Doa, Waktu dan Tempat Yang Sakral
Doa yang mustajab biasanya antara waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat
tertentu. Kenapa demikian?
Doa adalah kata-kata permintaan umat suatu agama yang ditujukan kepada
tuhannya, dengan harapan apa yang diinginkan itu bisa menjadi kenyataan.
Lalu bagaimana dengan orang-orang atheis yang betul-betul berkiblat kepada
dunia dan materialisme, apakah dia juga berdoa? Logikanya sih tidak,
bagaimana dia berdoa kepada tuhannya karena menurutnya tak ada tuhan di
dunia ini.
Justru menurut logika karena tak berketuhanan maka apa yang dia idamkan
menjadi lebih mudah untuk mengeksploitasi diri sendiri, karena dalam
bayangannya dia bergerak sendiri tanpa perlu bantuan tuhannya. Nasib dia
tergantung sepenuhnya ada di tangannya.
Tuhan adalah Tuhan, sesembahan tempat bernaung para umat beragama. Tuhan
agama langit adalah Allah. Allah itu berbeda dengan mahluknya, karena dia
itu telepas dari ruang dan waktu, sementara mahluk itu terbatas pada ruang
dan waktu.
Andai kita berdoa, tentunya berharap bahwa apa yang kita inginkan bisa
segera dipenuhi. Makanya ada bahasa ketuhanan, ada yang menggunakan bahasa
Arab, Bahasa Ibrani maupun Sansekerta, seolah-olah dengan bahasa Ibu dari
para nabi, rosul ataupun rahib mereka maka doanya lebih cepat di dengar
oleh Tuhan. Bahkan kebanyakan kita hapal doa tapi tidak tahu makna, karena
memang hanya hapal akan doanya, seperti doa makan, doa menjelang tidur, doa
di kamar mandi bahkan ada doa berhubungan badan. Ada cerita seorang kawan
yang menyampaikan bahwa doa-doanya tidak pernah terkabulkan, akhirnya
selidik punya selidik ternyata doa yang dia kirimkan adalah salah, karena
yang dia minta adalah doa minta keturunan tapi yang dipanjatkan adalah doa
masuk jamban : ). Disinilah pentingnya doa diucapkan selain dalam bahasa
keagamaan juga dalam bahasa sendiri, serta berangkat dari hati yang paling
dalam, bukan hanya ada dibibir tanpa yakin bahwa doanya akan diterima.
Kembali lagi ke topik awal, masing-masing agama memiliki tempat suci,
contoh salah satunya : Masjidil Haram untuk umat Islam, Lourdes untuk
Nasrani, Jerussalem untuk Yahudi, Sungai Gangga untuk umat Hindu dan
lain-lain, mereka juga memiliki waktu-waktu suci yang berbeda patokannya
antara satu dengan yang lain, umpama salah satunya bulan Ramadhan untuk
umat Islam, hari Natal untuk umat Kristen, Hari Raya Nyepi untuk umat Hindu
dan Waisak untuk umat Budha.
Waktu-waktu suci dan tempat-tempat suci mereka berbeda satu dengan lainnya
berbeda. Konon di tempat suci inilah doa-doa mudah dijabah atau
dikabulkan.(Klick "Doa Yang Mantap: )
Aku berfikir secara global dan secara pluralis, Tuhan adalah sosok yang
bebas ruang dan waktu, tetapi umatnya terperangkap dalam ruang dan waktu,
yang ada di berbagai lokasi dan pada berbagai masa yang berlainan. maka
andaikan benar, semua agama menuju Tuhannya, artinya Tuhan dalam satu
tahun matahari, bumi dan bulan berputar, dan dalam tempo 24 jam nonstop
tuhan mendapat puji dan puja dari umat manusia, dari berbagai tempat suci
di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan perilaku ini, artinya pada
hakikatnya penduduk bumi adalah masyarakat religius. Gema keagamaan di
dunia ini tetap lebih besar dari kaum atheis, sehingga wajarnya dalam hati
kaum atheispun tetap ada keyakinan terhadap tuhannya.
Entah benar atau salah dugaanku, tentunya kaum atheis sendiri yang bisa
memahaminya. Memang wajarnya dunia dan alam seisinya memang ada yang
menciptakan, penciptanya adalah Dzat Sang Pencipta, tempat kita bersandar
melalui doa-doa yang kita panjatkan baik pagi dan sore serta siang dan malam.
Demikianlah tempat suci dan waktu yang suci meninggalkan misteri, Tak
sedikit tempat suci yang dipercaya sebagai pusat atau poros dunia. Pusat
atau poros dimaksud lebih menekan pada poros kesadaran transendental yang
sakral, kesadaran berhubungan dengan Dzat Sang Pencipta.
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com