Semoga anda benar ..... Bulshit .... dan tak ada manfaatnya bukan berarti tak memiliki nilai. apa nilainya? tentunya anda lebih memahami
( semoga bukan nilai D atau E, karena itu ga lulus dan perlu remedial) trims... Mamat Peci Buluk... ----- Pesan Asli ---- Dari: as as <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jumat, 7 September, 2007 4:25:16 Topik: Re: Hal: [filsafat] tentang penihilan tuhan Orang sangat membutuhkan oxygen, bukan berarti ia menuhankan oxygen. Orang hidup membutuhkan nasi, tidak berarti ia menuhankan nasi Orang hidup perlu duit, tidak berarti ia menuhankan duit. Orang hidup memerlukan harta, tidak berarti ia menuhankan harta. Menihilkan Tuhan adalah cuma omong kosong bulshit tak ada manfaatnya. Mamat Peci Peci <mamat_peci_buluk@ yahoo.co. id> wrote: terima kasih atas penjelan anda yang begitu gamblang. Anda tentu paham kata-kata "tuhan" Penihilan terhadap tuhan telah ada sejak zaman para Nabi. sayangnya Nietzsche tidak membaca tentang sejarah Arabian, ia hanya tau tentang sejarah Yunani. bila ia tahu, ia pasti akan menjadi Rohaniawan. ketika penihilan terhadap tuhan mengemuka, kaum agamawan, terutama, dari kristen seperi kebakaran jenggot. karena memang ideologi mereka yang dijadikan sample begitu juga dengan Islam, ketika paham ini merambah. begitu pula dengan keyakinan lainnya. Lambat laun, bahkan sebaliknya, penihilan terhadap Tuhan (T besar), dipersepsikan sebagai "tuhan" (t kecil). tuhan (t kecil), yang diadakan oleh manusia sendiri. pemujaan terhadap tuhan bisa berupa harta, duit, atau lainnya. pertanyaanya, Siapa yang tidak mao duit? siapa yang menolak harta? kita semua memuja tuhan duit dan harta. ketika tuhan ternihilkan tidak ada surga dan neraka. selanjutnya saya serahkan ke anda untuk melengkapinya La Ilaha Ila Allah .... (tidak ada tuhan, kecuali Allah) itu adalah bentuk penihilan terhadap tuhan... ----- Pesan Asli ---- Dari: aderai daneva <iceorefenas@ gmail.com> Kepada: Filsafat <[EMAIL PROTECTED] s.com> Terkirim: Rabu, 5 September, 2007 8:59:31 Topik: FW: [filsafat] Re: Moyang kita dari Neraka, bukan Sorga. -----Original Message----- From: aderai daneva [mailto:iceorefenas @gmail.com] Sent: 04 September 2007 19:58 To: [EMAIL PROTECTED] s.com Subject: RE: [filsafat] Re: Moyang kita dari Neraka, bukan Sorga. Ketika Tuhan ternihilkan, maka tidak ada dosa dan pahala. Saya sih mau ikut nimbrung tentang nenek moyang kita "mungkin" berasal dari "neraka". Entahlah "mungkin" dan "neraka" secara ansich atau juga hanya sebagai permainan kata dalam rimba semiotika. Atau hanya gelembung kognitif dalam ruang nisbi. Atau mungkin sebuah ungkapan diskontinuitas antara tanda dan petanda sebagaimana pada fragmen: Ketika Tuhan ternihilkan, maka tidak ada dosa dan pahala. Lalu apa yang kita pegang, ketika semua dalam keadaan nihil? Ketika beradada dalam wilayah nisbi? dan hanya sekekdar gelembung kognitif belaka? Tidak ada sama sekali, saya kira, kecuali kita sendiri yang jatuh tersungkur dalam nihilisme itu sendiri. Dimana kaki kita bersandar ketika kita kena demam nihilisme? Ya, itu mungkin yang kita namakan neraka, sebuah "tanda" yang merupakan oposan dari "surga" dalam sistem opisisi biner. Sebuah wilayah dimana "Kehampaan", "Kekosongan" , "ketidakberartian" ,"kekacauan makna" atau turbolensi makna lainnya. "Neraka" di sini tidaklah berada jauh dari wilayah yang tidak terdefinisikan, melainkan berada diantara kita dan bersama kita, maka ungkapan "neraka" dalam keseharian menjadi riil. Boleh jadi nenek moyang kita berasal dari neraka ini, neraka yang terdefinisikan, atau boleh jadi surga juga memunculkan sebuah generasi baru, semacam kita, dalam sistem hereditas sosial. Sesuatu yang logis, saya kira. Persoalannya, kita tidak hanya ada dalam wilayah yang terdefinisikan, tidak hanya dalam wilayah nihilisme, melainkan juga yang tidak terdefiniskan, melampau nihilisme. Karena sesuai dengan fakta, cerapan persepsi manusia sangat dibatasi secara ansich oleh wilayah tempat persepsi itu sendiri berada dan fakta bahwa secara empiris dualisme makna hadir di mana-mana. Maka diluar sana ada sesuatu yang tidak kita pahami, mungkin itu yang dinamakan "neraka" dan "surga" dengan definisi yang lain. Boleh jadi, di sana ada Tuhan, ada neraka dan ada surga. Meski pada dimensi sekarang, kita membuat sebuah hipotesa "nihilisme", dimensi lain tidak pernah terganggu dalam keadaan yang sesungguhnya. Sebagaimana, "bulan tetap berputar" meski kita membuat sebuah hipotesa "bulan sudah berhenti berputar". Ketika Tuhan ternihilkan, maka tidak ada dosa dan pahala. hanya sebuah langkah pertama dalam permainan bahasa, yang berujung pada diskontnuitas itu sendiri. Bagaimana kita harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri kalau memang itu sebagai sebuah hipotesa yang tidak bisa diuji? Andalah yang lebih tahu. -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:filsafat@ yahoogroups. com]On Behalf Of temon_brangti Sent: 04 September 2007 16:50 To: [EMAIL PROTECTED] s.com Subject: [filsafat] Re: Moyang kita dari Neraka, bukan Sorga. Konon, cola justru mengakibatkan gas di lambung. Kalau terkena panas dalam, silahkan coba minum segelas syukur nikmat, semoga bermanfaat. --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Mamat Peci Peci <mamat_peci_ [EMAIL PROTECTED] > wrote: > > tentang neraka dan surga > > ketika tuhan ternihilkan, > maka tidak ada dosa dan pahala > pada saat bersamaan tidak ada siksaan dan kenikmatan > apa yang di siksa dan dimana disiksa? > kenikmatan apa yang di dapat, dan di mana kenikmatan itu. > karena tuhan yang menciptakan keduanya kini telah ternililkan. > > Benar apa yang dikatakan oleh Juragan ..... (sapa tuh)... > Sorga dan neraka hanya .... > dan sebuah manifestasi dari ketidakberdayaan . > > ketika filsafat ketuhanan tereliminasi oleh post .... > di mana kata-kata, bahasa dan tanda menjadi maskot > sungguh ..... neraka dan surga > bisa di katakata, dibahasa dan ditanda > > ketika disbutkan "neraka" > struktur apa yang membias darinya.. > sebuah siksaan kah, kondisi depresi, iklim yang amat panas, > kekejaman dunia, kesulitan yang bertubi-tubi, atau .... > > apa "struktur" yang kita pahami ketika kita mendengar > "hidup ini bagai neraka" > "waduh... nih panas dah kae di neraka " > > Ketika, Q mengajarkan anak-anak tentang ketuhanan > Q mengatakan. " Neraka lebih abang sukai, ketimbang Surga" > "Mengapa demikian bang" > "Lalu apa manfaatnya kita ibadah" > "yang kita harapkan selama ini kan surga" > "semua yang kita lakukan hanya untuk surga" > "abang dah gila, kali ya" > "kebanyakan makan filsafat tuh" > > Ah ..... mereka benar, mereka tdak salah .... > mereka pantas mencibirku ..... > Q hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala dibalik peciku yang semakin buluk. > > (1) ah ..... adam dan hawa aja ga betah di surga, apalagi Q... pikirku. > mungkin mereka "kepanasan bagai di neraka". > jadinya pengen turun ke bumi. > mungkin itu. > > (2) Atau memang benar nenek moyang kita dari neraka > karena jutaan taon yang lalu, bumi ini "panas bagai neraka" > > (3) Lingkungan yang sangat keras > dan berhadapan dengan species yang sangat ganas. > gelombang kelelelahan dan ketidakberdayaan yang dihadapi nenek moyang kita > untuk tetap survive sebagai species, seperti ungkapan "hidup bagai neraka" > > Semoga semuanya benar,,,,, dan semoga semuanya Salah ... > > DEMI PARA FILOSOF YANG AGUNG > berilah aku sepiring spageti .... dan segelas es cola > perut ini panas banget seperti neraka .... > > (wah neraka di perut) > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ ________ > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers. yahoo.com/ > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out. <!-- #ygrp-mkp{ border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;} #ygrp-mkp hr{ border:1px solid #d8d8d8;} #ygrp-mkp #hd{ color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;} #ygrp-mkp #ads{ margin-bottom:10px;} #ygrp-mkp .ad{ padding:0 0;} #ygrp-mkp .ad a{ color:#0000ff;text-decoration:none;} --> <!-- #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ font-family:Arial;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{ margin-bottom:10px;padding:0 0;} --> <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a{ text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc{ background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o{font-size:0;} .MsoNormal{ margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq{margin:4;} --> ________________________________________________________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
