Note: forwarded message attached.
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--- Begin Message ---
   RAHASIA LANGIT
  

  Oleh:
  Audifax
  Penulis buku “Imagining Lara Croft” (2006) dan “Semiotika Tuhan” (2007)
  

  

  

  Sastra Gendra
  Hayuningrat sun regem tangan tengen
  Klakon gendra tlatah kapujanggan
  Nalika sun gedrug punjer unyering bumi
  Kanyatan
  Ilang kabeh pangimpening
  wong kang nedya memungsuh buyut-sun
  

  Alkisah, Wisrawana jatuh cinta pada Dewi Sukesi, putri Alengka. Begawan 
Wisrawa, Ayah Wisrawana, tak tega melihat Wisrawana bersimbah rindu dan harap. 
Maka, Begawan Wisrawa mengajukan diri untuk meminang Dewi Sukesi sekaligus 
mempertaruhkan kekaribannya dengan Prabu Sumali, ayah Dewi Sukesi. Begawan 
Wisrawa berangkat mengalahkan Arya Jambumangli dan merebut hak memiliki Dewi 
Sukesi. Sebagai ayah, ia ingin membawa Dewi Sukesi dan menghadiahkannya pada 
Wisrawana, putra yang dikasihinya.
  

  Kasih Begawan Wisrawa pada putranya begitu besar. Sayang, batas antara kasih 
dan birahi begitu tipis dan tak terumuskan. Begawan Wisrawa tergoda memangsa 
Dewi Sukesi di bilik rahasia. Bahkan ia bersedia membuka rahasia langit dalam 
Sastra Gendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebagai pemenuhan syarat yang 
diajukan Dewi Sukesi. Namun, swargaloka mencegah dengan mengirim sepasang dewa 
merasuki dua insan di bilik rahasia itu sehingga alih-alih rahasia langit itu 
terbuka, yang terjadi justru birahi berapi-api. Lalu, bukan hanya Wisrawana 
yang mesti terpenggal dari cintanya, lebih jauh, dari persenggamaan itu 
lahirlah: Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka yang membawa angkara ke dunia.
  

  Kisah Begawan Wisrawa-Sukesi-Wisrawana itu, memunculkan pertanyaan:
  

  Haruskah kasih disemai dengan air mata, agar tumbuh menjadi jiwa-jiwa penuh 
nyawa?
  

  Benarkah cinta harus diuji dengan duka lara, agar kita tahu ujung sebuah 
setia?
  

  Benarkah ada rahasia dari tata-indera untuk menguak renik perasaan, sehingga 
kita tak bisa berbuat apa-apa tanpa mengenal inti segalanya?
  

  Benarkah ada jalan yang harus dilewati dalam kabut dan ketakpastian wujud 
untuk sebuah impian, untuk sebuah harapan, agar tujuan berkemampuan menjanjikan 
sebuah pertemuan yang menggembirakan?
  

  Itulah pertanyaan-pertanyaan yang menggenang ketika kita menapaki hubbu.
  

  HUBBU, CINTA
  ‘Hubbu’ adalah sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti ‘Cinta’. Mashuri 
mengambil kata ‘hubbu’ sebagai judul novelnya yang menjadi juara pertama 
sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Pada 9 Maret 2007 di Taman Ismail 
Marzuki Jakarta, Hubbu dinobatkan sebagai pemenang pertama mengalahkan 249 
naskah. Pada bulan Agustus 2007, novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka 
Utama. Kekuatan ‘Hubbu’ terletak pada bagaimana novel ini berkisah tentang 
hasrat dan cinta yang begitu tipis layaknya yang terjadi antara Begawan 
Wisrawa-Sukesi-Wisrawana.
  

  Triadik Ayah-Ibu-Anak pada Begawan Wisrawa-Sukesi-Wisrawana terulang kembali 
dalam kehidupan Abdullah Sattar alias Jarot. Dilatari budaya santri yang kuat, 
Jarot menghadapi berbagai konflik psikologis ketika cinta dan hasrat hadir 
serta dunia luar pesantren terbuka di depan matanya. Pernikahan Jarot dan 
Zulaykha yang melahirkan Aida, seolah melahirkan kembali pula persoalan yang 
dialami Wisrawana. Tema ‘anak yang terpenggal dari cinta Ibu’ sama-sama dialami 
Aida dan Wisrawana.
  

  Meski triadik Ayah-Ibu-Anak seringkali dengan mudah bisa dijelaskan dengan 
konsep Sigmund Freud, namun kali ini tidak demikian. Aroma freudian memang 
masih ada, namun dalam hubbu, apa yang diungkapkan Julia Kristeva lebih terasa 
mampu menjelaskan realita yang ada. Kuncinya terletak pada bagaimana Kristeva 
menengarai ada dua jenis ayah yang menempati posisi sama pada triadik 
Ayah-Ibu-Anak. Ayah jenis pertama adalah ‘Ayah-Imajiner’ sedangkan ayah jenis 
kedua adalah ‘Ayah-Simbolik’.
  

  Kristeva menjelaskan bahwa Ayah-Imajiner berbeda dengan Ayah-Simbolik seperti 
dijelaskan Lacan. Jika Ayah-Simbolik berada dalam tata-bahasa, Ayah-Imajiner 
justru berada di luar tata-bahasa. Ayah-Imajiner adalah arche atau yang 
mendahului bahasa. Aroma platonian juga tampak pekat dalam pemikiran Kristeva. 
Ayah-Imajiner bisa disejajarkan dengan konsep Idea dari Plato.
  

  Tokoh Begawan Wisrawa dan Jarot, bisa digunakan untuk memahami lebih jauh 
Ayah-Imajiner dan Ayah-Simbolik. Pada keduanya kita bisa melihat bahwa ada 
kalanya Ayah-Imajiner terasa ada meski tak ternarasikan dalam bahasa. Ada 
kalanya hasrat mereka tampakkan di realita, namun ada juga kala cinta terasa 
ada meski tak bahasakan di realita.
  

  PERTARUNGAN HIDUP
  ‘Hubbu’ adalah sebuah pergulatan antara upaya manusia untuk menalar hidupnya 
dan keterkaparannya di hadapan hal-hal yang tak mampu dinalarnya. Dan manusia 
pun selalu dilanda keragu-raguan saat panggilan dharma menyentaknya, saat ia 
mesti bertarung menghadapi hidup, menghadapi ke-manusia-annya sendiri.
  

  Tapi, seperti Arjuna yang merasa ragu untuk maju berperang, kita bisa belajar 
mengatasi keraguan itu pada kata-kata Kresna dalam Bhagavad Ghita:
  

  “Hai Arjuna, bagaimana dan dari mana kamu dapat merasa putus asa dan 
ragu-ragu setelah kamu menghadapi musuhmu?
  Lenyapkanlah segala rasa rendah diri dan nista, karena itu tidak pantas, 
tunjukkanlah sifat kejantananmu. Angkatlah senjatamu, majulah perang dengan 
gagah berani.’
  

  Dalam ‘hubbu’, Kita diajak untuk melihat bahwa di setiap keraguan menghadapi 
pertarungan hidup, selalu ada ‘kata-kata Kresna’ itu di dalam diri kita. 
Kata-kata yang berasal dari sebuah nama tunggal. Nama yang demikian kita kenal 
namun tak kuasa kita lafalkan. Nama yang sering kita dendangkan manakala 
sendiri dan dihantui sunyi. Nama yang berbicara kesejatian...hubbu.
  

  Hayuningrat klakon dadi roh rah karuh sun
  Gendra tlatah kapujanggan nalika kabeh wong
  Gandrung memuji aji gusti kang nyawij
  Mring jatining urip sun tan pati selawase
  

  

  

  © Audifax - 6 November 2007
  

  

  Bersama dengan ini, saya mengundang anda untuk mendiskusikan esei ini di 
milis Psikologi Transformatif. Bagi anda yang berminat bergabung dengan diskusi 
di milis Psikologi Transformatif, silahkan klik: 
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif. Sedikit info mengenai milis 
Psikologi Transformatif dapat anda baca di bawah ini.
  

  

  

  Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
  Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh 
Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi 
Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah 
berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di 
Indonesia. Total member telah melebihi 2000, sehingga wacana-wacana yang 
didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa 
dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau 
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di 
sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di situ 
psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan 
menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan 
yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.
  

  Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat 
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk 
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual 
menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan 
disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. 
Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi 
transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan 
mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah 
terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium 
Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul 
Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam 
milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Nuruddin Asyhadie, Mang Ucup, 
Goenardjoadi Goenawan, Ratih Ibrahim, Sinaga Harez Posma, Prastowo, Prof 
Soehartono Taat Putra,
 Bagus Takwin, Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix 
Lengkong, Hudoyo Hupudio, Kartono Muhammad, Helga Noviari, Ridwan Handoyo, Dewi 
Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, 
Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Lan Fang, Lulu 
Syahputri, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie 
Iriana, Yunis Kartika dan masih banyak lagi
  

  Perhatian: Milis ini tak ada moderator yang mengatur keluar masuk member. 
Setiap member diharap bisa masuk atau keluar atas keputusan dan kemampuan 
sendiri.
  

  Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
  

  www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
  

  

  


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--- End Message ---

Kirim email ke