Kalau membahas islam memang tidak ada habisnya. terkait dengan perkembangan 
islam liberal saat ini menurut saya adalah upaya menjawab  tantangan zaman. 
dimana agama islam kalau kita lihat banyak mengalami kemunduran. kenapa ?? atau 
gara-gara munculnya muhammed Arkoun, Fazlur Rahman dan kawan-kawan? saya kira 
tidak. hal tersebut dikarenakan umat islam menutup pintu ijtihadnya atau tidak 
banyak melakukan pengembaraan  guna memperkaya pengetahuannya seperti yang 
disarankan oleh kitab suci umat islam. apakah hal tersebut Bi'ah? dimana letak 
bi'ahnya?  
Selain itu yang kita pertentangkan adalah apakah kita kembali ke tradisi islam 
jaman dulu atau kita mengaktualkan islam sesuai dengan zaman. kalau kita 
kembali ketradisi, tradisi yang mana (maksudnya tradisi adalah islam saat Nabi 
Muhammad dan sahabat-sahabatnya) memang itu adalah zaman yang ideal tapi 
semenjak kematian Nabi Muhammad kita berhujah pada siapa?. Lalu muncullah 
madhab-madhab lalu kita ikut madhab yang mana?. Syafi'i, Maliki dan kawan-kawan 
ketika kita terapkan pada zaman sekarang masih relevankah?. orang-orang yang 
dikategorikan liberal itulah yang mecoba membuat tafsir ulang dengan kondisi 
zaman dan mengembalikan manusia untnuk menuju kesempurnaan dengan akalnya, 
bukankan yang membuat manusia menjadi sempurnah adalah akal yang diberikan oleh 
Allah. Swt untuk membedakan dengan mahluk yang lain.

----- Original Message ----
From: qalam26 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, November 26, 2007 11:42:34 AM
Subject: [filsafat] Re: Mengkritisi Islam Liberal

Mungkin pak verri bisa lebih tenang dalam menyikapi pemikiran semisal 
mereka. Tapi secara pribadi saya menilai berdasarkan sepak terjang 
dari orang-orang local dan bukan yang ada diluar negeri. 
Dan jika tulisan Bapak Syamsudin di lihat dari konteks sepak terjang 
kaum SIPILIS LOCAL (SEKULARIS PLURALIS LIBERALIS) kayanya sih cocok-
cocok saja...karena pemikiran mereka toh banyak yang keluar batas. 

Kemunduran umat islam saat ini adalah karena jauhnya mereka dari 
ajaran-ajaran islam yang murni...ajaran- ajaran yang diparaktekkan 
umat islam saat ini telah banyak menyimpang dari apa yang dicontohkan 
oleh nabi muhammad SAW. Dan pemahaman keislaman mereka jauh dari 
pemahaman yang di miliki oleh generasi pertama dan terbaik dari umat 
ini yakni para sahabat (nabi) ridwanallah Aj'main. 

Manusia semenjak kematian nabi SAW banyak mengganti,merubah, 
menambah dan mengurangi ajaran islam yang pada hakikatnya sudah 
sempurna dalam AQIDAH, praktek IBADAH dan AKHLAK bahkan politik 
sebagai titik puncaknya. Banyak penyimpangan yang terjadi setelah 
generasi awal islam oleh manusia-manusia setelahnya seperti menolak 
takdir, mengatakan bahwa iman cukup dihati tanpa perbuatan, 
mengatakan bahwa al-quran adalah mahluk dll. 

Ajaran islam telah tercampur dengan segala bentuk praktek ibadah yang 
baru yang tidak memiliki dasar dalam al-quran dan assunah. ajaran 
baru ini kita sebut sebagai BID'AH. Yakni Ajaran yang merupakan 
buatan fikiran manusia dan bukan berasal dari contoh praktek dan 
pengamalan dari nabi SAW. 

Jadi bagaimana Alloh akan menolong kita umat islam...? jika kita 
tidak merubah amal-amal dan pemahaman kita dari Syirik dan Bid'ah... 
kembali kepada ajaran islam yang murni yang sesuai dengan contoh nabi 
dan para sahabatnya yakni TAUHID DAN SUNNAH.

--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, verri DJ <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
>
> Tulisan Islam Liberal itu ditulis Oleh Syamsuddin Arif, bisa jadi 
ini 
> subjektif, adakah komentar dari Mas Qalam?
> 
> Kayaknya ini menarik kita bahas.... jangan terpengaruh dengan 
ajaran Islam 
> Liberal Indonesia yang kontraversi dengan MUI.
> 
> Let saya kita bahas :
> Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd,
> Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutny a di Indonesia .
> Pembahasan ini perlu kita kemukakan agar tahu apa sebenarnya apa 
yang 
> mereka idealkan, jangan hantam kromo bahwa ini sesat dan ini kafir.
> 
> Saya melihat apa yang diketengahkan mereka baik-baik saja, apakah 
salah 
> menafsirkan sesuatu hanya terfokus dengan jaman dahulu (traditional
). Kalau 
> ajaran traditional terus kita ikat kuat sementara jaman bergerak 
terus, 
> efeknya Islam akan stagnan diam ditempat. Harus disadari, Islam 
sekarang 
> terpuruk jika dibandingkan jaman keemasannya pada Abad 8M.
> 
> Al Quran, Al hadits adalah acuan kita, ayat-ayat tetap, tapi yang 
bergerak 
> adalah tafsir. Saya pernah membaca tulisan mereka dan saya angkat 
topi 
> terhadap cara pandang mereka.
> 
> Menurutku ini syah-syah saja... (duh! jadi berfikir liberal ya...).
> 
> Salam,
> Dj
> 
> 
> At 08:47 AM 23/11/07 +0000, you wrote:
> >Oleh Syamsuddin Arif, Ph.D
> >
> >Tiga hal mencakup paham liberalisme. Pertama kebebasan berfikir,
> >pandangan skeptik dan agnostik. Terakhir manifestasi nifaq. Tidak 
mau
> >disebut kafir jika sudah tidak committed pada agamanya
> >
> >Menyusul terbitnya fatwa MUI belum lama ini, terdengar suara-suara
> >sumbang yang mempersoalkan definisi liberalisme. Istilah `
liberalisme'
> > berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya `bebas' atau `
merdeka
> >'. Hingga penghujung abad ke-18 Masehi, istilah ini terkait erat
> >dengan konsep manusia merdeka, bisa semenjak lahir ataupun setelah
> >dibebaskan, yakni mantan budak (freedman).
> >
> >Dari sinilah muncul istilah `liberal arts' yang berarti ilmu yang
> >berguna bagi dan sepatutnya dimiliki oleh setiap orang merdeka, 
yaitu
> >arithmetik, geometri, astronomi dan musik (quadrivium) serta
> >grammatika, logika dan rhetorika (trivium).
> >
> >Di zaman Pencerahan, kaum intelektual dan politisi Eropa 
menggunakan
> >istilah liberal untuk membedakan diri mereka dari kelompok lain.
> >
> >Sebagai adjektif, kata `liberal' dipakai untuk menunjuk sikap anti
> >feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka (independent) ,
> >berpikiran luas lagi terbuka (open-minded) dan, oleh karena itu, 
hebat
> > (magnanimous) .
> >
> >Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan 
kecenderungan
> >yang berlawanan dengan dan menentang `mati-matian' sentralisasi dan
> >absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan
> >kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini.
> >
> >Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar
> >bebas dimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi ­
jika
> >tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan 
tertentu,
> > liberalisme identik dengan kapitalisme.
> >
> >Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita, 
penyetaraan
> >gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya 
nilai-
> >nilai kekeluargaan.
> >
> >Biarkan wanita menentukan nasibnya sendiri, sebab tak seorang pun
> >kini berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan
> >sesuatu.
> >
> >Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan 
menganut,
> >meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak
> >dan selera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme
> >mereduksi agama menjadi urusan privat.
> >
> >Artinya, konsep amar ma'ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai
> >tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat
> >liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina
> >tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama 
suka,
> > menurut prinsip ini. Karena menggusur peran agama dan otoritas 
wahyu
> >dari wilayah politik, ekonomi, maupun sosial, maka tidak salah jika
> >liberalisme dipadankan dengan sekularisme.
> >
> >Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk motto Revolusi Perancis 1789 
-
> >kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (liberté, égalité, fraternité)
> >sebagai piagam agung (magna charta) liberalisme modern.
> >
> >Sebagaimana diungkapkan oleh H. Gruber, prinsip liberalisme yang
> >paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas -
apapun
> >namanya- adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga
> >diri manusia ­yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, 
dan
> >ketetapannya ada di luar dirinya (it is contrary to the natural,
> >innate, and inalienable right and liberty and dignity of man, to
> >subject himself to an authority, the root, rule, measure, and
> >sanction of which is not in himself).
> >
> >Di sini kita mencium bau sophisme dan relativisme ala falsafah
> >Protagoras yang mengajarkan bahwa "manusia adalah ukuran dari
> >segalanya" ­ sebuah doktrin yang kemudian dirayakan oleh para
> >penganut nihilisme semacam Nietzsche.
> >
> >Sebagai anak kandung Humanisme dan Reformasi abad ke-15 dan 16,
> >liberalisme dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan di 
Inggris
> >(Locke dan Hume), di Perancis (Rousseau dan Diderot) dan di Jerman
> >(Lessing dan Kant).
> >
> >Gagasan ini banyak diminati oleh elit terpelajar dan bangsawan yang
> >menyukai kebebasan berpikir tanpa batas. Sebagaimana dinyatakan 
oleh
> >Germaine de Staël dalam karyanya, Considérations sur les principaux
> >événements de la Révolution française (1818), kaum liberal menuntut
> >kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang
> >otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja
> >maupun raja.
> >
> >Pada awalnya, liberalisme berkembang di kalangan Protestant saja.
> >Namun belakangan wabah liberalisme menyebar di kalangan Katholik 
juga.
> > Tokoh-tokoh Kristen liberal semacam Benjamin Constant antara lain
> >menginginkan agar pola hubungan antara institusi Gereja, 
pemerintah,
> >dan masyarakat ditinjau ulang dan diatur lagi.
> >
> >Mereka juga menuntut reformasi terhadap doktrin-doktrin dan 
disiplin
> >yang dibuat oleh pihak Gereja Katholik di Roma, agar `disesuaikan'
> >dengan semangat zaman yang sedang dan terus berubah, agar sejalan
> >dengan prinsip-prinsip liberal dan tidak bertentangan dengan sains
> >yang meskipun anti-Tuhan namun dianggap benar.
> >
> >Secara umum, yang dikehendaki ialah kebebasan bagi siapa saja untuk
> >menafsirkan ajaran agama dan kitab sucinya, ketidak-terikatan 
dengan
> >aturan-aturan maupun keputusan-keputusan yang dikeluarkan pihak
> >Gereja, pengakuan otoritas pemerintah vis-à-vis otoritas Gereja, 
dan
> >penghapusan sistem kependetaan (clericalism) . Inilah yang kemudian
> >dikecam oleh Paus Pius ke-9, Leo ke-13 dan Pius ke-10.
> >
> >Kecenderungan- kecenderungan seperti ini mereka sebut "modernisme"
> >(Lihat: Jean Reville, Liberal Christianity (London, 1903); Georges
> >Weill, Histoire de Catholicisme libéral en France, 1828-1908 (
Paris,
> >1909); dan Orestes A. Brownson, Conversations on Liberalism and the
> >Church (New York, 1869).
> >
> >Di dunia Islam virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangan
> >cendekiawan yang konon dianggap sebagai "pembaharu" (mujaddid).
> >Mereka yang menjadi liberal antara lain: Rifa`ah at-Tahtawi (1801-
1873
> > M), Qasim Amin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) 
dari
> >Mesir, Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dari India, Muhammad Iqbal
> >(1877-1938 M).
> >
> >Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah
> >liberal seperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu 
Zayd,
> >Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutny a di Indonesia (Lihat:
> >Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age, London, 1962;
> >Leonard Binder, Islamic Liberalism, Chicago, 1988; dan Charles
> >Kurzman, Liberal Islam, New York, 1998; dan Greg Barton, Gagasan
> >Islam Liberal di Indonesia, Jakarta, 1999).
> >
> >Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu
> >sebenarnya kurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan
> >dengan perkembangan zaman, al-Qur'an dan Hadits mesti dikritisi dan
> >ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan
> >sebagainya, perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam
> >kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan
> >internasional berlandaskan hak asasi manusia, pluralisme dan lain 
lain
> >-lain.
> >
> >Pendek kata, meminjam ungkapan Binder, liberalism treats religion 
as
> >opinion and, therefore tolerates diversity in precisely those 
realms
> >that traditional belief insists upon without equivocation. Maka
> >wajarlah jika kemudian ia menilai bahwa Islam and liberalism appear
> >to be in contradiction (hlm.2)
> >
> >Dari uraian ringkas di atas dapat kita simpulkan bahwa paham
> >liberalisme mencakup tiga hal: (1) free thinking; (2) sophisme; dan
(
> >3) loose adherence to and free exercise of religion.
> >
> >Yang pertama berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja. 
"
> >Berpikir kok dilarang," ujar mereka. Yang kedua biasanya lebih
> >dikenal dengan istilah `sufastha'iyyah' , yakni pandangan-pandangan
> >skeptik, agnostik, dan relativistik.
> >
> >Sementara yang disebut terakhir tidak lain dan tidak bukan adalah
> >manifestasi nifaq, dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir
> >walaupun dirinya sudah tidak committed lagi pada ajaran agama.
> >
> >*) Penulis adalah peneliti INSISTS di Frankfurt am Main, Jerman.
> >Dimuat di Hidayatullah. com
> >
> >
> >
> >
> >
> >*********** ********* ********* ********* ********* *******
> >Milis Filsafat
> >Posting : [EMAIL PROTECTED] s.com
> >Arsip milis : http://groups. yahoo.com/ group/filsafat/
> >Website : http://filsafatkita .f2g.net/
> >Berhenti : filsafat-unsubscrib [EMAIL PROTECTED] com
> >*********** ********* ********* ********* ********* *******
> >
> >Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
>





      
____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal. 
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.  
http://overview.mail.yahoo.com/

Kirim email ke