--- On Sun, 6/22/08, audifax - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: audifax - <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [psikologi_transformatif] SIDANG 'SEDENG'
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, June 22, 2008, 2:06 PM
Sidang ‘Sedeng’
Oleh
Audifax
Research Director di SMART Human Re-Search & Psychological Development
Saiki jaman edan, yen ora edan ora keduman. Demikian bunyi salah satu idiom
Jawa. Barangkali idiom Jawa tentang kegilaan jaman itu paralel dengan gambaran
posmodernisme tentang jaman silang-sengkarut tanda. Friedrich Nietzche, pembuka
jalan bagi banyak pemikir posmodernisme, juga menggunakan sosok orang gila
dalam aporianya. Kegilaan jugalah yang tampaknya tengah dinarasi-ulang oleh Ayu
Utami dalam buku berjudul ’Sidang Susila – Naskah Komedi dan Catatan Perihal
RUU Pornografi’. Kegilaan yang membuat perbedaan dimarjinalkan dan perempuan
adalah salah satu dari perbedaan itu.
Hélène Cixous, psikoanalis Perancis, pernah mengemukakan pemikiran agar
perempuan menulis untuk mengekspresikan diri keluar dari konstitusi budaya yang
menjebak dalam peran yang “membisukan” perempuan. Cixous mengatakan: “Tulislah
dirimu sendiri. Tubuhmu harus bisa didengar”. Apa yang ditulis Ayu dalam
’Sidang Susila’ adalah upaya menulis tubuh perempuan agar bisa didengar. Tak
bisa dipungkiri, dalam banyak aspeknya, RUU ini bisa ’membisukan’ tubuh
perempuan yang ada dalam kultur di mana kita hidup saat ini. Kultur di mana
kegilaan dan kewarasan tak bisa lagi dibedakan. Kultur di mana perbedaan
’mesti’ disamakan.
Sebuah Pembacaan-Ulang
Buku ini menarasikan pembacaan-ulang terhadap RUU Pornografi. Ketika kita
menerima segala sesuatu secara taken-for-granted, seringkali hal-hal yang
tersembunyi namun esensial justru terlewatkan. Di sinilah sebuah
pembacaan-ulang diperlukan. Sebuah pembacaan terhadap realita yang plural tak
bisa hanya sekali dan dari sudut pandang tunggal, melainkan harus terus-menerus
dan memperhitungkan keragaman sudut pandang. Tanpa itu semua, pluralitas dan
kebhinnekaan tak akan lebih dari sekedar karnaval hari Kartini atau tujuh
belasan.
Setelah menerbitkan novel ’Saman’ dan ’Larung’, kali ini Ayu menerbitkan naskah
drama berikut beberapa eseinya yang menyoroti masalah RUU Pornografi. ’Sidang
Susila’ adalah naskah drama pertama Ayu Utami. Naskah ini diselesaikan pada
Maret 2006. Semula naskah ini ditujukan untuk dipentaskan oleh Butet
Kartaredjasa. Namun, seiring waktu naskah ini kemudian dipentaskan oleh Teater
Gandrik di Jakarta dan Yogyakarta pada bulan Februari dan Maret 2008. Di bulan
Februari 2008, penerbit [EMAIL PROTECTED] & vhrbook menerbitkan naskah ini
dalam bentuk buku.
Apapun kualitas dari naskah drama ini, satu aspek yang barangkali esensial
adalah langkah Ayu untuk mengangkat persoalan pluralitas ke dalam bentuk naskah
drama yang juga dibukukan. Dalam ruang masyarakat yang kerap menempatkan
perbedaan untuk mengekslusi individu dari ke-Kita-an, naskah drama ini jelas
merupakan sebuah satire yang layak menjadi perenungan.
Drama dan Realita
Dalam naskah drama ini tokoh utamanya adalah terdakwa bernama Susila. Nama
aslinya adalah Susilo Parno. Takut dikira menyindir, maka nama Jawa itu dirubah
menjadi Susila Parna, seperti nama orang Sunda. Namun nama Sunda itu kalau
dibaca dengan logat Jawa malah menjadi Susilo Porno. Susila adalah tipikal
lelaki umur 40-an kelas bawah yang menjadi gemuk karena pola makan murah:
gorengan, gorengan, gorengan.
Tokoh kedua adalah Pak Hakim. Wajah dan perkataannya mirip salah satu raja
dangdut. Ia tak terlalu peduli dengan nasib orang. Ia kerap terbayang-bayang
pada bagian tubuh tertentu yang sensual, yang membuat ia menelan ludah gleg
gleg.
Tokoh ketiga adalah Bu Jaksa. Ia bisa berbicara dengan tempo dan intonasi yang
berbeda-beda, yang barangkali menunjukkan bahwa ia, di luar pekerjaannya di
pengadilan, adalah seorang penceramah ulung. Beginilah ritme bicara Bu Jaksa:
mula-mual tenang bijak bestari seperti ibu pendakwah di televisi, lalu mulai
berapi-api hingga menjerit-jerit seperti ibu pengkhotbah, juga di televisi.
Tokoh keempat adalah Bu Pengacara. Cara bicaranya yang teatrikal dan olah
vokalnya yang prima seolah menunjukkan bahwa ia juga seorang pemain drama yang
handal. Ia tipikal seorang aktivis yang juga pemimpin teater yang keras kepala,
berani melawan, pantang menyerah dan suka menang sendiri. Baginya, tak ada yang
benar selain dirinya sendiri. Bahkan kesaksian terdakwa pun kerap ia bantah
karena menurut dia salah
Tokoh-tokoh pendukung lainnya adalah para Tukang Celetuk. Mereka diperankan
oleh musisi atau penonton bayaran. Di antaranya ada Tukang Celetuk yang
cenderung untuk selalu berbahasa Jawa.
Itulah berbagai peran dalam naskah drama komedi ’Sidang Susila’. Membacanya
seakan melihat karikatur kehidupan masyarakat di mana kita ada di dalamnya. Ada
perasaan lucu tapi sekaligus juga mengenaskan karena sejatinya kita ada di
tengah-tengah kekonyolan seperti dalam naskah drama tersebut. Inilah barangkali
sebuah dunia yang tak bisa dibedakan antara realita dan panggung komedi. Sebuah
dunia yang menipiskan batas antara kengerian dan kelucuan. Sebuah realita yang
melampaui realita itu sendiri.
Intertekstualitas dalam Menyidangkan Susila
Julia Kristeva, psikoanalis posfreudian, pernah mengemukakan mengenai
intertekstualitas sebagai sebuah cara pembacaan. Dalam intertekstualitas,
sebuah teks tak pernah memiliki arti yang terlepas dari teks lain. Suatu teks
bisa memiliki begitu banyak kemungkinan makna dan berjalin kelindan dengan
teks-teks lain di luar dirinya.
Intertekstualitas ini ada dalam naskah drama ’Sidang Susila’. Penggambaran
karakter para tokoh misalnya, jika anda jeli maka anda akan melihat bahwa teks
pada masing-masing tokoh merujuk pada ’teks’ yang menggambarkan tokoh-tokoh
lain di realita. Namun Ayu cukup jeli menempatkan sebuah penggambaran sehingga
teks yang ada dalam naskahnya tak secara nyata menunjuk seseorang melainkan
hanya menempatkannya sebagai sebuah kemungkinan untuk merujuk pada seseorang.
Demikian pula dengan berbagai kejadian yang ada dalam narasi, Ayu banyak
mengajak pembacanya untuk melihat bahwa kejadian-kejadian banyolan dalam narasi
drama itu mungkin secara mengenaskan telah terjadi juga di realita.
Pada bagian lampiran terdapat draft RUU Pornografi dan Pornoaksi yang teksnya
dibaca ulang oleh Ayu. Ada berbagai selipan komentar di sela-sela teks RUU
asli. Di sini kembali kita bisa melihat apa itu intertekstualitas. Berbagai
pasal, karena ’permainan kata’ menjadi absurd dan potensial menjadi pasal karet
karena maknanya bisa dirujukkan ke berbagai kepentingan.
Setelah lampiran yang berisi draft RUU Pornografi dan Pornoaksi, masih ada
lampiran lain lagi. Lampiran yang diberi judul ”Nota Ketidaksepahaman” terhadap
RUU Pornografi dan Pornoaksi ini, berisikan esei-esei Ayu yang pernah dimuat di
media cetak. Esei-esei itu berjudul: ’Berbahasa Indonesiakah RUU Anti
Pornografi?’, ’Kera Porno’, ’Pusar dan Rokok’, ’Pak Marta’, ’Pawai’, ’Semboyan
35’ dan ’Pornografi Niat Luhur’. Semua esei itu berisi cermatan dan analisa Ayu
seputar fenomena RUU Pornografi dan Pornoaksi.
Mencermati struktur buku ’Sidang Susila’, agaknya Ayu berniat mengajak kita
merenungkan secara serius apa yang tengah terjadi di masyarakat. Dan barangkali
jika kita mau membaca secara intertekstualitas, barangkali persoalannya bukan
sekedar disahkan atau tidaknya RUU Pornografi dan Pornoaksi. Ada persoalan lain
yang lebih serius yang terjadi di masyarakat dengan semboyan ’Bhinneka Tunggal
Ika’ ini.
Membaca Perbedaan
Meski tema yang diangkat adalah RUU Pornografi dan Pornoaksi, namun momentum
keluarnya buku ini terasa tepat karena pada intinya buku ini mengangkat masalah
penghargaan terhadap perbedaan. Barangkali saat ini kita perlu bertanya pada
diri sendiri: ”Adakah sebuah ruang dalam masyarakat kita, di mana satu orang
dengan yang lain tahu sama tahu mereka berbeda dan bertolak belakang namun
tetap bisa merasa sebagai sesama warga?”. Ini adalah pertanyaan serius bagi
bangsa ini.
Pertanyaan ini adalah juga sebuah pembacaan-ulang terhadap apa yang saat ini
berlangsung di masyarakat kita. Pembacaan-ulang yang akan memberi kemungkinan
pada hidupnya perbedaan atau yang-lain (liyan) di setiap ruang kehidupan.
Pembacaan-ulang yang akan selalu memperhitungkan adanya intertekstualitas.
Bahwa sebuah teks tak akan bisa menjadi kebenaran tunggal karena maknanya mesti
bertaut-kelindan dengan teks-teks yang lain dari teks tersebut.
Sekali lagi perlu saya tekankan, ketimbang sebagai perlawanan, buku ini lebih
merupakan sebuah ’pembacaan-ulang’ atas apa yang barangkali perlu secara bijak
kita sikapi, yaitu Perbedaan. Meski Ayu berbicara sebagai perempuan, namun
naskah ini lebih merupakan renungan bagaimana menyikapi perbedaan, yang bisa
apapun termasuk perempuan. Buku ini dapat menjadi sebuah bacaan menarik bagi
mereka yang memiliki concern pada bagaimana perbedaan mendapat tempat di negeri
yang bhinneka ini.
Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, kami mengundang anda untuk
bergabung dalam diskusi di milis Psikologi Transformatif.
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh
Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi
Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah
berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di
Indonesia. Total member telah melebihi 2200, sehingga wacana-wacana yang
didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa
dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di
sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di situ
psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan
menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan
yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual
menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami
psikologi.
Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung
sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut
dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan
diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan.
Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara
dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry
Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain
yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup,
Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin,
Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono
Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie
Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa
Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J.
Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis
Kartika, Ratih Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma
dan masih banyak lagi.
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
www.groups.yahoo. com/group/ psikologi_ transformatif
Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk atau
keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri.
SEKILAS TENTANG AUDIFAX
Audifax adalah salah satu pendiri sekaligus owner milis Psikologi
Transformatif. Milis ini adalah milis psikologi dengan jumlah member terbesar
di Indonesia. Saat ini ia bekerja sebagai Research Director di SMART – Center
for Human Re-Search & Psychological Development yang beralamat di: Jl. Taman
Gapura G-20 Kompleks G-Walk Citraland Surabaya. Telp (031) 7410121. e-mail:
[EMAIL PROTECTED] com
Beberapa karya tulis telah ia hasilkan. Di antaranya adalah empat buku: Mite
Harry Potter (2005, Jalasutra), Imagining Lara Croft (2006, Jalasutra),
Semiotika Tuhan (2007, Pinus) dan bersama Leonardo Rimba menulis Psikologi
Tarot (2008, Pinus).
Ia juga merupakan anggota Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB). Beberapa
eseinya dimuat dalam sejumlah antologi yang diterbitkan FSK ITB. Saat ini
minatnya lebih terarah untuk mendalami kecerdasan jamak (Multiple Intelligence)
dan sisi psikologis berbagai bentuk ’Kisah’ dalam kaitannya dengan kehidupan
psikis manusia.