“Negara Kesejahteraan: 
  antara Globalisasi dengan Kemiskinan”
   
  Globalisasi sering dijadikan alasan untuk mengubur peran negara: negara sudah 
mati –apalagi negara kesejahteraan. Ini separuh benar, apalagi jika kita 
melihat kekuatan korporasi raksasa. Kekuatan korporasi raksasa ini bahkan 
melebihi kekuatan anggaran dan/atau fiskal anggaran. 
   
  Tapi separuh yang lain tentu saja salah. Pertama, krisis keuangan yang 
belakangan ini jelas menunjukkan bagaimana korporasi yang melakukan kegiatan 
keuangan dalam pasar derivatif harus menanggung kerugian yang besar. Kedua, 
negara yang lalai melakukan pengawasan yang efektif terhadap korporasi dan 
pasar uang akan ‘menuai badai’ –sekali lagi dengan mengambil contoh krisis 
keuangan yang bermula bulan Juli lalu. 
   
  Selain itu, negara yang giat memperkuat peran dan fungsinya, tanpa harus 
menjadi otoritarian, menuai hasil yang luar biasa. Brasil, negara dengan beban 
hutang raksasa dan angka kemiskinan yang mencengangkan, dalam waktu 20 tahun 
menjadi negara superpower Amerika Latin. Dalam perundingan WTO, Brasil menjadi 
negara Amerika Latin satu-satunya yang dapat melakukan bargaining efektif 
terhadap Uni-Eropa dan Amerika Serikat. 
   
  Jadi dimana dan bagaimana negara-kesejahteraan mampu secara efektif 
memecahkan masalah kemiskinan? 
   
  PSIK mengundang Saudari-Saudara untuk hadir dalam diskusi Welfare-State 
(Negara Kesejahteraan) pada:
   
  Waktu               : Kamis, 8 Nopember 2007
  Pukul                : 19.00-21.00 
  Tempat             : Ruang Granada (Rektorat) Universitas Paramadina, 
   
  Makalah dibagikan pada saat diskusi dilangsungkan. 
   
   
  Contact Person: Sunaryo (081808555478)
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke