Pas Foto Wajah Tuhan

Ada seorang anak balita yang sedang asyik bermain-main bertanya kepada Bapaknya.. "Ayah, bagaimana sich.. Wajah Tuhan itu?" sambil terus asyik memainkan permainannya. Baru saja Sang ayah berfikir, kakaknya yang sudah mendapatkan pelajaran agama di Sekolah Dasar (SD) menyeletuk "Kalau Wajah Tuhan itu tidak kelihatan, dan berbeda dengan manusia..." "Jadi Wajah Tuhan itu seperti pocong,... ayah?", demikian kesimpulan sederhana yang dianalisa oleh anak balita itu, setelah memperhatikan dua premis sebelumnya. Kesimpulan asal jadi khas anak-anak yang boleh jadi karena pengaruh tontonan tayangan televisi yang marak menayangkan hantu atau misteri.
Sang ayah terkesima dengan pertanyaan yang mudah itu tetapi sulit menjawabnya.
Sang ayah berfikir keras, kenapa Tuhannya itu sulit dijelaskan kepada puteranya? Kenapa Tuhan pilihan agamanya ini tidak ada fotonya, tidak ada videonya seperti kebanyakan tuhan yang dianut oleh beragam agama? [EMAIL PROTECTED]()_??????..., berjuta tanda tanya hadir dalam fikirannya, berkecamuk, dan membuatnya tak bisa tidur! Padahal tidak ada nyamuk.
-oVo-

Sang Ayah tentu saja sulit menjelaskan tentang Wajah Tuhan ataupun Wujud Tuhan, karena Wujud Tuhan yang Absolut berada jauh dari pengalaman dan pengetahuan manusia, sementara harapannya bisa mengungkapkan misteri ini dengan logika, atau metode ilmiah yang pernah dia peroleh di bangku kuliah.

Contohnya seperti kita saja yang saat ini tengah berada di ruangan, di atas kita ada langit-langit atau atap, di atas langit-langit ada lapisan lain atmosfir dan berbagai lapisan langit lainnya yang tak terbatas atau ambang limit. Ambang limit ini adalah ungkapan kesempurnaan yang tak terbatas, harapan ingin menguak misteri ambang limit ini adalah keingingan lepasnya manusia dari kungkungan keterbatasan dirinya.

Andaikan manusia mampu memasuki ambang batas ini maka ia akan tertelan dalam Kekosongan, jati diri keberadaanya akan lenyap dalam keterbatasan. Pada saat itu, sesuatu memudah dan tak mampu lagi didefinisikan dengan kata-kata (fana).

Kenapa sang ayah tak mampu menguraikan jawabannya? Karena bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan mampu menangkap Ketakterbatasan, karena bertentangan dengan kodrat penalaran manusia yang selalu cenderung mengurai, mendefinisikan dan membatasi. Tentunya sangatlah wajar apabila sesuatu yang tak terurai, tak terungkap dan tak terbatas itu tak mungkin tercerap oleh perangkat pengetahuan dan pengalaman manusia. Tuhan atau Sang Wujud itu berada di luar definisi, ia hanya bisa dibayangkan, disembah, diumpamakan, dipuji, diagungkan dan diimani.

Rosulullah SAW pernah bersabda bahwa sangat banyak hijab atau tirai yang menyelimutinya "Sesungguhnya pada Allah terdapat tujuh puluh ribu hijab dari cahaya dan kegelapan." Jadi sangat sulit membahas Wajah Allah kecuali dengan meminta kepadaNya untuk memperkenalkan Diri Nya. Di dalam agama lah hal-hal yang menyangkut keagamaan itu diungkap. Melalui wahyu Ilahi yang sudah diterjemahkan oleh Rosul dalam bahasa manusia, sehingga manusia bisa memahaminya melalui perumpamaan (mitsal), tanda (ayat). Dengan cara inilah Sang Mutlak bisa kita sapa, kita seru, kita ingat, kita hadirkan dalam Qalbu.

Lalu bagaimana kalau sang ayah, mencoba memaksakan menalarkan tentang Realitas Mutlak? Kalau diumpamakan, contohnya itu seperti memandang matahari. Walaupun kelihatan dari kejauhan, dan nampaknya bisa dicerap karena terangnya tapi apabila mata ini dipejamkan maka gelaplah yang didapat, apabila dipaksakan maka kebutaanpun bisa menghinggapi mata kita karena tak mampu menahan silaunya.

Jadi, memahami Wajah Allah, cukuplah memperhatikan ciptannya (alam), sehingga kita memahami Pengetahuan-Nya (ilmu) atau tanda-tandanya (alamat). Karena alam adalah pertanda, maka banyak tanda-tanda pada alam (alamin) sehingga perwujudannya banyak alam di dunia ini, alam air, alam udara, alam benda, alam maya dan lain-lainnya seperti yang disebut dalam kitab suci Al Quran, dan biasa kita ucapkan dalam keseharian "Alhamdulillahi Robbul Alamin", Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam". (QS. Al Fatihah:2).

Kembali lagi mengenai menjelaskan tentang wajah Tuhan untuk anak balita, mungkin bisa dimisalkan seperti angin, tidak kelihatan tapi ada dan kita merasakan keberadaannya.

Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com

Kirim email ke