FILSUF, KEANEHAN DAN KEAHLIAN
Filsuf identik dengan keanehan. Di Jerman saja seorang filsuf sering
dikatakan orang gila. Tentu saja pandangan ini tidak dapat disalahkan jika
melihat kehidupan para filsuf yang nyentrik. Misalnya saja Immanuel Kant,
selalu melakukan aktivitasnya tepat waktu, sehingga orang-orang disekelilingnya
dapat mencocokkan arlojinya dengan memperhatikan apa yang sedang ia kerjakan.
Konon Schopehoer selalu tidur dengan senapan disampingnya dan setelah selesai
menikmati hidangan dari pembantunya ia selalu meletakkan uang logam di atas
meja makannya. Soren Keikeggard memutuskan pertunangannya tiba-tiba karena
merasa menikah dengannya bakal membuat kekasihnya menderita.
Ternyata filsuf yang aneh tidak hanya terjadi di luar negeri ternyata di
Indonesia terjadi hal yang sama. Seorang filsuf yang cukup serius, yang juga
seorang pengajar filsafat di UI, pada suatu ketika diajak sang istri bersantai
sejenak menonton ke bioskop berduaan Maksud si istri biar si suami tidak
terus-terusan berpikir. Si suami, si filsuf, memaui, dan merekapun pergi nonton
berdua dan memilih film yang agak romantis.
Pada awalnya si filsuf tampak menikmati film dan ia sering memberikan
komentar pada istrinya setiap ada adegan yang menarik. Tapi lama- kelamaan ada
yang aneh, suara si filsuf tidak lagi terdengar. Pada awalnya si istri berpikir
barangkali si suami mulai tidak menikmati dan tertidur tapi begitu ia melirik
ke sebelahnya ternyata si suami tidak lagi ada di bangkunya. Barangkali mungkin
ke kamar mandi pikirnya. Namun setelah ditunggu-tunggu ternyata si suami tidak
muncul juga. Tiba-tiba hpnya berbunyi ternyata ada sms dari suaminya dan
membuat si istri terkejut. Si suami alias si filsuf ternyata telah berada di
rumah dan sedang berada di depan komputer. Ia memutuskan pulang karena ia
tiba-tiba mendapatkan inspirasi setelah melihat salah satu adegan percintaan
pada film yang mereka tonton hari ini. Takutnya inspirasinya hilang.
Filsuf yang Membingungkan
Tingkah polah filsuf memang kadang sulit dipahami demikian halnya dengan
pemikiran mereka. Seorang filsuf sering menjadikan persoalan sederhana menjadi
demikian rumit. Kejadian remeh seperti apel hijau di atas meja oleh filsuf
dapat dikaitkan dengan persoalan epistemologi, persoalan percintaan dikaitkan
dengan fenomenologi. Sangking rumitnya pemikiran mereka sampai harus
menggunakan bahasa-bahasa yang aneh bagi pendengar awam untuk menyampaikan
pemikiran mereka. Ke-ada-an, mengada, eksistensi mendahulu esensi, meontologi,
ontologi, pengada yang ditiadakan. Tentu saja kondisi ini semakin memperkuat
citra kegilaan filsuf, karena saat berguman ngelantur, aneh, seperti suara
dengungan troton, tanpa arti layaknya gumanan penderita sczhopernia.
Namun demikianlah adanya seorang filsuf. Bahwa ia unik karena pemikirannya
berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Mereka memiliki tingkah yang nyentrik
karena mereka berani memiliki sikap yang berbeda. Hal ini karena mereka
senantiasa meragukan segala sesuatu yang telah mapan sehingga keunikan
perilakunya cerminan sikapnya yang berbeda terhadap kenyataan hidup sehari-hari
dari apa yang dipahami oleh orang awam.
Tapi umumnya mereka adalah orang baik-baik yang memiliki idealitas tinggi.
Banyak dari mereka menghabiskan waktu untuk memikirkan persoalan kemanusiaan.
Pikiran mereka sangat peka untuk merasakan keterasingan hidup manusia yang kita
sendiri kadang tidak menyadarinya. Banyak filsuf menyadarkan kita tentang
berbagai bentuk ketidakadilan dan bentuk-bentuk dehumanisasi dalam hidup kita.
Marx telah menimbulkan kesadaran adanya eksploitasi pekerja dalam sistem
kapitalisme. Menurut Marx pekerja mengalami keterasingan terhadap apa yang
dihasilkan, ia bekerja bukan merefleksikan kediriannya, melainkan menjadi hamba
bagi pemilik modal, yang berusaha meningkatkan profit melalui apa yang
dihasilkannya dan dengan membayar upahnya tidak pada tingkat yang seharusnya.
Sartre demikian Nietzche mengkritik keabsolutan ilmu pengetahuan yang telah
membatasi keanekaragaman pemahaman terhadap realitas. Pengetahuan akhirnya
mendehumanisasi manusia itu sendiri dengan menjadikannya sebagai tubuh mekanis
semata. Menurut mereka konsep manusia tidak pernah bersifat mutlak, bahwa
manusia adalah individu yang terus mewujudkan dirinya.
Budrillard seorang filsuf posmo, menyadarkan kita pada dunia teknologi
informasi yang menjerumuskan kita untuk ingkar pada yang real dan hanyut pada
hyperreal yang menghambat pembentukan sikap-sikap natural, keibaan yang alami,
kebahagiaan yang wajar karena sesuatu yang tidak eksis telah menjadi dunia
pembentuk kesadaran. Hal ini menimbulkan resiko manusia diperbudak si pencipta
dunia hiperreal, dan kemudian kehilangan dorongan alami untuk merenungkan dunia
dan mengubahnya kearah yang lebih baik.
Hanya saja tidak banyak orang yang memahami pikiran para filsuf. Sehingga
banyak filsuf yang berjiwa humanis dan memiliki wawasan yang cukup menyentuh
sisi kemanusiaan akhirnya tidak mampu menyebarluaskan ide-idenya. Pemikiran
mereka berhenti pada jurnal-jurnal filsafat yang jarang dibaca oleh orang awam.
Hingga akhirnya yang mereka lakukan hanyalah terus berpikir, merenung, larut
dalam kesendiriaan namun tidak pernah mampu memberikan kontribusi nyata bagi
perubahan kehidupan manusia.
Untung saja ada sejumlah filsuf yang dianugrahi bakat alam untuk menulis
ide-ide secara jelas dan dapat dipahami oleh mereka yang memiliki pengetahuan
filsafat terbatas. Mereka membuat buku, dan cukup banyak dibeli bahkan ada yang
sampai diterjemahkan ke sejumlah bahasa Filsuf yang demikian misalnya Faucault,
Budrillard, Karl Marx, Sartre atau Bernard Russel. Pemikiran mereka tidak saja
menjadi bahan perbincangan formal di universitas filsafat melainkan juga
menjadi bahan pembahasan santai di kalangan intelektual muda, sekaligus
menginspirasi mereka di bidang yang lain seperti sastra, arsitektur, dsb.
Ada juga filsuf juga yang memiliki bakal alami berbicara dengan mempesona dan
penuh daya tarik. Ruang kelasnya selalu dihadiri banyak orang, tidak saja dari
bidang filsafat namun juga dari bidang-bidang lainnya. Hegel dan Kant memiliki
kualitas demikian, kuliah mereka selalu ramai dihadiri mahasiswa demikian
halnya dengan Faucault, Bernard Russel, Witgenstin yang kehadiran mereka pada
seminar ilmiah selalu ditunggu banyak orang sehingga pemikiran mereka dapat
tersebar ke berbagai bidang. dan tidak dalam bentuk ide filsafat melainkan juga
diinterpretasikan ke berbagai bentuk ekspresi lainnya.
Konsepsi Derrida tentang dekonstruksi menginspirasi sejumlah arsitektur muda
menciptakaan bentuk bangun yang melanggar batas-batas umum, sehingga
terciptalah rumah berbentuk kubus, kapsul atau yang bermaterikan kaca. Bahwa
oleh Derrida mereka diajak untuk menginterpretasikan kembali bentuk-bentuk yang
telah mapan.
Opini terhadap Keberadaan Filsuf
Kehadiran filsuf harus berdampak terhadap perbaikan masyarakat. Namun ini
mustahil terjadi jika filsuf hanya berkutat dengan pikirannya sendiri, dan
membiarkan perkataannya tidak dimengerti, atau tulisan menjlimet yang akhirnya
hanya menumpuk begitu saja sebagai file-file koleksi pribadi. Oleh sebab filsuf
harus memiliki tujuan menyebarkan pengetahuannya dengan cara-cara yang dapat
diterima oleh kebanyakan orang dan mengembangkan kemampuan terkait hal
tersebut. Sebuah pemikiran harus dibuktikan, tidak saja melalui preposisi logis
melainkan pada keterarahan pada realitas.
Oleh sebab itu tugas filsuf tidak hanya berpikir untuk mencari kebenaran
dalam dirinya melainkan mewujudkan kebenaran itu pada realitas melainkan juga
membagikan pengetahuan untuk memberikan pencerahan. Oleh sebab itu seorang
filsuf seharusnya tidak saja memiliki pengetahuan juga keahlian menyebarluaskan
idenya secara efektif. Para filsuf memiliki banyak pilihan untuk bisa
menyampaikan ide baik secara verbal maupun secara lisan. Atau mencoba
mengekspresikan ide-idenya melalui karya seni seperti melalui novel, drama atau
lukisan seperti yang dilakukan marcel Gabriel atau Camus. Atau dengan aktif
melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Tujaunnya agar dapat bertemu dengan
banyak orang sekaligus menyebarkan ide-ide secara tidak langsung melalui
hubungan interpersonal.
Filsafat adalah awal dari segala pengetahuan dan berakhir pada seni. Sebuah
ide akan menjadi praktis adakalanya tidak terkait pada kualitas sebuah
pemikiran melainkan bagaimana seorang filsuf dikaruniai kemampuan menyebarkan
idenya kepada orang-orang di bidang lain atau di bidang yang lebih aplikatif
dan menciptakan pengikut-pengikut setia di berbagai bidang. Oleh sebab itu juga
merupakan tanggung-jawabnya seorang filsuf untuk mengembangkan keahlian
menyebarkan ide-ide agar bisa diterapkan. Sokrates menyadari tanggung jawab
tersebut maka tidak lelah untuk menghabiskan waktu untuk berdiskusi pada siapa
saja yang ia temuai khususnya orang muda dengan mengajukan pertanyaan sederhana
yang berkembang pada pertanyaan yang medasar. Ia berhasil mengaspirasi banyak
orang termasuk salah satunya Plato sehingga pemikirannya tetap abadi hingga
saat ini meskipun ia tidak pernah menuliskan buku.
Oleh sebab filsuf tidak cukup hanya berpikir menemukan dimana kebenaran itu
berada namun juga mengaktualkan kebenaran yang ia sarikan, karena kebenaran itu
senantiasa terarah ke luar. Bahwa ide absolut harus mengambil bagian di dalam
sejarah. Apa yang real adalah yang rasional dan yang rasional adalah yang real.
Maka filsuf harus mempraksiskan pemikirannya melalui cara-cara yang tepat bagi
dirinya.
(Hendra, penggemar Filsafat www.moanbb.blogspot.com )
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!