aku akan menyelubungimu seperti angin, 
lihat, sisc di sini, 
di sini juga, 
di situ juga ada 
apalagi di situ

dan ketika kau taruh tangan di dada mu, 
sisc juga ada di sana
sampai hati....

dan kalau sudah begitu, masih adakah marah ...^_^


--- In [email protected], as as <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dimana dikau , O, Sisca .....
> Menekuni filsafatkah ..................
> Menghindarkah ............
> Ah, sampai hatikah ............
> Marahkah kucampuri gula .........
> Belum gaduk kuping, marahkah juga ?
> 
> non_sisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
>  
>  Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang 
>  dirundung masalah Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung 
>  menceritakan semua masalahnya. 
>  
>  Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil 
>  segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil 
>  segelas air. 
>  
>  Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya 
>  perlahan,
>  
>  "Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar Pak Tua.
>  
>  "Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke 
samping. 
>  
>  Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke 
>  tepi telaga belakang rumahnya. 
>  
>  Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi 
>  telaga yang tenang itu.
>  
>  Sesampai di sana, Pak Tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke 
>  telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya. 
>  
>  "Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda 
mereguk 
>  air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, 
>  
>  "Bagaimana rasanya ?" 
>  
>  "Segar", sahut si pemuda.
>  
>  "Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua 
>  
>  "Tidak, " sahut pemuda itu
>  
>  Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: 
>  
>  "Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah 
layaknya 
>  segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa 
>  pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg 
kita 
>  rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan 
itu 
>  akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. 
>  
>  Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, 
hanya 
>  ada satu yg kamu dapat lakukan; 
>  
>  Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk 
>  menampung setiap kepahitan itu". 
>  
>  Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: 
>  
>  "Hatimu adalah wadah itu; Perasaanmu adalah tempat itu; Kalbumu 
>  adalah tempat kamu menampung segalanya. 
>  
>  Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga 
yg 
>  mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi 
>  kesegaran dan kedamaian. 
>  
>  Karena hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan 
>  dengan baik sampai ajal kita menjelang? 
>  
>  Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik"
>  
>  
>      
>                        
> 
>        
> ---------------------------------
> Choose the right car based on your needs.  Check out Yahoo! Autos 
new Car Finder tool.
>




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke