Dimana dikau , O, Sisca .....
Menekuni filsafatkah ..................
Menghindarkah ............
Ah, sampai hatikah ............
Marahkah kucampuri gula .........
Belum gaduk kuping, marahkah juga ?
non_sisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang
dirundung masalah Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
menceritakan semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil
segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil
segelas air.
Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya
perlahan,
"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar Pak Tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke
tepi telaga belakang rumahnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi
telaga yang tenang itu.
Sesampai di sana, Pak Tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke
telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk
air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,
"Bagaimana rasanya ?"
"Segar", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua
"Tidak, " sahut pemuda itu
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:
"Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya
segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa
pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita
rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu
akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.
Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya
ada satu yg kamu dapat lakukan;
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap kepahitan itu".
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:
"Hatimu adalah wadah itu; Perasaanmu adalah tempat itu; Kalbumu
adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg
mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi
kesegaran dan kedamaian.
Karena hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan
dengan baik sampai ajal kita menjelang?
Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik"
---------------------------------
Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car
Finder tool.