Saudara Asnawi,

Terima kasih atas pembahasannya. Saya sendiri merasa setiap kali 
membaca suluk-suluk tersebut, saya menemukan sesuatu yang baru yang 
tidak saya temukan ketika pembacaan sebelumnya. Banyaknya makna 
ambigu dan metafor untuk makna yang disamarkan, bahkan dugaan-dugaan 
yang terasa menjebak tapi juga memaparkan. Sebagian seperti 
disembunyikan tapi juga ditampakan. 

Saya masih sangat awam dan baru mempelajari hal-hal seperti ini. Dan 
menyimak paparan saudara semakin menguatkan nuansa suluk tersebut.

 

Sebagai gambaran bagaimana tradisi suluk berkembang di tanah air, 
berikut saya salinkan sebagian pengantarnya, semoga bermanfaat :

" Ciri yang menonjol dalam suluk cirebonan ini sangat dipengaruhi 
dan berintikan paham penghayatan manunggaling kawula gusti yang 
bersumber dari konsep martabat tujuh yang menguasai alam-alam 
fikiran ulama-ulama sufi Aceh abad ke-17 yang merupakan pengembangan 
paham penghayatan manunggaling kawula-gusti (union-mistik) dari 
ajaran Al-Hallaj dan Ibnu Arabi. Ajaran martabat tujuh ini sampai di 
Cirebon dan disebarkan oleh tarekat syatariyah dari murid-murid 
Syaikh Abdur Rauf, terutama oleh Abdul Muhyi yang terkenal sebagai 
wali negeri parahiyangan. 

Ciri kedua dari suluk pesisiran ini ialah masih jelasnya gaya 
pesantrennya. Maksudnya, masih menghargai nilai syariat. Hal ini 
agak berbeda dengan suluk gubahan matraman yang sikap antinotisme 
(kurang mengahargai syariat)-nya sangat menonjol.

Ciri ketiga, walaupun suluk Cirebonan berpahan manunggaling kawula-
gusti dengan tarekat syatariyyahnya yang bersikap terbuka untuk 
menerima  dan menyatu dengan unsur-unsur budaya setempat (lokal), 
tampak ia belum banyak menyerap unsur-unsur klenik dari tradisi ilmu 
kejawen. "

 

Demikian kurang lebih ciri-ciri dari suluk pesisiran dari daerah 
Cirebon , semoga bermanfaat.

 

Di dalam kumpulan suluk pesisiran juga terdapat Suluk Paesan wajib 
yang menerangkan bagaimana seseorang memahami Tuhannya.

 

SULUK PAESAN WAJIB

Maskumambang

 

1

Cermin wajib dalam melangkah bersama

Dengan kedewasaanmu

Hendaknya pikirkanlah Ia

Yang dipertuhan dan Mahamulia

 

2

Dipertuhan dengan kata hati

Mempercayai

Tuhan qadim hakiki

Yang wajib ditaati

 

3

Ditaati dengan hati yang jernih

Penglihatan yang sempurna

Arah tak mendua

Memusat kepada allah yang Maha Kuasa

 

.....

Masih panjang sebetulnya, tapi mungkin nanti saya tulis lagi kapan-
kapan. 
Wassalam




Asnawi Ihsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 

Sdr Temon,  

Saya sangat tertarik untuk mendiskusikan naskah suluk gedhong.. 
terus terang, begitu saya membuka posting anda tentang suluk gedhong 
saya sangat terkejut.. saya menduga, suluk ini pastinya ditulis oleh 
seorang guru spiritual atau dalam tradisi mistisme islam biasa 
disebut mursyid. Aku juga pernah menemukan naskah yang agak mirip 
dengan suluk gedhong, naskah berasal dari tradisi spiritualitas 
india (non agama) yang mengajarkan "ma'rifatullah".

 

Suluk gedhong saya melihat, betapa sang guru ingin mengajarkan murid-
muridnya ilmu yang paling dasar, yaitu ilmu makrifat. Terutama 
dibagian awal. Guru ingin mengenalkan Tuhan kepada murid-muridnya. 
Dalam tradisi spiritualitas manapun, hampir menggunakan konsepsi 
yang sama dalam mengenalkan Tuhan kepada murid-muridnya, melalui 
pendekatan bahwa Tuhan sebagai sumber dari segala cahaya dan dari 
cahaya Tuhan itulah diciptakan semesta termasuk manusia. Tuhan 
menciptakan semesta karena Tuhan ingin dikenal. Tuhan ingin 
memberikan kesempatan "bermain peran" bagi seluruh cahaya (ruh/jiwa) 
dan berharap setiap jiwa yang akan kembali kepadanya dapat memainkan 
seluruh perannya dengan baik.

 

Tapi, ada yang lebih menarik lagi sebenarnya, dalam naskah suluk 
gedhong ini, setelah sang guru menyampaikan konsep ketuhanan, sang 
guru mengajarkan murid-muridnya untuk langsung mengenal Tuhan dan 
bertemu langsung dengan Tuhan. Kita bisa lihat dalam kutipan naskah  
berikut:

 

Menyembah untuk melihat 

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

 

 Analisa saya, "melihat dengan cara memandang yang khas" . Disini, 
pasti sang guru menguasai metode tertentu dimana metode itu 
diajarkan kepada murid-muridnya bagaimana cara  "berhadap-hadapan" 
atau menghadirkan Tuhan dalam diri. Murid diminta harus sungguh 
berhati-hati karena begitu sulit untuk "mengenal" Sang Sejati. 
Diperkuat lagi dalam teks berikutnya:

 

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

 

 

Saat murid menemukan kesulitan, sang guru kembali mengingatkan agar 
murid jangan patah semangat dan terus berjuang:

 

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

 

Sampai akhirnya, sang murid mampu membuka "mata batin/ainul-qolb"nya 
dan sampai pada tingkatan makrifatullah dan dapat berjumpa dengan 
Tuhan, lihat dalam teks:

 

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

 

Namun setelah berjumpa, sang murid terlihat bingung dan mulai 
bertanya-tanya, benarkah penglihatanku ini? Benarkah apa yang saat 
ini aku "saksikan"??? lihat dalam teks berikut:

 

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

 

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

 

Masalah baru muncul, kadang sang murid "melihat" tapi dalam 
kesempatan lain ia tidak "melihat" apa-apa. Sang murid kembali 
bertanya kepada guru dan guru menjawab: 

 

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

 

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

Sdr Temon, begitulah apa yang saya renungkan saat saya membaca suluk 
gedhong yang anda posting di milis ini. Buat saya sangat menarik 
apabila kita terus berusaha membaca dan membacanya. Berusaha 
menangkap pesan yang tersirat yang maknanya sangat dalam itu. Suluk 
bisa dianggap sebagai jalan setapak atau jalan kecil, bukan jalan 
umum seperti syariat yang didalamnya penuh dengan rambu-rambu. 
Melanggar berakibat sanksi dan patuh akan selamat. Memilih jalan 
setapak tentunya lebih sulit, beresiko dan lebih menantang. Harus 
berani "mati sebelum mati" harus berani merasakan sakitnya "dibakar" 
seperti ibrahim, "disembelih" seperti ismail, diceburkan ke sumur 
seperti yusuf atau disalib seperti Isa. Atau "dibelah dada" 
lalu "bermi'raj" seperti Muhammad.  

 

 

Ibnu arabi tak sanggup menjelaskan apa yang dilihat dan dialaminya 
pada saat bermakrifatullah lalu hanya menuangkannya menjadi konsep 
monisme eksistensial atau memberi isyarat dalam karyanya seperti 
menggunakan kata Futuh. Shadra pun demikian dengan al-hikmah al-
muta'aliyah yang didapat saat mengalami khuduri. Sebagian, kita akan 
melihat bagaimana para guru/tokoh spiritualitas akan memberikan 
judul buku yang nyaris tidak jauh menggunakan kata futuh, kasyf, 
nur/anwar, qolb, sirr dan sejenis saat menuangkan pengalaman mistik 
mereka menjadi buku. Al-Ghazali misalnya dengan Mukasyafatul Qulub 
dan misykatul anwar, Abdul Qodir Jilani dengan sirrul asrar dan 
futuhul ghaib, al-hujwiri dengan kasyful mahjub, al-khadri dengan 
tanwirul qulub atau yang lain-lain.

 

Sebagian orang terjebak pada perdebatan satu tokoh dengan tokoh yang 
lain. Menguji kekuatan metodologi dan argumentasi satu sama lain. 
Padahal, apa yang mereka (para tokoh) tulis adalah sesuatu yang 
berangkat dari pengalaman spiritual/mistik yang sangat personal dan 
intuitif. Ada lagi sebagian orang yang berkutat mempertentangkan 
sisi eksoteris satu agama dengan agama yang lain dan sibuk menjaga 
pintu keselamatan -yang sebenarnya milik umum- agar tidak dimasuki 
oleh orang yang berbeda keyakinan. 

 

Salam

Asnawi Ihsan

 





******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke