Sejarah manusia adalah sejarah nalar yang bergumul dengan geriak
tanda. Himpunan tanda kerapkali merupakan sketsa yang menegur ingatan
kita tentang eksistensi sebagai anak haram absurditas, anyir,
cemasâ—dan itu berarti dengan serta-merta di pecah sekaligus
dilupakan. Pada akhirnya, pemaknaan nalar acapkali adalah penundaan
ketidakpastian dalam jeda, untuk mengatakan bahwa hidup ini berharga,
bermakna dan kita berharap untuk keutuhan iman tentang makna,
kepastian, tentang Tuhan. Namun, pembacaan atas riwayat iman kerapkali
pembacaan atas bayang-bayang masa lalu dengan gemetar nalar yang
samar, mungkin atau bahkan entah. Memang, sebuah gamang yang sublim;
sebuah dramaturgi "masokisme" dalam kompromi, sebut saja begitu..

Persoalannya, di sisi lain, keberadaan iman hanya berupa sebuah
mekanisme "estafeta kesadaran" (atau mungkin anda lebih suka
menyebutnya ideologisasi-doktrinal?) yang dalam kondisi keterdesakan
akan rasa cemas dan gentar terhadap misteri dan "ancaman" realitas,
kita mesti menerima segenap sabda sebagai gema yang ternyata tak
pernah tersentuh, apriori dan disini kita tak henti berkelindan dengan
tafsir sebagai—sebut saja—judi! Maka, kelak kita hanya menerka,
menghimpun sekedar bayang-bayang tentang firman yang tak kunjung utuh
(dan kita tak henti bermain diatas, meminjam celoteh Derrida, "papan
catur tanpa dasar". Rumit, memang. Tapi kita harus menerimanya, meski
terkesan cukup pongah dan konyol.

Namun kita tahu, konon, Tuhan bernyanyi di luar sejarah. Di dunia ini,
di dalam sejarah, manusia menari menebar bermilyar tafsir (agama),
blingsatan dalam tebakan-tebakan teologis. Adalah kitab suci—yang
dianggap sebagai refresentasi pesan metafisik—telah demikian tak utuh
dalam tafsir pergumulan historis. Tuhan, pada akhirnya, menjadi
konsep, menjadi agama, menjadi ayat-ayat beku, menjadi teks (dan di
ranah itu Tuhan mungkin menjadi bedebah, galak atau bahkan bisa
memalukan!). dan kita tahu pula bahwa teks telah sendirian, Tuhan raib
entah kemana; "Sang pengarang," bisik Barthes, "telah mati." Maka,
sebuah kunci kebenaran begitu sunyi; sebuah otoritas primer telah
menguap dalam bisu, senyap dan kekal. Lantas, benarkah ambivalensi
sejarah kian tegas meniscayakan dinamika tafsir di satu sisi, dan di
sisi lain menjadi arena eksekusi sang pemegang hegemoni tafsir
terhadap pluralitas (pe) makna (an)?

Sejarah manusia punya banyak fragmen kekalahan dengan sepenuh
kegelisahan tentang pertanyaan diatas. Terlalu banyak orang yang punya
alasan yang cukup untuk merdeka menjadi penafsir; selalu, mereka
berhadapan dengan otoritarianisme tafsir agama. Namun kita tahu,
ikhtiar mereka untuk berijtihad dengan merdeka pada akhirnya harus
ditebus oleh caci maki, keterasingan, penindasan, marjinalisasi,
penghakiman atau bahkan berhenti dalam kematian. Celakanya para tokoh
ulama yang mengklaim punya wewenang untuk menyeleksi tafsir dapat
sekaligus menjadi "olisi aqidah". Dan para tokoh agama yang dianggap
otoritatif dalam tafsir-menafsir itu meraung dengan kekuatan despotiK
yang punya potensi memaksa terhadap "yang lain", bahkan destruktif.
Ada banyak golongan atau aliran keberagamaan yang sempat mencicipi
"kebrutalan" kelompok lain hanya karena perbedaan pendapat. Muncul
fatwa dan menggeliat dari para tokoh agama yang merasa kebakaran
jenggot menghadapi perbedaan; mereka yang kerapkali mendaku tafsirnya
sebagai "suara Tuhan". Mereka yang tak lagi berbicara tentang Tuhan,
melainkan ngomong "atas-nama-Tuhan" atau bahkan seolah-olah menjadi
"mulut" Tuhan itu sendiri.

Namun, terlepas dari persoalan diatas, pada akhirnya saya percaya
bahwa tafsir, bagaimanapun juga, merupakan reduksi. Tesis tersebut
telah jauh hari di lontarkan oleh kalangan pasca-strukturalis bahwa
"Setiap penafsiran adalah perkosaan". Ketika sang penafsir berpelukan
dengan teks-teks keagamaan, sesungguhnya di situ telah terjadi semacam
"perkosaan" teks: otonomi teks di nafikan, dan kandungan makna teks
disesuaikan dengan maksud dan kehendak (atau ambisi) sang
penafsir—sebuah perselingkuhan antara teks dengan kepentingan kurapan
manusia yang profan. Lantas tafsir mana yang benar, yang shahih? Atau
benarkah tafsir kita memang tidak pernah tepat menyentuh seluruh
bentuk utuh firman-firman? Tidak akan pernah. Siapa yang dapat
menjamin bahwa tafsir yang paling edun dan diucapkan oleh penafsir
yang popular sekalipun tak akan salah? Toh kita hanya menafsir; setiap
kepala punya tafsirnya sendiri, maka tak heran banyak perbedaan
tafsir. Itu bukan persoalan; yang patut dipersoalkan, tentu saja,
selembar tafsir yang dianggap agama itu sendiri, Tuhan sendiri. Maka,
kita benar-benar terlalu angkuh jika telah merasa "memiliki" Tuhan
dengan lengkap, Tuhan it`s self, sembari membunuh tafsir yang lain.
Namun, bukannya tidak harus selektif terhadap tafsir; ada tafsir yang
tak berangkat dari akal dan hati nurani dan rasa kemanusiaan, tafsir
yang jumud. Mari menafsir terus-menerus!!



******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke