Sebuah pertanyaan yang paling banyak akan mendapat jawaban seperti ini :
"Sesat", "Atheis", "Tak berTuhan", etc. Seakan-akan seseorang yang
beragama telah secara otomatis berTuhan. Lalu bila pertanyaan tersebut
dilanjutkan ke : "Tuhan ? Bisa dijelaskan ?", akan mendapat jawaban
stereotip seperti : "Baca Alkitab", "Pelajari Al-Quran", etc. ... Wauw
?!



AGAMA = KEBENARAN ?

Berbicara tentang pencarian terhadap kebenaran seperti seorang anak yang
ingin mengetahui segalanya, bila perlu juga ingin tahu apakah Tuhan
memiliki hidung ? bila 'iya', apakah mancung atau pesek ? etc. Lalu bila
sang orangtua mendapat pertanyaan sang anak tersebut ternyata membentur
dinding, maka akan menghentikannya dengan : "Cukup, kamu belum saatnya
untuk mengetahui" atau secara extrim seperti ini : "Dosa". Dengan
demikian si anak akan terdiam seribu bahasa, namun apakah kepalanya akan
juga berhenti bertanya ???

Kebanyakan dari kita melihat agama sebagai sebuah pengetahuan yang final
tentang keTuhanan, tidak perlu lagi dibahas dan diperdebatkan, bila
perlu : Dilarang keras !!! Bilapun ingin membahas, silahkan tidak keluar
dari kerangka yang telah ditentukan ( oleh siapa ? ), selain daripada
itu maka gelar : Sesat bin Kafir akan kita terima dengan cepat, tanpa
perlu sekolah.

Benarkah agama = kebenaran ?

Atau jangan-jangan sebuah legitimasi belaka seakan-akan yang benar ?
Bila Tuhan adalah 'Yang Benar', lalu agama juga adalah 'Yang Benar',
bukankah ini kontradiktif ? Atau baiknya kita perhalus bahasanya menjadi
"Tuhan adalah Yang Paling Benar", sementara agama adalah "Yang Benar" ?
Hmmm, sebuah permainan bahasa belaka yang tetap mau mengangkat sang
agama daripada Tuhan ? Lalu berbagai pemeluk agama sibuk mengklaim bahwa
agamanyalah yang benar ( berarti : yang lain salah ? ), karena yang
paling valid ( ukurannya apa ya ? ). Dengan demikian dengan gegap
gempita sibuk melakukan ekspansif ( perang kali ya ? ) & dengan pe-denya
bahkan siap mati ( lalu bila ternyata saat bertemu Tuhan kemudian Ia
menegaskan bahwa apa yang anda lakukan & yakinkan seumur hidup adalah
ternyata salah ??? lalu bagaimana ? ). Melihat Tuhan melalui agama
bukankah akan mengkerdilkan-Nya ? seakan-akan melihat suatu microbakteri
melalui mikroskop ? Bukankah Tuhan melampaui pikiran manusia ?



Bagaimana pendapat rekan-rekan ???

Kirim email ke