Lomba Kelereng
Tujuhbelas Agustus adalah hari kemerdekaan negara kita, acara yang diadakan
satu tahun sekali ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat, baik
tua-muda, besar-kecil maupun lelaki dan perempuan.
Dari sekian banyak jenis lomba, aku paling senang menikmati acara lomba
kelereng atau gundu. Caranya yaitu membawa kelereng dengan sendok dimulut
dipasang terbalik, gagangnya yang digigit sementara ujung sendok sebagai
tempat untuk menyimpan kelereng. Biasanya ada jarak tertentu agar peserta
jalan dan melewatinya. Para peserta harus berjalan dengan hati-hati dan
kelereng tetap di dalam sendoknya.
Agar kelereng tidak keluar, maka seluruh tubuh kita harus kompak, bekerja
bersamaan, jagalah kesadaran agar kelereng tidak jatuh, tubuh harus
mengikuti gerak dan kesadaran, biasanya pada tahap ini kita fokus pada satu
hal saja dan mengabaikan yang lainnya. Apabila kita lengah melepas
kesadaran yang kompak secara keseluruhan maka biasanya kelereng akan jatuh,
dan tentunya kita akan kalah.
-o0o-
Lomba kelereng diatas adalah satu contoh paling mudah bagaimana berlatih
kesadaran.
Tahukah anda kemampuan berkesadaran ini bisa anda aplikasikan pada saat
kita beribadah, umpamanya sembahyang ataupun shalat sejak dari mengambil
air wudhu. Mulai dari berniat sampai pada sholat kesadaran kita harus di
jaga agar tidak melenceng ke sana ke mari.
Pada kejadian di atas, berawal dari niat kemudian melakukan dengan sepenuh
kesadaran, dan kesadaran yang sedang 'in flow' itu tidak terlepas dari
pandangan kita, apabila kita inflow biasanya hal-hal yang diluar fokus kita
akan diabaikan, karena semuanya berpadu menjadi satu kesadaran.
Halangan-halangan dalam bersembahyang biasanya timbul kalau kita beribadah
bukan karena kesadaran, tetapi ingin dilihat orang umpamanya (riya), maka
kesadaran terlepas. Sehingga pada saat kita bersujud, ternyata fikiran
tidak kompak ikut bersujud, tetapi melayang-layang, nah .. pada saat itu
kesadaran terlepas.
"Allah mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka.
Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan. Hai, orang-orang beriman,
rukuklah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu
mendapat kemenangan" (QS. Al Hajj, [22] ayat 76-77.
Semoga contoh itu bermanfaat, seperti juga bermain kelereng dengan rasa
suka, semestinya sembahyang juga dilakukan dalam suasana yang riang karena
justru bertemu dengan Dzat Yang Maha Kuasa, bukan lagi menjadi beban, ya kan?
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com