Benarkah demikian? Pertama-tama kita harus bertanya apakah kebahagiaan itu? Mungkinkan kita memperoleh kebahagiaan di dunia ini? Bagi orang yang kelaparan kebahagiaan adalah mendapat makan. Bagi orang yang sedang ujian kebahagiaan adalah kelulusan. Bagi orang yang di penjara kebahagiaan adalah kebebasan. Bagi orang yang sedang berpacaraan kebahagian adalah ketemu sang pacar atau pernikahan. Dan masih banyak yang lain. Kebahagiaan itu sungguh relatif dan tergantung pada subjek yang membutuhkannya. Kebahagiaan saya tentunya berbeda dengan kebahagiaan orang lain. Kebahagiaan itu seakan-akan sebuah utopia dalam hidup manusia. Manusia memang dapat memperoleh kebahagiaan tersebut, namun kebahagiaan itu tidak permanent. Ia hanya bersifat sementara saja dan berlangsung dalam waktu yang singkat. Dari dahulu, manusia selalu mengharapkan kebahagiaan. Bahkan tidak ada manusia yang mengharapakan penderitaan (kecuali orang yang tidak sehat alias mengalami ganguan mental). Manusia telah bersusaha, berjuang mati-matian untuk menciptakan kebagiaan tetapi tetap saja tidak tercapai. Para politikus, ilmuan, pemikir, pengusaha, telah bekerja keras, tapi hasilnya tampak sia-sia. Manusia tetap mengalami penderitaan. Saya hanya berfikir: Mungkinkah kebahagiaan itu ada tanpa penderitaan? dan juga sebaliknya? Bagaimana kita mengenali kebahagiaan tanpa adanya penderitaan? Dalam hal ini, untuk mengenal sesuatu pasti kita membutuhkan pembanding. Sebagai contoh: Kaya. Untuk mengerti orang kaya harus ada orang miskin. Kalo semua orang kaya, maka itu tidak kaya namanya. Hidupnya sama saja dengan yang lain, atau biasa saja. Kebahagiaan itu bukan saja menyangkut materi tetapi juga spiritual. Usaha manusia dan kerja kerasnya menjadi kebahagiaan spiritual adalah sebagaian kecil dari kebahagiaan spiritual manusia. Dalam hal ini tergantung apa yang mau dia capai, apa yang diharapkannya dan lain sebagainya. Kekayaan material berubah menjadi kekayaan spiritual, bisa saja diterima tetapi ini hanya bagian sebagian kecil saja. Kebahagiaan spiritual menurut saya melepaskan diri manusia dari penderitaan. Hal ini sangat jelas diajarkan oleh Sidharta Ghautama Budha. Selagi nafsu, keinginan, kebutuhan, emosi melekat dalam diri manusia maka ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan spiritual. Oleh karena itu mewariskan etos kerja keras dan halal belum tentu dianggap sebagai kebahagiaan. Karena ketika orang tua mewariskannya kepada anak-anak-nya maka orang tua itu akan mengalami ketidak bahagiaan yang lain: mungkin masalah kesehatan, kurang diperhatikan pada masa tua karena anak-anak sibuk bekerja, kecemasan kalau anaknya bepergian akan terjadi kecelakaan, dan lain sebagainya. So, benarkah kita akan memperoleh kebahagiaan? Atau itu hanya sebuah utopia? Capek dee...eee...ee hhhhh!
----- Original Message ---- From: agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, June 17, 2008 8:56:02 AM Subject: [filsafat] Tawanya Juga Tawaku Tawanya Juga Tawaku sumber, http://agussyafii. blogspot. com Setiap kali melihat istri saya tertawa, semua rasa capek, letih lelah menjadi hilang. Itulah sebabnya obat untuk menghilangkan rasa capek dan lelah saya, cukup sms, "ketawamu mana?" trus dibalas dengan sms juga "hahahahahhaha" Tawanya juga tawaku, kebahagiaannya juga kebahagiaanku. mengharapkan kebahagiaan abadi dalam rumah tangga semata-mata mengandalkan kesejahteraan materi adalah keliru. Kebahagiaan materi akan menjadi spiritual jika orang terlibat kerja keras dan halal ketika memperolehnya. Bekas orang miskin yang kemudian sukses menjadi orang kaya raya secara halal, ia akan menceriterakan kemiskinan masa lalunya dengan senyuman indah. Sebaliknya orang miskin yang dulunya adalah pewaris kekayaan besar tetapi kemudian bangkrut karena tidak memiliki etos kerja yang benar, maka ia dengan sedih dan pilu menceriterakan kejayaan masa lalunya. Keindahan rumah tangga adalah jika dari awal, pasangan suami isteri itu berkesempatan melewati tahap-tahap perjuangan hidup hingga sukses bersama. Selanjutnya adalah kebahagiaan orang tua, jika sukses mewariskan etos kerja keras dan halal kepada anak-anaknya, bukan sekedar mewariskan hartanya yang banyak. bagaimana menurut anda? sumber, http://agussyafii. blogspot. com salam Cinta, agussyafii ======= Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye "Keluargaku, Surgaku" silahkan kirimkan dukungan dan komentar anda di http://agussyafii. blogspot. com atau sms 0888 176 48 72
