Manusia semenjak kematian nabi SAW banyak mengganti,merubah, menambah dan mengurangi ajaran islam yang pada hakikatnya sudah sempurna. sehingga banyak praktek ibadah dan aqidah yang baru dan tidak pernah dicontohkan oleh nabi muhammad SAW. itulah bid'ah (ajaran baru yang tidak berasal dari nabi) mudah bukan....
Solusinya untuk mengetahui ibadah nabi ya kita menelaah kepada Al-quran dan As-sunah(hadist)dengan pemahaman generasi awal yakni para sahabat (generasi terbaik umat islam) Jika ada hadist shohih ya pendapat mahzab apapun yang bertentangan dengan hadist tersebut harus di buang... mau ngapain fanatik mahazab. tentang dalil bid'ah hadist shohih bukrari Ummu Abdillah `Aisyah rodhiyallohu `anha, dia berkata: "Rosululloh shollallohu `alaihi wasallam pernah bersabda: Man ahdasa fi amrina falaisa minni fahuwa rod' "Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan ( agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak." (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak." Jelaskan bahwa Islam hakikatnya hanya mengikuti pemahaman, perbuatan, perkataan dari orang yang paling faham islam yakni NABI muhammad SAW. Bukan sekedar akal bung itu sih hadist palsu yang ente ikuti ini kan hadistnya AGAMA adalah Akal الدِّيْنُ هُوَ اْلعَقْلُ، وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ، لاَ عَقْلَ لَهُ "Agama itu adalah akal, dan siapa yang tidak memiliki agama, maka berarti dia tidak berakal." KUALITAS HADITS Kualitas hadits ini adalah BATHIL Takhrij Singkat Redaksi seperti ini dikeluarkan oleh Imam an-Nasa`iy di dalam kitab " al-Kuna" dan juga dikeluarkan darinya oleh ad-Dûlâby di dalam kitab " al-Kuna wa al-Asmâ`" dari Abu Malik, Bisyr bin Ghâlib bin Bisyr bin Ghâlib dari az-Zuhry dari Mujammi' bin Jariyah dari pamannya secara marfu' dengan tanpa dimulai dengan kalimat pertama di atas "ad-Dîn Huwa al-`Aql" . Pendapat Para Ulama Hadits 1. Imam an-Nasa`iy, "Ini adalah hadits Bathil dan Munkar." 2. Ibn Hajar (ketika mengomentari lebih kurang 30-an hadits tentang keutamaan akal yang dikeluarkan oleh al-Hârits bin Abi Usâmah di dalam musnadnya) berkata, "Semuanya Mawdlu'" 3. Ibn al-Qayyim, "Hadits-hadits tentang akal semuanya adalah dusta." Komentar Syaikh al-Albany Alasan kelemahan hadits ini adalah pada salah seorang periwayatnya yang bernama Bisyr karena dia seorang periwayat yang Majhûl (anonim) sebagaimana dikatakan oleh al-Azdy dan disetujui oleh Imam adz- Dzahaby di dalam kitabnya Mîzân al-I'tidâl Fî Naqd ar-Rijâl dan Ibn Hajar al-`Asqalâny di dalam bukunya Lisân al-Mîzân. Semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan akal tidak ada satupun yang shahih, sehingga berkisar antara kualitas Dla'if dan Mawdlu' (Palsu). Hadits-hadits seperti ini banyak terkoleksi di dalam buku "al-`Aql wa Fadl-luhu" karya Abu Bakar bin Abu ad-Dun-ya atau yang lebih dikenal dengan Ibn Abi ad-Dun-ya bahkan beliau mengkritik diamnya pentashih buku tersebut, Syaikh Muhammad Zâhid al-Kautsary atas riwayat-riwayat yang kualitasnya demikian. (SUMBER: Silsilah al-Ahâdîts adl-Dla'îfah karya Syaikh al-Albany, no. 1, h.53-54) --- In [email protected], denny misharudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau membahas islam memang tidak ada habisnya. terkait dengan perkembangan islam liberal saat ini menurut saya adalah upaya menjawab tantangan zaman. dimana agama islam kalau kita lihat banyak mengalami kemunduran. kenapa ?? atau gara-gara munculnya muhammed Arkoun, Fazlur Rahman dan kawan-kawan? saya kira tidak. hal tersebut dikarenakan umat islam menutup pintu ijtihadnya atau tidak banyak melakukan pengembaraan guna memperkaya pengetahuannya seperti yang disarankan oleh kitab suci umat islam. apakah hal tersebut Bi'ah? dimana letak bi'ahnya? > Selain itu yang kita pertentangkan adalah apakah kita kembali ke tradisi islam jaman dulu atau kita mengaktualkan islam sesuai dengan zaman. kalau kita kembali ketradisi, tradisi yang mana (maksudnya tradisi adalah islam saat Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya) memang itu adalah zaman yang ideal tapi semenjak kematian Nabi Muhammad kita berhujah pada siapa?. Lalu muncullah madhab-madhab lalu kita ikut madhab yang mana?. Syafi'i, Maliki dan kawan-kawan ketika kita terapkan pada zaman sekarang masih relevankah?. orang-orang yang dikategorikan liberal itulah yang mecoba membuat tafsir ulang dengan kondisi zaman dan mengembalikan manusia untnuk menuju kesempurnaan dengan akalnya, bukankan yang membuat manusia menjadi sempurnah adalah akal yang diberikan oleh Allah. Swt untuk membedakan dengan mahluk yang lain. > > ----- Original Message ---- > From: qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, November 26, 2007 11:42:34 AM > Subject: [filsafat] Re: Mengkritisi Islam Liberal > > Mungkin pak verri bisa lebih tenang dalam menyikapi pemikiran semisal > mereka. Tapi secara pribadi saya menilai berdasarkan sepak terjang > dari orang-orang local dan bukan yang ada diluar negeri. > Dan jika tulisan Bapak Syamsudin di lihat dari konteks sepak terjang > kaum SIPILIS LOCAL (SEKULARIS PLURALIS LIBERALIS) kayanya sih cocok- > cocok saja...karena pemikiran mereka toh banyak yang keluar batas. > > Kemunduran umat islam saat ini adalah karena jauhnya mereka dari > ajaran-ajaran islam yang murni...ajaran- ajaran yang diparaktekkan > umat islam saat ini telah banyak menyimpang dari apa yang dicontohkan > oleh nabi muhammad SAW. Dan pemahaman keislaman mereka jauh dari > pemahaman yang di miliki oleh generasi pertama dan terbaik dari umat > ini yakni para sahabat (nabi) ridwanallah Aj'main. > > Manusia semenjak kematian nabi SAW banyak mengganti,merubah, > menambah dan mengurangi ajaran islam yang pada hakikatnya sudah > sempurna dalam AQIDAH, praktek IBADAH dan AKHLAK bahkan politik > sebagai titik puncaknya. Banyak penyimpangan yang terjadi setelah > generasi awal islam oleh manusia-manusia setelahnya seperti menolak > takdir, mengatakan bahwa iman cukup dihati tanpa perbuatan, > mengatakan bahwa al-quran adalah mahluk dll. > > Ajaran islam telah tercampur dengan segala bentuk praktek ibadah yang > baru yang tidak memiliki dasar dalam al-quran dan assunah. ajaran > baru ini kita sebut sebagai BID'AH. Yakni Ajaran yang merupakan > buatan fikiran manusia dan bukan berasal dari contoh praktek dan > pengamalan dari nabi SAW. > > Jadi bagaimana Alloh akan menolong kita umat islam...? jika kita > tidak merubah amal-amal dan pemahaman kita dari Syirik dan Bid'ah... > kembali kepada ajaran islam yang murni yang sesuai dengan contoh nabi > dan para sahabatnya yakni TAUHID DAN SUNNAH. > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, verri DJ <verri_dj@ .> wrote: > > > > Tulisan Islam Liberal itu ditulis Oleh Syamsuddin Arif, bisa jadi > ini > > subjektif, adakah komentar dari Mas Qalam? > > > > Kayaknya ini menarik kita bahas.... jangan terpengaruh dengan > ajaran Islam > > Liberal Indonesia yang kontraversi dengan MUI. > > > > Let saya kita bahas : > > Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, > > Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutny a di Indonesia . > > Pembahasan ini perlu kita kemukakan agar tahu apa sebenarnya apa > yang > > mereka idealkan, jangan hantam kromo bahwa ini sesat dan ini kafir. > > > > Saya melihat apa yang diketengahkan mereka baik-baik saja, apakah > salah > > menafsirkan sesuatu hanya terfokus dengan jaman dahulu (traditional > ). Kalau > > ajaran traditional terus kita ikat kuat sementara jaman bergerak > terus, > > efeknya Islam akan stagnan diam ditempat. Harus disadari, Islam > sekarang > > terpuruk jika dibandingkan jaman keemasannya pada Abad 8M. > > > > Al Quran, Al hadits adalah acuan kita, ayat-ayat tetap, tapi yang > bergerak > > adalah tafsir. Saya pernah membaca tulisan mereka dan saya angkat > topi > > terhadap cara pandang mereka. > > > > Menurutku ini syah-syah saja... (duh! jadi berfikir liberal ya... ). > > > > Salam, > > Dj > > > > > > At 08:47 AM 23/11/07 +0000, you wrote: > > >Oleh Syamsuddin Arif, Ph.D > > > > > >Tiga hal mencakup paham liberalisme. Pertama kebebasan berfikir, > > >pandangan skeptik dan agnostik. Terakhir manifestasi nifaq. Tidak > mau > > >disebut kafir jika sudah tidak committed pada agamanya > > > > > >Menyusul terbitnya fatwa MUI belum lama ini, terdengar suara- suara > > >sumbang yang mempersoalkan definisi liberalisme. Istilah ` > liberalisme' > > > berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya `bebas' atau ` > merdeka > > >'. Hingga penghujung abad ke-18 Masehi, istilah ini terkait erat > > >dengan konsep manusia merdeka, bisa semenjak lahir ataupun setelah > > >dibebaskan, yakni mantan budak (freedman). > > > > > >Dari sinilah muncul istilah `liberal arts' yang berarti ilmu yang > > >berguna bagi dan sepatutnya dimiliki oleh setiap orang merdeka, > yaitu > > >arithmetik, geometri, astronomi dan musik (quadrivium) serta > > >grammatika, logika dan rhetorika (trivium). > > > > > >Di zaman Pencerahan, kaum intelektual dan politisi Eropa > menggunakan > > >istilah liberal untuk membedakan diri mereka dari kelompok lain. > > > > > >Sebagai adjektif, kata `liberal' dipakai untuk menunjuk sikap anti > > >feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka (independent) , > > >berpikiran luas lagi terbuka (open-minded) dan, oleh karena itu, > hebat > > > (magnanimous) . > > > > > >Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan > kecenderungan > > >yang berlawanan dengan dan menentang `mati-matian' sentralisasi dan > > >absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan > > >kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini. > > > > > >Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar > > >bebas dimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi > jika > > >tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan > tertentu, > > > liberalisme identik dengan kapitalisme. > > > > > >Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita, > penyetaraan > > >gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya > nilai- > > >nilai kekeluargaan. > > > > > >Biarkan wanita menentukan nasibnya sendiri, sebab tak seorang pun > > >kini berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan > > >sesuatu. > > > > > >Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan > menganut, > > >meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak > > >dan selera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme > > >mereduksi agama menjadi urusan privat. > > > > > >Artinya, konsep amar ma'ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai > > >tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat > > >liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina > > >tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama > suka, > > > menurut prinsip ini. Karena menggusur peran agama dan otoritas > wahyu > > >dari wilayah politik, ekonomi, maupun sosial, maka tidak salah jika > > >liberalisme dipadankan dengan sekularisme. > > > > > >Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk motto Revolusi Perancis 1789 > - > > >kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (liberté, égalité, fraternité) > > >sebagai piagam agung (magna charta) liberalisme modern. > > > > > >Sebagaimana diungkapkan oleh H. Gruber, prinsip liberalisme yang > > >paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas - > apapun > > >namanya- adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga > > >diri manusia yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, > dan > > >ketetapannya ada di luar dirinya (it is contrary to the natural, > > >innate, and inalienable right and liberty and dignity of man, to > > >subject himself to an authority, the root, rule, measure, and > > >sanction of which is not in himself). > > > > > >Di sini kita mencium bau sophisme dan relativisme ala falsafah > > >Protagoras yang mengajarkan bahwa "manusia adalah ukuran dari > > >segalanya" sebuah doktrin yang kemudian dirayakan oleh para > > >penganut nihilisme semacam Nietzsche. > > > > > >Sebagai anak kandung Humanisme dan Reformasi abad ke-15 dan 16, > > >liberalisme dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan di > Inggris > > >(Locke dan Hume), di Perancis (Rousseau dan Diderot) dan di Jerman > > >(Lessing dan Kant). > > > > > >Gagasan ini banyak diminati oleh elit terpelajar dan bangsawan yang > > >menyukai kebebasan berpikir tanpa batas. Sebagaimana dinyatakan > oleh > > >Germaine de Staël dalam karyanya, Considérations sur les principaux > > >événements de la Révolution française (1818), kaum liberal menuntut > > >kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang > > >otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja > > >maupun raja. > > > > > >Pada awalnya, liberalisme berkembang di kalangan Protestant saja. > > >Namun belakangan wabah liberalisme menyebar di kalangan Katholik > juga. > > > Tokoh-tokoh Kristen liberal semacam Benjamin Constant antara lain > > >menginginkan agar pola hubungan antara institusi Gereja, > pemerintah, > > >dan masyarakat ditinjau ulang dan diatur lagi. > > > > > >Mereka juga menuntut reformasi terhadap doktrin-doktrin dan > disiplin > > >yang dibuat oleh pihak Gereja Katholik di Roma, agar `disesuaikan ' > > >dengan semangat zaman yang sedang dan terus berubah, agar sejalan > > >dengan prinsip-prinsip liberal dan tidak bertentangan dengan sains > > >yang meskipun anti-Tuhan namun dianggap benar. > > > > > >Secara umum, yang dikehendaki ialah kebebasan bagi siapa saja untuk > > >menafsirkan ajaran agama dan kitab sucinya, ketidak-terikatan > dengan > > >aturan-aturan maupun keputusan-keputusan yang dikeluarkan pihak > > >Gereja, pengakuan otoritas pemerintah vis-à-vis otoritas Gereja, > dan > > >penghapusan sistem kependetaan (clericalism) . Inilah yang kemudian > > >dikecam oleh Paus Pius ke-9, Leo ke-13 dan Pius ke-10. > > > > > >Kecenderungan- kecenderungan seperti ini mereka sebut "modernisme " > > >(Lihat: Jean Reville, Liberal Christianity (London, 1903); Georges > > >Weill, Histoire de Catholicisme libéral en France, 1828-1908 ( > Paris, > > >1909); dan Orestes A. Brownson, Conversations on Liberalism and the > > >Church (New York, 1869). > > > > > >Di dunia Islam virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangan > > >cendekiawan yang konon dianggap sebagai "pembaharu" (mujaddid). > > >Mereka yang menjadi liberal antara lain: Rifa`ah at-Tahtawi (1801 - > 1873 > > > M), Qasim Amin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) > dari > > >Mesir, Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dari India, Muhammad Iqbal > > >(1877-1938 M). > > > > > >Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah > > >liberal seperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu > Zayd, > > >Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutny a di Indonesia (Lihat: > > >Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age, London, 1962; > > >Leonard Binder, Islamic Liberalism, Chicago, 1988; dan Charles > > >Kurzman, Liberal Islam, New York, 1998; dan Greg Barton, Gagasan > > >Islam Liberal di Indonesia, Jakarta, 1999). > > > > > >Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu > > >sebenarnya kurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan > > >dengan perkembangan zaman, al-Qur'an dan Hadits mesti dikritisi dan > > >ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan > > >sebagainya, perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam > > >kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan > > >internasional berlandaskan hak asasi manusia, pluralisme dan lain > lain > > >-lain. > > > > > >Pendek kata, meminjam ungkapan Binder, liberalism treats religion > as > > >opinion and, therefore tolerates diversity in precisely those > realms > > >that traditional belief insists upon without equivocation. Maka > > >wajarlah jika kemudian ia menilai bahwa Islam and liberalism appear > > >to be in contradiction (hlm.2) > > > > > >Dari uraian ringkas di atas dapat kita simpulkan bahwa paham > > >liberalisme mencakup tiga hal: (1) free thinking; (2) sophisme; dan > ( > > >3) loose adherence to and free exercise of religion. > > > > > >Yang pertama berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja. > " > > >Berpikir kok dilarang," ujar mereka. Yang kedua biasanya lebih > > >dikenal dengan istilah `sufastha'iyyah' , yakni pandangan- pandangan > > >skeptik, agnostik, dan relativistik. > > > > > >Sementara yang disebut terakhir tidak lain dan tidak bukan adalah > > >manifestasi nifaq, dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir > > >walaupun dirinya sudah tidak committed lagi pada ajaran agama. > > > > > >*) Penulis adalah peneliti INSISTS di Frankfurt am Main, Jerman. > > >Dimuat di Hidayatullah. com > > > > > > > > > > > > > > > > > >*********** ********* ********* ********* ********* ******* > > >Milis Filsafat > > >Posting : [EMAIL PROTECTED] s.com > > >Arsip milis : http://groups. yahoo.com/ group/filsafat/ > > >Website : http://filsafatkita .f2g.net/ > > >Berhenti : filsafat-unsubscrib [EMAIL PROTECTED] com > > >*********** ********* ********* ********* ********* ******* > > > > > >Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Be a better pen pal. > Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. http:// overview.mail.yahoo.com/ > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
