga. Baiklah. Setiap orang pasti berbuat kesalahan. Kesalahan dimana sebenarnya kita bisa mempelajari sesuatu darinya. Yang perlu dilakukan adalah keluar dari masa lalu. Hapus dan ganti dengan frase "lain kali". Ketika berkata 'lain kali', kita sedang dalam perjalanan untuk menyelesaikan masalahnya. Meskipun menyedihkan atau menyakitkan, namun itu berarti menyingkirkan halangan penyesalan, bergerak maju, bertindak, dan melanjutkan hidup. Seandainya saja. Seandainya saja. Saat itulah kata2 itu menjadi kata2 yang paling menyedihkan dari antara semua kata2. Bergerak maju. Bertindak. Melanjutkan hidup. Lain kali saya akan berlari lebih cepat. Lalu menunggu saat dimana kemudian terdengar suatu bunyi 'klik' secara mental. Itu dia ! Seperti itulah tepatnya ! Dan tentu saja kemudian menutupnya dengan kalimat "kata2 sekaligus perbuatan" --nya Ludwig Wittgenstein. Dalam hal ini aku ingin mengucapkan kata2 "Oh, biarkan dia datang !" yang dipenuhi oleh keinginan2ku. Dan kata2 bisa terperas dari kita -- seperti tangisan. Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! ___________________________________________________________________________________ You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck in the all-new Yahoo! Mail Beta. http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html
