Terima kasih ayah, :) salam, sisc
--- In [email protected], verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pas Foto Wajah Tuhan > > Ada seorang anak balita yang sedang asyik bermain-main bertanya kepada > Bapaknya.. > "Ayah, bagaimana sich.. Wajah Tuhan itu?" sambil terus asyik memainkan > permainannya. > Baru saja Sang ayah berfikir, kakaknya yang sudah mendapatkan pelajaran > agama di Sekolah Dasar (SD) menyeletuk "Kalau Wajah Tuhan itu tidak > kelihatan, dan berbeda dengan manusia..." > "Jadi Wajah Tuhan itu seperti pocong,... ayah?", demikian kesimpulan > sederhana yang dianalisa oleh anak balita itu, setelah memperhatikan dua > premis sebelumnya. Kesimpulan asal jadi khas anak-anak yang boleh jadi > karena pengaruh tontonan tayangan televisi yang marak menayangkan hantu > atau misteri. > Sang ayah terkesima dengan pertanyaan yang mudah itu tetapi sulit menjawabnya. > Sang ayah berfikir keras, kenapa Tuhannya itu sulit dijelaskan kepada > puteranya? Kenapa Tuhan pilihan agamanya ini tidak ada fotonya, tidak ada > videonya seperti kebanyakan tuhan yang dianut oleh beragam agama? > [EMAIL PROTECTED]()_??????..., berjuta tanda tanya hadir dalam fikirannya, berkecamuk, > dan membuatnya tak bisa tidur! Padahal tidak ada nyamuk. > -oVo- > > Sang Ayah tentu saja sulit menjelaskan tentang Wajah Tuhan ataupun Wujud > Tuhan, karena Wujud Tuhan yang Absolut berada jauh dari pengalaman dan > pengetahuan manusia, sementara harapannya bisa mengungkapkan misteri ini > dengan logika, atau metode ilmiah yang pernah dia peroleh di bangku kuliah. > > Contohnya seperti kita saja yang saat ini tengah berada di ruangan, di atas > kita ada langit-langit atau atap, di atas langit-langit ada lapisan lain > atmosfir dan berbagai lapisan langit lainnya yang tak terbatas atau ambang > limit. Ambang limit ini adalah ungkapan kesempurnaan yang tak terbatas, > harapan ingin menguak misteri ambang limit ini adalah keingingan lepasnya > manusia dari kungkungan keterbatasan dirinya. > > Andaikan manusia mampu memasuki ambang batas ini maka ia akan tertelan > dalam Kekosongan, jati diri keberadaanya akan lenyap dalam keterbatasan. > Pada saat itu, sesuatu memudah dan tak mampu lagi didefinisikan dengan > kata-kata (fana). > > Kenapa sang ayah tak mampu menguraikan jawabannya? Karena bahasa sebagai > hasil pengalaman manusia tidak akan mampu menangkap Ketakterbatasan, karena > bertentangan dengan kodrat penalaran manusia yang selalu > cenderung mengurai, mendefinisikan dan membatasi. Tentunya sangatlah wajar > apabila sesuatu yang tak terurai, tak terungkap dan tak terbatas itu tak > mungkin tercerap oleh perangkat pengetahuan dan pengalaman manusia. Tuhan > atau Sang Wujud itu berada di luar definisi, ia hanya bisa dibayangkan, > disembah, diumpamakan, dipuji, diagungkan dan diimani. > > Rosulullah SAW pernah bersabda bahwa sangat banyak hijab atau tirai yang > menyelimutinya "Sesungguhnya pada Allah terdapat tujuh puluh ribu hijab > dari cahaya dan kegelapan." Jadi sangat sulit membahas Wajah Allah kecuali > dengan meminta kepadaNya untuk memperkenalkan Diri Nya. Di dalam agama lah > hal-hal yang menyangkut keagamaan itu diungkap. Melalui wahyu Ilahi yang > sudah diterjemahkan oleh Rosul dalam bahasa manusia, sehingga manusia bisa > memahaminya melalui perumpamaan (mitsal), tanda (ayat). Dengan cara inilah > Sang Mutlak bisa kita sapa, kita seru, kita ingat, kita hadirkan dalam Qalbu. > > Lalu bagaimana kalau sang ayah, mencoba memaksakan menalarkan tentang > Realitas Mutlak? Kalau diumpamakan, contohnya itu seperti memandang > matahari. Walaupun kelihatan dari kejauhan, dan nampaknya bisa dicerap > karena terangnya tapi apabila mata ini dipejamkan maka gelaplah yang > didapat, apabila dipaksakan maka kebutaanpun bisa menghinggapi mata kita > karena tak mampu menahan silaunya. > > Jadi, memahami Wajah Allah, cukuplah memperhatikan ciptannya (alam), > sehingga kita memahami Pengetahuan-Nya (ilmu) atau tanda-tandanya (alamat). > Karena alam adalah pertanda, maka banyak tanda-tanda pada alam (alamin) > sehingga perwujudannya banyak alam di dunia ini, alam air, alam udara, alam > benda, alam maya dan lain-lainnya seperti yang disebut dalam kitab suci Al > Quran, dan biasa kita ucapkan dalam keseharian "Alhamdulillahi Robbul > Alamin", Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam". (QS. Al Fatihah:2). > > Kembali lagi mengenai menjelaskan tentang wajah Tuhan untuk anak balita, > mungkin bisa dimisalkan seperti angin, tidak kelihatan tapi ada dan kita > merasakan keberadaannya. > > Salam, > > http://ferrydjajaprana.multiply.com > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
