Saya setuju adanya akal dalam diri manusia menjadikan eksistensi manusia
berbeda dari mahluk lainnya. ya manusia memang bukan hewan, bukan tumbuhan,
bukan juga benda mati. akal telah menjadikan manusia lebih 'beradab' ketimbang
ciptaan lainnya. satu hal yang menunjukkan itu adalah kemampuan manusia untuk
menciptakan sejarah, tentu saja menuliskan dan menceritakan sejarah itu. itu
sebabnya manusia mampu mengkotak-kotakkan waktu kedalam berbagai macam dan
segi. sebutlah misalnya waktu dulu, sekarang, dan akan datang. selain itu akal
juga menjadikan manusia hidup dalam berbagai kemudahan. dengan penciptaan
perangkat-perangkat mutakhir misalnya, tentu mempermudah survivel manusia.tentu
saja adanya akal menjadikan manusia ingin mengerti, memahami dirinya, sesama
bahkan Allahnya sendiri. tak ada salahnya, manusia berkecimpung pada pencarian
pemahaman akan Allah, wahyu sang Pencintanya itu. itu adalah konsekwensi dari
adanya akal dalam diri manusia. masalahnya kemudian, akal itu
tidak pernah mampu mencapai kesimpulan absolut akan obyek pemahamannya itu,
apa lagi Allah yang tak terpahami itu.sejauh akal berbicara dan memberikan
hipotesis akan sesuatu, itu pertanda akal itu masih sehat. ketika akal
berpretensi mencapai kesimpulan absolut yang tidak bisa diobok-obok,
dibicarakan, itu pertanda akal itu tidak sehat lagi.
nah sejauh ini, pembicaraan saya telah menggagas dimensi keberadaban akal
manusia. tidak ada salahnya kalau kita menatap sisi kebiadaban adanya akal
manusia. tentu kalau bukan karena akal manusia, bom atom di hirosima itu tidak
bakal terjadi. harus dikatakan karena manusia mempunyai akal terorisme, di
indoensia, bisa terjadi. sekali lagi, tidak salah mengatakan bahwa
koruptor-koruptor kelas kakap di bumi pertiwi ini, adalaha mereka yang
mempunyai akal.itulah dimensi kebiadaban akal manusia.
saya teringat lagi asumsi teman-teman penulis sebelumnya, bahwa keberadaaan
akal membuat manusia sungguh berbeda ketimbang mahkluk lainnya. benar. hanya
saja perlu dikaji lagi, akal yang bagaimana? sehat atau tidak sehat. tapi
kedua-duanya membuat manusia menjadi sungguh berbeda. yang perlu ditilik lebih
jauh adalah apakah dengan adanya akal semata lantas kita mengatakan manusia
lebih mulia ketimbang mahkluk lainnya? menurut saya itu tidak cukup. akal
hanyalah salah satu dari sekian banyak potensi yang dimiliki manusia. manusia
toh memiliki rasa, imajinasi, etc. yang tak kalah pentingnya. dan perlu diingat
bahwa 80 % dari hidup keseharian kita, imajinasi (ketaksadaran) lah yang
berkutat. 20 % adalah akal. so, akal bukan perangkat yang paling mulia dalam
diri manusia.(lihat saja obyek kajian filsuf kontemporer dan lebih menonjol
pada postmodern)
maka jika dikatakan bahwa manusia adalah mahluk yang paling mulia dialam
ciptaan ini, manusia perlu menatap dan mempertanyaakannya lagi. kesimpulan itu
tentu konsekwensi dari adanya akal manusia. tapi jangan salah, jawaban itu
adalah dari kacamata manusia dan manusia mengiakannya. tapi tidak salah juga,
jika melihat dari cipataan lainnya(binatang, hewan) melihat dari kaca mata
mereka bahwa mereka (binatang, hewan) adalah cipataan lebih mulia dari manusia.
itu saja, TKU
Muhammad Friss <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bodoh!
----- Pesan Asli ----
Dari: as as <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 7 September, 2007 12:03:06
Topik: Re: [filsafat] KEDUDUKAN WAHYU DAN AKAL
Sudah jelas karangan manusia, kok diakukan sebagai wahyu.
Istilah zaman sekarang adalah 'pembohongan publik'.
qalam26 <[EMAIL PROTECTED] s.com> wrote:
 & #61601;&# 61646; 
& #61475;  & #61557;&# 61512; &
#61607;&# 61581; & #61475;  & #61647;&#
61549; & #61497;&# 61476;  
KEDUDUKAN WAHYU DAN AKAL
Manusia adalah mahluk yang memiliki akal. kecerdasan akal
manusialah yang telah menempatkan manusia pada posisi yang mulia di
dunia dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan. Dengan kemampuan akal
inilah manusia dapat mengembangkan ilmu alam dan teknologi. Namun
akal tidak serta merta mampu membuat manusia memahami hakikat
eksistensinya. Hakikat eksistensi manusia tidak dapat di capai dengan
menggunakan refleksi dan perenungan rasional semata.
Hikmah dibalik eksistensi manusia didunia tidak pernah bisa
difahami dan dicapai dari penalaran rasional belaka dan imajinasi
hawa nafsu, oleh karenanya manusia seringkali tersesat dalam memahami
fenomena alam seperti gunung matahari dan bulan yang mereka anggap
sebagai sesembahan dan tuhan. Mungkin saat ini manusia menyembah
Materi (uang, Harta, Sex dan kekuasaan).
Manusia juga tersesat dalam memaknai posisi dan kedudukannya dirinya
didunia, ia beranggapan bahwa dunia hanyalah untung-rugi material,
tujuan menghalalkan cara, yang kuat yang bertahan yang lemah
terseleksi oleh alam, hak ada dalam kekuasaan, Tujuan hidup adalah
kehendak berkuasa, hidup adalah mencari kenikmatan. Sekali lagi semua
ini tidak memiliki dasar apapun kecuali hawanafsu manusia yang
dikokohkan oleh akal.
Akal merupakan ciptaan tuhan, karena tidak mungkin keteraturan yang
amat mendetail hingga tingkat matematis dari hukum alam itu ada
kecuali dengan adanya tuhan sebagai pencipta dan pengatur sekalian
alam beserta hukum-hukumnya.
Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri dan tidak tercipta dari
ketiadaan
 & #61478;  & #61664;&#
61481; & #61668;&# 61562;  & #61506;
 & #61581;&# 61560;  &
#61651;&# 61560;  & #61478; 
& #61540;  & #61664;&# 61481; &
#61627;&# 61561; & #61497;&# 61476; 
& #61640;
35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri)?
Hakikat dari eksistensi manusia hanya dapat difahami dengan
perantaraan wahyu dari tuhan (Alloh.SWT). Filsafat yang dibuat oleh
manusia sebagi upaya pencarian makna dan hikmah dari eksistensi
manusia tidak akan mencapai suatu kepuasan dan ketetapan hati, karena
akal tidak berfungsi untuk menetapkan hukum dan penetapan makna hidup,
yang berhak menentukan hukum dan makna hidup adalah tuhan dan tuhan
tidak membiarkan ciptaannya itu hidup tanpa di beri petunjuk (wahyu).
 & #61557;&# 61554;  &
#61481;&# 61550; & #61562;  & #61543;&#
61688; & #61475;  & #61517;&#
61565; & #61557;&# 61554;  & #61481;
 & #61663;&# 61577; & #61687;&#
61672; & #61647;&# 61497;  & #61640;
56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi (menyembah) kepada-Ku.
Manusia dan akalnya diciptakan oleh tuhan untuk menjalankan syariat,
hukum dan mengibadahi tuhan. Dan tidak perlu lagi manusia membuat-
buat makna dan hukum selain yang telah ditetapkan oleh alloh. Akal
diciptakan oleh tuhan agar manusia dapat memahami Wahyu dan bukan
untuk menentang dan menandingi wahyu.
Salah satu produk akal adalah filsafat, pada batas-batas
tertentu filsafat mungkin berarti, tapi filsafat sebagai bentuk
pencarian eksistensi kehidupan manusia secara umum dan mutlak adalah
suatu bentuk kesalahan. Karena makna hidup tidak dapat difahami oleh
akal yang terlepas dari bimbingan wahyu dan petunjuk alloh.
Katakan siapa yang lebih memahami akan hakikat dan makna hidup ?
apakah manusia? Alam ?
Atau Pencipta manusia dan Alam yang selalu mengawasi manusia diatas
langit?
Apakah mahluk yakni akal dapat menghakimi tuhan sebagai pencipta
dirinya?
 & #61501;&# 61561;  &
#61564;&# 61601; & #61565;&# 61476; 
  & #61695;&# 61685; & #61522;
 & #61646;&# 61482;  
& #61540;  & #61637;&# 61633; 
 & #61646;&# 61495;  

4. Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi
pembantah yang nyata.
(An-Nahl: 4)
Itulah sebuah tragic dimana mahluk yang berasal dari air yang
hina (mani), lalu mencoba melawan tuhan dengan akal yang juga
ciptaannya? Sungguh ironis...
Kadang aku melihat filsafat sebagai upaya perlawanan manusia terhadap
tuhan, yakni dengan mengklaim bahwa akalnya dapat mencapai kebenaran
dan esensi dari eksistensi tanpa bimbingan tuhan (wahyu/Al-quran) .
Lalu sebuah kesombongan besar dari manusia dengan mengatakan
bahwa rasio adalah pusat dari keberadaannya (RASIONALISME) , dan
menjadi tolak ukur dari segala sesuatu.. yakni moral, etika dan hukum.
Sekali lagi semua itu adalah sebuah kesombongan manusia, ia
menganggap dirinya serba cukup
 & #61486; â¢ 
 & #61564;&# 61601; & #61565;&#
61476;  & #61686;&# 61684; &
#61578;&# 61555;    
 & #61557;&# 61668;  
& #61535;&# 61688; & #61511;&# 61683; &
#61475;  
6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. karena Dia melihat dirinya serba cukup. (al-Alaq 6-7)
Manusia telah melampaui batas karena menganggap akalnya dalam
bentuk filsafat itu cukup dan mampu mencapai kebenaran tanpa ada
bimbingan dari Alloh. Atau ia melampaui batas karena ia telah
menggagap wahyu dari tuhan ini tidak sempurna sehingga ia perlu untuk
mencari-cari lagi akan kebenaran dan makna hidup dari yang diluar
wahyu yakni akalnya (filsafat).
Tuhan menciptakan akal bukan untuk menentang dan menyerang wahyu
atau menciptakan aturan hukum sendiri yang terlepas dari petunjuk
tuhan (wahyu). Tapi akal diciptakan Tuhan agar manusia manusia mampu
memahami dan menjalankan aturan dan hukum yang ada didalam wahyu
tersebut.
Sungguh filsafat adalah jalan panjang yang gelap, rumit dan
berliku-liku sangat mengerikan dimana kita terjebak dalam sebuah
imajinasi dari penulis yang tidak berujung pangkal, mengapa kita
tidak mencari jalan yang mudah yakni ISLAM DAN SUNNAH.
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.