"PulangÂ…adalah sebuah transit melalui ke-berbeda-an", demikian kutip Goenawan 
Muhammad dari Heidegger (yang berbicara tentang arus Sungai Danube yang disebut 
dalam sajak Hölderlein, der Ister). Goenawan sebenarnya sedang berbicara 
tentang rantau, tentang tempat yang dijelang dan sebuah rumah yang dibangun 
dari ke-berbedaan, kebhinekaan, dan yang fana. Juga laut yang membentang antar 
benua-benua, sebuah pemisah, tapi juga pengikat dan penghubung. Ketika sebuah 
jarak menjadi demikian sakti. 
   
  Ente tentu bersepakat bahwa kita selalu harus progresif, maju, dan kadang 
militan. Untuk sebuah ruang ideal, perlu memang kita meledak-ledak, 
mengacung-acungkan tinju, sesekali, sewaktu-waktu. Namun apa sebenarnya 
progresif, maju, ideal? Apakah ia sekedar berubah? Atau mengganti baju yang 
usang dan sumuk? Atau memilih wajah yang lebih baru dan segar? 
   
  Seseorang pernah berkata, "Kita berbuat karena digerakkan oleh sederet yang 
mustahil". Kejayaan, kemenangan, keadilan, dan hal lain-lain yang ideal itu 
kata-kata yang sakti. Ia bisa menyulut perang, seperti revolusi Rerancis yang 
berdarah-darah, juga pembantaian, seperti ratusan biksu yang terpanggang timah 
panas dari rezim Juntai. Tapi ia juga yang akhirnya memberi ilham kepada 
manusia untuk tak serakah, karena betapapun kekuatan yang ia miliki, segemilang 
apapun kemenangan yang diraih, tetap ada sesuatu yang tak penuh, yang tak bisa 
dijangkau, yang menuntut kerendah hatian.
   
  Kita tahu, ketika Bandung Bondowoso melihat Roro jonggrang yang gemetar tapi 
tak merunduk, mendengar kata-katanya yang terbata namun fasih dan kemudian 
bersedia untuk membangun 1000 candi, Bandung menyadarkan penyimaknya bahwa ada 
yang luput di tiap kemenangan, ada yang tak bisa digerus oleh kekalahan.
   
  Lalu untuk apa kita berbuat, berteriak, berlarian di trotoar dan jalan raya, 
kalau toh pada akhirnya kita tak kuasa untuk menghapus cela, menggayuh nirwana ?
   
  Mungkin ada memang saat dimana kita merasa begitu intens dengan hal-hal ideal 
itu, begitu dekat rapat, namun ada kalanya kondisi yang dekat menjadikan kita 
mabuk dan tak ingat lagi bahwa kita hanya dekat, betapapun kita tak pernah 
menjadi kebenaran dan oleh karena itu selalu benar. "Ada sebuah bahaya khusus 
dalam sebuah perang yang dikomando Tuhan. Bagaimana kalau Tuhan ternyata harus 
kalah?" tulis Garry Willis.
   
  Disini, di Kairo yang sesak, berjubel dan ramai ini aku seperti memandang 
jarak yang memisahkan, tapi juga menautkan. Jarak itu mungkin berupa perbedaan, 
atau nasib, atau pendakian terhadap yang mustahil. Sementara menara al-Azhar 
berdiri tegak, dengan saputan coklat bekas debu. Ia terlihat amat tua, kokoh, 
tegap, namun kita tahu ia punya sejarah yang tak tetap. 
   
  Syahdan, dalam posisi bertapa yang habis-habisan, sehingga tubuhnya nyaris 
rusak, Sang Buddha mendengarkan nyanyian ini:
   
  Dawai yang terentang terlampau tegang akan putus, dan musik akan mati
  Dawai yang terentang kendur akan hilang bunyi, dan musik akan mati
  __________________________________________________

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke